
Lexi POV
"Berani sekali kau mengacau pestaku?!" ucap Takeda dengan nada dinginnya.
Lalu dia menyuruh pengawalnya untuk membuka penutup wajah penyusup tersebut. Namun, dengan cepat penyusup itu mengeluarkan jurusnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman pengawal Takeda.
Tunggu dulu! Aku mengenal gerakan ini— iya benar ini adalah jurus Himawari. Apakah dia adalah Himawari? Jika iya, aku harus membantunya.
"Tunggu Lexi! Kau jangan bertindak gegabah!" ucap Lexa padaku sembari memegang tanganku.
Aku harap dia bukan Himawari tetapi mengapa hati ini yakin jika penyusup itu adalah dia. Karena beberapa hari ini dia sangat sulit untuk dihubungi.
Penyusup itu terus melawan dengan kekuatan yang dia miliki, setelah melihat semua jurus yang dia gunakan. Aku semakin yangkin jika penyusup itu adalah Himawari.
Brugggg!
Penyusup itu terjatuh lalu dia orang pengawal membawanya ke hadapan Takeda. Sorot mata Takeda penuh dengan kemarahan, mungkin dia tidak suka jika pesta malam ini kacau.
Takeda menyuruh pengawalnya untuk membuka penutup wajah penyusup itu. Saat penutup wajah penyusup terbuka terlihat wajah Himawari.
Terlihat pinggir bibirnya terluka, hati ini tidak bisa menahan lagi. Aku harus menolongnya karena tidak ingin melihat orang yang aku sayangi terluka.
"Tenangkan dirimu!" perintahku pada Lexi sembari menyuruh Aiko dan Aldo mengapit Lexi agar tidak berlari mendekati Himawari.
"Bagaimana aku bisa tenang! Jika melihat wanita yang kucintai dalam bahaya!" Aku berkata dengan menahan emosi.
"Aku tahu kau pasti marah tetapi kau harus melihat kondisinya dulu! Apa kau juga ingin mati!" Aiko berkata padaku.
Mungkin yang dikatakan Aiko benar, aku harus bisa berpikir jernih. Tidak mungkin juga Takeda melakukan hal yang mengerikan di tepat seramai ini.
"Cepat katakan! Apa yang menjadi tujuanmu hah?!" tanya Takeda pada Himawari.
Himawari tidak menjawab pertanyaan Takeda, sehingga membuatnya merasa kesal. Lalu dia menyuruh pengawalnya untuk mengajar Himawari agar mau bersuara dan mengatakan apa yang menjadi tujuannya.
"Meski aku mati— aku tidak akan mengatakannya padamu!" lirih Himawari.
Takeda terkekeh lalu mengeluarkan senjata api dan menodongkan pada Himawari. Aku sudah tidak tahan lagi, jika sampai dia menembak wanitaku— tidak akan kubiarkan dia hidup tenang.
"Jika itu keinginanmu— akan aku penuhi! Apakah kau tidak menyayangi keluargamu? Jika kau mati ditanganku?" Takeda bertanya pada Himawari dengan nada dingin.
Dor!
Aku terkejut dia menembakkan senjatanya pada tangan kanan Himawari, aku sudah tidak tahan lagi. Namun, Lexa dan Aldo menahan tubuhku agar tidak ikut campur.
"Sial kau Lexa! Jika itu adalah Hinoto— apa yang akan kau lakukan hah!" ucapku pada Lexa dengan nada marah.
"Aku tahu, kau bisa mencaci maki diriku semaumu! Tetapi aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan misi Himawari dan membahayakan nyawa ibu dan adiknya!" jawab Lexa padaku.
Apakah Lexa mengetahui sesuatu tentang misi Himawari, jika iya mengapa dia tidak mengatakannya padaku. Mengapa dia menyembunyikannya dariku.
"Saya mohon hentikan itu Tuan Takeda!" ucap seorang wanita yang berjalan dari belakangku.
Saat wanita itu melewatiku, aku mengenalnya dia adalah Rosetta sepupu dari Himawari. Mengapa dia ada di sini dan juga mengenal Takeda.
"Ada hak apa kau menyuruhku untuk tidak membunuhnya— Nona Rosetta?!" tanya Takeda pada Rosetta dengan nada kesal.
