Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 145


__ADS_3

Lexa POV


"Dasar kau pria mesum! Berani sekali kau melakukan ini padaku hah!" teriakku pada Takeda.


Srettt!


Dia menyobek gaun dari tengah-tengah pahaku hingga bawah, sehingga terlihat jelas kakiku. Dia melihat sesuatu yang aku simpang di pahaku. Itu adalah senjataku jika di lepas maka akan membentuk sebuah pedang tipis yang lentur.


Whussss!


Aku melayangkan tendangan pada Takeda, aku sudah tidak bisa hanya diam saja. Lebih baik aku tiada dari pada aku hanya diam saja dengan perlakuan tidak sopan Takeda.


"Kau masih memiliki tenaga! Maka aku akan melucuti seluruh gaunmu— sehingga aku bisa menikmati indahnya tubuhmu." Takeda berkata dengan tatapan senonoh.


Dia hendak mengambil senjataku yang menempel di pahaku, tidak akan kubiarkan. Meski aku tidak menggunakan kedua tangan karena untuk melindunginya tubuhku bagian atas. Namun, aku masih bisa menggunakan kedua kaki untuk menyerangnya.


Whussss!


Aku terus melayangkan serangan padanya menggunakan kaki, dia selalu bisa menghindar. Di saat aku melayangkan tendangan dia berhasil mengangkat kakiku.


Tangannya mulai berjalan di kakiku lalu menuju pedang yang masih menempel di paha. Namun, tangannya terhenti saat belati kecil menancap di tangannya.


Seketika dia melepaskan kakiku, aku melihat sekeliling siapa yang sudah menghujamkan belati padanya. Dari bekang ada yang memakaikan sebuah jaket hitam padaku.


Aku terkejut dengan ini, saat melihat kebelakang seorang pria bertopeng berjalan menuju ke arahku. Rupanya dia berada di Indonesia, yang membuatku tidak habis pikir dia tidak menghubungiku sama sekali.


"Siapa kau? Berani sekali menyerangku!" teriak Takeda sembari mencabut belati yang menancap di punggung telapak tangannya.


Brettt!


"Apa kau sudah gila? Mengapa kau menyobek gaun bagian belakangku?!" pekikku.


Dia hanya tersenyum, aku hapal betul senyuman ini dia adalah Hinoto. Entah apa yang hendak dilakukannya, dia berjongkok lalu melilitkan gaun yang sudah tersobek. Sehingga kedua kakiku terlilit oleh sobekan gaun.


Rupanya Hinoto menjadikan gaunku seperti celana, sehingga aku bisa bergerak dengan bebas. Aku tidak menyangka dia bisa berpikir secepat itu. Aku mengambil pedang yang melingkar di pahaku setelah itu Hinoto melilitkan gaun pada kakiku.


"Dengar sayang, tidak ada yang boleh melihat tubuhmu tanpa sehelai benang pun kecuali aku!" bisiknya padaku sembari menarik ritsleting jaketnya dari bawah ke atas. Sehingga tubuh bagian atasku tertutup oleh jaket


"Sudah cukup bermesraannya, kalian bisa lanjutkan nanti di atas tempat tidur!" celetuk Aiko yang membuatku terkekeh.


Hinoto tersenyum lalu dia mulai bersiap untuk bertarung, Takeda menyuruh semua pengawalnya untuk menghabisi kami semua. Namun, tidak akan kubiarkan mereka melukai orang-orang yang aku lindungi.


Bug!


Whussss!


Aku melayangkan tinjuanku dan sesekali melayangkan tendanganku, benar saja setelah Hinoto melikitkan sobekan gaunku membuat aku bisa bergerak dengan bebas.


Brugggg!


Satu per satu pengawal berhasil aku lumpuhkan tetapi mereka kembali berdiri. Sungguh aku tidak menyangka jika mereka memiliki stamina yang bagus, sehingga bisa kembali berdiri dan hendak menyerang balik.


Aku melihat Lexi masih bisa menghadapi mereka, Aiko dan Aldo pun terlihat masih bisa melawan mereka. Himawari, dia terlihat kelelahan ditambah dengan luka di lengan kanannya.


Brugggg!


Aku terjatuh karena terkena pukulan dan tendangan seorang pengawal, sungguh bodoh diriku mengapa bisa kehilangan fokus. Aku berusaha berdiri kembali.


"Lexa, kau tidak apa-apa?!" teriak Lexi yang melihatku terjatuh.


