
Aldo POV
Aku tidak menyangka dia begitu imut jika melakukan kesalahan, aku tahu jika dia tidak bisa memasak. Tetapi niat nakal dalam jiwaku meronta ingin sekali menggodanya.
Setelah selesai membereskan pantry, aku melihat Aiko duduk sembari memainkan ponselnya. "Apa kau sudah kenyang?" tanyaku padanya.
Dia mengangguk, lalu aku menyuruhnya untuk beristirahat karena besok pagi harus bangun pagi-pagi. Sepertinya besok adalah hari yang melelahkan.
Aiko masuk terlebih dahulu sedangkan aku, duduk semabri menikmati minuman hangat yang baru aku buat. Aku kembali mengingat apa yang dikatakan oleh ayah.
Ayah berkata padaku jika pilihannya tidak pernah salah, lagi pula semua ini sudah di tentukan saat nyonya Alin masih hidup. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuat Aiko jatuh hati padaku dan akan menjadi istri untuk seumur hidupku.
Karena yang aku tahu dia masih sangat mencintai Isamu, mungkin dia tidak akan percaya jika aku mengatakan semua kebusukan Isamu. Aku tidak tahu bagaimana reaksi dia jika mengetahui jika Isamu masih hidup. Apakah dia akan kembali padanya dan meninggalkan aku.
Namun, jika itu keinginannya aku akan mengabulkan apa yang dia inginkan. Meski dia meminta aku melepaskannya, tetapi aku tidak akan melepaskannya jika dia ingin kembali pada Isamu. Karena Isamu bukanlah pria yang baik untuknya.
Aku menerima pernikahan ini juga karena ingin melindunginya dari Isamu agar dia tidak diperdaya oleh Isamu. Karena Hinoto berkata padaku jika ada sesuatu yang diinginkan oleh Isamu dari Aiko. Dan dia masih belum bisa menemukan apa yang diinginkan oleh Isamu.
Lebih baik aku beristirahat saja, terlihat sudah mulai larut malam. Masih ada pekerjaan yang belum selesai, mungkin aku membereskan dahulu pekerjaan yang belum selesai tadi. Barulah aku beristirahat, aku beranjak dari duduk lalu berjalan menuju kamar.
Saat masuk kedalam kamar, aku melihat Aiko yang sudah terlelap. Aku berjalan menuju sofa guna melanjutkan pekerjaanku, saat membuka Notebook aku melihat semua pekerjaan yang tadi belum terselesaikan sudah selesai.
Mungkin Aiko yang sudah mengerjakannya, aku memeriksa kembali apa yang sudah dia kerjakan. Senyumku merekah, dia memang tidak pintar memasak tetapi dia sangat pandai menyelesaikan masalah dalam pekerjaanku.
Lebih baik aku membersihkan diri karena memasak sehingga tubuhku bau masakan. Setelah itu barulah aku beristirahat, aku melangkah menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri aku keluar dari kamar mandi, melangkah menuju almari guna mengambil pakaianku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidur satu tempat tidur dengannya atau aku tidur di atas sofa. Aku tahu dia belum bisa sepenuhnya menjadi istri begitu juga denganku belum bisa menjadi suami yang seutuhnya baginya.
Masih ada bayangan wanita lain salah hati, meski aku tahu wanita itu sudah banyak menyakiti hati. Bahkan dia sudah membuat diriku dipersalahkan atas kematian ayah Aiko.
Namun, jika aku tidak tidur satu tempat tidur dengannya maka aku nantinya tidak bisa menjalankan kewajiban kita sebagai seorang suami. Ayah mengatakan padaku jika aku harus berusaha membuka hati dan menerima Aiko sebagai istri serta wanita yang aku cintai.
Mungkin aku harus membuka hati ini untuk mulai mencintai Aiko, meski itu butuh waktu dan perjuangan yang sangat berat bagiku. Rein sudah banyak melukai hatiku sehingga aku menutup hatiku atas nama cinta.
Aku berjalan perlahan menuju tempat tidur, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Entah mengapa saat aku mencoba memejamkan kedua mata tidak bisa. Masih teringat akan perkataan Lexi jika Rein ada di Korea saat ini dan dia belum mengetahui jika aku sudah menikah dengan Aiko.
