
Lexi POV
Setalah beberapa hari ini aku tidak menghubungi ayah dan juga ayah tidak menghubungiku. Lebih baik aku menghubungi ayah saja lalu meminta maaf padanya.
"Sayang, ayo kita sarapan!" ucap Himawari padaku dengan lembut.
Ada yang aneh dengan Himawari pagi ini, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Lebih baik aku segera ke ruang makan karena Lexa dan Hinoto pasti sudah menunggu di sana.
Aku berjalan menuju ruang makan, sungguh terkejutnya diriku saat melihat ayah yang sudah duduk di kursi yang biasa diduduki olehnya. Dia tersenyum saat melihatku mendekat meja makan, aku pun tersenyum padanya.
Sejak kapan ayah di Jepang, kenapa aku tidak tahu kedatangan ayah. Himawari tersenyum melihat ke arahku, aku yakin jika dia sudah tahu jika ayah berada di rumah tetapi dia tidak mengatakannya padaku.
"Kapan ayah tiba di rumah?!" Aku mencoba memberanikan diri bertanya pada ayah.
"Tadi malam," jawab singkat ayah.
Setelah menjawab pertanyaan dariku, ayah mengatakan untuk segera memulai sarapan pagi ini. Seorang pelayan pun mulai menyajkkan sarapan yang sudah ada di atas meja makan.
Sarapan seperti biasanya, aku menyukai jika semua berkumpul seperti ini. Mungkin setelah sarapan aku akan bicara dengan ayah dan meminta maaf atas sikapku yang seperti anak kecil.
Ayah menyuruhku dan Lexa untuk ke ruang baca setelah sarapan karena ada yang ingin ayah katakan pada kami berdua. Aku pun mengangguk lalu berjalan mengikuti ayah dari belakang begitu pula dengan Lexa.
"Kau tahu apa yang akan Ayah katakan pada kita?!" tanyaku pada Lexa.
Dia menggelengkan kepalanya dengan arti dia tidak tahu apa yang akan ayah katakan pada kami. Namun, aku tidak peduli yang penting hari ini aku akan meminta maaf pada ayah.
Aku dan Lexa masuk ke ruang baca di sana sudah ada ayah, asisten Ari dan Aldo. Rupanya sudah berkumpul semuanya, sebenarnya apa yang ingin ayah sampaikan padaku.
"Duduklah!" perintah ayah padaku dan Lexa.
Setelah kami duduk asisten Ari memberikan beberapa dokumen padaku dan juga Lexa. Aku membaca dokumennya, betapa terkejutnya aku tentang isi dokumen tersebut.
Ternyata semua ini sudah direncanakan oleh bunda sebelum tiada, jika semuanya seperti ini aku tidak bisa membantahnya. Mungkin bunda telah memperhitungkan semuanya.
"Mengapa Ayah tidak mengatakan semuanya padaku kemarin?" Aku bertanya pada ayah.
"Aku belum memastikan semuanya dan juga untuk menguji dirimu, apakah kau akan marah atau tidak padaku!" Ayah menjawab dengan nada tegasnya.
Meski terlihat tegas, sorot mata ayah masih saja terlihat hangat padaku atau Lexa. Aku melirik Lexa tetapi kenapa dia tidak terlihat begitu terkejut. Apakah dia sudah mengetahui semua ini.
Sudahlah lebih baik aku mengatakan permintaan maafku pada ayah, setelah itu aku akan bertanya pada Lexa apa yang sudah dia ketahui tentang Rosetta.
Setelah membaca dokumen itu, ayah menanggalkan semua yang ayah ketahui. Dan ayah juga berharap kami bisa membantu Rosetta jika dia menghadapi kesulitan dalam menangani perusahaan bunda.
"Ayah, maafkan aku yang sudah bersikap tidak sopan padamu dan pergi begitu saja meninggalkan Ayah di Indonesia." Aku berkata dengan penuh penyesalan.
