
Lexa POV
Sebelum kedatangan ayah dan asisten Ari, aku membicarakan masalah Rein bersama Hinoto, Lexi dan Himawari. Menurutku lebih baik jika Rein kembali ke Indonesia atau suruh dia pergi jauh dari Jepang untuk sementara waktu. Karena, ayah pasti akan sangat marah jika melihatnya.
"Benar yang kau katakan Lexa, lebih baik dia kita kirim ke luar Jepang selama ayah dan asisten Ari ada di Jepang!" Lexi berkata dengan membenarkan apa yang aku katakan.
Sekarang yang ada di pikiranku bagaimana caranya mengatakan pada Rein untuk pergi dari Jepang selama ayah masih di rumah. Himawari mengatakan jika dia yang akan memberitahukannya pada Rein. Dia juga mengatakan biar Rein dia yang urus untuk kepergiannya kali ini.
Setelah berbicara dan tahu apa yang harus dilakukan, maka aku memutuskan Himawari yang mengurus rekan bersama Lexi. Sedangkan aku akan mengurus Aldo dan Aiko. Pasti sebentar lagi akan banyak drama penolakan Aiko.
"Sayang, apakah tidak akan terjadi keributan jika kita menyuruh Rein pergi dari rumah?!" Hinoto bertanya padaku.
Mungkin dia masih memikirkan jika Rein akan membuat keributan, aku bertanya pada Hinoto apakah kau melihat ayah atau asisten Ari yang geram melihat Rein ada di rumah. Karena ayah juga sangat menyayangi Aldo sama seperti ayah menyayangi kami.
"Katakan padaku? Apa yang menjadi kerisauanmu selama beberapa hari ini?!" Aku balik bertanya padanya.
Dia terdiam sesaat, aku tahu ada yang dia sembunyikan dariku. Saat aku hendak beranjak dari tempat duduk, mengapa kedua kakiku terasa sangat lemas. Sehingga aku kembali terduduk, Hinoto melihatku yang tidak berdaya.
"Ada apa denganmu? Aku melihat semenjak kembali dari Kyoto kau terlihat tidak sehat?!" Hinoto bertanya dengan mendekatiku dan memegang lenganku.
"Aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan saja!" jawabku dengan senyum lembut. Karena aku tidak ingin membuatnya khawatir.
Masih terlihat rasa cemas dalam sorot mata Hinoto, aku tahu dia tidak akan mudah percaya begitu saja. Dia mengatakan apakah harus memanggil dokter ke rumah, aku menjawabnya tidak perlu karena dengan banyak istirahat aku akan kembali pulih.
Hinoto mengecup keningku dengan lembut lalu dia menggendongku seperti seorang pengantin baru menuju kamar. Dia menatapku dengan kelembutannya. Aku sangat menyukai jika dia menatapku seperti itu, sehingga aku merasakan kehangatan darinya.
"Ayah, Bunda kenapa? Apa Bunda sakit?!" Zeroun bertanya pada Hinoto yang sedang menggendongku.
Hinito tersenyum lalu mengatakan jika aku hanya butuh istirahat. Zeroun yang begitu pengertian pun mengatakan jika dia akan bermain bersama Rosalina dan tidak akan mengganggu istirahatku.
Zeroun berlari meninggalkan aku dan Hinoto, mungkin dia akan menuju Rosalina. Hinoto pun kembali melanjutkan langkahnya hingga sampailah di dalam kamar. Dia membaringkan diriku secara perlahan, lalu mengecup bibirku sekilas.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu sembari mengerjakan pekerjaanku!" Hinoto berucap dengan lembut.
Aku tersenyum melihatnya seperti itu, dia berjalan menuju sofa lalu membuka Notebook-nya. Aku pun berusaha memejamkan mata guna beristirahat agar membaik.
Prang! Aku terbangun dari tidur karena mendengar ada keributan di luar sana. Jika aku mendengar dengan saksama itu suara Rein yang sedang marah, terdengar juga suara Himawari yang tidak mau kalah.
