Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 139


__ADS_3

Still Lexi POV


Pesta malam ini membuatku tidak menikmatinya, karena perlakuan Rosetta pada Himawari dan ibunya. Saat aku tanya siapa Rosetta itu, Himawari menjawab bahwa Rosetta adalah putri dari pamannya.


Aku tidak begitu terkejut jika wanita itu adalah putri dari tuan Fadil, mungkin sifatnya menurun dari ayahnya. Yang aku harapkan tidak kembali bertemu dengan wanita yang sudah membuat wanitaku menderita.


"Ohh rupanya ini calon suamimu Himawari! Terlihat sangat cocok denganmu. Pengusaha dari kelas bawah bisa hadir juga di pesta malam ini." Seorang pria paruh baya dengan nada sombongnya.


Saat aku melihat dengan jelas, rupanya dia adalah tuan Fadil. Aku tersenyum saat melihatnya, benar-benar ayah dan anak sama memiliki mulut yang tajam.


"Sudah cukup Kak! Jangan kau hina lagi putriku dan calon suaminya!" ucap ibunya Himawari dengan nada sedikit meninggi.


Mendengar itu terlihat jika tuan Fadil tidak menyukainya tetapi dia menahan emosinya. Itu bisa terlihat dari sorot matanya, aku tidak menyangka dia bisa menahan emosinya itu.


"Jika kau tidak ingin aku menghina putrimu, maka serahkan semua sahammu padaku!" kata tuan Fadil pada ibunya Himawari.


Ibunya Himawari berkata jika sampai kapan pun tidak akan menyerahkan semua saham yang dimilikinya. Setelah mendengar itu tuan Fadil pergi meninggalkan kami.


Aku tahu alasan mengapa ibunya tidak menyerahkan saham yang dimilikinya saat ini. Karena Himawari pernah bercerita padaku jika saham itu yang bisa melindungi nyawa ibu dan saudarinya.


"Maafkan Ibu ya karena ulah saudara Ibu, merusak suasana pesta malam ini!" ibunya Himawari berkata padaku.


Melihat ibu yang berkata seperti itu sungguh rasanya ingin memeluknya dan memberikan kekuatan pada ibu yang sangat tegar ini. Menurutku dia alasan ibu yang sangat kuat meski dia mendapatkan penghinaan tetapi dia bisa bertahan demi menyelamatkan kedua putrinya.


Setalah mengatakan itu ibu pergi meninggalkan kami, saat Himawari ingin menemaninya dia menolak. Ibu menyuruh Himawari untuk menemaniku sesaat. Setelah kepergian ibu, aku melihat rasa kesal pada raut wajahnya. Aku menyuruh Aldo untuk mengikuti ibunya Himawari karena aku sedikit khawatir saja.


"Sebenarnya apa yang menjadi misimu kali ini?" Aku bertanya pada Himawari.


Dia terdiam saat aku bertanya seperti itu tetapi aku menunggu apa yang akan di jawab. Dia menghela napasnya lalu menjawab jika belum saatnya untuk mengatakan misinya kali ini.


Himawari juga meminta maaf padaku karena tidak bisa berkata jujur mengenai misinya kali ini. Namun, yang pasti dia akan mengatakan semuanya.


Aku mengerti, sehingga aku tidak memaksanya untuk menjawab pertanyaanku lagi. Lalu aku mengalihkan topik pembicaraan, aku bertanya mengenai rencana pernikahan saja padanya.


"Kau bisa mengajak ayahmu untuk bertemu dengan ibuku untuk membicarakan pernikahan kita." jawab Himawari padaku.


Terlihat wajahnya memerah, apakah dia merasa malu dengan apa yang baru saja dia katakan padaku. Aku tersenyum lalu mengatakan bahwa hari sabtu akan berkunjung ke rumahnya.


Karena ayah sudah mengosongkan semua jadwalnya pada hari sabtu. Himawari mengusulkan jika hari sabtu aku datang bersama ayah pada jam makan malam saja. Sehingga ibu bisa menyiapkan semuanya dengan baik.


Aku menyetujui apa yang dia minta, setelah itu kami berbincang-bincang mengenai rencana pernikahan apa yang diinginkan. Sehingga aku melupakan jika malam ini sedang berada di tengah pesta.


Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang yang meminta untuk diperhatikan. Rupanya akan diadakan sebuah sesi untuk berdansa, setelah itu alunan musik mulai berjalan.


Hatiku berkata untuk mengajak Himawari berdansa, kuulurkan tanganku seraya mengajak Himawari untuk berdansa. Dia menerima uluran tanganku, lalu kami berdansa mengikuti alunan musik yang sangat indah.


Kami menikmati alunan musik ini sehingga tidak menyadari bahwa posisi kami sudah berada di tengah. Dan menjadi pusat perhatian, saat musik berhenti terdengar gemuruh tepuk tangan dari para tamu yang menghadiri pesta malam ini.


Setelah itu aku mengajak Himawari untuk menuju tempat duduk untuk beristirahat. Aku melihat Aldo dan ibunya Himawari yang sudah duduk terlebih dahulu. Dan Aldo menyiapkan tempat duduk untuk dan Himawari.


"Bu, Lexi akan datang bersama ayahnya sabtu besok untuk makan malam bersama kita," Himawari berkata pada ibunya.


Terlihat ibu tersenyum lalu dia mengatakan akan menyiapkan semua, setelah mengatakan itu ibu mengajak Himawari untuk pulang ke rumah. Karena ibu sudah merasa lelah.

__ADS_1


Saat aku mengusulkan untuk mengantar mereka, ibu menolak dengan halus. Karena sudah ada sopir yang menunggu mereka di parkiran, aku pun tidak bisa memaksakan kehendakku.


Akhirnya aku hanya mengantarkan mereka hingga masuk ke dalam mobil, setelah itu aku dan Aldo juga bergegas untuk kembali ke rumah. Malam ini aku merasa sedikit lelah karena sudah menari dengan Himawari.


"Aku ingin informasi tentang Rosetta besok siang, apa kau sanggup?!" tanyaku pada Aldo.


Aldo tersenyum karena Lexi tidak percaya dengan kemampuannya laku dia berkata, "Jangankan besok siang, subuh pun akan aku laporkan!"


Lexi terkekeh mendengar ucapan Aldo, dia tahu bahwa perkataannya membuat Aldo tertantang. Namun, itu juga sudah keterlaluan karena aku tidak percaya akan kemampuannya.


Aku menyandarkan kepala ke belakang kursi mobil, otakku merasa lelah. Ingin rasanya aku segera mengistirahatkan otak dan tubuhku ini, kupandangi jalanan ibu kota yang sudah malam ini. Namun masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang.


Tidak terasa aku sudah tiba di rumah, Aldo menyuruhku untuk segera beristirahat. Sedangkan dia akan segera bkembalibke rumahnya. Sebenarnya aku sudah menyuruh Aldo untuk tinggal bersamaku di rumah.


Namun Aldo menolak karena dia lebih suka tinggal di rumah, dimana kenangan sang ibu masih melekat. Aku pun tidak bisa menyalahkan dia yang selalu terkenang akan ibu, karena itu juga terjadi padaku.


Aku memasuki rumah lalu berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamar. Rumah sudah sepi, itu tandanya ayah juga sudah beristirahat. Di dalam kamar aku duduk sejenak di atas sofa lalu berdiri dengan membuka satu per satu pakaianku guna membersihkan diri.


Lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan diri kali ini. Setelah selesai aku berjalan menuju almari untuk mengambil pakaian lalu kukenakan pakaian yang baru diambil dalam almari.


Setelah itu aku berjalan mendekati tempat tidur, menghempaskan tubuh ini secara perlahan di atas tempat tidur. Di saat mau mengistirahatkan kedua mataku. Aku teringat akan semua kejadian yang menimpa Himawari.


Dia bertahan dari semuanya itu untuk apa? Dan juga misi dia yang sebenarnya apa? Itulah yang menjadi pertanyaan yang belum bisa aku temukan jawabannya.


**


Aku terbangun saat mendengar ayah mengetuk pintu kamar, lalu aku berusaha berdiri meski rasa kantuk masih menyelimutiku. Berjalan perlahan menuju pintu kamar lalu membuka pintunya.


Terlihat ayah yang sudah menungguku dengan berpakaian rapi, dia mengajakku untuk salat subuh bersama. Aku mengangguk lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi guna mengambil air wudu.