Rosetta mengatakan jika Himawari adalah wanita yang ingin dia habisi oleh tangannya sendiri. Namun sebelum itu dia ingin ibunya menyerahkan semua saham kepadanya.
Aku tidak menyangka Rosetta bisa bertindak sekejam ini pada saudarinya sendiri. Tidak begitu lama beberapa pengawal membawa ibu Himawari kehadapan kami semua.
Namun ada seorang wanita berhijab yang dibawa juga bersamaan dengan ibunya Himawari. Apakah dia adalah saudari Himawari yang sudah pernah diceritakan padaku.
"Apa yang kau lakukan Rosetta! Mengapa kau membawa ibu dan adikku hah!?" teriak Himawari.
"Jika kau ingin menyelamatkan mereka berdua— maka Ibumu harus menyerahkan semua saham yang dia miliki!" jawab Rosetta.
Yang tidak ku mengerti mengapa para tamu undangan tidak dibiarkan pergi. Malah mereka membiarkan para tamu undangan untuk melihat semua yang terjadi.
Sebenarnya apa yang ada dipikiran Takeda, apakah dia ingin memperlihatkan bahwa dia berkuasa. Sehingga membuat orang berpikir kembali jika ingin berurusan dengannya.
"Jangan lakukan itu Bu! Jika kau menyerahkan sahammu maka kau tidak bisa melindungi Rein." Himawari berkata pada ibunya.
__ADS_1
"Buat apa aku mempertahankan saham itu jika aku harus kehilangan putriku! Baiklah Rosetta aku akan memenuhi keinginanmu!" lirih ibu pada Rosetta.
Terlihat senyum kemenangan di bibir Rosetta, dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Setelah mendatangani semua itu Rosetta pergi meninggalkan ruangan.
Setelah itu Takeda mengacungkan senjatanya pada Himawari, terlihat jelas jika dia tidak akan memberikan Himawari hidup lebih lama lagi. Saat aku akan hendak menggunakan tenagaku untuk lepas dari cengkeraman Aldo.
Tanpa di duga Lexa berlari menuju Himawari, dia menendang lengan Takeda. Sehingga senjata yang ada di tangannya terhempas, terlihat jelas rasa terkejut Takeda melihat Lexa menyerangnya.
Seluruh pengawal mulai bersiap untuk melindungi Takeda dan hendak menyerang Lexa. Sungguh kau selalu membuatku terkejut Lexa, kau menyuruhku tenang tetapi kau sendiri yang memulai.
"Bangun Himawari! Lindungi orang yang kau cintai!" Lexa berkata seraya dia memerintah Himawari.
Prok! Prok! Takeda bertepuk tangan menandakan dia terlihat mulai tertarik dengan Lexa. Lalu dia berkata, "Aku tidak menyangka jika Nona Alexa bisa sehebat ini? Sehingga aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku!"
Terlihat Lexa tersenyum kecut, dia tidak suka dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Takeda. Aku tahu bagi Lexa Hinoto adalah satu-satunya pria yang bisa memilikinya— tidak ada pria lain yang bisa menggantikan Hinoto.
"Sampai mati pun kau tidak akan pernah memilikiku!" jawab Lexa dengan nada tegas.
Sehingga membuat Takeda merasa tertantang, dia memberi tanda agar menyerang Lexa pada pengawalnya.
"Kau curang Lexa, bertidak tanpa mengajakku!" ucap Aiko sembari berjalan menghampirinya.
"Apa kau tidak ingin bergabung Tuan Lexi?!" tanya Aldo sembari tersenyum lalu berjalan menuju Lexa dan Aiko.
Sial, dasar kalian tadi menyuruhku tenang sekarang siapa yang tidak tenang. Akan kuhukum kalian nanti lihat saja!
"Wah-wah rupanya keluarga Wibowo ingin bermain denganku!" ucap Takeda pada kami.
Aku tersenyum mendengar apa yang dia ucapkan tadi, kita lihat saja siapa yang akan menang. Akan ku balas kau karena sudah melukai wanitaku.
"Aldo, Aiko lindungi Ibu dan Adik Himawari! Apa pun yang terjadi mereka harus selamat!" perintah Lexa.
"Serang!!!" perintah Takeda pada semua pengawalnya.
