Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 98


__ADS_3

Still Lexa POV


Saat aku memasuki ruang rawat ayah, aku melihat seorang pria. Saat dia menyadari bahwa aku berada di belakangnya, dia berbalik untuk melihatku. Ternyata pria itu adalah Hinoto.


Aku hanya melihat dia berbicara dengan ayah dengan rasa hormat, apakah mereka sudah saling kenal? Jika aku melihat ayah sedang berbicara dengannya, ayah pun terlihat sangat kagum terhadapnya.


Tidak lama setelah aku masuk, Hinoto pun pamit undur diri. Dia membungkukkan tubuhnya pada ayah lalu padaku. Dia benar-benar dingin sekali, dia tidak mengatakan apapun padaku.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Ayah bertanya padaku, lalu seorang perawat mendorong kursi rodaku untuk mendekati ayah. Setelah itu dia pergi dan mengatakan jika sudah selesai bisa memanggil melalui bel yang ada di samping keranjang ayah.


Aku mengangguk, perawat itu pergi meninggalkanku dengan ayah. Aku menjawab pertanyaan yang ayah berikan padaku. Bahwa aku sudah membaik.


"Ayah, apakah Ayah kenal dengan Hinoto?" Aku memberanikan diri bertanya pada ayah, karena aku penasaran.


Ayah tersenyum, lalu mengatakan padaku bahwa dia yang membatu ayah dalam mencari beberapa informasi. Ayah mengatakan bahwa dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.


Hinoto sangat berbeda dengan Mamoru, sehingga ayah lebih menghargainya dibandingkan Mamoru. Aku sempat terkejut dengan apa yang ayah katakan. Tapi aku bisa mengerti mengapa ayah berkata seperti itu.


"Ayah, bagaimana jika Mamoru memintaku untuk memberikan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya?"


Aku ingin tahu apakah ayah akan memberikan kesempatan pada Mamoru atau tidak. Ayah terdiam setelah mendengar apa yang kutanyakan padanya.


Aku pun tidak memaksa ayah untuk menjawab pertanyaanku kali ini. Mungkin ayah juga memerlukan waktu untuk memikirkan semuanya sama denganku.


Aku memegang tangan ayah, seraya mengatakan tidak usah dipikirkan. Ayah tersenyum padaku, lalu aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Ayah memijit bel yang ada di sampingnya, beberapa menit kemudian seorang perawat masuk ke ruangan.


Aku meminta perawat itu untuk mengantarku kembali ke ruanganku, dia tersenyum lembut lalu mendorong kursi rodaku secara perlahan. Dia begitu lembut dengan wajah yang keibuan, mungkin dia sudah memiliki seorang putra atau putri.


Setelah aku kembali dari mengunjungi ayah, badanku terasa lemas sekali. Aku sedikit lelah mungkin badanku belum bisa aku gerakan dengan bebas.


"Nona, sudah waktunya minum obat!" Seorang perawat datang ke kamarku.


Aku pun meminum obat yang diberikan oleh perawat, dia mengatakan jika sudah meminum obatnya pasti aku akan merasakan kantuk. Karena obat yang aku minum memiliki efek seperti obat tidur.

__ADS_1


Malam ini aku sendiri, sebenarnya Aiko menghubungiku dia ingin menemaniku malam ini di rumah sakit. Namun aku melarangnya, aku menyuruhnya untuk beristirahat di rumah saja.


Aku tidak tega jika harus terus menerus merepotkannya, karena dia juga memerlukan waktu untuk dia dan keluarganya. Sedangkan Lexi, aku menyuruhnya untuk menemani ayah saja. Karena ayah yang lebih membutuhkannya.


Mataku terasa berat, rasa kantuk mulai menggelayutiku. Mungkin ini adalah efek dari obat yang baru kuminum. Sebelum ku tertidur aku melihat seorang perawat memeriksa air infus yang dibutuhkan oleh tubuhku.


***


Taman yang begitu indah, ini adalah taman yang paling bunda sukai. Entah sejak kapan aku pun menyukai taman ini, jika berada di taman ini membuatku mengingat akan kenangan bersama bunda.


