
Alex POV
Setelah kepulangan Lexa dan Hinoto ke Jepang, suasana rumah sedikit sepi. Namun, itu tidak mengurangi rasa bahagiaku karena kedua bocah tengil ini masih berada di rumah.
"Kakek— karena Bunda sudah kembali ke Jepang, sekarang aku kan tidur bersama Kakek!" Zeroun berkata padaku dengan suara yang begitu lucu tetapi ada ketegasan dalam dirinya.
Jika melihat Zeroun dia seperti Hinoto dan diriku, jika sedang serius maka akan terlihat sikap dinginnya. Sedangkan Rosalina dia terlihat seperti Alin yang selalu jail pada siapa yang dia mau jaili.
"Aku juga mau tidur bersama Kakek juga!" timpal Rosalina.
"Baiklah, kalian berdua malam ini tidur bersama Kakek lagi!" ucapku dan terlihat dia sangat bahagia lalu berlari memelukku.
Namun, Himawari kembali melarang Rosalina karena dia takut jika kedua bocah ini akan selalu berdebat. Aku tersenyum melihat Himawari seperti ini. Terkadang jika melihat dia seperti itu terlihat jelas jika dia khawatir padaku.
Aku pun mengatakan pada Himawari agar tenang saja, meski kedua bocah ini bersamaku mereka tidak akan berulah. Setalah aku mengatakan itu akhirnya dia bisa tenang dan mengizinkan kedua cucuku bersamaku malam ini.
"Dengarkan Ibu— jika kalian berulah dan bikin ribut, maka Ibu akan menghukum kalian!" ucap Himawari dengan tegas.
"Siap Ibu!" jawab Zeroun dan Rosalina.
Aku melihat Ari datang, dia meminta waktuku sebentar lalu aku mengajaknya menuju ruang baca. Saat sudah berada di ruang baca, aku bertanya padanya apa yang terjadi sehingga dia terlihat sedikit cemas.
"Ini masalah Rosetta, dia mulai berulah kembali! Dan saya tidak tahu siapa yang akan menjadi sasarannya kali ini!" jawab Ari padaku.
Aku membaca dokumen yang sudah diberikan Ari padaku, semua itu pergerakan Rosetta. Aku pikir dia tidak akan bertingkah, jika dia berani membuat keluargaku menderita. Tidak akan kumaafkan dia.
"Kau terus awasi semua pergerakannya! Aku tidak ingin dia mengganggu kebahagiaan keluargaku!" ucapku pada Ari.
Setalah aku mengatakan itu, Ari pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat dia keluar dari ruang baca, aku melihat Lexi berada di balik pintu. Mungkinkah dia mendengar apa yang aku bicarakan dengan Ari.
Dia masuk lalu duduk di hadapanku, meski dia diam aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Dan aku yakin jika dia benar-benar sudah mendengar apa yang aku bicarakan tadi dengan Ari.
"Ayah, apa yang aku dengar itu sudah semuanya?!" Lexi bertanya padaku.
Aku menyerahkan dokumen yang Ari berikan padaku lalu dia membacanya. Kulihat wajahnya langsung berubah saat membaca dokumen tersebut. Dia terlihat sangat kesal.
"Sekarang kau harus berhati-hati, ingatkan juga istrimu, Lexa dan Hinoto!" Aku berkata pada Lexi.
"Mengapa dia tidak jera? Apakah hukuman dariku belum cukup berat?!" gumam Lexi.
Aku mengatakan padanya jika semua itu belum cukup jika melihat watak dari Rosetta. Aku berpikir jika dia belum bisa melupakan Hinoto, jadi aku mengatakan pada Lexi untuk selalu menjaga Lexa.
"Intinya kalian harus saling melindungi!" ucapku pada Lexi.
__ADS_1
Sebelum Lexi menjawab atau perkataanku, Rosalina tiba bersama Zeroun. Mereka mengajakku untuk masuk kamar dan kuliah menceritakan derita yang mereka inginkan.
"Kakek, ini 'kan sudah malam? Sudah waktunya masuk ke kamar dan menceritakan kisah nenek pada kami!" ucap Rosalina padaku dengan senyum manisnya.