Saat melihat ke arah sofa, Hinoto sudah tidak berada di sana. Apa mungkin dia sudah berada di sana. Lebih baik aku segera kesana, aku takut akan terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan.
Aku berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, berjalan cepat untuk menghampiri mereka yang sedang berdebat. Terlihat semuanya sudah berkumpul, Lexi yang mencoba menenangkan Himawari tetapi tidak bisa.
Hinoto hanya memperhatikan semuanya, mungkin dia hanya ingin melihat sampai dimana Rein bertindak.
"Hentikan! Apa kalian tidak malu berteriak seperti itu! Bagaimana jika anak-anak mendengar perdebatan kalian seperti ini!?" ucapku pada mereka.
Semua terdiam, Hinoto yang melihatku terlihat khawatir. Dia mendekatiku lalu menyuruhku untuk duduk. Aku pun duduk lalu menyuruh mereka semua untuk duduk dan membicarakan semuanya dengan tenang.
Mereka pun duduk, terlihat jelas Rein sangat kesal dan amarahnya pasti akan meledak dengan cepat jika Himawari terus saja bicara. Sedangkan Himawari sudah tidak bisa menahan emosinya sehingga air mata rasa kesal menyembur keluar.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan Rein?!" tanyaku padanya.
"Yang aku inginkan hanya kembali bersama Aldo dan tinggal di sini! Kenapa kalian mengusirku pergi!" balasnya padaku.
Aku tersenyum, lalu mengatakan padanya jika semua yang dia inginkan tidak bisa tercapai dengan mudah. Karena dia sudah membuat Aldo sangat kecewa dan tidak mungkin untuk memaafkannya. Masalah Himawari menyuruhnya keluar dari rumah untuk beberapa hari atau Minggu karena ayah dan asisten Ari akan tiba di Jepang sore ini.
Rein mengatakan jika semuanya tidak masalah dengan kedatangan ayah dan asisten Ari. Dia begitu percaya dirinya mengatakan jika Aldo masih sangat mencintainya dan hanya sedang marah. Sebentar lagi dia pasti akan memaafkan Rein dan kembali bersamanya.
"Kau begitu percaya diri sekali, Rein!" ucap Aldo dingin.
Rupanya dia sudah berada di rumah, sekarang aku memberikan kesempatan bagi Aldo untuk menyelesaikan semua hubungannya dengan Rein. Terlihat jelas Rein berusaha untuk meyakinkan Aldo bahwa dia sangat mencintainya.
Rein masih berusaha dengan keras untuk membuat Aldo percaya padanya. Namun, Aldo terlihat sudah tidak ingin berurusan dengan Rein. Sangat jelas menurutku jika Aldo masih mencintai Rein tetapi rasa sakit atas pengkhianatan Rein belumlah sembuh.
"Pergilah dari sini—sebelum ayahku tiba di Jepang! Karena dia tidak akan mudah menerima kehadiranmu kali ini!" Aldo mengatakan dengan serius pada Rein.
Aldo pun mengatakan akan memikirkan semua yang Rein inginkan. Namun, dia mengatakan pada Rein untuk pergi dahulu sebelum ayahnya memaafkannya.
Rein terdiam sesaat, lalu dia menyetujui dan akan pergi dari Jepang selama ayahnya Aldo masih ada di Jepang. Mungkin Rein merasa jika Aldo akan menerimanya kembali sehingga akan memperjuangkan dirinya di hadapan ayahnya.
Setelah semuanya tenang, Rein berjalan meninggalkan kami, mungkin dia hendak membereskan barangnya dan pergi dari rumah. Tidak berapa lama kulihat Rein berjalan dengan membawa travel bag lalu dia mengatakan akan kembali. Dan yang pasti dia akan membuat Aldo kembali padanya.
Aku menghela napas merasa lega karena dia sudah pergi dari rumah, sehingga tidak akan terjadi drama yang lebih besar dengan ayah dan asisten Ari.
"Untuk saat ini masalah Rein sudah selesai, aku harap kita bisa bertindak tenang!" Aku berkata lalu berdiri dan berjalan menuju taman lalu menyuruh Aldo untuk mengikutiku.
