
Lexi POV
"Bagaimana Lexi? Apakah kau sudah menemukan keberadaan Lexa?!" Ayah bertanya padaku dengan nada khawatir.
Aku tahu jika ayah sangat khawatir begitu juga denganku, tadi Lexa berhasil menghubungiku tetapi sebelum menemukan lokasinya ponselnya mati. Aku mengatakan itu pada ayah, terlihat jelas ada kekecewaan di matanya.
"Ayah, percaya padaku, aku akan menemukan Lexa apa pun yang terjadi!" Aku berkata pada ayah guna menenangkannya.
Ayah juga bertanya tentang keberadaan Hinoto, sebenarnya dia pergi kemana dalam dua hari semenjak menghilangnya Lexa dia pun tidak ada. Namun, aku mengatakan pada ayah yang pasti Lexa telah di culik dan Hinoto tidak tahu itu. Mungkin saja Hinoto sedang menjalankan misi.
Ayah terdiam, mungkin ayah sudah mengerti keadaan sekarang. Saat ini yang harus menjadi prioritas adalah menemukan Lexa. Ayah menyuruh asisten Ari untuk mengerahkan semua pengawal untuk mencari keberadaan Lexa.
"Ari, jika kita harus kembali kedunia hitam demi Lexa maka kita akan melakukannya!" ucap ayah pada asisten Ari.
Aku tidak menduga ayah akan berkata seperti itu, jika ayah kembali kedunia hitam makan akan sulit untuk keluar dari sana. Jangan sampai ayah melakukan ini, karena bunda akan merasa sedih di atas sana.
Butuh perjuangan kerasa untuk keluar dari dunia hitam itu dan akhirnya ayah bisa terlepas dengan bantuan bunda. Namun, sekarang bunda sudah tiada maka siapa yang akan membantu ayah.
Karena ayah pasti tidak ingin mendapatkan bantuan dariku atau Lexa karena ayah tidak ingin kami berdua terjerat dalam dunia hitam. Dunia yang penuh dengan ketamakan dan nyawa bisa jadi taruhannya.
"Ada apa ini?!"
Aku mendengar suara Hinoto yang baru saja tiba, dia mengatakan baru masuk rumah dan mendengar kabar dari asisten Ari jika Lexa di culik. Sebenarnya aku masih kesal padanya, darahku mendidih jika mengingat kembali informasi yang aku temukan sebelum Lexa menghilang.
Bug!
Aku memukul hinoto dengan keras, sehingga dia terhuyung kebelakang. Dia menatapku dengan rasa ingin tahu mengapa aku memukulnya dengan keras.
"Apa yang kau lakukan Lexi!" bentak ayah padaku.
Mendengar ayah marah padaku, aku langsung membuka informasi yang aku dapatkan kemarin. Terpampang jelas di layar semua informasi tentang Rosetta dan Hinoto. Ayah sangat terkejut dengan semua ini tetapi sikap ayah kembali normal.
Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang sudah ayah ketahui tentang hubungan Hinoto dan Rosetta. Apakah ayah sudah tahu jika mereka berdua pernah menjalin hubungan.
"Apa ini? Kau dapat ini dari mana?!" Hinoto bertanya padaku, terlihat jelas dia sangat terkejut.
"Kau tidak usah tahu aku tahu dari mana! Yang terpenting kau sudah tidak berkata jujur pada Lexa!" Aku berkata dengan nada tinggi pada Hinoto.
Hinoto menjelaskan bahwa informasi yang aku dapatkan tidak benar karena semua yang ada di dalamnya tidak benar. Dia pun menjelaskan pada ayah jika dia sudah menemukan semua informasi mengenai Rosetta yang sesungguhnya.
Apakah yang dikatakan oleh Hinoto benar jika informasi yang aku dapatkan salah. Jika itu terjadi maka aku merasa bersalah padanya dan juga Lexa. Karena informasi yang aku dapatkan tidak benar sehingga membuat Lexa kesal.
"Apakah dugaanku benar?!" tanya ayah pada Hinoto.
"Yang ayah pikiran benar, Rosetta memiliki keinginannya untuk menghancurkan keluarga Wibowo! Dan maafkan aku, semua itu terjadi karena urusan pribadiku!" jawab Hinoto pada ayah.
"Apa maksudmu?!" tanyaku yang ingin tahu kebenarannya.