Ayah menyadari kedatanganku, lalu menyudahi membaca kitab suci Al-Qur'an. Lalu kami mulai salat bersama, setelah selesai salat ayah menyuruhku untuk kembali ke kamarnya.


Sedangkan ayah sendiri pergi ke ruang bacanya, entah mengapa aku merasa sedih dengan kehidupan ayah. Karena inilah yang menjadi rutinitasnya setiap hari.


Jika saja bunda masih ada bersama kita, mungkin rumah ini akan terasa hangat. Namum, aku tidak boleh terus berada di dalam kesedihan. Kasihan bunda yang sudah berada di sisi-Nya.


Aku berjalan menuju kamar, niat hati ingin tidur kembali tetapi tidak bisa mata ini masih terpejam. Lalu aku duduk di atas sofa dan membuka Notebook.


Ada beberapa email yang masuk dari Aldo, aku terkekeh dengan apa yang dia lakukan. Se-subuh ini dia mengirimkan email padaku, saat aku membuka email-nya sungguh terkejutnya aku.


Karena yang dia kirimkan adalah semua informasi mengenai Rosetta, wanita sombong dan angkuh yang menghina Himawari dan ibunya. Benar saja dia adalah keturunan langsung dari ayahnya tuan Fadil.


Aku sungguh tidak menyangka wanita seangkuh dia dulunya adalah seorang yang sudah hapal semua ayat-ayat suci Al-Qur'an. Namun, mengapa dia tidak meresapi makna dari ayat-ayat Al-Qur'an untuk kehidupannya.


Begitu banyak yang pernah dia raih, sehingga terlihat dia begitu pintar baik dari segi pendidikan dan juga agama. Ini sangat berbanding terbalik dengan yang terlihat dari luar.


Sebenarnya apa yang terjadi padanya sehingga dia bisa menjadi seperti ini. Apakah dia melakukan semua ini karena perintah ayahnya atau masih ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Arrgghhhh mengapa juga aku memikirkan wanita sombong dan angkuh seperti dia. Sekarang adalah melindungi perusahaan satu-satunya yang ditinggalkan bunda dan menyelamatkan Himawari lalu menikahinya.


Sekarang lebih baik aku bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan parfum, sebenarnya aku masih memikirkan apa yang dikatakan oleh pak Dim, dia mengatakan akan mundur dari jabatannya.


Aku tahu dia ingin beristirahat dari memikirkan perusahaan tetapi aku belum bisa menemukan siapa yang tepat untuk menggantikannya. Akan tetapi, aku juga tidak bisa memaksa terus-menerus pak dim untuk tetap bekerja di perusahaan.

__ADS_1


Mungkin aku akan mengijinkannya untuk beristirahat di rumah untuk menikmati hari tuanya. Mungkin ayah juga akan setuju dengan apa yang aku lakukan.


Setelah bersihkan diri lalu bersiap selesailah sudah tinggal menunggu Aldo lalu pergi ke kantor. Aku berjalan menuju ruang makan tetapi ayah tidak ada, seorang pelayan mengatakan ayah sedang berada di taman.


Aku pun berjalan menuju taman, benar saja ayah sedang duduk sembari membaca koran pagi ini ditemani secangkir teh dan roti isi. Ayah melihatku sudah ada di hadapannya, lalu ayah menyuruhku untuk duduk dan sarapan bersamanya.


"Bagaimana pesta semalam?" tanya ayah padaku.


Aku mengatakan semuanya pada ayah, entah mengapa aku tidak bisa menghentikan mulut ini untuk bicara. Sampai-sampai aku menceritakan acara makan malam pada hari sabtu nanti.


"Jadi kau sudah memutuskan bahwa Himawari yang akan menjadi pasangan seumur hidupmu?" Ayah bertanya setelah aku menceritakan semuanya.


"Iya, aku sudah yakin dengan keputusanku!" jawabku dengan penuh keyakinan.


Ayah tersenyum padaku lalu mengatakan bahwa itu adalah keputusan yang sudah aku ambil. Maka ayah tidak akan melarangnya atau menentang keputusanku.


"Ayah, pak Dim meminta izin padaku untuk beristirahat dari rutinitasnya di perusahaan. Hari ini aku akan memberinya izin untuk itu, bagaimana menurut Ayah?" Aku bertanya pada ayah.


