
Still Lexa POV
Brugggg!
Aku berlari dan melayangkan tendangan melayang pada salah satu musuh. Dia jatuh tersungkur oleh tendangan ku, S tersenyum melihatku. Entah mengapa aku membantunya, niatku ingin pergi meninggalkannya. Tapi mengapa aku membantunya.
Whussss!
Seorang musuh melayangkan tendangannya padaku, aku pun berhasil menghindari tendangannya. Ku layangkan tinjuanku padanya sebagai tanda balasan atas tendangannya. Dia menangkisnya lalu menyerang balik. Ku tinju dia secara bertubi-tubi akhirnya dia terhuyung kebelakang dan terjatuh. Musuh masih tersisa banyak, mereka mulai mengepung kami.
Luka di lenganku terasa sakit, darah keluar lagi dari luka di lenganku. Aku harus bisa menahan semua ini, sepertinya harus diselesaikan dengan cepat agar aku bisa pulang dan mengobati lukaku ini. S melirik padaku sepertinya dia merencanakan sesuatu, "bersiap-siaplah!" bisiknya padaku.
Tanpa menunggu jawaban dari ku dia langsung memegang pinggangku, aku tahu sekarang apa yang akan dia lakukan. Aku pun menaikan kedua kakiku, ku luruskan kedua kakiku ke depan. Aku sudah siap, dia langsung memutar otomatis kakiku menghajar semua musuh yang mengelilingi kami. Satu persatu musuh terjatuh, S menurunkan aku dengan pelan.
"Awwww!" Aku meringis kesakitan, S tidak sengaja memegang lenganku yang terluka.
Darahku menempel di telapak tangannya, dia memeriksa lenganku yang luka. Namun ada beberapa musuh kembali berdiri dan menyerang kami. Aku pun tak bisa beristirahat sejenak, perkelahian pun terjadi kembali. Aku sudah tidak kuat lagi, mataku sudah tidak bisa fokus melihat mereka semua.
Brugggg!
****
Aku membuka kedua mataku, apa yang terjadi sebenarnya. Ku kerlingkan kedua mataku melihat ke seluruh ruangan, ini bukan kamarku? Dimana aku? Apa yang terjadi sebenarnya? Ahh kepalaku sakit! Aku memegang kepalaku yang masih terasa pusing. Aku berusaha bangun, aku harus segera pergi dari tempat ini! Kenapa dengan tubuhku ini? tenagaku hilang entah kemana.
"Kau sudah bangun?!"
Kulihat siapa yang berkata, "kau? Ini dimana?"
__ADS_1
Kulihat pakaian yang ku kenakan sudah berganti, "kau!!"
Dia tersenyum padaku, bukan senyuman yang kubutuhkan! Yang kubutuhkan adalah jawaban semua atas pertanyaannya. Tapi dia hanya tersenyum, aku berusaha berdiri saat ku gerakan tangan. Aku merasakan kesakitan, kulihat luka ku sudah di obati serta perbannya sudah di ganti. Sebenarnya apa yang terjadi padaku, kenapa aku tidak ingat.
"Tenanglah! Yang mengganti pakaianmu adalah pelayan wanita, sedangkan yang mengobati mu adalah aku! Jadi kau harus berterimakasih padaku. Oia kau jatuh tak sadarkan diri semalam, jadi aku membawamu ke apartemen ku!"
Aku mencari handphone ku, Lexi dan Annisa pasti khawatir padaku. Aku harus menghubungi mereka, agar tidak usah khawatir, dimana handphone ku. Pria bertopeng menyodorkan handphone, kulihat sesaat ini adalah handphone yang kucari. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Lexi, Aiko bahkan Annisa. Mereka pasti khawatir padaku, aku pun menghubungi Lexi.
"Lexa!!!"
Lexi berteriak padaku sampai-sampai aku menjauhkan handphone dari telingaku. Aku diserbu dengan banyak pertanyaan olehnya, belum sempat aku menjawab aku sudah mendengar pertanyaan dari Annisa. Saat aku mau menjawab Aiko menimpali ku dengan berbagai pertanyaan. Akhirnya aku terkekeh mendengar kepanikan mereka, aku tak bisa hentikan tawaku ini. Baru kali ini Lexi dan Aiko kompak cerewetnya.
"Hentikan tawa mu hah! Cepat katakan kau dimana? Aku akan menjemputmu!" teriak Lexi padaku.
Aku menjawab semua pertanyaan Lexi, aku katakan aku baik-baik saja jadi dia tidak usah khawatir. Setelah tenagaku pilihan aku akan segera kembali ke rumah itu ucapku pada Lexi. Akhirnya mereka semua tenang, aku pun menutup sambungan teleponnya.