Hinoto mengatakan bahwa Rosetta menginginkan dirinya tetapi dia menolaknya karena Rosetta bukanlah tipenya. Dan dia merasa jika ada sesuatu yang membuatnya tidak menyukai Rosetta.
"Ayah, sejak kapan ayah tahu jika Rosetta memiliki maksud tertentu!" tanyaku pada ayah.
"Sejak dia datang ke Jepang untuk menemui Lexa, ayah sudah ulai meragukan semau tentangnya. Namun, Ayah ingin memastikannya terlebih dahulu!" jawab ayah.
Lalu ayah berkata kembali, jika ayah sudah menyuruh anak buahnya dsri dunia hitam untuk menyelidiki Rosetta. Dan ayah mendapatkan semua informasi yang membuatnya terkejut.
Dan ayah juga telah melakukan hal-hal yang akan disesali oleh wanita itu. Sehingga dia tidak akan berani menampakkan wajahnya di keluarga Wibowo.
Entah apa yang sudah ayah lakukan yang pasti itu sangat buruk, aku pernah mendengar jika ayah memberikan hukuman pada orang yang sudah menganggunya. Dengan membuatnya hidup segan dan mati pun segan.
Aku harap ayah tidak melakukan hal-hal yang bisa memegang hukum karena itu akan membuat Lexa marah. Lexa seperti bunda jika sudah marah dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
"Sudah aku katakan padamu Hinoto, jika dia wanita yang sangat berbahaya!" Aku mendengar Himawari berkata dari balik tubuh Hinoto.
Hinoto terdiam lalu dia meminta maaf pada semuanya tetapi dia juga mengatakan sengaja memperlakukan Rosetta dengan baik. Karena dia tahu ada yang tidak beres dengannya.
"Dari mana kau tahu jika dia sudah bertidak untuk menghancurkan keluarga Wibowo?!" Aku bertanya pada Hinoto.
"Sama seperti Ayah, aku mengetahuinya sejak dia datang ke apartemen untuk makan malam bersamaku dan Lexa! Gelagatnya sudah mulai berbeda, aku merasa dia ingin membuat jarak antara aku dan Lexa. Jadi semenjak itu aku mulai menyelidikinya, itu sebabnya aku tidak kembali selama 2 hari!" jawabnya padaku.
"Baiklah kalau begitu, sekarang yang menjadi fokus kita adalah menemukan Lexa! Setelah itu kita pikirkan bagaimana menghadapi Rosetta." Aku berkata semabari melanjutkan mencari Lexa.
Setalah mengatakan itu ayah, Hinoto dan Himawari pergi meninggalkan diriku di dalam kamar. Mereka tahu jika aku harus kembali fokus mencari keberadaan Lexa.
"Tunggu aku Lexa! Aku pasti akan menemukanmu!" gumamku sembari berselancar di dunia jaringan internet. Dengan meretas semua jaringan CCTV yang ada di jalanan.
Sungguh sial, rupanya yang menculik Lexa begitu licin sehingga aku kesulitan untuk menemukannya. Namun, itu semua telah membangkitkan adrenalinku. Sudah lama aku tidak seperti ini, intinya aku pasti akan menemukanmu Lexa Wibowo.
"Sayang, lebih baik kau makan malam dulu! Bukankah siang kau tidak makan!?" Himawari berkata padaku.
Melihat jam yang menempel di dinding menunjukan sudah saatnya makan malam. Namun, aku belum juga menemukan Lexa, mengapa aku begitu bodoh hingga 2 hari lebih aksi belum bisa menemukan dirinya.
"Pergilah kau makan! Aku tidak ada keinginan untuk makan sebelum menemukan Lexa!" jawabku pada Himawari.
Himawari terus membujukku untuk makan tetapi semua bujukannya membuatku kesal. Dan akhirnya aku membentaknya, "Kau membuatku kesal saja! Lebih baik kau pergi saja dari sini!"
Himawari pergi saat aku membentaknya, aku merasa bersalah setelah membentaknya. Seharusnya tidak kulakukan itu, aku beranjak lalu berjalan menuju kamar karena aku yakin dia berada di kamar sedang menangis.
__ADS_1
Entah mengapa belakangan ini dia menjadi sangat sensitif, apakah dia akan datang bulan sehingga sangat sensitif. Saat aku membuka pintu kamar, melihat Himawari yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Maafkan aku, sayang! Aku tidak bermaksud seperti itu!" ucapku padanya.