"Anak bodoh! Kau begitu emosi karena begitu ingin melindungi perusahaan bunda. Aku tahu— kau pasti berpikiran jika aku sudah berpaling dari bunda, -kan?!" jawab ayah disertai pertanyaan padaku.
Aku tersenyum mendengar ayah mengatakan itu, karena apa yang ayah katakan benar semuanya. Karena aku tidak rela jika ayah melupakan bunda begitu saja, teryata penilaianku salah pada ayah.
"Maafkan aku karena sudah salah menilai Ayah!" ucapku pada ayah lalu aku melihat senyum ayah yang begitu hangat.
Sedangkan Lexa menepuk pundakku seraya mengatakan jika aku tidak boleh salah paham lagi dengan ayah. Aku melihat Aldo dan asisten Ari tersenyum melihatku dan ayah sudah berbaikan.
"Aku masih penasaran dengan Rosetta?!" Lexa berkata seraya ingin tahu jawaban dari siapa pun yang tahu jawabannya.
"Apa yang ingin kau ketahui tentangnya?" Ayah balik bertanya.
"Sebenarnya dia benar sepupu Himawari atau bukan? Mengapa dia bertindak kejam pada ibunya Himawari dan Rein?!" jawab Lexa dengan pertanyaan kembali.
Itu juga yang aku ingin ketahui tentang Rosetta menatap dia bisa bertidak jahat pada Himawari, ibu dan juga Rein. Jika dia benar-benar sepupu yang baik maka dia tidak akan bertindak seperti itu.
"Jika kalian ingin tahu, maka malam ini ayah akan undang Rosetta siang ini ke rumah!" Ayah menjawab dengan nada serius.
Aku sedikit terkejut jika Rosetta sedang ada di Jepang, apakah ayah dan Rosetta ke Jepang bersamaan.' Arrgghhhh hentikan ini Lexi, ayah ada hanya untuk bunda,' batinku.
Setalah mengatakan itu Lexa setuju dengan ayah, mungkin ayah juga berpikir harus melakukan ini karena baik aku atau Lexa harus tahu bagaimana Rosetta yang sebenarnya.
"Kalau begitu aku akan menunggu kedatangan Rosetta! Aku akan ada di kamar jika butuh aku adalah di kamar!" Lexa berkata lalu pamit pada ayah dan pergi meninggalkan kami semua.
Sedangkan aku meminta Aldo untuk ikut bersamaku karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Dia bersedia untuk ikut denganku lalu aku pamit pada ayah. Setelah ayah mengijinkan aku pergi, aku pun melangkah ke luar ruang baca ayah diikuti oleh Aldo.
Aku memutuskan untuk duduk di taman karena tempat ini sangat indah di pagi hari. Entah mengapa aku lebih suka melihat taman ini di pagi hari.
"Bagaimana penyelidikanmu terhadap Rosetta?" tanyaku pada Aldo.
Karena sebelum aku pergi ke Jepang aku sudah menyuruh Aldo untuk menyelidiki Rosetta. Lalu Aldo mengatakan jika dia tidak bisa mencari informasi yang lebih hanya ada informasi yang sudah aku dapatkan.
Jadi sebenarnya siapa dia? Sehingga semua data tentangnya begitu ditutup dengan rapat. Yang aku tahu jika datanya sulit di cari dia adalah seorang agen rahasia seperti Himawari.
Apakah Rosetta seorang agen rahasia seperti Himawari dan Hinoto, aku harus mencari tahu semuanya tentang dia. Entah mengapa aku masih merasa ada yang ganjil dengan dia.
Kali ini aku akan melihat bagaimana Rosetta menceritakan tentang jati dirinya. Jika aku masih merasa ragu, maka aku akan mengeluarkan kemampuan diriku untuk meretas kembali.