"Apakah kalian tidak bisa mendengar cerita nenek setiap saat?" tanyaku padanya.
Dia menggelengkan kepalanya dan Zeroun berkata, "Kami tidak akan bosan mendengar cerita nenek!"
Setelah mendengar itu aku memutuskan untuk masuk ke kamar dan menyuruh Lexi untuk membicarakan semua ini pada Himawari. Dia mengangguk lalu pergi terlebih dahulu menuju kamarnya.
Aku mengajak kedua cucuku masuk ke kamar, mereka menggandeng tanganku. Sebelah kiri Zeroun dan sebelah kanan ada Rosalina, jika melihat semua ini aku benar-benar melihat Lexa dan Lexi kecil.
Saat masuk dalam kamar, aku menyuruh mereka berdua baik ke atas tempat tidur. Aku pun mengambil sebuah pigura kecil yang di dalamnya ada foto istri tersayang.
Entah mengapa mereka tidak bosan dengan apa yang aku ceritakan, meski semua sudah lebih dari 10 kali. Mereka masih saja menginginkan ceritaku dengan Alin. Apakah sebegitu menariknya kisah kami berdua.
Kisah cintaku penuh dengan perjuangan, begitu banyak tragedi yang menerpa kami. Namun, Alin sangat kuat dia begitu tangguh sehingga aku tidak bisa menandingi ketangguhannya. Dia adalah seorang wanita, istri dan ibu yang bisa melakukan apa pun.
Aku jadi teringat awal pertemuan kami yang dilandasi oleh kesalahpahaman. Kupikir dia adalah wanita yang membuat ayahku tiada, rupanya dia wanita yang berbeda. Namun, aku sudah memaksanya untuk menikah denganku. Dan dia juga tidak ingat seluruhnya akan masa lalunya.
Jika mengingat kembali akan kenakan yang dilakukan oleh Alin, rasanya begitu indah. Namun, terkadang membuatku terkekeh dan merasa kesal. Dia selalu melakukan apa saja yang menurutnya benar, tanpa memikirkan lebih lanjut.
Namun, seiring berjalannya waktu dia sudah berubah menjadi wanita yang tangguh. Sehingga tidak ada satu orang pun yang mampu mengalahkannya. Akan tetapi dia akan lemah jika semua itu berkaitan dengan orang yang dia cintai.
Aku tersenyum lalu mengatakan padanya jika aku sedang mengingat tingkah istriku. Sehingga tidak bisa menahan senyumku, mendengar itu dia pun ikut tersenyum. Lalu dia berkata jika saja nenek masih ada pasti akan semakin seru.
Zeroun Sudan tertidur, aku menyuruh Rosalina untuk segera tidur agar tidak kesiangan saat bangun nanti. Karena jika bangun kesiangan maka Himawari akan terlihat seperti ibu yang sangat cerewet.
Akhirnya dia tertidur, sedangkan aku beranjak dari dudukku dan berjalan menuju sebuah kursi yang di depannya ada sebuah meja. Aku duduk di sana beberapa saat, melihat kembali semua kenangan ku dengan Alin.
Dan membaca semua dokumen yang belum selesai aku baca, semua dokumen ini harus segera aku selesaikan. Agar semua rencana perusahaan bisa berjalan dengan lancar. Aku tidak tahu jika aku tiada nanti bagaimana dengan perusahaan Alin dan aku yang berada di Indonesia.
Sedangkan Lexa dan Lexi lebih memilih mengurus perusahaan di Jepang. Apakah mereka merasa sedih jika berlama-lama di Indonesia? Apakah mereka belum bisa melupakan semua kejadian yang menimpa mereka dan juga bundanya.
Aku berharap jika kelak cucu-cucuku sudah dewasa, mereka bisa mengurus perusahaan yang berada di Indonesia. Dan aku akan sangat senang dengan semua itu.
Setelah selesai dengan pekerjaanku, aku melangkah menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhku disamping kedua cucuku yang sangat aku cintai.
Keesokan harinya.
Aku memutuskan menyuruh Lexi untuk segera kembali ke Jepang karena aku merasa khawatir dengan Lexa. Entah mengapa aku berpikir buruk, apakah aku sudah sangat tua sehingga rasa khawatirku selalu meningkat.
