Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 114


__ADS_3

Lexa POV


Sudah larut malam dia belum juga kembali, sebenarnya dia pergi kemana. Dia juga tidak menghubungiku, apakah aku harus menghubunginya terlebih dahulu.


Saat aku hendak menghubunginya, ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku, nomor yang tertera tidak aku kenal. Aku membuka pesan tersebut lalu membacanya, ternyata pesan itu dari Hinoto. Rupanya ini adalah nomor ponsel Hinoto, aku tekan tanda save sehingga nomornya ada di dalam ponselku.


Dia mengatakan tidak akan pulang malam ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya? Lebih baik aku menghubunginya saja. Entah mengapa aku merasa khawatir padanya.


Ahh sudah lah lebih baik aku tidak usah khawatir, mungkin dia sedang menajamkan misinya. Ponselku bergetar kembali, aku melihat layar ponselku. Yang mengirimi pesan kali ini adalah Himawari, dia mengatakan aku harus menemuinya. Dia tidak menjelaskan dengan detail yang pasti aku harus menemuinya malam ini.


Aku bersiap, lebih baik malam ini aku menggunakan mobil. Menurutku itu lebih aman, aku keluar dari kamar. Mudah-mudahan tidak ada yang melihatku keluar malam ini.


"Mau kemana kau? Malam-malam sudah bersiap?" tanya Lexi padaku, yang membuat aku terkejut setengah mati.


"Aku harus segera pergi! Himawari menungguku, aku khawatir dengannya!" jawabku pada Lexi.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Lexi menarik tanganku untuk menuju mobil. Aku tahu dia pasti sangat khawatir pada Himawari, kamipun pergi meninggalkan rumah. Lexi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Aku menghubungi Himawari, aku bertanya lokasi yang tepat dia berada. Dia mengirimkanku sebuah lokasi dimana dia berada saat ini, aku hendak bertanya padanya sebenarnya apa yang terjadi. Dia menutup sambungan teleponnya. Aku memberikan sebuah lokasi keberadaan Himawari pada Lexi.


"Lexa, bukankah ini adalah sebuah bar!" Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Lexi.


"Dari mana kau tahu itu adalah bar?" Aku bertanya karena tidak mungkin jika Lexi bermain kesana.


Lexi memacu mobilnya dengan cepat, dia merasa khawatir dengan Himawari.


"Aku akan mengikatnya, sehingga dia tidak akan membuatku merasa khawatir!" gumam Lexi yang masih dapat aku dengar.


Beberapa saat kemudian tibalah kami di lokasi yang dikatakan oleh Himawari. Kamipun bergegas memasuki bar tersebut, ku menyapu seluruh ruangan bar ini dengan kedua bola mataku guna mencari keberadaan Himawari.


"Lexa, coba kau lihat di arah jam 12!" Lexi berkata padaku, aku melihat ke arah yang ditunjukkan olehnya.


Betapa aku terkejut melihat Himawari yang sedang duduk di kursi bar, dia sedang ditodongkan senjata. Kulihat Lexi penuh dengan kemarahan, dia hendak menyelamatkan Himawari.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu! Jika kau bertindak gegabah, itu akan membahayakannya! Kau diam disini, aku akan menghampiri mereka! Ingat jangan terbawa emosi!" ucapku pada Lexi guna menenangkannya.


Aku berjalan menghampiri Himawari, dia memberikanku sebuah kode dari jari-jarinya. Ku memperhatikan semua itu, dia menunjukan berapa jumlah musuhnya. Dan bola matanya mengisyaratkan posisi mereka, aku memperhatikan setiap posisi yang di berikan olehnya.


"Tuan, bisakah kau melepaskan saudariku?!" Aku berkata pada mereka yang sedang duduk di samping Himawari.


Seorang musuh mendekatiku lalu dia berkata, "Nona, kau mencari kematianmu sendiri hah."


Aku tersenyum lalu aku memberikan sebuah tanda pada Lexi jika aku akan mulai bertindak. Himawari melihat tandaku pada Lexi, kulihat dia mencari posisi Lexi. Dia tersenyum yang artinya dia sudah menemukan posisi Lexi.


Bug!


Whussss!


Kulayangkan tinjuanku serta di akhiri dengan tendangan yang membuat musuh di hadapanku tersungkur. Melihat temannya tersungkur, para musuh yang tadinya berpencar sekarang berkumpul. Mereka siap untuk menyerangku, tanpa kata-kata mereka langsung menghantarkan tinjuan mereka padaku.


Aku bertahan dari segala serangannya mereka, kulihat sekilas Himawari mulai memukul orang yang menodongkan senjata padanya. Akhirnya aku dan dia bertarung untuk melawan mereka. Saat kami terkepung Lexi mulai menyerang mereka, akhirnya kami bertiga berkelahi untuk saling melindungi.


"Lexi lebih baik kau lindungi Himawari, karena dia sedang terluka!" Teriakku pada Lexi, sehingga dia tahu apa yang harus dia lakukan.