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Aldo, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Sembari menunggu kedatangan Rosetta ke rumah, aku sudah tidak sabar ingin tahu tentang dia dan mengapa dia berlaku jahat pada ibu, Himawari dan juga Rein.
"Sayang, apa kau tahu jika Rosetta sedang berada di Jepang?" tanyaku pada Himawari yang sedang membaca sebuah novel sembari duduk di atas sofa.
"Tidak," jawab singkat Himawari.
Lalu dia balik bertanya padaku tentang Rosetta, aku pun mengatakan jika singa ini Rosetta akan ke rumah. Ayah yang menyuruhnya untuk ke rumah. Karena baik aku atau Lexa ingin tahu kebenaran tentang Rosetta.
Himawari terlihat sangat sedih, mungkin dia mengingat semua perlakuan Rosetta pada ibu dan adiknya termasuk dirinya sendiri. Namun, aku perlu bertanya pada Rosetta mengapa dia berlaku buruk pada istriku serta ibu dan adiknya.
***
Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar di ketuk. Himawari berjalan mendekati pintu kamar guna melihat siapa yang mengetuk pintu. Dia membuka pintu setelah itu dia kbali berjalan mendekatiku.
"Rosetta sudah ada di bawah, Ayah menyuruh kita segera ke bawah!" Himawari berkata.
Aku beranjak lalu berjalan menuju ruang tamu bersama Himawari, juga dengan tangannya dengan lembut. Aku tahu dia merasa kesal tetapi belum saatnya dia meluapkannya.
Saat tiba di ruang tamu aku melihat semuanya sudah berkumpul, terlihat Rosetta dengan senyumnya tanpa dosa. Namun, aku melihat ada yang lain dengan Rosetta kali ini.
"Duduklah!" Ayah berkata padaku, laku aku duduk bersama Himawari di samping Lexa dan Hinoto.
Melihat semuanya sudah berkumpul, ayah pun mulai bicara. Dan ayah menyuruh Rosetta untuk mulai menceritakan semuanya. Kulihat Lexa sudah ingin bertanya terlebih dahulu. Namun, Himawari bertanya terlebih dahulu.
"Sebenarnya apa tujuanmu? Dan siapa kau sebenarnya?" Himawari bertanya pada Rosetta dengan nada dingin.
Rosetta tersenyum lalu berkata, "Aku tidak memiliki tujuan apa pun dan aku adalah sepupumu."
"Jika kau sepupunya— mengapa kau berlaku jahat pada ibunya serta adiknya Himawari?!" Lexa bertanya pada Rosetta dengan nada dingin pula.
Rosetta mengatakan semua yang dia lakukan demi melindungi Himawari, ibu dan Rein. Jika dia tidak melakukan semua itu maka ayahnya akan membuat mereka lebih menderita bahkan bisa menghabisi Rein yang saat itu masih bersekolah di luar negri.
Himawari begitu terkejut mendengar penjelasan Rosetta, mungkin dia tidak menyangka jika wanita yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas dan menyakitkan ini begitu melindungi keselamatan ibu, Rein dan dirinya.
"Apa kau seorang agen rahasia?!" Aku bertanya karena itu selalu berada di benakku.
"Kau memang putra dari Nyonya Alin dan Tuan Alex, sehingga sudah bisa menebak siapa aku yang sebenarnya." Rosetta menjawab dengan santai.
Dan juga dia mengatakan jika dirinya memang seorang agen rahasia, dia juga banyak bekerja sama dengan beberapa agen rahasia Jepang. Karena dia tidak mau terikat dengan apa pun, sehingga dia sekarang banyak di buru oleh para musuh.
Namun, dia sudah berhenti dari agen rahasia karena dia ingin fokus pada perusahaan bunda. Misi terakhirnya adalah penangkapan Takeda, dia juga mengatakan mungkin ayahnya akan membantu Takeda untuk lepas dari jeratan hukum.