Karena aku butuh udara segar sehingga lebih enak membicarakan di gazebo saja. Aku pun menyuruh seorang pelayan untuk membuatkan aku minuman dan membawakan camilan ke gazebo.
Tidak begitu lama Lexi tiba dan duduk bersama kami, aku bertanya padanya bagaimana dengan Himawari. Dia mengatakan jika saat ini Himawari bersama anak-anak karena itu bisa membuatnya menjadi tenang.
Dua orang pelayan membawakan apa yang aku perintahkan. Setelah semua minuman dan camilan tertata rapi di atas meja pelayan pun pergi meninggalkan kami.
"Ceritakan apa yang harus aku ketahui?!" Aku berkata pada Aldo, Lexi dan Hinoto.
Aku yakin dengan pasti mereka bertiga mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Karena aku yakin itu dan perasaanku tidak akan pernah salah, apalagi jika melihat sikap mereka bertiga. Untuk Aldo dan Lexi aku sudah mengenal mereka sejak kecil. Dan untuk Hinoto entah mengapa aku tahu jika dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Isamu masih hidup!" Mereka bertiga bicara serempak.
Aku terkejut atas saat mendengar semua itu dan mereka juga sama terkejutnya. Apakah mereka tidak membicarakan semuanya, aku berusaha menenangkan diri karena mengetahui jika Isamu masih hidup.
"Aku ingin kau Aldo menikah dengan Aiko secepatnya! Karena aku tidak ingin jika Isamu kembali pada Aiko. Menurutku dia tidak pantas mendapatkan Aiko!" Hinoto mengatakan itu dengan sangat serius pada Aldo.
Aldo merasa terkejut untuk yang kedua kalinya, dia bertanya mengapa dia harus menikah dengan Aiko. Jika Isamu masih hidup bukankah mereka berusaha akan menikah karena Aiko sangat mencintai Isamu.
Hinoto berkata jika Isamu berniat buruk pada Aiko dan dia tidak ingin jika Isamu kembali pada Aiko. Dia masih merasa kesal dengan sikap Isamu yang mengkhianati Aiko serta yang menyebabkan ayahnya Aiko tiada dalam kecelakaan itu.
Sebenarnya masih banyak sikap buruk Isamu yang belum diceritakan oleh Hinoto. Namun, dia mengatakan pada semuanya jika dia merasa bersalah karena mendekatkan Isamu dan Aiko. Karena dia pun baru mengetahui perbaikan Isamu yang buruk dan mengakibatkan kerugian bagi banyak orang.
"Aiko tidak mungkin setuju dengan pernikahan ini!" Aldo berkata dengan menghela napasnya.
__ADS_1
"Apa kau mau menikah dengannya, jika Aiko bersedia menikah denganmu?!" tanyaku pada Aldo dengan serius.
Aldo terdiam, lalu dia mengangguk karena dia ingin melindungi Aiko dari tangan Isamu. Dan juga dia ingin melepaskan diri dari Rein yang selalu berusaha mendekatinya.
Aku terdiam sesaat apakah pernikahan mereka akan berjalan dengan baik dan menghasilkan kebahagiaan. Karena mereka tidak memiliki rasa cinta. Namun, aku merasa yakin jika mereka akan bahagia.
"Biar aku yang bicara pada Aiko! Dan aku pastikan dia akan menyetujuinya!" Aku berkata pada Aldo.
Setelah aku mengatakan itu pada semuanya, kami berbincang-bincang sesaat untuk merencanakan penjemputan ayah. Dan juga Maslaah pengawasan anak-anak yang harus diperketat.
Saat semuanya sudah selesai kami bicarakan aku hendak berdiri dan berjalan menuju kamar. Tiba-tiba kepalaku terasa berat sekali, pasanganku mulai kabur.
***
"Sayang, kau sudah bangun?" ucap lembut suara seseorang yang aku rindukan.
Aku berusaha melihat ke arah samping terlihat ayah sedang duduk dan tersenyum sangat lembut. Aku tidak bisa berkata apa-apa karena kepalaku masih terasa pusing.