Aku melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran, ada kupu-kupu yang sedang menikmati bunga yang baru saja merekah. Kupu-kupu terbang kesana-kemari dengan begitu indahnya.


Aku sangat menyukai pemandangan seperti ini, rasanya membuat hati tenang. Aku bisa melupakan semua masalah yang sedang kupikirkan, jika saja bunda berada di sini dia pasti sangat senang.


"Putriku sayang!" Seorang wanita berkata dari kejauhan, lama kelamaan dia terlihat jelas.


"Bunda, apakah benar ini kau Bunda? Aku begitu merindukanmu? Bunda!" Aku berkata pada wanita yang ada di hadapanku.


Dia tersenyum padaku lalu memelukku dengan lembut, benar ini adalah bunda. Aku sangat merindukan pelukan seperti ini, begitu hangat pelukannya sehingga aku tidak ingin lepas darinya.


Aku tidak mengerti apa yang bunda katakan, aku bertanya kembali apa yang bunda maksud. Namun bunda hanya diam dan tersenyum, lalu mengajakku untuk berdiri.


Bunda mengajakku bermain bersamanya untuk mengejar kupu-kupu di taman ini. Aku begitu menikmati semua ini, sudah lama aku tidak melakukan ini bersama bunda.


"Apa kau sudah lelah sayang?" Bunda bertanya padaku.


"Tidak, aku tidak lelah..., Ayo kita lanjutkan bermain lagi!"


Aku sungguh tidak merasa lelah jika bermain dengan bunda, rasa lelah dan sakitku pun hilang seketika. Andai saja Lexi ada bersamaku saat ini pasti semakin seru.


Bunda berhenti berlari lalu mengajakku untuk duduk, dia mengatakan hal yang sama dengan yang pertama kali bertemu. Tanpa ada yang tertinggal satu katapun.


"Bunda apa yang Bunda maksud sebenarnya aku tidak mengerti? Bunda tunggu jangan pergi! Bundaaaa!

__ADS_1


"Lexa!"


Aku terbangun ternyata di sampingku sudah ada Lexi yang terus memanggilku. Dia terlihat khawatir sekali, aku bingung apa yang terjadi sehingga membuat Lexi khawatir.


"Kau bermimpi tentang Bunda?!" Lexi bertanya padaku dengan nada lirih.


Aku mengangguk, ternyata yang terjadi adalah mimpiku saja. Adai itu bukan mimpi itu pasti terasa indah. Tidak terasa air mataku menetes di kedua pipiku.


Aku tidak bisa menahan tangisku, akhirnya aku menangis. Aku begitu merindukannya, Lexi hanya melihatku yang sedang menangis. Sambil memegang tanganku lalu dia memelukku.


"Dengar, semuanya sudah selesai! Bunda pasti menginginkan kita untuk melanjutkan hidup kita. Lepas dari rasa dendam, jadi kita harus terus melangkah kedepan! Demi Bunda, Ayah dan diri kita sendiri!"


Aku hanya bisa menangis mendengar semua perkataan Lexi, aku tidak bisa berpikir untuk saat ini. Biarkan aku menangis sepuasnya untuk saat ini. Beberapa saat kemudian, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Tangisku pun terhenti, meski sisa dari tangisanku masih terasa.


"Sudah puas kau menangisnya? Lihat ini kau sudah mengotori pakaianku!" Lexi berkata padaku dengan sedikit candaannya.


Aku pun melepaskan pelukanku dari Lexi, aku ingin melihat apakah yang dikatakannya benar. Setelah aku lihat ternyata benar pakaiannya penuh dengan air mataku.


"Tinggal kau ganti dan cuci pakaianmu! Bereskan!" ucapku pada Lexi.


Lexi terkekeh mendengar ucapanku, dia mengelus kepalaku dengan lembut.


"Kau itu kakakku! Jangan jadi cengeng seperti ini! Jika kau seperti ini kau tidak terlihat keren! Hahaha." Lexi terkekeh setelah mengatakan semua itu.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.

__ADS_1


Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉


c you next bab 😘


__ADS_2