Apa yang akan Rein lakukan jika mengetahui aku sudah menikah dengan Aiko? Aku harap dia tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat Aiko kembali bersedih. Karena sudah cukup dia bersedih dengan kehilangan sang ayah.
Pluk!
Aku tersenyum saat dia berbalik dan tangannya memelukku, dia terlihat memesona meski sedang tertidur. Jika melihatnya aku menjadi teringat setiap kebersamaan kita meski bukan sebagai seorang kekasih.
Setiap kau melakukan kenakan pada Lexa dan Lexi itu membuatku tersenyum. Entah apa yang membuatku menyukaimu untuk selalu tersenyum, apalagi jika melihatmu sangat bahagia dengan perhatian Isamu. Meski sesungguhnya Isamu tidak mencintaimu dengan tulus .
Dari awal aku selalu menganggap dia sebagai teman dan sahabat, entah mengapa kau memusuhiku hanya karena kesalahpahaman. Aku ingin menceritakan semuanya padamu tetapi belum bisa menemukan waktu yang tepat.
Aku harap jika waktunya sudah tepat kau bisa mendengar dan menerima semuanya dengan hati yang tenang. Karena itu tidak mudah, sebab Isamu adalah pria yang sangat kau cintai. Aku mengecup keningnya dengan lembut lalu mencoba kembali memejamkan kedua mataku.
Keesokan harinya.
Brugggg!
Awwww!
Aku terbangun saat mendengar ada yang terjatuh, lalu mencari benda apa yang terjatuh itu. Namun, aku mendengar suara orang meringis kesakitan. Saat aku melihat ke samping, Aiko sudah tidak ada di atas tempat tidur.
Suara itu terdengar dari sebelah kiri, aku langsung melihat kebagian bawah tepat tidur. Aku terkekeh-kekeh saat melihat Aiko yang terjatuh dan dia meringis kesakitan sembari memegang pantatnya.
"Hentikan tawamu Aldo!" pekiknya padaku dengan nada kesal.
Tawaku tidak bisa berhenti karena melihat ekspresi wajahnya begitu sangat lucu. Apalagi jika dia sedang marah seperti itu tetapi wajahnya memerah, apakah dia merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Dia terus saja menggerutu tetapi tidak berdiri dari posisi jatuhnya, aku mengulurkan tangan untuk membantunya. Dia menepisnya tetapi aku kembali mengulurkan tangan padanya.
"Hentikan tawamu Aldo! Bukankah aku sudah bilang hah!" Dia berkata padaku sembari berdiri lalu dia menerjangku dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Sehingga aku tidak bisa menahan tubuhnya, sehingga dia masuk dalam pelukanku. Kami saling memandang, aku tidak bisa lepas dari tatapannya yang begitu lembut. Dia membuatku ingin menerkamnya tetapi aku harus bisa menahannya. Karena aku tidak ingin memaksakan keinginan aku padanya.
"Samapai kapan kau mau di atasku? Apa kau suka jika berada di atas aku?!" tanyaku padanya dengan nada menggoda.
Seketika dia tersadar lalu berdiri dan berlari menuju kamar mandi, aku tersenyum melihatnya seperti itu. 'Apakah kau akan benar-benar mencintaiku Aiko? Begitu juga aku apakah bisa mencintainya?' batinku.
Ponselku berdering, aku mengangkatnya karena itu adalah Lexi. Dia bertanya apakah semuanya sudah siap. Aku mengatakan padanya jika semuanya sudah siap.
Lexi berharap semua urusan pekerjaan bisa selesai dengan cepat sehingga aku dan Aiko bisa berlibur untuk beberapa hari sebelum kembali ke Jepang. Dia juga mengatakan jika ayah dan tuan Alex sudah kembali ke Indonesia.
Setalah mengatakan itu Lexi memutuskan sambungan teleponnya, aku melihat Aiko yang keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkari tubuhnya untuk menutupi bagian tubuhnya yang tidak ingin diperlihatkan padaku.