Apa aku tidak salah lihat? Pria mesum ini begitu berbeda, tapi dia memang aneh! Masa di dalam rumahnya masih menggunakan topeng. Ahh sudahlah lebih baik aku segera menghabiskan makanan ini, agar tenagaku segera pulih sehingga aku bisa pergi dari sini. Makanan sudah habis, kulihat ada sebuh memo di dalamnya berisikan tulisan bahwa aku harus meminum obat yang sudah disediakannya. Aku pun meminum obat yang sudah disediakan olehnya, tak begitu lama mataku merasakan kantuk yang sangat berat.
***
Aku terbangun mendengar percakapan seseorang, ku buka kedua mataku ternyata pria bertopeng itu sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone-nya. Dia mengakhiri percakapannya lalu menghampiriku. Aku berusaha bangun dari tidurku, aku berusaha duduk di atas ranjang. Tenaga ku sudah mulai kembali, lenganku pun sudah tidak terlalu sakit.
"Bagaimana keadaanmu?!"
Tanyanya padaku entah mengapa dia tidak bersikap mesum, itu yang membuatku aneh. Karena selama ini dia selalu saja membuatku kesal jika bertemu. Tapi sekarang sikapnya begitu lembut dan perhatian. 'apa yang kau pikirkan sih Lexa! Dia tetap saja mesum meski bersikap baik!' batinku.
Kulihat jam di handphone ternyata sudah siang hari, aku pun berusaha bangun dari posisi dudukku. Kepala ku masih sedikit terasa pusing namun aku sudah bisa berdiri dan berjalan. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku mencari pakaian ku tapi aku tidak menemukannya. Yang kutemukan hanya Drafting tube milikku. Aku membuka almari yang ada di dalam kamar ini, kulihat hanya ada satu setel pakaian wanita. Apakah dia menyiapkan ini untukku? Kenapa pula harus gaun yang dia sediakan, lebih enak kan kalau kaos dan celana jeans.
__ADS_1
Aku pun mengambil pakaian yang sudah disediakan, lalu aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku pun melindungi lenganku yang luka agar tidak terkena air. Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku pun memakai pakaian yang sudah ada. Ku buka pintu kamar mandi lalu keluar, kulihat pria bertopeng itu sudah duduk di atas sofa.
Dia memandangiku tanpa berkedip, kuhiraukan apa yang sedang dia lakukan. Rambutku masih tergerai, kuambil ikat rambut yang menempel di pergelangan tanganku. Saat aku akan mengikat rambutku dia berkata, "jangan kau ikat! Kau terlihat cantik jika rambutmu tergerai!"
Dalam hatiku, apakah aku tidak salah dengar? Apa yang baru saja dia katakan! Ahh apa peduliku, aku lebih suka rambutku di ikat. Karena ini sangat simpel, dengan rambut terikat aku bisa melakukan semua pekerjaanku dengan cepat. Aku pun mengikat kembali rambutku, mengambil Drafting tube yang ada di dekatnya.
"Aku akan pergi sekarang! Terimakasih karena kau sudah merawat lukaku!"
Aku berkata sembari melangkahkan kaki keluar dari kamar, kulihat dia mengikuti ku dari belakang. Setelah kubuka pintu kamar, kulihat ruangan apartemen yang begitu rapi dan bersih. Sepertinya dia suka terhadap kebersihan, itu terlihat dari ruangan yang terlihat olehku.
"Aku sudah memesankan taxi untukmu!" ucap pria bertopeng padaku.
Aku pun keluar dari apartemennya, dia masih saja mengikuti ku dari belakang. Dia menggunakan sebuah topi dan kacamata hitam sehingga menutupi topeng yang dia gunakan. Aku tak peduli dengan apa yang dia gunakan, yang penting sekarang aku akan kembali ke rumah. Membuka Drafting tube, membaca berkas Leo Ahmad, dan merencanakan balas dendam kami.
Saat aku akan memasuki taxi, tiba-tiba dia menarik ikat rambutku. Otomatis rambutku tergerai, dia tersenyum sembari memberikan kode tangan yang artinya "ok!"
Aku meminta kembali ikat rambutku karena ikat rambut itu multi fungsi, ikat rambut itu selalu menemani ku di setiap misi. Tapi dia tidak mengembalikan ikat rambutku, dia tersenyum sembari mengambil ikat rambutku dan pergi menjauhiku.
____________________________________________
Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"
____________________________________________
Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉
selamat membaca c u next bab 😘
__ADS_1