
Lexa POV
"Lexi ayo cepat bangun!"
Aku membangunkan Lexi karena dia sudah berjanji padaku. Dia mau menemani ku mendaki gunung Fuji. Hitung-hitung olah raga, karena Lexi kandang berolah raga. Dia sangat sulit dibangunkan karena terjaga semalaman. Aku terus membangunkannya, ku goyangan-goyang badannya agar dia bangun.
"Iya-iya aku bangun!"
Dia pun terbangun, meski matanya masih tertutup dia berusaha bangun dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Selepas kepergian bunda kami berusaha saling melengkapi dan melindungi. Aku pun pergi dari kamar Lexi, dan menyiapkan segala sesuatu di diperlukan.
"Lexi apa kau sudah siap? Ayo kita pergi!" Teriak ku pada Lexi, dia segera keluar dari kamarnya dengan menggendong sebuah tas ransel.
"Lexa penyamaran mu sangat bagus, penampilan mu berbeda seperti biasanya." Lexi menguji ku yang sudah mulai pandai melakukan penyamaran.
Aku hanya tersenyum, aku melihat dia pun sudah berdandan dengan penyamarannya. Meski dia sedang menyamar dia masih terlihat tampan, dia benar-benar mirip dengan ayah. Kami sengaja menutup jati diri kami, agar musuh-musuh membutuhkan waktu yang lama untuk mengenali kami.
Aku masuk kedalam mobil, Lexi yang sudah siap di dalam mobi langsung menyalakan mesin mobilnya. Lexi mengganti arah perseneling, menginjak gas mobil pun berjalan secara perlahan meninggalkan rumah.
Dalam perjalanan aku mengingat cerita bunda, bahwa bunda dan ayah pernah mendaki gunung Fuji. Jadi aku sudah merencanakan untuk pergi mendaki gunung Fuji. Lexi pun berjanji akan menemani ku untuk mendaki. Beberapa saat kemudian kami sampai di tempat tujuan, Lexi memarkirkan mobilnya.
Kami mulai mendaki gunung Fuji, disini ada empat rute untuk mendaki. Yaitu rute Kawaguchi, Subashiri, Gotenba dan Fujimonia. Aku memilih rute Gotenba, karena rute ini jarang di pilih oleh para pendaki lainnya. Rute ini membutuhkan waktu pendakian yang lama, karena jalur pendakian ini jauh lebih sulit di banding rute yang lainnya.
Aku sangat menikmati pendakian ini, meski rutenya sulit itu lebih membuat ku tertantang untuk mendakinya. Pemandangan yang sungguh indah, kami sesekali istirahat sebentar hanya untuk mengabadikan momen medali kali ini. Mata ku berkeliling melihat pemandangan yang terpampang nyata di depanku.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah tepukkan batu. Disana tergambar sebuah simbol berbentuk bunga mawar dan ada tulisan inisial. Simbol itu pernah aku lihat, tapi aku melihatnya dimana ya? Aku terus memikirkan di mana aku melihat simbol itu.
__ADS_1
"Lexi cepat kemari!"
Aku memanggil Lexi dan dia langsung mendekati ku. Aku mengatakan masalah simbol itu. Simbol yang sama dengan yang di berikan oleh om Leo. Bunga mawar ini menandakan bunda, karena nama bunda adalah Rosalina yang berarti Bungan mawar. Dan inisial L&A adalah Leo dan Alin, sebegitu cintanya kau pada bunda. Sehingga simbol yang kau gunakan berhubungan dengan bunda.
Lexi melihat dan memeriksa simbol itu, dia pun berpikiran sama dengan ku setelah melihat dengan jelas simbol itu. Dia mulai mencari tombol atau apapun itu yang bisa membuka tumpukan batu itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membukanya, jika masalah simbol dan kode dia ahlinya.
Setelah berhasil membuka kode yang di buat om Leo, kami menemukan sebuah USB. Ini merupakan potongan puzzle yang di buat oleh om Leo. Kenapa kami menyebut USB ini potongan puzzle karena ini seperti puzzle, kami harus mengumpulkan setiap potongan-potongan informasi yang di simpan dalam sebuah USB.
"Kita akan periksa USB ini nanti di rumah, sekarang kita nikmati acara mendaki saja!" Lexi berkata padaku sambil memasukkan USB ke dalam tasnya. Kami pun melanjutkan pendakian.
Pendakian kami berjalan dengan lancar, tapi aku merasakan ada yang selalu memperhatikan pergerakan kami. Apa ini hanya perasaan ku saja? Iya mungkin ini hanya perasaan ku saja. Lexi memintaku untuk ke suatu tempat di daerah gunung Fuji, tempat itu bernama Oshino Hakkai .
