Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 137


__ADS_3

Lexi POV


Aku tidak menyangka jika orang yang ingin menghancurkan perusahaan parfum bunda adalah salah satu keluarga Himawari. Ini membuatku sangat bingung karena aku tidak tahu apakah harus menghancurkannya.


"Lexi, bagaimana dengan perusahaan parfum sekarang ini?" tanya ayah padaku.


"Aku sudah menyelidiki semuanya, aku akan bertidak tegas jika mereka masih berusaha menghancurkan perusahaan bunda!" jawabku.


"Lakukan apa yang menurutmu benar tetapi kau harus ingat satu hal, jika kau merasa butuh bantuan Ayah atau Lexa maka kau harus mengatakannya!" Ayah berkata lalu pergi meninggalkan aku menuju kamarnya.


Mendengar perkataan ayah seperti itu aku tahu jika ayah khawatir padaku, tetapi aku akan berusaha menyelamatkan perusahaan bunda. Karena hanya perusahaan ini yang bunda tinggalkan untuk aku dan Lexa.


Aku berjalan menelusuri setiap ruangan yang pernah bunda lewati, aku berjalan menuju sebuah ruangan musik. Sekilas terlihat bayangan bunda yang sedang bermain piano dengan senyum lembutnya.


Bunda adalah wanita paling hebat, dia selalu ada untuk kami meski saat itu ayah sedang terbaring koma. Maka aku juga harus kuat menghadapi musuh-musuhku. Tidak akan aku biarkan mereka mengalahkanku dengan mudah.


Betapa aku merindukanmu bunda, kaki ini melangkah memasuki ruangan musik. Duduk di kursi tidak terasa tangan ini mulai menggerakkan jari-jemariku untuk memainkan tuts piano. Akhirnya aku bermain piano sembari mengingat semua kenangan bunda.


Aku jadi teringat permainan piano Lexa sewaktu di Korea, jika sekilas dia sama seperti bunda. Saat dia tersenyum menikmati permainannya terlihat jelas dia mirip dengan bunda.


Prok! Prok! Terdengar suara tepuk tangan yang mengejutkanku, Aldo sedang apa dia di sini. Di berjalan menghampiriku lalu berkata, "Akhirnya aku bisa melihatmu bermain piano, sudah sejak lama kau tidak memainkannya!"


"Ada apa kau kemari?" tanyaku pada Aldo.


Dia menyodorkan sebuah amplop coklat, aku membukanya dan membacanya. Rupanya ini semua adalah informasi mengenai tuan Fadil. Dan disana juga sudah tertulis Himawari yang merupakan putri dari adik tuan Fadil.


Sepertinya aku harus bertemu dengan Himawari untuk mengetahui bagaimana keadaannya di sana. Karena berasaskan informasi yang aku dapat ini, keluarga ibunya sangatlah tidak berperasaan.


Setelah menyerahkan dokumen itu, Aldo meminta izin untuk undur diri. Jika aku sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi dan aku mengijinkannya untuk pergi.


Aldo sudah pergi lalu aku berjalan meninggalkan ruangan musik ini menuju kamar. Aku ingin segera menghubungi Himawari dan mengajaknya bertemu secepatnya.


Setelah aku berada di dalam kamar, aku mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Lalu aku mencari nomor ponsel Himawari, sebenarnya tanpa dicari pun aku hapal nomornya.


Terdengar nada sambung dari ponselnya saat aku menekan nomornya. Menunggu beberapa menit akhirnya dia mengangkat teleponku, terdengar suara asing bagiku.


Lalu aku bertanya apakah ini nomor Himawari, dia menjawab iya. Dia berkata jika Himawari sedang berada di kamar mandinya dan yang bicara adalah ibunya Himawari.


Namun, setelahengatakan itu suaranya berubah menjadi Himawari. Mungkin dia sudah selesai dengan urusannya. Dia bertanya ada apa menghubunginya.


Aku mengatakan ingin bertemu dengannya besok siang atau malam ini. Himawari menjawab jika dia bisa bertemu denganku malam ini di sebuah taman dekat rumahnya.