Bug!


Tinjuan bertubi-tubi kulayangkan pada para musuhku, mereka terlihat kewalahan menghadapi semua seranganku. Aku tersenyum tipis, menandakan hanya segini kemampuan mereka. Mereka tidak senang dengan senyumku, lalu mereka menyerang bersamaan.


Srettt!


Sebuah pisau melukai lenganku, darah segar mengalir dari luka yang mereka berikan padaku. Mereka tersenyum karena berhasil melukaiku, namun aku tidak akan kalah hanya dengan luka seperti ini.


"Apa kau butuh bantuanku sayang?" bisik seseorang di belakangku.


Tanpa berkata-kata lagi, pria itu memegang pinggangku dengan kedua tangannya. Aku tahu siapa dia, karena hanya dia yang selalu melakukan ini terhadapku jika aku sedang terkepung.


Whussss!

__ADS_1


Kedua kakiku melayang sehingga mengenai para musuh yang mengepungku. Satu per satu musuh berjatuhan, mereka berusaha untuk berdiri lagi. Namun sudah ada pihak keamanan yang tiba lebih cepat dari biasanya.


Aku tidak tahu siapa yang memanggil pihak keamanan, apakah Lexi yang memanggil mereka. Aku tersadar pria bertopeng masih memegang pinggangku. Aku berusaha melepaskannya, karena sekarang aku sudah ada yang memiliki yaitu suamiku Hinoto.


"Lepaskan tanganmu dari pinggangku!" ucapku dengan tegas.


"Aku tidak ingin melepaskannya! Karena aku ingin memelukmu dan menjadikanmu sebagai milikku!" jawabnya dapadaku dengan lirih.


Aku sungguh kesal dengannya dan berkata, "Dengar aku sudah menjadi milik orang lain! Sehingga kau tidak berhak menyentuh tubuhku apalagi kau memelukku! Jadi lepaskan aku atau aku akan menghajarnya sekarang juga!!"


Bukannya melepaskanku, dia tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya padaku.


Awwww!


Aku meringis kesakitan karena luka di lenganku tertekan oleh pelukan pria bertopeng. Mendengar aku meringis kesakitan dia langsung melepaskan pelukannya, dia melihat lenganku yang terluka. Terlihat jelas di matanya dia begitu khawatir.


"Bagaimana keadaanmu Lexa?" tanya Lexi yang menghampiriku yang disampingnya ada Himawari.


"Tidak usah pedulikan luka kecilku! Himawari sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa berada di bar ini hah? Apa ini misimu atau kau hanya bersenang-senang minum di bar? Apa kau tidak sayang terhadap dirimu sendiri? Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana hah? Jawab aku jangan kau diam saja?!" Aku bertanya pada Himawari.


Aku melihat Himawari terdiam, tidak begitu lama air matanya menetes. Aku terhenyak apakah pertanyaanku membuatnya menangis, padahal itu adalah pertanyaan yang biasa bagiku. Aku sering mengatakan itu pula pada Lexi.


"Hentikan itu Lexa! Kau membuat wanitaku menangis!" celetuk Lexi.


Tanpa mengatakan apapun Himawari langsung memelukku, dia masih menangis. Aku membalas pelukannya baru kali ini aku merasakan memiliki seorang adik perempuan. Mungkinkah dia sedang teringat dengan kakaknya.


"Maafkan aku, lain kali aku akan ceritakan semua yang akan aku lakukan padamu! Tapi kau jangan sesangar tadi, kau seperti macan betina yang sedang marah!" ucapnya padaku dengan melepaskan pelukannya.


"Apa kau bilang? Aku seperti macan betina!" Aku berteriak dengan memukul pundaknya dengan lembut.


Lexi terkekeh mendengar aku disebut macan betina begitu pula dengan pria bertopeng. Sungguh membuatku kesal jika mereka menertawakanku.


"Sudah hentikan macan betina, aku akan membawa wanitaku ke rumah sakit? Kau mau ikut denganku?" ucap Lexi yang masih terdengar menahan tawanya.

__ADS_1


Aku mengatakan tidak akan ikut bersama Lexi, aku memilih pulang ke rumah saja. Namun Lexi menyuruh pria bertopeng untuk mengantarku pulang ke rumah. Aku tidak mau namun Lexi memaksaku, tanpa aba-aba pria bertopeng mengangkat badanku di pundaknya. Aku terhenyak dan berusaha melepaskan diriku darinya. Namun aku tidak bisa dan aku merasa seperti sekarung tepung yang dia punggu di pundaknya.


Dia hanya tersenyum, lalu mendudukan diriku di dalam mobil. Dia mengikatkan safety belt padaku. Setelah itu dia menjalankan mobilnya dengan perlahan namun sedikit demi sedikit kecepatan mobilnya bertambah. Mataku terasa berat, aku mengantuk sekali. Lebih baik aku tidur dulu, setelah tiba dia pasti akan membangunkanku.


__ADS_2