Jika melihat dia seperti itu aku tidak bisa menahannya lagi tetapi aku tidak boleh egois. Yang aku inginkan adalah dia dengan iklhas menerima semuanya dan seutuhnya mau menjadi milikku.
Lebih baik aku membersihkan diri lalu bersiap, mungkin client yang akan aku temui akan hadir lebih awal. Sebelum dia hadir aku harus hadir terlebih dahulu di bandingkan dia.
***
Setelah semuanya siap aku mengajak Aiko untuk segera pergi, aku mengatakan padanya jika Client kali ini sedikit merepotkan. Sehingga kita harus tiba lebih awal dibandingkan dengan dia.
Aiko mengangguk lalu dia pun berjalan mengikutiku untuk menuju mobil, tepat kami bertemu adalah sebuah cafe. Karena client ini setiap pagi selalu berada di cafe tersebut. Entah apa yang dia lakukan tetapi dia mengajak kami bertemu di sana.
"Kau sudah memeriksa kembali pekerjaanmu semalam?!" Aiko bertanya padaku.
Aku tersenyum lalu mengatakan, "Jika sudah tersentuh oleh tanganmu—maka semuanya tidak ada masalah."
Wajahnya langsung memerah saat aku mengatakan itu, terkadang aku merasa geli karena setiap dekat dengannya hatiku selalu ingin menggodanya. Dia sudah mulai mengalihkan duniaku.
Tibalah kami di sebuah cafe, melihat sekeliling guna mencari client yang akan aku temui. Rupanya dia belum tiba, itu bagus sehingga aku bisa bersiap dan sedikit menikmati sarapan. Karena baik aku atau Aiko belum sarapan.
"Pesankan aku minuman dan camilan!" Aku mengatakan itu pada Aiko lalu pergi sebentar keluar.
Ponselku tadi berdering tetapi yang menghubungiku bukan client, dia adalah Rein. Apakah dia sudah tahu jika aku berada di Korea, ponselku kembali berdering. Aku mengangkatnya karena yang menghubungi aku adalah Rein.
Dia berkata padaku ingin bertemu, dia juga mengatakan jika sudah tahu aku ada di Korea. Aku menolaknya karena masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.
Aku tersenyum, rupanya dia tidak lupa apa yang aku sukai untuk sarapan, apakah dia selalu mengingat semua ini. Dia menatapku dengan lekat sembari memberi isyarat seraya bertanya padaku kenapa aku tersenyum.
"Sebelum client tiba—lebih baik kita segera selesaikan sarapan!" ucapku padanya untuk mengalihkan perhatian.
Dia pun menyantap makanannya begitu juga aku, setelah selesai aku menyuruh pelayan untuk merapikan meja kami. Beberapa saat kemudian tibalah client yang sudah aku tunggu-tunggu.
Betapa terkejutnya aku saat melihat Rein yang berjalan memasuki cafe bersama client yang sedang aku tunggu. Dia tersenyum saat melihat aku, terlihat dengan jelas Rein terkejut saat melihat Aiko duduk di sampingku.
"Apa kabar Tuan Aldo? Anda sudah menunggu lama?" Sapa Tuan Dae-Jung padaku sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.
"Saya baik Tuan Dae-Jung—silakan duduk!" Aku menjawab sekaligus mempersilakannya untuk duduk yang diikuti oleh Rein.
Tuan Jung memperkenalkan Rein sebagai rekan kerjanya bisa di bilang mereka berdua adalah teman. Terlihat jelas dari tatapan tuan Dae-Jung sangat menyukai Rein.
Rein menatapku dia memberikan kode dengan maksud bertanya mengapa ada Aiko bersamaku. Aku diam dan tidak mempedulikannya, sekarang aku harus fokus pada pekerjaanku saja.
Kami pun menulis membicarakan mengenai kerja sama antara perusahan Lexi dan perusahaan tuan Dae-Jung. Terlihat jelas dia orangnya sangat perfeksionis dalam segala hal jika menyangkut pekerjaan. Dia menginginkan semuanya berjalan dengan baik.
Akhirnya kami menemukan jalan untuk kesepakatan kerja sama, dia pun mengundangku untuk makan malam. Dan undangan itu untuk malam ini, aku menatap Aiko guna meminta persetujuan darinya.