Yang pasti dia berniat untuk melindunginya perusahaan bunda dan juga keluarga Himawari. Dia juga meminta bantuan padaku dan Lexa untuk bisa saling menjaga.
"Aku memaklumi jika kau tidak percaya padaku tetapi aku akan tetap melindungi keluargaku juga, agen rahasia Himawari!" jawab Rosetta.
Himawari terkejut karena Rosetta tahu jika dirinya seorang agen rahasia juga. Lalu dia balik bertanya mengapa dia bisa tahu jika Himawari seorang agen rahasia.
Rosetta menjawab bahwa dia sudah tahu sejak kedatangan Himawari ke Indonesia. Dan juga kedatangan Hinoto yang berbarengan karena dia tahu pasti pekerjaan yang dilakukan Hinoto selain jadi pengusaha dia adalah seorang agen rahasia.
Setelah pembicaraan kami selesai, Rosetta memilih untuk segera pergi karena dia akan kembali ke Indonesia. Dia tidak bisa berlama-lama di Jepang. Sebab ayahnya akan merasa curiga jika dia tidak ada di Indonesia.
Ayah mengizinkan Rosetta untuk pergi, setelah kepergian Rosetta ayah mengatakan jika ada yang masih mau ditanyakan bisa tanya langsung pada ayah.
Kulihat Lexa hanya diam, mungkin dia sudah tahu yang sebenarnya karena itu terlihat janggal bagiku. Setelah ayah mengatakan itu, ayah berjalan pergi meninggalkan diriku dan yang lainnya. Dia pergi ke ruang baca bersama asisten Ari.
"Lexa, apa kau sudah tahu masalah ini?!" Aku bertanya pada Lexa yang masih duduk di sampingku.
"Iya— aku sudah tahu," jawabnya.
"Mengapa kau tidak mengatakan ini, Hinoto?!" Himawari bertanya pada Hinoto.
Kulihat Hinoto terdiam, lalu dia menjawab jika semua ini memang harus ditutupi. Karena Rosetta yang memintanya untuk merahasiakan semuanya. Dia sendiri yang ingin menceritakan semuanya pada kami.
Himawari pergi meninggalkan kami setelah mendapatkan jawaban dari Hinoto. Aku tahu dia pasti sangat terkejut dan kecewa tetapi semua ini mungkin sudah seharusnya terjadi.
"Pergilah— temani, Himawari!" Lexa berkata padaku.
Lalu dia pergi bersama Hinoto, mungkin mereka berdua juga akan membicarakan masalah ini. Arrgghhhh entahlah, lebih baik aku menemani Himawari saja.
Sebelum menyusul Himawari ke kamar, aku menyuruh Aldo untuk mempersiapkan semua hal untuk memulai pekerjaan di perusahaan Jepang.
Karena mulai hari ini aku akan membantu Lexa mengurus perusahaan ayah yang di Jepang. Untuk perusahaan bunda biarlah Rosetta yang mengurusnya lagi pula ayah sudah memberikan keputusannya untuk mengangkat Rosetta sebagai CEO di sana.
Setelah mengatakan itu pada Aldo, aku berjalan menuju kamar guna melihat keadaan Rosetta. Kulihat dia sedang berdiri di balkon kamar, dia hanya diam menikmati suasana di luar.
Aku mendekatinya lalu memeluknya dari belakang, aku tahu jika hatinya sedang gundah. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan yang dikatakan oleh Rosetta.
"Aku belum bisa percaya penuh terhadap Rosetta!" ucap Himawari padaku sembari memegang lenganku yang melingkar di tubuhnya.
"Aku tahu, tidak usah terburu-buru kita jalani saja dan melihat apa yang dia lakukan!" jawabku.
Lalu dia berkata mengapa belum bisa percaya penuh karena dia merasakan sendiri betapa kejamnya dia padanya dan ibu sewaktu di Indonesia.