Aku menjawab tidak apa-apa karena aku masih bisa berdiri dan bertahan terhadap serangan mereka. Tadi aku sedikit lengah tetapi sekarang waktunya kembali fokus terhadap lawanku.


"Sayang, fokuslah pada lawanmu! Tidak usah pedulikan yang lain karena mereka masih sanggup bertahan dan menyerang!" Hinoto berkata padaku semabari menyerang lawannya.


Aku tersenyum, ini memang salahku yang tidak fokus sehingga membuat yang lainnya khawatir. Baiklah bersiap-siaplah kalian menerima serangan balasanku.


Bug!


Bug!

__ADS_1


Whussss!


Aku memukul mereka berkali-kali tanpa memberikan kesempatan menyerang balik. Setiap beberapa kali pukulan aku selalu mengakhiri dengan tendangan yang mematikan.


Brugggg!


Satu per satu musuh berjatuhan, aku melihat Takeda terus saja menatapku dengan tatapan yang sangat menjijikkan. Seraya dia ingin memiliki diriku tetapi itu membuatku merasa tidak nyaman.


Takeda menghampiriku, dia mulai menatapku dengan lekat. Dia tersenyum tipis entah apa yang ada dipikirannya. Yang pasti ada aura yang sangat mengerikan sehingga membuatku merasa merinding.


"Jika melihatmu seperti ini— aku semakin tertarik padamu dan ingin memilikimu!" ucap Takeda dengan rasa percaya diri.


"Cih ... Aku tidak Sudi jika harus menjadi milikmu! Karena aku tidak akan pernah berpaling dari pria yang kucinta!" jawabku dengan rasa kesal di dalam hati.


Whussss!


Takeda melayangkan tendangannya padaku tetapi aku berhasil menghindar dari tendangannya. Dia terus saja menyerangku meski tangannya terluka akibat belati Hinoto.


Dia benar-benar pria yang tangguh, mungkin dia memiliki hidup yang kerasa di Jepang. Sehingga dia bisa menjadi pengusaha sekaligus penyelundup senjata ilegal.


Aku hanya bisa bertahan dari serangannya yang bertubi-tubi, sembari melihat titik lemahnya. Sehingga aku bisa menemukan. Kapan waktunya menyerang balik dirinya.


Binggo! Aku sudah menemukan titik kelemahannya, terus saja kau menyerangku. Tiba saatnya nanti aku akan membuatmu tidak bisa kembali berdiri.


Whussss! Aku mencoba melayangkan tendanganku padanya tetapi dia berhasil menangkap kakiku. Dia memegang kakiku dengan senyum yang membuatku muak.


"Lepaskan! Jika tidak kau akan menyesal!" ucapku pada Takeda.


Dia tersenyum mendengar apa yang aku ucapkan tanpa melepaskan kakiku. Aku sungguh kesal dengan senyum mesumnya, kau yang meminta ini Takeda. Maka terimalah tendanganku kali ini.


Whussss!


Aku memutarkan tubuhku sehingga terlihat melayang di udara, sehingga kakiku yang di pegang oleh Takeda terlepas. Ini adalah jurus yang aku gunakan saat pertama kali bertemu dengan Hinoto saat dia memegang kakiku.


Aku berdiri lalu tersenyum menandakan kemenangan, tidak akan aku biarkan pria lain menyentuh tubuhku dengan mudahnya. Jika iya, maka aku akan membalasnya dengan sedemikian rupa.


"Rupanya kau begitu tangguh Nona Lexa! Sehingga aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah!" Takeda berkata lalu dia berdiri sembari menghapus darah yang keluar dari pinggir bibirnya karena terkena tendanganku.


"Sayang, kau terus saja menggoda pria lain di hadapanku!" bisik Hinoto padaku.


Aku sedikit terkejut karena Hinoto berada di belakangku dan berbisik, untung saja aku bisa mengenali suaranya jika tidak mungkin aku sudah menghajarnya.


"Hentikan kegiatanmu yang selalu berbisik padaku di saat genting seperti ini!" Aku berkata pada Hinoto yang tersenyum lembut.


Aku melihat sekeliling para pengawal sudah terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Sekarang yang tersisa adalah pengawal yang mengelilingi Takeda dan Rosetta.


Meski sudah terpojok Takeda masih saja bisa tersenyum dengan bangganya. Sungguh pria yang tidak mudah di mengerti, di saat terpojok masih saja bisa tersenyum genit padaku. Padahal di apungnya ada Rosetta yang menciumnya dengan mesra.