Selain ada mata air yang sangat jernih di Oshino Hakkai juga berdiri bangunan tradisional Jepang. Bangunan itu masih di pertahankan keasliannya. Rumah-rumah penduduk di jadikan sebuah restoran. Kami pun beristirahat disini, kami memasuki sebuah restoran, mencari tempat duduk yang nyaman dan bisa melihat pemandangan yang indah. Lexi memesan makanan, aku mempercayakan semua padanya.
Ternyata pemikiran kami sama, itu pun yang aku pikirkan. Mungkinkah om Leo selalu mengikuti kemana bunda pergi? Sebesar itu kah cintanya pada bunda! Apakah dia hanya terobsesi saja dengan bunda. Kalau dia benar-benar cinta pada bunda, tidak mungkin dia membuat bunda menderita sampai akhir hayatnya.
Aku melihat kesekeliling restoran, perasaanku sangat tidak tenang. Serasa ada yang terus mengikuti kami, Lexi yang melihat gerak-gerik ku bertanya, "apa kau melihat mereka?"
Pertanyaan Lexi membuatku terkejut, apakah dia merasakan apa yang kurasakan. Aku pun menganggukan kepala, dengan tidak menghentikan pengawasanku. Ku lihat Lexi begitu tenang, dia membuka handphonenya dan menulis sesuatu di handphonenya. Ternyata dia menulis sebuah pesan padaku.
Ku buka handphone dan membaca pesan yang di kirim Lexi. Ternyata dia sudah menyadari ada yang mengikuti kami, itu sebabnya dia berencana untuk mencari tempat menginap. Aku pun menyetujui rencana Lexi, setelah menyelesaikan acara makan kami, aku mencari dan memesan sebuah kamar.
Aku sengaja memesan satu buah kamar saja, semua itu untuk berjaga-jaga. Aku takut jika mereka akan menyerang kami. Jika kami berada dalam satu kamar, kami akan saling melindungi satu sama lain.
Malam ini begitu tenang, aku selalu terjaga karena memikirkan orang yang mengamati kami sedari siang. Begitupun Lexi, dia membuka laptopnya entah apa yang sedang dia kerjakan. Yang pasti dia tidak mungkin membuka USB yang baru kita temukan. Karena disini bukanlah tempat yang aman.
__ADS_1
"Tidurlah! Biar aku yang berjaga malam ini!" Lexi berkata padaku dengan nada memerintah. Sebenarnya aku tidak bisa tidur, tapi apa boleh buat aku harus tidur karena nada Lexi sudah memerintah. Dia seperti ayah jika sudah serius, sering aku di buat kesal oleh sikap memerintahnya.
Drrrttttt..., Aku terbangun karena bunyi alarm di handphone ku. Kulihat Lexi tertidur di sofa, sepertinya dia baru tidur. Aku biarkan saja dia untuk istirahat sejenak. Ku langkahkan kaki ku menuju kamar mandi, aku harus cepat-cepat mandi agar saat Lexi terbangun aku sudah siap.
Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi, aku pun keluar dari kamar mandi. Aku melihat Lexi sudah terbangun, dia sedang duduk terdiam di sofa. Aku menyuruhnya untuk segera mandi, karena kita akan pulang ke rumah. Lexa pun berjalan menuju kamar mandi.
Lexi tak membutuhkan waktu lama untuk mandi, dia sudah siap dan semua peralatan sudah di masukkan ke dalam tasnya, begitu pun dengan ku semua barang-barang ku sudah rapih dan berada di dalam tas ransel.
"Kita harus berhati-hati, karena mereka masih mengawasi!" Lexi memperingati ku dan aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Kami pun keluar dari kamar dan meninggalkan hotel. Kami masih membutuhkan waktu berjalan untuk mencapai parkiran mobil. Aku melihat beberapa orang sedang mengawasi kami.
____________________________________________
Sekelas info
Oshino Hakkai adalah sekelompok mata air yang terletak di Desa Oshino, Prefektur Yamanashi. Salju yang meleleh dari Mt. Fuji, disaring antara lava bawah tanah, selama sekitar 20 tahun dan itu menciptakan 8 mata air. Dengan melalui proses alami semacam itu, ia menciptakan salah satu air paling jernih di Jepang. Dengan suhu air rata-rata 13 derajat celcius, airnya sangat menyegarkan. Kawasan ini merupakan harta karun Jepang yang sangat berharga.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab berikutnya 😊
aku siap menampung poin kalian kalau mau mendukung novel ku 😚😚
ku tunggu dukungan kalian ya jangan lupa vote biar aku semakin maju ke depan kalau tidak juga tak masalah 😏
__ADS_1