"Jika itu keputusanmu maka lakukanlah! Lagi pula dia sudah lama mengurus perusahaan bunda. Ayah juga tidak bisa melarangnya untuk tetap mengurus perusahaan. Karena dia juga ingin menikmati hari tuanya dengan tenang tanpa memikirkan perusahaan." Jawab ayah lalu kbali membaca korannya.


Beberapa saat kemudian tibalah Aldo dan asisten Ari, mereka tiba secara bersamaan. Apakah mereka datang ke rumah dengan dua mobil yang berbeda. Jika iya sungguh membuatku ingin menertawainya.


Setelah berbincang-bincang sebentar aku langsung pamit pada ayah untuk pergi ke kantor. Ayah mengizinkan lalu aku pergi bersama Aldo, dia tersenyum padaku itu artinya dia tahu apa yang aku pikirkan.


"Pasti kau mau bertanya, apakah aku pergi bersama ayahku dengan dua mobil beriringan." Aldo berkata padaku dengan rasa percaya dirinya.


Namun yang dia katakan memang benar, dia sungguh tahu apa yang ada di pikiranku saat ini. Lalu dia mengatakan bahwa informasi yang dia kirim padaku belum semuanya.


Karena masih ada informasi yang masih diselidikinya karena ada hal yang ganjil dengan Rosetta. Namun, Aldo masih berusaha untuk memastikannya agar tidak ada kekeliruan nantinya.


Dalam perjalan menuju perusahaan aku berkata, "Aldo hari ini kau urus semua tentang pak Dim, dia ingin istirahat dari seluruh kegiatan perusahaan. Urus semuanya hingga dia tidak merasa kekurangan di hari tuanya."


"Baiklah, apakah kau sudah yakin dengan keputusan ini? Karena pak Dim yang tahu semua seluk-beluk perusahaan." Aldo menjawab tetapi dia bertanya lagi padaku.


"Iya, karena aku tidak ingin dia tidak bisa menikmati hari tuanya dengan tenang." Aku menjawab pertanyaan Aldo.


Dia mengerti dengan apa yang aku katakan, semua ini demi pak Dim yang selalu membantu bunda di saat masa sulitnya. Sekarang giliran aku membalas kebaikannya. Aku ingin di hati tuanya dia tidak memikirkan apa pun.


Tibalah aku di perusahaan, aku di sambut ramah oleh para karyawan. Aku berjalan menuju ruanganku sedangkan Aldo langsung menuju ruangannya.


Tidak begitu lama Aldo menghampiriku dengan membawa beberapa dokumen yang harus aku periksa. Dan juga dia mengatakan ada beberapa parfum baru yang sedang di proses.


Ada kemungkinan dalam beberapa minggu kedepan akan launching parfum baru. Mungkin aku akan sibuk selama peluncuran produk baru, karena aku tidak ingin ada masalah dalam peluncuran kali ini.


Saat aku masih bicara dengan Aldo, pak Dim memasuki ruangan kerjaku. Dia mengatakan terima kasih karena sudah mengijinkannya untuk beristirahat dari rutinitas perusahaan.


"Jika Tuan muda Lexi, ingin bertanya mengenai perusahaan saya akan dengan senang hati membantu Anda." Pak Dim berkata dengan hormat.


Tanpa mengucapkan kata-kata aku berdiri lalu menghampirinya dan memeluknya. Dengan mengatakan terima kasih karena sudah membantuku dan juga bunda.


Dia tersenyum sembari menetesak air matanya karena dia teringat akan bunda. Dan juga melihatku yang sudah dewasa, dia berkata jika dulu dia menggendongku waktu masih bayi. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Setelah berpamitan padaku, pak Dim pergi meninggalkan ruangan. Masih terasa betapa hangatnya pelukan dari pria yang sudah berjasa pada keluargaku.

__ADS_1


Pak Dim merupakan orang yang bisa diandalkan dan dipercaya, dia tidak pernah meminta imbalan atas apa yang sudah dia kerjakan jika pekerjaan itu sudah melebihi kapasitanya. Aku harap pak Dim bisa bahagia dalam menjalani hari tuanya.


__ADS_2