Dor! Terdengar suara tembakan tetapi bukan Takeda yang menembakkan senjata. Tidak begitu lama muncul orang-orang mengenakan seragam kepolisian.


Mereka mulai menangkap satu per satu pengawal Takeda, setalah itu mereka berniat menangkap Takeda. Karena dia adalah orang yang sedang mereka cari selama ini.


"Lebih baik kau menyerahkan dirimu Takeda! Karena kau sudah terkepung dan tidak bisa lari!" ucap Hinoto pada Takeda.


Aku melihat Rosetta mulai mundur secara perlahan, sepertinya dia hendak lari dari para polisi. Takeda pun berhasil di tangkap tetapi dia mengatakan akan segera bebas kembali dan akan menjemputku.


Kata-kata yang terlontar dari mulut Takeda membuatku sangat kesal. Ingin rasanya menghajarnya dengan kedua tanganku ini.


Bug! Bug! Hinoto memukul wajah Takeda berkali-kali, rupanya dia mewakili diriku. Atau dia merasa cemburu karena perkataan Takeda yang ingin membawaku pergi.


Setelah selesai dengan memukul Takeda, dia menyuruh polisi untuk membawa mereka semua. Sedangkan Rosetta bisa pergi dengan santainya karena dia bukanlah target operasi kali ini.


Aku bergegas menghampiri Himawari yang sedang bersama ibu dan adiknya. Melihat keadaan lengannya yang terluka tembak masih mengeluarkan darah segar.


"Lexi, cepat bawa Himawari ke rumah sakit!" perintahku pada Lexi.


Setelah mendengar itu Lexi dan Aldo pergi ke rumah sakit, Aiko pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena tangannya terluka dan perlu di tangani.


Kedua mobil dibawa Lexi dan Aldo, sekarang giliran ku untuk pulang ke rumah bagaimana? Aku mengambil ponsel lalu meminta seorang sopir untuk menjemput.

__ADS_1


Sebelum selesai mengatakan meminta sopir untuk menjemput, ponselku diambil Hinoto. Dia mengatakan tidak usah karena sudah ada Hinoto.


"Ayo kita pulang!" ucap Hinoto lembut tetapi ada penekanan di dalamnya.


Sebenarnya aku masih kesal terhadap Hinoto sehingga tidak ingin kembali ke rumah bersamanya. Namun, luka di dadaku mulai terasa sakit. Meski hanya luka gores dari pisau lipat milik Takeda.


Aku berjalan mengikuti langkah Hinoto menuju mobilnya, dengan rasa kesal yang masih ada di dalam diriku. Dalam perjalanan pulang aku hanya diam, membiarkan dia untuk fokus menyetir.


Rupanya dia sudah mengenal jalanan ibu kota dan juga hapal jalan menuju rumah. Dari mana dia tahu rumah ayah dan bunda, bukankah dia belum pernah ke rumah.


Hinoto kau membuatku selalu terkejut dengan apa yang kau lakukan. Terkadang kau selalu membuatku merasa kesal tetapi di saat aku membutuhkanmu kau selalu ada.


Tibalah aku di rumah, tanpa mengucapkan sepatah kata keluar dari mobil. Berjalan cepat memasuki rumah tetapi Hinoto dengan cepat menggendongku.


"Apa yang kau lakukan?!" tanyaku padanya.


Dia hanya tersenyum lalu berjalan memasuki rumah dan menaiki anak tangga menuju kamarku. Aku kembali penasaran mengapa dia bisa tahu lokasi kamarku.


Hinoto mendudukanku di atas sofa, dia membuka topeng yang menutupi wajahnya. Dalam sorot matanya terlihat jika dia merindukanku. Namun, aku masih kesal kepadanya sehingga membuang wajah agar dia tidak bisa melihatku.


Dari pada melihatnya lebih baik aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku berdiri melangkah perlahan menuju kamar mandi.


"Mau kemana?" tanyanya padaku.


"Ke kamar mandi! Aku ingin membersihkan diri!" jawabku dengan nada dingin.


Saat aku akan menutup pintu kamar mandi, Hinoto menghalanginya sehingga pintu kamar mandi tidak bisa tertutup. Dia mendorong perlahan dengan tenaganya yang kuat. Akhirnya dia bisa masuk ke dalam kamar mandi.


Aku menghela napas lalu membiarkannya melakukan apa yang dia mau, lagi pula dia adalah suamiku. Saat aku mau membuka jaket yang menutupi tubuhku. Tangan Hinoto terlebih dahulu yang melakukannya.