__ADS_1
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan karena semua yang terjadi sudah dialami oleh Himawari. Namun, yang pasti sekarang aku tidak akan membiarkan dia kembali menderita.
"Sayang, ayo kita program untuk memiliki bayi!" bisikku pada Himawari yang masih terdiam dalam pelukanku.
Setelah dia mendengar bisikan dariku, aku mendengar dia tertawa kecil. Dan dia berkata dengan lirih jika aku sudah mulai berubah menjadi sangat mesum.
Entahlah sejak kapan aku mulai menjadi mesum padanya, mungkin aku merasa kalau dia sudah menjadi milikku dan tidak akan pernah aku lepaskan.
Kukecup tengkuk leher Himawari dengan lembut, sehingga dia merasakan kegelian tetapi dia tidak berusaha menghentikan kecupanku.
Tanganku ikut berjalan di setiap lekuk tubuh bagian depannya, aku menghentikan permainanku lalu menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Aku menatap wajahnya yang mulai memerah, dia tersenyum manis padaku. Sehingga aku tidak bisa menahan diri untuk mengecup bibirnya yang terasa manis bagiku.
Saat aku akan menghempaskan tubuh Himawari ke atas tempat tidur, terdengar suara pintu kamar di ketuk. Aku mengabaikan suara ketukan pintu kamar, kuhemoaskan secara perjalan Himawari ke atas tempat tidur.
Memandanginya sekejap lalu menyerangnya dengan kecupan yang hangat. Aku memainkan peranan lidahku sehingga bermain di dalam rongga mulutnya.
Dia menikmati setiap permainan dari kecupanku, saat aku hendak melakukan yang lebih. Suara ketukan pintu kembali terdengar dan itu menggangguku. Sehingga aku menghentikan permainanku dengan Himawari.
Aku berjalan dengan kesal menuju pintu kamar untuk membuka pintu kamar dan untuk mengetahui siapa yang sudah menggangguku. Saat hendak mengomeli yang mengetuk pintu, aku terkejut karena yang ada di balik pintu adalah ayah.
"Ikutlah denganku sebentar!" Ayah berkata lalu pergi berjalan meninggalkanku.
Himawari mengangguk seraya dia mengijinkan aku pergi, aku pun mengikuti ayah dari belakang. Aku pikir ayah akan mengajakku ke ruang baca, rupanya ayah mengajakku ke teras belakang.
Ayah duduk di sebuah kursi yang menghadap ke taman, lalu ayah mulai bicara. Ayah ingin aku segera mengurus suatu masalah perusahaan bersama Lexa.
"Ada apa dengan perusahaan? Bukankah semuanya sudah berjalan dengan baik!" tanyaku pada ayah.
"Ada musuh ayah yang ingin menghancurkan perusahaan, mungkin dia mengira jika kedua anak ayah tidak sanggup melawannya." Ayah menjawab dengan yakin.
"Baiklah— aku akan mulai bekerja besok pagi! Dan aku akan melindungi Lexa dan perusahaan Ayah." Aku berkata pada ayah dengan penuh keyakinan bahwa aku bisa melindungi yang aku anggap penting.
***
Keesokan harinya aku sudah berada di perusahaan, Aldo sudah menyiapkan semua informasi yang aku butuhkan. Aku mengatakan padanya untuk mencari tahu siapa yang sudah berniat untuk menghancurkan perusahaan ayah.
Aldo mengangguk lalu dia berjalan meninggalkan ruanganku untuk menjalankan perintahku. Lalu aku kembali dengan Notebook yang ada di atas meja. Semabari Aldo memeriksa semua tentang musuhku, aku mulai berselancar di jaringan internet.
Sudah lama aku tidak melakukan peretasan, lebih baik aku mencari informasi tentang Rosetta. Jika Aldo tidak bisa menemukan informasi dia, maka aku akan mencari tahu sendiri.