"Jika kau ingin menemukan Lexa lebih baik kau juga jaga kesehatanmu! Jika kau sakit dan Lexa belum ditemukan bagaimana? Kasihan ayah karena hanya kau yang bisa menemukan Lexa!" Himawari berkata padaku sembari meneteskan air mata.
Aku memeluknya dengan erat, sungguh aku merasa menyesal karena sudah menyakiti hatinya dengan perkataanku bernada tinggi. Kukecup keningnya dengan lembut lalu aku meminta maaf padanya.
Dia tersenyum lalu mengajakku untuk makan malam karena ayah sudah menunggu. Dia juga mengatakan kasihan ayah dia masih terpikirkan oleh Lexa. Jadi aku tidak boleh membuat masalah lagi untuk ayah.
Himawari berjalan keluar kamar dengan menggandeng tanganku sehingga kami berjalan bersama alenuju ruang makan. Benar saja ayah sudah dididik di meja makan sendirian.
Ayah menatap kursi kosong yang biasanya Lexa duduki, dia terlibat sangat sedih. Aku tidak akan menyiarkan ayah bersedih lama-lama, setelah makan malam ini aku akan kembaliencari keberadaan Lexa.
"Ayo kita makan, Ayah!" Aku berkata pada ayah.
Ayah terhenyak mendengar ucapanku sehingga membuatnya tersadar dengan kehadiran diriku dan Himawari. Setelah itu kami pun menyantap makan malam.
Lexa, aku kbali memikirkan dia apakah dia sudah makan atau belum? Apakah makanan yang di dapatnya enak atau tidak? Semua pertanyaan mengenai Lexa.
Setelah makan malam selesai ayah kembali ke ruang kerjanya sedangkan aku kembali ke ruang kerjaku untuk mencari keberadaan Lexa. Aku meminta maaf pada Himawari untuk malam ini tidak bisa menemaninya tidur.
Himawari tersenyum dia mengatakan tidak apa-apa, yang terpenting dia menyuruhku untuk beristirahat sejenak. Dia sangat mengkhawatirkan diriku, aku beruntung mendapatkan istri seperti dia.
***
Keesokan harinya kami semua berbagi tugas, Aldo dan Hinoto pergi ke sebuah tempat untuk mencari informasi. Himawari memutuskan pergi ke kantor dimana dia masih menjadi seorang agen rahasia.
Rupanya Himawari belum secara resmi keluar sebagai agen rahasia karena pimpinannya melarang dia untuk berhenti saat ini. Dia juga sekarang ikut membantuku untuk mencari keberadaan Lexa.
Ayah dan asisten Ari mencari semua informasi lewat temannya yang masih bergelut di dunia hitam. Aiko yang menyadari hilangnya Lexa ikut membantu tetapi aku menyuruhnya untuk mengurus perusahaan selama aku dan Lexa tidak ada.
Seorang pelayan menghampiriku dia mengatakan jika di ruang tamu sudah menunggu Rosetta. Aku bingung apa yang diinginkannya untuk lebih pastinya aku akan melihatnya. Aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.
Aku melihat ayah dan asisten Ari sudah ada di ruang tamu, aku bergegas menghampiri mereka. Lalu aku duduk di atas sofa dan ikut bergabung dengan mereka.
"Tuan Alex, saya datang kemari karena membutuhkan tanda tangan Anda," Rosetta bertanya dengan lembut.
Ayah terlihat tersenyum tipis, mungkin Rosetta tidak tahu jika ayah sudah mengetahui rencana jahatnya. Aku ingin lihat apa yang akan ayah lakukan padanya.
Rosetta menyodorkan sebuah amplop putih, ayah membukanya lalu membacanya. Secara perlahan dan teliti sekali ayah membaca dokumen tersebut.
"Belum waktunya aku memberikan ini padamu!" Ayah berucap pada Rosetta dengan nada dingin.
Namun, Rosetta tersenyum seraya dia akan berhasil mendapatkan tanda tangan ayah. Lalu dia berkata bahwa ini dilakukan untuk kebaikan perusahaannya. Jika tidak ayahnya akan menghancurkan perusahaan bunda.
Meski dia berkata dengan lembut tetapi terdengar jelas di setiap kata yang dia ucapkan ada penekanan dan sebuah ancaman. Namun, ayah tidak gentar lalu membalas perkataan Rosetta dengan lembut. Dengan arti ayah menolaknya.
