Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 49


__ADS_3

Still Lexa POV


Sebelum kutanyakan siapa pria tersebut yang mengajakku dan Lexi untuk mengikutinya. Dia memperkenalkan dirinya sendiri, namanya adalah Hiragasi. Aku dan Lexi pun memperkenalkan diri kami, entah mengapa aku mulai merasa aman dengannya. Dia seperti ayah yang akan melindungi anaknya.


"Aku sudah tahu, jikalau kalian adalah anak-anak dari Rosalina Sanjaya! Dan kalian kemari untuk mengambil berkas Leo Ahmad!"


Aku terkejut saat dia mengatakan itu, sebenarnya siapa dia? Apa hubungannya dengan bunda dan Leo Ahmad. Sepertinya dia mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui, dalam Vidio pun tidak di jelaskan tentang pria paruh baya ini.


"Bagaimana Tuan bisa tahu tentang kami, Bunda dan Leo Ahmad?" Pertanyaan yang sama dengan apa yang kupikirkan, ternyata Lexi mengerti tatapan ku padanya.


Tuan Hiragasi mengatakan bahwa dia adalah teman dari Leo Ahmad, dia bertemu dengan Leo Ahmad saat sedang mengumpulkan semua informasi. Dimana informasi tersebut adalah mengenai musuh bunda dan ayah. Tuan Hiragasi pun mengenal bunda dari Leo Ahmad, karena dia sering bercerita tentang bunda. Dan juga Leo Ahmad selalu meminta tolong untuk melindungi bunda, selagi bunda berada di Jepang. Bunda juga pernah menolong tuan Hiragasi, sehingga tuan Hiragasi sangat hormat pada bunda.


Sebelum terjadi peristiwa penculikan ku dan tewasnya bunda dan Leo Ahmad. Tuan Hiragasi mendapatkan sebuah paket dokumen, dimana dia harus menyimpannya sampai ada yang mengambilnya. Leo Ahmad berpesan yang akan mengambilnya adalah Alexa dan Alexi Wibowo. Leo Ahmad memberikan ciri-ciri dari kami, bahwa tuan Hiragasi pasti mengenali kami. Karena wajah kami mirip bunda, apalagi aku jika berhijab maka aku akan terlihat seperti bunda. Mungkin itu sebabnya tuan Hiragasi langsung mengenaliku dan mengajakku ke ruangannya.


"Apakah Anda sudah membuka dokumen tersebut?!" Kulayangkan pertanyaan yang membuat Lexi tercengang.


Tuan Hiragasi hanya tersenyum dan berkata, "aku sama sekali tidak membukanya, karena ini adalah dokumen penting untuk kalian! Tapi kalian harus ingat, kalian harus berhati-hati menghadapi musuh kalian! Jangan sia-siakan pengorbanan Leo Ahmad dan Bunda kalian! Setelah kematian Bunda kalian dan Leo Ahmad banyak orang yang mencari dokumen ini. Aku terpaksa menyembunyikannya di sini. Dan aku pun menyembunyikan jati diriku."


Ternyata tuan Hiragasi pun menyelidiki lagian bunda dan Leo Ahmad, dia mendapatkan sebuah informasi bahwa orang tersebut bernama Rei Hirasaki. Dia pun menyerahkan semua informasi yang dia dapatkan padaku dan Lexi. Sekarang tugasnya sudah selesai untuk menyerahkan semua informasi pada kami. Tuan Hiragasi pun berkata jika kami membutuhkan bantuannya, kami bisa menghubunginya. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkannya, karena dia sudah berusaha keras melindungi informasi ini selama bertahun-tahun.


Tuan Hiragasi memberikan kami 2 buah Drafting tube, yang satu berisi dokumen siapa musuh kami dan yang satunya berisi dokumen tidak penting. Semua ini sengaja dia persiapkan untuk mengecoh lawan. Lexi menyerahkan Drafting tube yang asli pada ku, sedangkan dia memegang yang padaku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku harap ini bisa berjalan dengan baik. Aku memastikannya kembali dan membuka Drafting tube tersebut, ternyata tuan Hiragasi sudah membungkusnya sangat rapat sehingga tidak ada air yang masuk kedalamnya.