Dia tersenyum lalu mengangguk, itu artinya dia setuju. Namun, aku merasa ada yang aneh dengannya. Dia menjadi lebih pendiam dan hanya bicara jika masalah pekerjaan bersama tuan Dae-Jung.
Setelah semuanya selesai tuan Dae-Jung pamit pada kami tetapi Rein meminta izin padanya untuk ke toilet sebentar sehingga tuan Dae-Jung menunggunya di dalam mobil. Tidak berapa lama setelah tuan Dae-Jung pergi, Rein kembali mendekatiku dan Aiko.
"Aku ingin bicara denganmu—hanya berdua saja?!" Rein bertanya padaku dengan manisnya.
"Silahkan—kalian memiliki waktu yang banyak hari ini!" Aiko berkata sembari pergi meninggalkan kami berdua.
Aku hanya bisa melihatnya pergi meninggalkan aku dan Rein, apakah dia kesal atau marah jika aku bersama dengan Rein? Apa yang aku pikirkan dia tidak mungkin cemburu padaku karena di dalam hatinya masih ada Isamu.
__ADS_1
"Ada apa? Bukankah kita sudah selesai?!" tanyaku pada Rein.
Dia mengatakan hal yang tidak mungkin terjadi, aku mengatakan padanya jika hubungan kami berdua sudah tidak akan bisa kembali seperti dulu. Semuanya sudah terlambat tetapi dia terus mengatakan jika dirinya masih sangat mencintaiku.
Saat dia terus berkata hal yang tidak mungkin baginya, ponsel yang ada di tangannya berdering. Dia melihat sekilas lalu mengabaikannya, mungkin itu dari tuan Dae-Jung.
"Pergilah—dia sudah menunggumu! Dan lupakan semua hubungan kita karena semuanya sudah tidak mungkin lagi."
"Aku hanya ingin kau—hanya kau, tidak ada yang aku inginkan lagi di dunia ini!" Dia berkata dengan nada kesal karena aku tidak menuruti apa yang dia inginkan.
Setelah mengatakan itu dia pergi, aku terdiam sejenak lalu kali teringat akan Aiko. Melihat sekeliling tidak terlihat dia, aku berjalan keluar guna mencarinya tetapi aku tidak menemukannya.
Aku mengambil ponselku lalu menghubunginya tetapi dia tidak mengangkatnya. Aku terus mencoba dan mencoba, dia tetap saja tidak mengangkatnya.
"Sial—dimana kau Aiko!" gumamku.
Jika saja tidak ada Rein tadi mungkin Aiko tidak akan pergi, apakah dia merasa kesal karena Rein ingin bicara hanya berdua denganku saja. Aku teringat pada Lexi, dia pernah berkata padaku jika dia memasang alat pelacak di ponsel Aiko dan Lexa. Semua itu untuk berjaga-jaga.
Dengan cepat aku menghubungi Lexi, dia mengangkatnya lalu bertanya tentang lokasi Aiko. Dia memberikan aku sandi untuk bisa memasuki komputernya. Sehingga aku bisa melacak sendiri keberadaan Aiko.
Lexi bertanya padaku apakah kami bertengkar, aku mengatakan akan menceritakan semuanya jika sudah menemukan Aiko. Untung saja dia mengerti lalu aku memutuskan sambungan teleponnya.
Aku mulai memasukan kode yang Lexi berikan padaku, terlihat ada nama Aiko di ponselku. Tepat di mana dia berada, tanda itu terus berjalan apakah dia tidak menggunakan taxi. Lebih baik aku bergegas mencarinya, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya lalu aku memasuki mobil dan menjalankan mobil dengan perlahan.
Dia berhenti di sebuah taman, aku menghentikan mobilku lalu keluar dari mobil. Aku melihat dia sedang duduk sendiri menatap orang-orang yang sedang berlalu-lalang. Aku mendekatinya dengan perlahan dan duduk di sampingnya.
"Apa kau marah?" tanyaku padanya.
"Kau ... Mengapa kau berada di sini? Bukankah kau masih melepas kerinduan bersama wanita yang kau cintai!" Dia berkata dengan nada dingin.
