Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 50


__ADS_3

Still Lexa POV


Para pengawal itu semakin mendekat dan mengepung kami. Pria mesum ini memegang pinggangku dengan kedua tangannya, dia berbisik padaku untuk bersiap-siap. Aku bingung apa yang akan dia lakukan, secara mendadak mengangkat badanku. Secara refleks aku pun mengangkat kedua kakiku.


Whuuss!


Buk!


Whussss!


Brugggg!


Tendangan berputar ku membuat para pengawal yang mengelilingi kami berjatuhan. Dia pun menurunkan ku dengan lembut, tersenyum lembut padaku dan berkata, "kau hebat gadisku!"


Melihat keadaan akan semakin merepotkan jika kami tidak segera pergi dari sini. Pria bertopeng ini menarik tangan ku dan berlari meninggalkannya para pengawal yang sudah tak berdaya. Alan yang melihat kami, berlari mengejar kami. Di saat aku sedang berlari Lexi mengajariku bahwa dia sudah berada di dalam mobil. Aku mengatakan bahwa aku sedang menghindari dari kejaran para pengawal. Lexi ingin kembali dan membantuku, tapi aku melarangnya. Jangan sampai dia kembali untuk membantuku, karena itu bisa membuatku semakin sulit bergerak. Aku menyuruhnya untuk menunggu di mobil.


Aku sudah berada di luar, ternyata di luar sudah menunggu para pengawal. Mereka banyak sekali, apakah aku bisa menghadapi mereka semua. Tak berapa lama Alan pun sudah bergabung bersama pengawal lainnya.


"Hai gadis ku, apa kau mau mengikuti rencana ku? Jika iya, kau harus memelukku!" Pria bertopeng ini membuatku berpikir, apa lagi rencana yang akan dia lakukan.


"Cepat peluk aku!"


Tiba-tiba terdengar suara baling-baling helikopter, tanpa berkata lagi aku memeluknya. Dia tersenyum dengan kemenangan, dia merasa telah menang karena aku menuruti perintahnya. Setelah aku memeluknya dari atas terjulur tali, pria mesum ini mengikatkan tali pada tubuhnya. Sepersekian detik tubuh kamu terangkat, Alan melihat kami akan pergi langsung mengejar. Dia berhasil memegang kaki ku, dia bergelantungan di kaki ku. Aku merasakan kesakitan, karena melihatku meringis kesakitan pria mesum ini menendang Alan dengan sekuat tenaga. Sehingga Alan terjatuh, kami pun berada di ketinggian.


"Tampaknya kau suka memelukku ya?!"


Aku melepaskan pelukanku, aku lupa bahwa aku sedang berada di ketinggian. Tapi dia memegang pinggang ku dengan erat, dia tersenyum tangannya mulai menyentuh wajahku. Dia menyibakkan rambutku yang tertiup angin dan menutupi wajahku. Entah apa yang akan dia lakukan lagi, bibirnya mulai mendekati bibirku. Aku melayangkan tinjuanku, dia menangkisnya.


"Lepaskan aku! Dasar mesum!"


"Benarkah! Jika itu mau mu, akan aku turuti perintahku!"


Syuttttt!


Whussss!


Pria mesum itu melepaskan tangannya dari pinggangku, dia benar-benar melemparkan ku ke bawah.


"Dasar kau pria mesum! Akan ku balas jika bertemu dengan mu lagi!!" Teriakku.

__ADS_1


Byurrr!


Aku terjatuh ke dalam kolam yang cukup dalam, tubuhku terhenyak, badanku lemas sekali. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku berusaha mengumpulkan tenaga ku dan berusaha berenang ke atas. Akhirnya aku berhasil keatas dan bisa menghirup udara, kulihat dia masih berada di atas dan tersenyum sembari memegang Drafting tube. 'sial dia mendapatkan barang ku! Tapi aku tidak akan kalah dengan mu, kutunjukkan tanganku yang sedang memegang sebuah sebuah kotak!' gumamku.


Aku tersenyum saat melihatnya mencari barang yang ada di sakunya dan dia tidak menemukannya. Aku pun berenang ke daratan, setelah sampai di darat aku menghubungi Lexi menggunakan earpiece. Untung saja Lexi mendesign earpiece ini kedap terhadap air, sehingga bisa di gunakan meski sudah terkena air. Lexi pun langsung menuju ke arah ku menggunakan mobil dengan kecepatan penuh.


Helikopter pria mesum itu pergi meninggalkan ku, tak begitu lama Lexi tiba. Aku pun langsung memasuki mobil, Lexi memberiku sehelai handuk. Dia bertanya kenapa aku bisa terjatuh kedalam kolam yang dalam itu. Aku pun menceritakan semuanya pada Lexi dan juga tentang dokumen yang di rebut oleh pria mesum itu. Bukannya marah dengan pria mesum itu, Lexi malah terkekeh mendengar cerita ku.


"Sudah hentikan tawa mu itu Lexi!" ucapku sembari menepuk kepalanya.


Bukannya berhenti tertawa dia malah semakin menjadi, aku semakin kesal dengan tawanya itu. Aku pikir kami sudah bisa lolos, namun aku salah ada yang mengejar kami. Aku pun berkata pada Lexi untuk segera bertukar posisi. Aku akan memegang kemudi sedangkan dia memainkan jari-jemarinya di atas keyboard Notebook-nya. Dia mencari jalan untuk bisa lepas dari kejaran musuh. Aku terus memacu mobil dengan kecepatan tinggi, Lexi memberi arahan kepadaku. Dan aku pun mengikuti arahannya, tuk saat ini lebih baik aku dan Lexi tidak berkelahi.