Saat kami akan pergi terdengar alarm tanda penyusup, karena kami memegang Drafting tube tidak memungkinkan kami memakai pakaian pengawal. Aku dan Lexi memutuskan melepas pakaian pengawal kami, sehingga kami menggunakan pakaian serba hitam yang kami pakai sedari rumah. Aku pun menyuruh Lexi untuk mengenakan topeng yang telah ku persiapkan untuknya.


"Cepat kalian pergi! Ingat berhati-hatilah, semoga kalian sukses!"


Aku tersenyum mendengar ucapan tuan Hiragasi, sebelum kami berpisah ku ucapkan rasa terimakasih padanya. Dia pun tersenyum, kulihat keyakinan dari matanya bahwa kami pasti bisa. Kami memutuskan untuk berpencar, Lexi pergi terlebih dahulu setelah itu baru giliran ku. Aku berharap baik aku atau Lexi bisa keluar dengan selamat dari tempat ini.


Ada pengawal yang mengarah padaku, aku pun bersembunyi mereka mengatakan bahwa manusia bertopeng sudah beraksi. 'Apakah Lexi sudah tertangkap? Tunggu manusia bertopeng, apakah dia pria mesum itu? Sial mengapa dia beraksi di sini? Mengganggu saja!' batinku.


"Dengar Lexa lebih cepat kau keluar dari Golden Pavilion maka kita akan selamat!" ucap Lexi padaku dalam earpiece.

__ADS_1


"Aku tahu Lexi, aku harap kau juga bisa selamat! Jika kita selamat aku ingin kau mentraktirku!"


Lexi terkekeh dia akan melakukan apapun jika kami berhasil selamat dari tempat ini. Para pengawal tadi sudah pergi, aku pun langsung bergegas untuk pergi. Kulihat sesosok pria bertopeng, tapi dia bukan Lexi. 'Apakah dia pria mesum itu, ahh sudah lah lebih baik aku memikirkan cara keluar dari tempat ini!' gumamku.


"Hai kau! Jangan bergerak!


Seseorang menodongkan senjatanya kepadaku dari belakang, aku diam sejenak setelah itu ku sikut perutnya dan aku berputar dan tendangan bawah sehingga posisi tubuhku berjongkok. Seketika dia terjatuh, dia memberikan pada rekanya pesan lewat earpiece-nya. Lebih baik aku segera pergi meninggalkannya, namun dia kembali berdiri. Terjadilah perkelahian kecil antara kami, tak begitu lama rekan-rekannya tiba. Mereka menyerangku tanpa basa-basi, tinjuan dan tendangan mereka layangkan kepadaku.


Bak!


Bik!


Buk!


Whuus!


Aku bertahan dari serangan mereka, mencari celah untuk membalas serangan mereka. Aku pun menemukan celah untuk membalas serenagn mereka, kulayangkan tinjuanku bertubi-tubi pada mereka. Sesekali aku melepaskan tendangan bawah dan tendangan atas. Kaki ku terhenti dengan posisi berdiri dengan kaki kanan, sedangkan kaki kiri ku berada di depan wajah seorang pengawal. Dia terdiam dengan posisi kaki ku berada di hadapan wajahnya, sebelum dia menghindar ku gerakan kaki kanan sehingga dia terjatuh.


Satu per satu para pengawal berjatuhan, aku berdiri dengan tegap kulihat apakah ada dari mereka yang masih berdiri. Ternyata tidak, yang kudengar adalah erangan kesakitan dari mulut mereka. Aku tersenyum tipis, ternyata hanya seperti ini kekuatan para pengawal.


Prok!


Prok!


