Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 39


__ADS_3

Lexa POV


Aku sudah sampai di universitas dan aku menyuruh Aiko dan Yuki untuk menyebar. Agar kita bisa dapat cepat menemukannya dan menyelesaikan misi ini. Tapi mengapa perasaan ku tak enak, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada Lexi. Aku memutuskan untuk mencari di perpustakaan. Aku tak mengira akan memakai pakaian seperti ini, gaya pakaian ini adalah yang di inginkan ayah dan bunda.


Tapi aku belum siap untuk menutup aurat ku dengan berhijab, maafkan aku ayah dan bunda. Jika misi ku sudah selesai dan aku sudah menemukan pasangan hidup, maka aku akan berhijab. Akhirnya aku menemukan perpustakaan, aku melangkah masuk dan melihat ke sekeliling. Apakah bunda sering berada di perpustakaan ini, aku sangat merindukanmu bunda.


Aku berjalan menelusuri perpustakaan ini, aku menuju lemari yang banyak berjejer buku-buku tebal. Aku mendengar ucapan Aiko dan Yuki, aku menyuruh mereka selalu mengabari ku dengan earpiece yang terpasang di telinga kami masing-masing. Tak berapa lama Yuki menemukan sebuah simbol di sebuah taman, aku menyuruhnya untuk membuka simbol itu. Dengan kode yang diberikan Lexi, akhirnya dia bisa membukanya. Tapi isinya bukan USB melainkan sebuah peta menuju lokasi berikutnya.


Setelah mengetahui lokasi berikutnya ternyata itu dekat dengan lokasi Aiko. Karena sudah mendengar posisi simbol berikutnya Aiko langsung menuju titik yang diberikan Yuki. Dia mencari dengan seksama akhirnya dia menemukan sebuah simbol. Aiko pun membuka simbol tersebut ternyata sama dengan Yuki, hanya sebuah surat dan titik simbol berikutnya. Setelah di lihat ternyata titik selanjutnya di perpustakaan.


Aku menyuruh Aiko dan Yuki untuk segera ke perpustakaan karena perpustakaan ini begitu luas. Aku butuh bantuan mereka, sembari menunggu mereka aku mencari simbol Leo Ahmad. Tak selang begitu lama mereka sudah tiba di perpustakaan, tanpa ku perintahkan mereka mencari di setiap sudut. Ternyata sangat sulit menemukan simbol itu di dalam perpustakaan ini. Butuh kejelian yang tinggi, sudah 1 jam lebih kami mencarinya namun belum menemukannya.


Tiba-tiba Lexi mengirim sebuah pesan padaku, dia menanyakan keadaanku. Tidak biasanya Lexi menanyakan kabar ku, apakah dia dalam masalah besar. Aku pun bertanya padanya tentang keadaannya, dia menjawab semua pertanyaan ku dengan singkat. Semuanya akan di bicarakan jika kami sudah samapai di apartemen. Tapi batinku mengatakan telah terjadi sesuatu dengan Lexi.


"Lexa! Aku menemukan sebuah simbol, kemarilah aku ada di baris 9!" ucap Aiko di dalam earpiece, aku pun langsung menghampirinya begitu juga dengan Yuki.


Setelah kulihat simbol yang ditemukan oleh Aiko, aku yakin ini simbol yang sama. Setelah itu rupanya simbol ini membutuhkan ketelitian lebih, aku harus mengubah setiap simbol yang tak beraturan. Setelah berusaha akhirnya aku bisa bisa mengubah nya menjadi simbol yang benar dan sebuah kotak terbuka. Ternyata benar disini ada sebuah USB. Aku mengambilnya dan menyimpannya di tempat yang aman.


"Ayo kita pergi!"


Aku mengajak Aiko dan Yuki untuk pergi dari tempat ini, kami langsung menuju parkiran. Dimana kami memarkirkan sepeda hias motor, kami pun langsung meninggalkan universitas tersebut. Kami melesat dengan kecepatan tinggi.


Ckitttt!

__ADS_1


Suara decitan motor berbunyi nyaring, motor kami bertiga berhenti secara mendadak. Di depan kami sudah ada beberapa mobil yang menghadang kami, kulihat banyak orang yang berlalu lalang. Aku menyuruh Aiko dan Yuki untuk segera pergi dari sini, sebaiknya kita menghindari mereka. Aku tidak mau ada korban yang tak bersalah, mereka menyetujui keputusan ku.


Kami pun menarik gas motor sehingga motor kami meleset dengan cepat. Kami menghindari mobil di depan kami, mereka memasuki mobil dan mengejar kami. Mereka masih saja mengejar kami, aku menyuruh Yuki dan Aiko untuk menyebar. Biarkan mereka mengejar ku saja aku tidak ingin Yuki dan Aiko dalam bahaya. Aku berhasil mengecoh mereka sehingga mereka hanya mengikuti ku. Aku pikir aku bisa lepas dari mereka ternyata aku salah, mereka masih terus saja mengejarku.


Ckitttt!


Aku menekan dan menginjak rem motor ku sehingga motor berdiri dengan satu ban. Di depan ada seorang anak yang hendak menyebrang, dia terkejut dengan suara decitan motorku. Aku pun turun dari motor dan membatu anak tersebut menyebrang. Aku tersenyum padanya agar dia tidak merasa takut lagi, beberapa detik kemudian tiba seorang wanita. Dia memanggil nama anak itu dan memeluknya dengan erat sambil mengucapkan terimakasih.