Dia membuka ritsleting jaket yang aku kenakan, lalu melepaskannya secara perlahan. Saat melihat luka goresan di dadaku terlihat kesedihan di matanya.


Hinoto mengambil gunting yang terlihat di dekat cermin kecil di dalam kamar mandi. Lalu secara perlahan diaenggunting gaunku, aku sedih karena gaun ini sangat mahal.


Padahal masih bisa di gunakan atau diberikan pada yang membutuhkannya. Karena bunda selalu berkata jika pakaian yang mahal masih bisa di gunakan maka gunakan kembali. Jika tidak berikan pada orang yang membutuhkan, sehingga tidak menyia-nyiakan pakaian.


Namun, pakaian ini sudah terkoyak tanpa sisa. Aku meringis kesakitan saat lukaku terkena titik-titik air yang membasahi tubuhku. Rupanya Hinoto menyalakan keran shower. Akan tetapi, aku tidak menyadarinya karena kembali teringat akan pesan bunda.


"Terasa sakit, sayang?" tanya Hinoto secara lembut dengan ada sedikit nada khawatir.


Aku mengangguk kecil karena luka ini jika terkena percikan air terasa perih hingga menyayat hati. Hinoto berbisik padaku agar aku menahan rasa sakitnya.


Karena aku harus membersihkan diri terlebih dahulu dan aku baru menyadari jika dia sudah tidak menggunakan sehelai pakaian pun. Sejak kapan dia melepaskan pakaiannya? Itulah yang menjadi pertanyaanku.


Setelah selesai membersihkan diri kami, Hinoto mengeringkan tubuhku menggunakan handuk. Lalu dia menggendongku dan mendudukanku di atas tempat tidur.


Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu, dia membuka pintu kamar. Seorang pelayanan pria mengantarkan minuman hangat dan sebuah kotak P3K. Setelah itu dia pelayan tersebut pergi.


Hinoto berjalan menuju sebuah meja lalu dia menyimpan minuman di atas meja. Dan membawa kotak P3K ke arahku, saat aku melihatnya dia tersenyum dengan lembut.


"Apakah kau sudah pernah ke rumah ini?!" tanyaku padanya karena merasa bingung dengan semua sikapnya seperti sudah mengenal betul rumahku.


Dia tersenyum lembut lalu menjawab, "Aku sudah sering ke rumahmu, sebelum kita menikah. Saat kau masih sibuk di Jepang dengan misi balas dendammu!"


Lalu dia juga mengatakan selama aku di Jepang dia sering menginap di rumah. Dan ayah selalu menceritakan semua tentang diriku dan Lexi, sehingga dia merasa penasaran terhadapku.


Mungkin itulah alasan dia bersikap mesum pada saat pertama kali bertemu di Jepang. Dan dia juga selalu melindungiku jika aku dalam kesulitan.


"Apa kau sudah jatuh cinta padaku sebelum kita bertemu?!" Aku bertanya kembali padanya.


Aku menunggu jawaban dari bibirnya tetapi dia mengecup bibirku dengan lembut. Seteoah itu dia mengatakan bahwa aku sudah tahu jawabannya hanya dengan kecupan darinya.


"Tahanlah, ini akan sedikit sakit saat di olesi obat!" Hinoto berkata padaku lalu Lia mengoleskan obat di setiap luka di tubuhku.


Meski aku sudah siap dengan rasa perih tetapi saat luka itu dioleskan obat membuat tubuhku terkejut. Namun, Hinoto meniupnya dengan lembut sehingga rasa perih memudar.


Setelah selesai diolesi obat semua lukaku di tutup oleh kain kasa yang sudah terpanggil rapi di dadaku. Setelah itu Hinoto berjalan menuju almari, dia mengambil pakaian untukku.


Yang membuatku merasa terkejut kembali, sejak kapan pakaian Hinoto ada di dalam almariku. Karena aku bisa melihat dengan jelas sebelum pergi ke pesta belum ada pakaian Hinoto. Mengapa sekarang sudah tertata rapi pakaiannya.

__ADS_1


"Sayang, ada yang mau kau tanyakan? Mengapa pakaianku sudah tertata rapi di almarimu?" Hinoto bertanya padaku seraya tahu apa yang ada di isi hatiku. Meski yang dia tanyakan itu semuanya benar.


Aku tersenyum, lebih baik tidak bertanya padanya karena saat ini aku sedang tidak ingin banyak bicara. Bukankah aku sedang kesal dengannya dan tidak akan banyak bicara padanya.


__ADS_2