Akan tetapi, ayah tidak peduli dengan itu karena sekarang yang ayah pedulikan adalah keselamatan Lexa. Jika perusahaan itu akan dihancurkan, maka ayah juga akan menghancurkan siapa saja yang sudah menghancurkan perusahaan bunda.
"Tidak apa-apa, jika ayahmu akan menghancurkan perusahaan mendiang istriku— maka aku akan menghancurkan kembali perusahaan yang dia bangga-banggakan." Ayah berkata dengan sangat yakin.
"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha agar perusahaan itu berjalan sebagaimana mestinya. Dan aku akan berusaha melindunginya dengan seluruh jiwa ragaku!" ucap Rosetta dengan percaya diri.
Lalu dia bertanya bagaimana kabar Lexa, ayah menjawab bahwa Lexa baik. Sekarang dia sedang ditugaskan ke luar kota, aku melihat wajah yah yang begitu dingin menghadapi Rosetta.
Aku tidak menyangka jika ayah bisa menutupi rasa khawatir terhadap Lexa pada orang yang dia anggap sebagai musuh. Inikah ayahku yang dulu sebelum dia bertemu dengan bunda.
Jika berada disampingnya saja terasa hawa dingin yang begitu mengerikan. Entah mengapa Rosetta tidak merasakan itu, padahal aku saja bisa merasakan aura kebencian ayah.
"Oia Lexi, bagaimana keadaan ibu dan Rein? Sudah beberapa hari aku tidak melihat mereka berdua di Indonesia?" tanya Rosetta padaku.
Aku sedikit terkejut karena dia bertanya tentang ibu dan Rein yang aku tahu mereka berdua masih ada di Indonesia. Sejak kapan mereka menghilang, aku melirik ayah terlihat senyum tipis ayah. Rupanya ayah sudah mengamankan mereka berdua.
"Ibu dan Rein baik-baik saja!" jawabku dengan singkat.
Rosetta pun pamit pada ayah untuk pergi karena ada yang harus dia urus. Aku masih tidak percaya dengan wanita itu, dari pertma bertemu hingga akhirnya dia bersandiwara ingin membantu kami dengan menyebut nama bunda.
Aku berjalan mengikutinya dari belakang secara perlahan, saat di luar rumah dia mengeluarkan ponselnya. Lalu dia menghubungi seseorang, terdengar jelas dia sangat kesal.
Entah siapa yang dia hubungi tetapi dia menggunakan bahasa Indonesia. Mungkin untuk keamanannya karena dibuat hanya ada pengawal yang terlihat jelas mereka orang Jepang.
Niatku tidak ingin mengupingnya sekarang rasa ingin tahuku Sakin besar. Rupanya dia menghubungi ayahnya, apakah mungkin dia bekerjasama dengan ayahnya untuk menguasai perusahaan bunda.
Jika semua itu benar maka kalian berdua harus bersiap-siap hancur! Setelah aku berhasil menyelamatkan Lexa maka aku akan mulai dari perusahaan kalian yang banggakan.
Setelah pembicaraan yang selesai dia memutuskan sambungan teleponnya. Dia berjalan menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah dengan cepat.
Aku tersenyum melihat sikapnya yang sedang kesal itu, dia pikir dapat dengan mudah mempermainkan keluarga Wibowo. Mungkin bagi kalian ayah adalah harimau yang sudah tidak memiliki kekuasaan.
Namun, seekor harimau pun akan kembali mengeluarkan cakar dan taringnya jika keluarganya di ganggu. Dan aku pun tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan keluarga kami. Apalagi yang berhubungan dengan bunda.
Setelah kepergian Rosetta, aku kembali ke ruang kerja. Guna mencari keberadaan Lexa. Aku tidak menyangka bisa sangat lama menemukan dia. Sepertinya semua alat pelacak yang ada di tubuhnya sudah di hancurkan.
Setalah berkutat dengan jaringan CCTV yang berada di jalanan, aku berhasil menemukan Lexa. Rupanya dia benar-benar sudah berusaha melindungi dirinya sendiri. Namun, ada yang memukulnya dari belakang.
Aku melihat dengan seksama siapa yang menggendongnya karena terlihat orang itu tidak mengijinkan orang lain untuk menyentuh tubuh Lexa. Saat aku membesarkan gambar orang yang menggendong Lexa, betapa aku sangat terkejut dia adalah Takeda.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin? Bukankah Takeda masih berada di balik jeruji besi? Bagaimana dia bisa keluar dan menangkap Lexa?!" gumamku.