"Belok kiri, nanti ada pertigaan kita setelah itu kita belok kanan! Jika kita bisa melewati itu aku yakin mereka tidak bisa mengejar kita!" ucap Lexi padaku dan aku pun mengikuti arahannya.


Kulihat dari kaca spion mereka sudah tak terlihat, mungkin kami sudah bisa lepas dari mereka. Tapi aku tak mengurangi sedikitpun kecepatan mobil, Lexi berkata padaku bahwa jangan merasa bahwa kita sudah lepas dari mereka. Mereka masih mengejar, ku lihat kembali kaca spion ternyata benar ada lebih dari 5 pengendara motor dilihat total orang ada 10 orang. Mereka semakin dekat, aku berusaha agar bisa lepas dari kejaran mereka.


Ckitttt!


Aku menginjak rem dengan sekuat tenaga, di depanku sudah ada motor yang menghadang. Aku menyuruh Lexi untuk menggunakan topengnya begitupun dengan ku. Aku menyuruh Lexi untuk diam di dalam mobil, tapi dia tidak mau. Dia akan ikut bertarung dengan ku, karena dia sudah memutuskan itu aku pun mengiyakan. Kami pun keluar dari mobil, mereka semua sudah berkumpul total ada 10 orang. Mereka mengepung kami, 'apapun yang terjadi aku harus melindungi Lexi!' batinku.


"Serang!!" teriak seorang musuh.


Whuuss!


Brugggg!


Kulayangkan tendangan ku ke salah satu musuh, dia langsung tersungkur ke tanah. Temannya langsung menyerangku kembali, sebelum dia mengeluarkan jurusnya aku langsung berlari dan menendangnya dengan tendangan melayang. Dia pun tersungkur sembari terdengar rintihan kesakitan dari mulutnya.


Whuuss!


Seorang musuh melayangkan sabetan pedangnya, dia berniat melibas ku. Aku pun melepaskan ikat pinggangku seketika berubah menjadi pedang tipis.


Klang!


Klang!


Suara tubrukan Anatar pedang ku dan musuh memercikkan percikan api. Begitu kuat tenaga dari musuhku ini, sehingga menimbulkan percikan api dari hantaman kedua pedang. Aku harus berhati-hati dengannya, ku lirik Lexi guna melihat keadaanya. Dia masih bisa bertahan menghadapi mereka, syukur-syukur kalau dia bisa mengalahkan mereka. Biar aku menghadapi orang bersenjata pedang ini.


Whussss!

__ADS_1


"Hai Nona lebih baik kau fokus padaku saja!" Pria berperang itu berkata dengan sinis dan sombongnya sembari melayangkan pedangnya ke arahku.


Klang!


Klang!


Aku terus berkelahi dengannya, aku lebih banyak bertahan sembariencaei kelemahannya. Dia benar-benar lawan yang tangguh, baru kali ini aku menghadapi musuh berpedang yang tangguh. Kami terus bertarung, dia terus saja menyerangku tanpa jeda. Dia tak memberiku semepatan untuk membalasnya, yang bisa kulakukan hanya bertahan dan mencari kesempatan untuk balik menyerangnya. Pasti ada titik kelemahan yang dia miliki, aku akan bertahan sembari memperhatikan setiap gerakannya.


Whussss!


Klang!


Sreeettt!


Aku berlutut dan berseluncur guna menghindari sabetan pedang yang di layangkan. Untung saja aku menggunakan celana yang melindungi bagian lutut ku. Kelihatannya dia sudah mulai kelelahan, inilah saatnya bagiku untuk menyerang balik.


Whussss!


Whussss!


Klang!


Aku serang balik dengan semua jurus yang sudah kupelajari, dia mulai kewalahan menghadapi serangan balik dariku. Salah satu serangan ku mengenai tubuhnya, luka dari sabetan pedang ku mengeluarkan tetesan darah segar. Tanpa memberinya kesempatan untuk membalas serangan, aku segera menyerangnya kembali. Kuayunkan pedangku dan sesekali aku melayangkan tendangan ku.


Brugggg!


Dia terhuyung ke belakang dan terjatuh, tubuhnya penuh dengan luka yang telah kuberikan. Dia terlihat lemas dan tak bisa bangkit lagi, kulihat Lexi dia masih bertarung dengan 2 orang musuh. Aku pun segera mendekati Lexi dan membantunya, lebih cepat musuh ini kami atasi maka makin bagus.


Brugggg!


Mereka jatuh tanpa sisa, kulihat ada luka di tangan Lexi begitupun dengan ku. Aku terluka terkena sabetan pedang dari musuhku, tapi tidak terlalu dalam. Setelah melumpuhkan para musuh kami, Lexi menyuruhku untuk segera masuk mobil. Aku memutuskan memegang kendali setir mobil dan Lexi masih dengan tugasnya memberi arahan padaku untuk pulang dengan selamat.


Ku nyalakan mesin mobil dan tancap gas, seketika mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Mungkin jika kami masih berada di tempat itu, musuh kami akan semakin bertambah. Karena Lexi melihat dari Notebook-nya ada beberapa mobil menuju ke arah kami. Setelah berjalan dengan cepatnya, Lexi mengatakan bahwa kita sudah aman. Aku pun langsung menuju rumah, sepertinya luka di tanganku harus segera di bersihkan dan di obati.


____________________________________________


Hai hai hallo para pembaca setia ku, terimakasih loh ya sudah membaca dan menunggu up ku setiap harinya 😊


Jangan melupakan like dan komen yang membangun, atau masukkan dari kalian silahkan. Oia kalau mau ya, ini kalo mau masukkan semua poin kalian pada Alexa ya πŸ˜‰ kalau tidak juga tidak mengapa😜😜

__ADS_1


__ADS_2