Ini juga untuk menyakinkan diriku atas Rosetta, entah mengapa aku masih belum bisa percaya sepenuhnya. Mungkin juga karena melihat sikapnya yang buruk kepada Himawari dan keluarganya.
"Apa yang sudah kau temukan?!"
Aku terkejut mendengar seseorang bertanya padaku, saat aku melihat siapa yang bertanya padaku. Dia adalah Lexa yang sudah berada di belakangku sembari melihat layar Notebook.
"Astaga— kau membuatku terkejut saja!" jawabku pada Lexa yang sedang fokus pada layar Notebook.
"Kau terkejut? Aku pikir kau akan tidak sadarkan diri jika terkejut!" celetuk Lexa sembari berjalan menuju kursi yang ada di depan mejaku lalu dia duduk.
Lexa bertanya kembali padaku apakah yang sudah aku temukan, aku menjawab sudah bisa membuka jaringan agen rahasia di Indonesia. Sebentar lagi aku akan bisa mengetahui tentang semua informasi Rosetta.
Lalu dia mengatakan akan menungguku hingga mendapatkan semua informasi itu. Aku berkata padanya, "Apakah kau tidak ada pekerjaan lain selain menungguku?!"
"Tidak!" jawabnya singkat.
Aku sudah tahu dia jika sudah ingin mengetahui sesuatu pasti dia bisa menunggu hingga berjam-jam. Sebenarnya sifatnya dan sifat diriku sama, yaitu jika ingin tahu sesuatu maka harus mencari tahu hingga mendapatkannya.
Akhirnya aku bisa masuk dan menemukan semua informasi tentang Rosetta. Dan aku menemukan semua misi yang dilakukan oleh Rosetta, betapa terkejutnya aku saat melihat informasi tersebut.
Rupanya Rosetta pernah melakukan misi beberapa kali dengan Hinoto dan menurut informasi ini jika mereka berdua pernah menjalin hubungan.
Jika Lexa tahu ini maka dia akan sangat marah tetapi aku juga tidak ingin merahasiakan semua ini darinya. Karena itu adalah haknya juga untuk mengetahui masa lalu dari suaminya.
"Kau baca ini!" Aku membalikkan Notebook ke arah Lexa.
Lalu dia membaca semua informasi yang tertera di layar Notebook, terlihat jelas dia sangat terkejut. Dari sorot kedua matanya ada rasa kesal dan marah.
Apakah Hinoto tidak mengatakan sepenuhnya pada Lexa, jika itu benar maka Hinoto sudah tidak berkata jujur padanya. Karena dalam hubungan rumah tangga harus ada kejujuran. Itulah yang selalu ayah katakan pada kami.
Ayah berkata jika dia selalu jujur pada bunda karena itu sangat penting. Itu semua bisa membuat rasa percaya dan rasa dianggap penting oleh pasangan kita masing-masing.
"Apa dia tidak mengatakan ini semua?!" tanyaku pada Lexa.
Dia terdiam tetapi beberapa saat kemudian dia mengatakan bahwa Hinoto hanya mengatakan jika mereka hanya menjalankan misi satu kali saja dan tidak memiliki hubungan apa-apa.
Aku sedikit kecewa dengan Hinoto, mengapa dia tidak mengatakan dengan jujur semuanya. Malah dia menutupinya, inilah yang aku takutkan jika aku tidak jujur pada istriku. Aku takut jika istriku mengetahui apa yang aku sembunyikan dari orang lain.
Setelah Lexa membaca semua informasi tersebut, dia hanya diam dan berjalan meninggalkan ruanganku. Aku merasa bersalah padanya, apakah yang aku lakukan tadi sudah benar? Memberitahukan kebenaran ini.
Namun, aku juga tidak bisa membiarkannya begitu saja karena aku takut jika Hinoto bisa bermain api di belakang Lexa. Akan tetapi, aku merasa jika Hinoto tidak akan melakukan itu.
__ADS_1