"Apa yang kau katakan?!" Ayah bertanya padaku.
Aku memperlihatkan apa yang baru saja aku temukan, terlihat ayah tidak terlalu terkejut. Lalu ayah menyuruh asisten Ari untuk mulai bergerak mencari dimana saja keberadaan Takeda.
Asisten Ari pun bergegas melaksanakan perintah ayah, ayah berkata padaku bahwa Lexa harus dengan cepat kembali ke rumah. Dan juga ayah mengatakan mungkin akan terjadi perkelahian yang sangat besar mungkin akan banyak kematian nantinya.
"Apa yang Ayah maksud?!" Aku bertanya pada ayah karena aku tidak mengerti dengan perkataan ayah.
Ayah mengatakan jika dunia hitam sudah mencari keberadaan Takeda. Saat ini Takeda merupakan target dari dunia hitam karena dia sudah banyak merugikan setiap orang yang bergelut di dunia hitam.
Banyak musuhnya yang ingin menghabisinya, sehingga ayah mengatakan itu. Mungkin sebelum kami menemukan Lexa orang lain akan terlebih dulu menemukan keberadaan Takeda.
Yang aku takutkan adalah Lexa juga ikut menjadi target mereka karena dia berada dekat Takeda. Ayah juga mengatakan demikian, sebab orang-orang dunia hitam tidak mengenal siapa Lexa. Mereka hanya mengenal wajah ayah dan bunda.
Karena menurut mereka bunda adalah wanita yang berani melawan musuh. Meski bunda wanita berhijab tetapi hanya dia wanita yang berani menggebrak meja saat pertemuan berlangsung dan tidak ada yang melawannya sama sekali. Walaupun sebenarnya mereka sanggup menyerang bunda tetapi akibat kecerdikannya bunda bisa pergi dengan mudah.
Itulah sebabnya ayah dan bunda menjadi sebuah legenda bagi mereka yang berjalan di dunia hitam. Namun, hanya Rey Hirasaki yang berani terhadap bunda. Karena dia menggunakan kami berdua sebagai senjata. Itulah kelemahan bunda saat itu sehingga mengakibatkan bunda tiada.
**
Akhirnya aku bisa menemukan keberadaan Lexa, sekarang dia menyekapnya di sebuah rumah yang berada di tengah-tengah hutan. Karena di sana merupakan aset yang dimiliki Takeda. Mengapa aku bisa yakin Lexa berada disana sebab disanalah yang penjagaannya paling ketat.
"Aku menemukan dimana Lexa!" ucapku pada semuanya saat berada di ruang keluarga.
"Dimana Lexa di sekap?!" Hinoto bertanya padaku dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.
Aku mengatakan dia disekap di sebuah bangunan yang berada di tengah hutan. Namun, aku mengatakan jika ingin menyelamatkan Lexa kita lakukan besok pagi.
Sekarang yang perlu dilakukan adalah membahas strategi penyelamatan Lexa. Dan aku juga akan menyiapkan semua peralatan untuk penyelamatan Lexa. Semua setuju pada rencanaku.
"Dengarkan aku Hinoto, aku tidak ingin kau berisi gegabah! Karena ini bisa membahayakan nyawamu dan juga nyawa Lexa!" ucapku pada Hinoto.
Karena aku tahu pasti dia akan segera pergi malam ini untuk menyelamatkan Lexa. Aku tidak ingin kedua saudaraku tiada karena bertindak tanpa berpikir dulu.
"Aku mengerti, persiapkan semuanya! Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan!" Hinoto menjawab sembari pergi meninggalkan kami.
Kulihat dia berjalan ke atas mungkin dia akan kembali ke kamarnya. Aku meminta Aldo untuk selalu mengawasinya, agar dia tidak bertindak sendiri Yanga akan merugikan dirinya.
Aldo mengangguk lalu asisten Ari pun memerintahkan penjagaan untuk di perketat. Asisten Ari tahu betul apa yang harus dia lakukan, tanpa aku meminta dia sudah melakukannya.
Himawari yang baru saja tiba, dibelakangnya sudah ada ibu dan Rein. Lalu aku menyuruhnya untuk mengantar ibu serta Rein untuk beristirahat di kamar yang sudah disiapkan.