Kudengar seseorang bertepuk tangan, ku berpaling dan melihat siapa yang bertepuk tangan. Kulihat seorang pria bertopeng, 'hmm rupanya dia pria mesum! Aku malas menghadapinya, lebih baik aku segera pergi dari sini!' gumamku.


"Nona kau begitu hebat! Bisa mengalahkan para pengawal!" Dia berkata sambil terkekeh.


Dia mulai menghampiri ku, aku mundur beberapa langkah. Dia berjalan dengan cepat sehingga aku dan dia sudah saling berhadap-hadapan. Aku mundur selangkah dah melancarkan tinjuanku, dia berhasil menangkap tanganku dan memelintir ke belakang sehingga aku tak bisa bergerak. Dia mulai berbisik padaku dan aku tidak menyukainya.


"Lepaskan aku dasar kau mesum!"

__ADS_1


Dia terkekeh dan berkata, "ohh rupanya kau gadis cantik ku! Ternyata aku benar ini adalah kau! Untuk apa kau kemari dan menggunakan topeng!?"


Aku menginjak kaki nya dengan sekuat tenaga, dia pun melepaskan tanganku. Dia tidak berpikir bahwa aku bisa melakukan hal lain dan anehnya bukannya meringis kesakitan dia malah terkekeh. Aku kesal dibuatnya, kenapa pula harus bertemu dengannya.


"Lexa kau masih dimana?!" Lexi bertanya padaku dalam earpiece.


"Aku akan menyusulmu, ada kucing mesum yang menghadang ku!" jawabku pada Lexi dan itu membuat dia dan pria mesum itu terkekeh. Aku sungguh kesal dengan kedua pria ini, jika mereka berada di hadapanku semuanya kuhajar mereka berdua sekaligus.


Aku meninggalkan pria mesum itu dengan kesal dan aku masih mendengar dia terkekeh. Para penjaga bengitu banyak bangaimana aku bisa keluar dari sini. Tiba-tiba ada yang menarik tanganku, aku hendak menghajarnya. Ternyata dia pria mesum itu dia menutup mulutku yang hendak mengeluarkan cacian.


"Diam! Jika kau bersuara maka mereka akan menemukan kita!" Bisiknya padaku, aku pun diam dan menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dari mulutku.


Dia pun melepaskan tangannya dari mulutku, aku memicingkan mataku padanya. Seraya ingin menerkamnya, dia hanya tersenyum itu yang membuatku semakin kesal. Setelah para pengawal pergi, aku hendak bergerak namun langkahku terhenti. Aku melihat Alan di hadapan ku, dia menghampiriku. 'sial dia melihatku ditambah disampingku ada pria mesum ini! Lengkap sudah penderitaanku hari ini!' batinku.


Tiba-tiba pria mesum itu berpindah posisi menjadi di depanku, seraya ingin melindungi ku dari Alan. Terjadilah perkelahian antara mereka berdua, aku hanya memperhatikan saja mereka berkelahi. Lebih baik aku pergi dari sini selagi mereka sibuk berkelahi.


Whuuss!


Ada yang hendak menendang ku, namun aku berhasil menghindar. Ternyata Alan yang melayangkan tendangannya, itu menandakan dia tidak akan membiarkan ku pergi begitu saja. Pada akhirnya aku pun ikut berkelahi, ternyata Alan hebat juga dia bisa bertahan dari serangan kami berdua. Entah kenapa aku dan pria mesum ini bekerjasama untuk menghadapi Alan. Beberapa saat kemudian para pengawal berdatangan, kami berdua terkepung. Kulihat Alan tersenyum sinis, dengan arti bahwa kami tidak akan bisa lepas dari tangannya.


____________________________________________


Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.


Klik search di Instagram dengan nama akun :


@macan_nurul


Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya klik, love atau jadikan favorit 😍


Jangan lupa vote ya biar berada di barisan atas hehehe...

__ADS_1


__ADS_2