Kami pun mulai berkelahi, apa pun yang terjadi kami semua harus bisa keluar dari sini dengan selamat. Tidak akan aku biarkan orang-orang yang aku sayangi terluka kembali.
Bug!
Brugggg!
Tanpa senagaja tubuhku bersentuhan dengan Himawari, kulirik dia sesat dia tersenyum padaku. Namun, aku masih kesal dengannya yang tidak jujur padaku.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir," lirihnya padaku.
"Apa cukup dengan kata maaf hah?!" tanyaku padanya dengan penekanan.
"Setelah selesai ini aku akan menerima hukuman darimu!" Dia berkata lalu mulai bergerak untuk menghajar para pengawal.
Aku pun mulai menyerang pengawal yang hendak memukulku dengan kepalan tangannya. Namun, aku berhasil menghindar lalu membalas sednagn mereka.
Bug!
Aku terkejut karena salah seorang pengawal berhasil memukulku. Sehingga menimbulkan luka di bagian pinggir bibirku, aku tersenyum rupanya dia sudah berhasil melukaiku.
Aaaa ... Terdengar teriakan seorang gadis, rupanya dia adalah Rein Himawari yang hijabnya ditarik oleh salah satu pengawal. Sehingga hijab yang menutupi kepalanya terlepas.
Saat aku hendak menolongnya kulihat Aldo sudah menolong Rein lalu mengambil hijab Rein dan menyuruhnya untuk menggunakannya kembali.
"Aldo, lindungi Rein!" teriakku pada Aldo.
"Ok!" jawabnya singkat.
Ternyata para pengawal Takeda sangat tangguh, sehingga membuatku mulai merasakan kelelahan. Aku mulai terpojok begitu pula dengan yang lainnya.
Kami mengelilingi ibu dan Rein, karena mereka berdua tidak bisa melindungi diri sendiri. Kulihat Himawari mulai lelah di tambah luka yang ada di tangan kanannya. Darah segar terus mengalir, aku sungguh khawatir dengannya.
Mereka kembali menyerang kami, baik aku atau yang lainnya akan terus berusaha untuk saling melindungi.
"Kalian begitu bodoh! Mengorbankan diri hanya untuk melindunginya orang yang sudah tidak berarti!" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Rosetta.
Aku pikir dia sudah pergi dari tempat ini tetapi aku salah. Sekarang apa lagi yang dia inginkan. Bukannya dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Kau yang bodoh! Tidak memiliki perasaan sama sekali— padahal mereka adalah saudaramu!" Lexa berkata dengan nada marah.
Mungkin Lexa masih sangat kesal dengan perbuatan Rosetta pada Himawari. Karena aku tahu dia menyayangi Himawari, mungkin dibandingkan denganku. Dia pasti akan memilih Himawari.
"Kau tidak mengenalku dengan baik rupanya Nona Lexa! ucapnya pada Lexa lalu dia menghampiriku.
Rosetta mengatakan jika dia tidak menyangka jika aku adalah putra dari Alex Wibowo dan Rosalina Sanjaya. Namun, semua itu tidak penting lagi.
Karena dia berkata jika kekuasaan dan kejayaan Alex Wibowo sudah memudar. Menurutnya sekarang yang sedang berada di atas puncak adalah Takeda.
Karena Takeda orang yang sangat kejam dan semua musuh-musuhnya takut akan dirinya. Dia pun tidak segan-segan untuk langsung menghabisi siapa yang yang menghalanginya.
Jika mendengar dari apa yang dikatakan oleh Rosetta, aku dapat menilai jika Rosetta telah menyerahkan dirinya pada Takeda. Entah apa yang sudah dia berikan pada Takeda, sehingga Takeda mau bekerjasama dengannya.
"Sepertinya kau sangat membanggakan Tuan Takeda?!" tanyaku pada Rosetta.
Rosetta tersenyum licik lalu dia berjalan mendekati Takeda dan mengecup bibir Takeda. Mereka bermesraan di depan umum, apakah mereka tidak merasa malu melakukan semua itu dengan banyak mamata memandang.
"Apa kalian tidak akan menyerah?!" ucap Takeda dengan nada sombongnya.
Dia sungguh tidak mengenal rasa takut tetapi itu membuatku merasa semakin menginginkan dia hancur hingga berkeping-keping. Dan dia tidak bisa lagi bersikap sombong seperti ini.