Karena ayah berkata padaku jika ibu dan Rein sudah berada di Jepang. Menurut ayah disini tempat yang aman bagi mereka berdua, karena musuh tidak akan menyangka jika mereka berdua ada di tempat ini.
"Pergilah, perusakan semuanya untuk besok penyelamatan Lexa!" Ayah berkata padaku lalu dia pergi menuju ruang baca.
Aku berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan sehelai otakku yang sudah bekerja terlalu keras. Mungkin aku harus terus mengasah keterampilan dalam meretas semua informasi dari jaringan internet.
Setelah berada di dalam kamar aku berjalan menuju tempat tidur, lalu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tidak berapa lama terdengar suara pintu kamar terbuka lalu tertutup.
Mungkin itu adalah Himawari yang baru masuk ke dalam kamar, aku masih memejamkan kedua mataku. Tiba-tiba ada yang menyentuh keningku dengan lembut. Kubuka kedua mataku lalu melihat wanita yang begitu aku cintai.
Dia tersenyum lembut padaku lalu mengecup sekilas bibirku. Apakah dia sedang menggodaku. Kutarik lengannya sehingga dia terjerembab kedslam pelukanku.
Aku memeluknya dengan erat dan memintanya untuk tidak bergerak, saat ini yang aku inginkan adalah memeluknya karena itu terasa hangat dan menenangkan.
"Bagaiman dengan persiapan untuk besok?!" Dia bertanya dengan lirih padaku.
"Izinkan aku mengistirahatkan pikiranku sebentar saja, setelah itu aku akan mempersiapkan semuanya! Apakah besok kau akan ikut menyelematkan Lexa?" Aku menjawab sembari bertanya padanya.
Dia menjawab iya karena baginya Lexa sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri. Dan juga jika dia dalam masalah Lexa selalu membantunya layaknya seorang kakak perempuan.
"Istirahat, aku akan menemanimu!" Himawari berkata dengan lembut.
Aku terbangun lalu melihat Himawari berada di sampingku, rupanya dia ikut tertidur. Aku menatapnya dengan lekat, kusibakan rambut yang menutupi matanya. Rambutnya yang tergerai membuat dia sangat cantik jika sedang tertidur.
Kukecup keningnya dengan lembut lalu kecupan itu berjalan menuju bibirnya yang selalu terlihat menggoda bagiku. Dia terbangun saat aku mengecup bibirnya.
Dia tersenyum lembut padaku lalu mendekatkan dirinya padaku secara tidak langsung dia masuk kembali dalam pelukanku. Dia ini benar-benar sedang menggodaku? Maka aku tidak akan melepaskannya.
Tanganku mulai berjalan menelusuri setiap jengkal lekuk tubuhnya sehingga dia merasakan kegelian. Namun, aku tidak menghentikannya lalu aku mulai mengecup bibirnya dengan lembut.
Aku bermain dengan lembut sehingga dia pun mengikuti permainanku, saat aku sedang menikmati semuanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarku.
Terdengar Aiko yang berteriak memanggil namaku, aku sungguh kesal dengan Aiko. Karena dia mengganggu saja, jika aku tidak membukanya maka dia akan membuat keributan.
Aku menghentikan permaiananku, kulihat Himawari tersenyum karena melihat aku sedang kesal. Aku merapikan pakaianku sedangkan Himawari berjalan menuju kamar mandi.
Setalah merapikan pakaian aku membuka pintu kamar, kulihat Aiko sudah berdiri dan siap-siap untuk berteriak tetapi dia hentikan setelah aku membuka pintu kamar.
"Apa yang kau lakukan? Mengganggu saja!" Aku berkata padanya dengan nada kesal.
"Aku ingin tahu dimana Lexa? Aku dengar kau sudah mengetahui keberadaannya?" tanya Aiko dengan kecerewetannya.
Aku tahu jika dia mengetahui keberadaan Lexa pasti akan segera pergi ke sana. Aku mengatakan padanya agar bersabar karena besok adalah waktu yang tepat untuk menyelamatkan Lexa.
__ADS_1
"Malam ini lebih baik kauenginap di rumah, kita akan menyiapkan semuanya untuk penjemputan Lexa." Aku berkata pada Aiko.
Aiko mengangguk lalu dia pergi meninggalkanku, dia pasti sedang menuju kamarnya. Karena aku dan Lexa sudah memberikan satu kamar khusus untuknya jika menginap di rumah.