Aku tersenyum mendengar apa yang dia katakan, entah mengapa aku merasa jika dia tidak suka jika aku dekat dengan Rein. Dia terus berkata jikalau aku ingin kembali pada Rein dia mengizinkannya dan akan melepaskan aku.
Mendengar yang dia ucapkan tadi membuatku kesal, aku berdiri lalu pergi meninggalkannya. Sebelum pergi aku mengatakan untuk kembali ke apartement sekarang. Terserah dia mau menggunakan kakinya untuk berjalan menuju apartement atau menggunakan taxi.
Lebih baik aku menjauh darinya sesaat jika tidak aku tidak yakin apa yang akan aku lakukan padanya. Mungkin bisa saja untuk melepaskan rasa kesal di hatiku akan menyakiti hatinya.
Dengan rasa kesal aku pergi dari taman itu menuju sebuah perusahaan guna menyelesaikan pekerjaan yang baru saja di berikan oleh Lexi. Mudah-mudahan semuanya bisa selesai sebelum acara makan malam nanti bersama dengan tuan Dae-Jung.
Tibalah aku di perusahaan, bertemu dengan orang yang bertanggung jawab atas perusahaan ini. Rupanya Lexi berencana untuk membeli perusahaan ini, apakah dia sudah membicarakan semua ini pada Lexa.
Lebih baik aku menghubunginya lagi dan bertanya dengan serius untuk masalah ini. Aku mengambil ponsel lalu menghubungi Lexi, dia mengangkatnya, dengan cepat aku bertanya apakah Lexa tahu tentang rencananya.
Lexi terkekeh mendengar apa yang aku tanyakan lalu dia berkata jika dia sudah membicarakan semua itu dengan Lexa. Dan Lexa menyetujui semuanya, dia juga mempercayakan semuanya padaku untuk mengurus semuanya.
Itu artinya aku harus mempelajari semuanya, apakah perusahaan ini memang pantas untuk di beli. Sehingga tidak akan menjadi kerugian bagi perusahaan nanti. Aku tidak ingin gegabah dalam hal ini, sebelum semuanya terlihat baik untukku aku tidak akan menyetujui semuanya.
Biarkan aku mencari tahu semuanya jika tidak sesuai maka aku kan mengatakan semua ini pada Lexa dan Lexi. Karena bagaimanapun mereka harus tahu yang sebenarnya mengenai perusahaan ini.
Tidak terasa hari sudah sore, aku melihat ponselku. Entah mengapa aku berharap ana nama Aiko yang menghububungi atau mengirim pesan singkat padaku. Namun, itu semua hanya keinginanku semata.
Aku memutuskan untuk kembali ke apartemen, sebelum itu aku meminta orang-orang yang biasa membantuku untuk mencari informasi mengenai sebuah perusahaan. Aku menyuruhnya untuk mencari semua informasi yang aku butuhkan tentang perusahaan yang sedang aku tangani.
Dalam perjalan pulang aku mengecek ponselku lalu melihat dimana keberadaan Aiko. Jika dilihat dari ponselku, dia sedang berada di apartemen. Apakah dia sudah bersiap untuk undangan makan malam tuan Dae-Jung.
Tibalah aku di apartemen, aku melihat Aiko yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya. Rupanya dia belum bersiap untuk makan malam kali ini.
"Bersiaplah—kita akan segera menghadiri undangan tuan Dae-Jung!" ucapku padanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia langsung menuju kamar mandi. Sedangkan aku mengeluarkan sebuah gaun yang baru aku beli tadi sebelum kali ke apartemen. Mungkin dia akan suka dengan gaya pilihanku ini.
Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi, aku berjalan menuju kamar mandi. Dan berkata padanya, "Kenakanlah gaun itu!"
Setelah aku membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Kulihat dia sudah menggunakan gaun yang aku belikan. Terlihat sangat cantik jika dikenakan olehnya.
Aku berjalan menuju almari guna mengambil setelan jas yang sesuai dengan warna gaun Aiko. Setelah semuanya siap aku melihatnya kembali dia begitu cantik malam ini aku semakin terpesona olehnya.
__ADS_1
'Astaga Aldo apa yang kau pikirkan!' batinku.