"Tidak kusangka Tuan Takeda tidak takut dengan perbuatan seperti ini?!" ucap Lexa dengan nada dingin.
Takeda terkekeh lalu menyalakan jika dia tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Meski dia sedang berhadapan dengan keluarga Wibowo, karena baginya keluarga Wibowo sudah tidak memiliki taring dan cakaran yang bisa menyentuhnya.
Sungguh sombong sekali dia mengatakan itu, jika ayah mendengar ini aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Dia tidak tahu jika membangunkan singa yang sedang tertidur akan seperti apa.
"Jangan banyak bicara, sedang mereka!!" perintah Takeda pada semua pengawalnya.
Para pengawal mulai menyerang kami, aku tidak tahu apakah bisa bertahan lalu pergi dari sini. Atau aku dan yang lainnya akan berkahir di sini.
Apa pun yang terjadi aku harus bisa membawa mereka semua keluar dari sini. Sampai titik darah penghabisan aku tidak akan menyerah dengan mudah.
Bug! Bug! Aku mengepalkan kedua tanganku lalu memukul mereka yang hendak menyerang. Tidak akan aku biarkan mereka menyentuh orang-orang yang aku sayangi.
Brugggg!
Aku melihat Aldo terjatuh, dia berusaha untuk bangkit lagi. Dia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk melindungi Rein. Namun, dia kembali terjatuh, saat ada yang hendak memeluk Rein dia melindunginya dengan tubuhnya.
Baru kali ini aku melihat Aldo seperti ini, apakah dia mengenal Rein sehingga dia bisa melindungi Rein dengan tubuhnya sendiri.
Bug!
Seorang pengawal berhasil memikulku kembali tetapi tidak begitu keras. Aku lengah karena melihat Aldo yang melindungi Rein, sekarang saatnya aku menyerang.
"Jangan lengah Lexi!" ucap Himawari padaku.
Dor!
Terdengar suara tembakan yang ditujukkan ke atas, rupanya Takeda yang mengeluarkan tembakan. Aku melihat ibu sudah berada di dalam cengkeramannya.
"Hentikan ini! Jika kalian tidak menghentikannya, aku akan membunuh wanita tua ini!" teriak Takeda sehingga membuat kami terdiam.
Dia menyadera ibu, rupanya dia bukan pembisnis yang hebat karena dia hanya bisa mengancam akan menghabisi seorang wanita tidak berdaya. Aku pikir dia adalah pria yang tangguh rupanya hanya sebatas ini.
Para pengawal mulai memegang kami, sehingga alami tidak bisa melawan. Takeda menghampiri Lexa, entah apa yang ada dipikirannya. Aku tidak ingin dia menyentuh sedikit pun tubuh Lexa dengan tangan kotornya.
"Bagaimana Nona Lexa? Apakah kau akan menyerah dan menjadi milikku? Jika iya maka aku akan melepaskan semua orang yang kau sayangi!" tanya Takeda pada Lexa.
"Jangan kau sentuh Lexa! Jika kau berani akan ku potong tangan kotormu itu!" teriakku pada Takeda.
Dia terkekeh mendengar teriakanku, dia masih saja terus mendekati Lexa. Aku sungguh tidak rela jika dia menyentuh tubuhnya, jika saja ada Hinoto di sini dia pasti akan melindunginya.
Srettt! Srettt! Takeda menyobek gaun Lexa menggunakan pisau lipat yang baru saja dia keluarkan dari saku celananya. Sehingga tali yang mengikat di tubuh Lexa terlepas.
Laku tubuh Lexa mengeluarkan darah akibat sayatan yang dilakukan oleh Takeda. Dia menutupi tubuhnya yang yang terluka karena bagian yang tidak ingin diperlihatkannya pada siapa pun kecuali Hinoto.
"Dasar kau tidak waras! Lepaskan Lexa!" teriak Aiko tetapi Takeda masih saja menatap Lexa dengan tatapan yang menjijikan.
Aku berusaha melepaskan diri tetapi tidak bisa, karena para pengawal memegangku dengan kuat. Aldo pun bertindak sama denganku, dia tidak ingin melihat Lexa di lecehkan begitu saja.
__ADS_1