"Mengapa Ayah menyuruhku untuk segera kembali ke Jepang? Bukankah Ayah masih ingin bersama kedua cucu yang tengil itu?" tanya Lexi yang bingung dengan perintahku.
__ADS_1
Bukan maksudku untuk mengusir mereka tetapi aku merasa khawatir dengan keadaan Lexa. Meski tidak terjadi apa-apa dan Hinoto ada bersamanya. Dan aku juga masih ingin bersama dengan kedua cucuku.
"Ikuti saja perintahku! Dan kau harus ingat agar selalu saling melindungi!" ucapku pada Lexi dengan tegas sehingga dia tidak akan menentangku.
"Baiklah aku akan bersiap!" jawabnya padaku semabri menyuruh Himawari untuk merapikan semuanya.
Di saat mereka sedang bersiap, aku memutuskan untuk bermain bersama Zeroun dan Rosalina di taman. Aku akan menikmati selagi mereka masih ada di rumah.
"Zeroun, Rosalina ayo kita kain di taman!" Aku berkata sembari berjalan menuju taman.
Mereka berdua lari ke arahku lalu memasang tanganku dan kami akhirnya berjalan bersama menuju taman. Taman ini adalah taman yang paling disukai oleh Alin. Dia lebih suka menghabiskan banyak waktu luangnya di taman bersama anak-anak.
Tidak terasa satu jam berlalu, kulihat Lexi dan Himawari sudah menghampiri kami. Itu tandanya mereka sudah siap untuk pergi, aku juga melihat Ari yang sudah menunggu. Dia memegang tiket untuk keberangkatan Lexi, Himawari dan anak-anak.
Aku tidak ikut mengantarkan mereka ke bandara karena aku tidak kuat jika melihat mereka semua pergi meninggalkan diriku sendiri. Namun, aku tidak boleh egois karena mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Dan aku masih memiliki semau kenangan bersama istriku di sini.
"Kakek— lebih baik ikut bersama kami ke Jepang!" Zeroun berkata padaku.
Senyumku berikan pada Zeroun yang mengatakan itu, lalu aku mengatakan padanya jika sudah tiba saatnya aku pasti akan ke Jepang. Menemui mereka dan bersenang-senang.
"Ari hati-hati membawa mereka!" perintahku pada Ari.
Ari mengangguk lalu dia pergi mengikuti Lexi dan yang lainnya. Selepas kepergian mereka rumah terasa sangat sepi. Akhirnya aku kembali sendiri di rumah ini.
"Ingin rasanya aku bertemu denganmu sayang! Agar aku bisa selalu bersama denganmu!" gumamku.
Aku melangkah menuju ruang baca dan duduk di sana sembari memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk melindungi orang-orang yang aku cintai. Mereka adalah kedua anakku dan cucuku, dulu Alin rela mengorbankan nyawanya demi Lexa dan Lexi. Sekarang aku pun akan melakukan hal yang sama jika itu diperlukan.
Satu jam berlalu dan Ari pun sudah tiba, dia langsung menemui ku di ruang baca. Aku bertanya padanya apakah semuanya berjalan dengan baik. Dia mengangguk karena dia sudah melakukan apa yang harus dilakukan.
Ari masih saja dengan Ari yang dulu meski tanpa perintahku dia tahu apa yang harus dilakukan. Dan yang dia lakukan itu amsudah sesuai dengan apa yang ada dipikiranku.
"Bagaimana dengan Aldo?!" Aku bertanya padanya.
"Dia sudah membaik, mungkin membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka hatinya!" jawabnya padaku.
Aku berharap jika Aldi segera membaik sehingga dia bisa kembali bersama Lexa dan Lexi. Dan aku berharap dia akan bertemu dengan wanita yang mencintainya hingga akhir hayat.
Setalah mengatakan semua informasi yang aku butuhkan, aku menyuruh Ari untuk pergi. Karena saat ini Aldo masih sangat membutuhkan perhatiannya. Aku tidak menyangka jika Aldo akan mengalami peristiwa itu.
__________________________________________
Sampai jumpa lagi....
__ADS_1
jangan lupa like, komen, dan jadikan favorit ya 😉