Aku merasa lega melihat anak itu sudah bertemu dengan ibunya, kulihat dari kejauhan musuhku masih mengejarku. Saat aku hendak akan pergi, ibu itu mengajakku ke rumahnya yang tak jauh dari posisi ku saat ini. Dia memperkenalkan dirinya dan menyebutkan namanya adalah Jannah. Aku menerima tawarannya, aku menaiki motor ku dan mengikuti ibu itu menuju rumahnya. Syukurlah mereka tidak melihatku, kalo sampai mereka melihatku itu bisa membahayakan banyak orang.


Setelah samapai di rumah nyonya Jannah, aku memberi pesan pada Yuki dan Aiko agar mereka kembali duluan ke apartemen. Dan mereka pun membalas pesanku dengan jawaban yang sama "ok!" Aku lega mereka tidak diikuti oleh musuh.


Rumahnya sangat sederhana tapi begitu hangat, ternyata nyonya Jannah tinggal bersama keluarga kecilnya ditambah dengan ibu dan ayahnya. Gadis kecil itu mendekati ku dia baru bisa berbicara dengan ku, dia memberitahukan namanya padaku, namanya adalah Aisah. Dia adalah gadis kecil sangat aktif, jika kulihat dia bermain dengan kakek dan neneknya mengingatkan ku akan kakek dan nenek. Sudah lama aku tak berkomunikasi dengannya.


Setelah selesai makan siang, aku memutuskan untuk pamit pulang. Aisah sangat sedih dengan kepulangan ku, tapi aku harus pulang. Mungkin Lexi sudah berada di apartemen, dia pasti membutuhkan USB ini jadi aku harus segera pulang. Sebelum aku pulang nyonya Jannah memberikan ku sesuatu, entah apa yang dia berikan aku langsung pergi dari rumahnya.


Ku melihat jalanan cukup ramai dan aman, ku tarik gas motorku sehingga melesat dengan cepat. Earpiece ku berbunyi, ternyata Lexi menghubungi ku. Dia bertanya keberadaan ku dan aku menjawabnya akan segera sampai di apartemen. Aku pun bertanya padanya apakah Aiko dan Yuki sudah berada di sana. Lexi menjawab dengan singkat mereka sudah ada di apartemen.


"Apakah kau mendapatkan USB itu Lexi?" tanya ku padanya.


Dia terdiam sesaat, sepertinya dia sedang menahan rasa sakit. Setelah itu dia menjawab bahwa dia sudah mendapatkan USB-nya. Setelah itu Lexi memutuskan kontak kami, aku pun langsung menarik gas motor ku. Aku ingin segera samapai di apartemen, aku khawatir dengannya. Aku yakin pasti terjadi sesuatu pada Lexi, karena hatiku berkata seperti itu.


Beberapa saat kemudian aku sampai di apartemen, aku melihat Lexi dan Aldo babak belur. Aku berlari mendekati Lexi, dan bertanya " apa yang terjadi padamu hah!"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa! Sebaiknya kau berikan USB yang sudah kau temukan!" ucap Lexi mengalihkan pembicaraan.


Aku kesal dengan sikapnya seperti itu, ingin rasanya aku memukulnya lagi. Agar dia tidak berbohong pada ku, dia tidak mengatakan bahwa dia tidak terluka. Saat aku masih di jalan, 'tidak akan kubiarkan kau terluka lagi Lexi!' batinku.


Malam sudah tiba, aku berdiri di balkon apartemen, aku membayangkan suasana di rumah nyonya Jannah. Dan itu mengingatkan ku akan kakek dan nenek. Aku pun mengambil handphone dan memijit sebuah nomor yang bisa kuhubungi.


"Siapa yang kau hubungi?" tanya Lexi padaku, aku terkejut mendengar dia berkata dingin seperti itu.


"Aku mau menghubungi Kakek dan Nenek! Aku sangat merindukannya!" jawabku pada Lexi.


Lexi langsung merebut handphone yang ku pegang, dia mematikan sambungan teleponnya. Dia sangat marah padaku, "apakah kau sudah gila hah! Apa kau ingin mereka tiada! Biarkan mereka menikmati sisa hidup mereka dengan bahagia! Jika kau menghubungi mereka sekali saja, aku takut mereka dalam bahaya. Jadi kamu pikir baik-baik sebelum memutuskan sesuatu!"


Air mataku menetes membasahi pipiku, yang dikatakan Lexi benar. Jika aku menghubungi mereka, maka mereka akan dalam bahaya. Sudah cukup kami kehilangan bunda dan nenek Rahma, aku tidak mau lagi kehilangan mereka karena pembunuhan. Lexi pun memeluk dengan erat dia memberikan ku ketenangan.


"Kau tahu aku pun merindukan Kakek dan Nenek, tapi aku menahan semua demi keselamatan mereka! Jadi aku mohon agar kau bisa sedikit bersabar, setelah kita menemukan musuh kita! Dan menumpasnya, baru kita bisa berkumpul lagi!" ucap Lexi pada ku dengan nada lembut.


___________________________________________


Hai gaes, masih menunggu kisah Lexa dan Lexi kan?


Jangan lupa loh ya kasih like dan komen ya 😉😉


Duh apalagi kalau karya ini di vote dan di jadikan favorit 😍😍

__ADS_1


c you next bab 😘😘


__ADS_2