"Bunda, kau tidak apa-apa, 'kan?" Zeroun bertanya padaku sembari memeluk dari samping.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku, mengapa aku ada di dalam kamar. Bukankah aku masih bersama yang lainnya di gazebo, saat aku hendak merubah posisi tidur menjadi posisi duduk.
Ayah membantuku dengan lembut lalu berkata, "Pelan-pelan saja, sayang."
Aku melihat Hinoto yang baru saja masuk, dia tersenyum padaku lalu mendekatiku. Dia naik ke atas tempat tidur tepat di samping Zeroun, dia mengecup keningku lalu membisikan kata terima kasih.
Merasa bingung dengan apa yang dia bisikan, aku bertanya terimakasih untuk apa. Ayah terkekeh mendengar aku mengatakan itu, lalu ayah mengatakan jika beberapa bulan lagi akan hadir cucu baru. Begitu mendengar itu Zeroun pun merasa senang dan Hinoto pun terlihat sangat bahagia.
"Apa maksud Ayah? Apakah Himawari sedang mengandung?!" tanyaku pada ayah.
"Kau begitu bodoh Lexa! Kau yang akan memiliki anak lagi mengapa kau mengatakan istriku yang mengandung?" Lexi berkata pada sembari terkekeh-kekeh.
Aku berusaha untuk mencerna pa yang baru saja di katakan Lexi, entah mengapa otakku menjadi begitu lamban mencerna sesuatu. Saat aku berpikir Hinoto menarik tanganku lalu menempatkannya di atas perutku sembari berkata, "Kita akan memiliki bayi lagi."
Semua terkekeh karena aku seperti seorang wanita yang baru saja mengandung. Padahal aku sudah memiliki Zeroun dan anakku itu sangat senang sehingga dia mengelus perutku lalu mengecupnya dengan lembut. Sembari berkata pada calon adiknya yang berada di dalam perutku.
Setalah aku menyadari semuanya aku merasa bersyukur karena mengandung kembali. Mudah-mudahan bayi yang ada dalam kandunganku sehat selalu dan bisa lahir ke dunia sini dengan sehat dan selamat.
"Istirahatlah, lebih baik kita pergi agar Lexa bisa istirahat!" Ayah berkata padaku dengan mengajak Zeroun dan yang lainnya keluar dari kamar.
Dan anehnya Zeroun mau di ajak ayah pergi meninggalkan diriku, mungkin dia sudah mengerti. Aku bertanya pada Hinoto kapan ayah tiba, dia mengatakan jika setelah aku tidak sadarkan diri ayah tiba lebih cepat dari jam yang diberitahukan pada kita. Untung saja Rein sudah pergi sehingga ayah tidak melihatnya ada di rumah.
"Aku sangat mencintaimu, sayang." Hinoto berkata padaku sembari mengecup bibirku sekilas dan memelukku dengan lembut.
"Aku juga sangat mencintaimu, sayangku!" jawabku pada Hinoto.
Hinoto mengatakan padaku untuk istirahat dan dia akan menemui yang lainnya. Karena ayah ingin mengatakan sesuatu, dia pun mengatakan padaku akan menceritakan semuanya jika sudah bicara dengan ayah.
Dia pun pergi meninggalkan aku, mungkin mereka akan membicarakan masalah pernikahan Aldo dan Aiko. Aku berharap semuanya bisa berjalan dengan baik karena aku tidak ingin melihat Aiko kembali bersama Isamu, jika memang benar Isamu masih hidup.
__ADS_1
Dan yang membuatku penasaran bagaimana Isamu masih hidup? Lalu tubuh siapa yang di kremasi beberapa tahun yang lalu. Sungguh aku tidak menyangka jika Isamu merencanakan hal-hal buruk pada Aiko.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang akan membuat saudara dan sahabatku menderita. Aku akan selalu menjaga mereka semua dengan sekuat tenaga. Aku harap kehamilanku kali ini tidak merepotkan seperti kehamilanku yang pertama sehingga aku bisa beraktivitas seperti biasa.