Himawari mengatakan dia kesulitan untuk pergi jauh-jauh dari rumah, aku bingung dengan yang dia katakan. Mengapa dia merasakan kesulitan untuk keluar rumah? Apakah sudah terjadi sesuatu padanya.


Karena penasaran dengan apa yang dikatakannya tadi, aku bertanya padanya. Namun, dia tidak menjawabnya tetapi dia akan menceritakan semuanya saat bertemu nanti malam.


Setelah itu dia menutup sambungan teleponnya, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Pokoknya malam ini aku harus bertemu dengannya. Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya.


Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamarku di ketuk, aku menyuruhnya masuk. Seorang pelayan menyampaikan sebuah pesan dari ayah dimana menyuruh aku menemuinya di ruang baca.


Pelayan itu pergi setelah menyampaikan pesan dari ayah, aku bergegas menuju ruang baca. Karena aku tidak ingin ayah menungguku terlalu lama.


Saat aku mengetuk pintu ruang baca, terdengar suara ayah yang menyuruhku masuk. Aku pun masuk dan melihat asisten Ari masih berada di rumah.


Asisten Ari sungguh orang yang sangat setia pada ayah dan dia juga sama seperti ayah. Pria yang setia hanya dengan satu wanita saja, meski istrinya sudah tiada semenanjung Aldo masih kecil tetapi dia tidak mencari pengganti istri atau ibu baginya serta Aldo.


"Ada apa Ayah memanggilku?" Aku bertanya dengan nada ingin tahuku.


"Besok malam kau harus menghadiri sebuah pesta tetapi kau harus ingat agar berhati-hati. Karena di sana ada orang yang hendak menghancurkan perusahaan bundamu!" Ayah berkata dengan nada serius.


Aku masih penasaran sebenarnya apa yang menjadi alasan orang itu ingin menghancurkan bunda. Yang aku ketahui musuh bunda dulu hanya Rey Hirasaki dan Leo Ahmad yang ingin merebut bunda dari tangan ayah.

__ADS_1


Sekarang aku harus mencari tahu tentang alasan tuan Fadil, sekalian aku juga harus segera menjadikan Himawari sebagai istriku. Karena aku tidak ingin kehilangan dia.


"Besok malam kau akan ditemani oleh Aldo!" Ayah berkata lalu menyuruhku untuk kembali melakukan pekerjaanku.


Aku mengatakan pada ayah jika malam ini akan keluar rumah dan mengatakan bahwa aku akan bertemu dengan Himawari. Ayah mengizinkan aku untuk pergi, setelah itu aku pergi meninggalkan ruang membaca ayah.


Sembari menunggu waktu pertemuanku dengan Himawari, aku mencari tahu tentang tuan Fadil. Akan aku retas jaringan perusahaannya. Siapa tahu aku akan menemukan hal yang mengejutkanku lagi.


Rupanya dia menggunakan tingkat pengamanan yang tidak biasa, sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku melihat jam yang menempel di atas dinding. Rupanya sudah mendekati jam pertemuan kami.


Aku mematikan komputer terlebih dahulu setelah itu bersiap untuk pergi menemui Himawari. Saat sudah siap aku bergegas menuju mobil, aku melihat asisten Ari yang sedang bicara dengan salah satu pengawal.


"Anda, sudah mau pergi?" tanya asisten Ari padaku.


"Iya, katakan pada ayah jika aku pergi!" jawabku sembari berlalu meninggalkan asisten Ari.


Lalu aku berjalan menuju mobil yang sudah siap akan digunakan, mobil kunyalakan secara perlahan keluar dari rumah. Setelah keluar dari area rumah kutambah kecepatan mobilku hingga melesat menembus jalanan ibu kota.


Himawari sudah mengirimkan aku sebuah alamat taman tempat kita bertemu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, sudah lama aku tidak bertemu langsung dengannya.


Jalanan ibu kota malam ini begitu padat, mudah-mudahan aku tidak terlambat. Karena aku tidak ingin membuat Himawari menungguku terlalu lama.


Tibalah aku di taman yang sudah dikatakan oleh Himawari, aku segera keluar dari mobil. Dan berjalan menelusuri taman, guna mencari keberadaan Himawari.


Saat berjalan menelusuri taman ini aku merindukan suasana tanam di Jepang. Saat berjalan aku melihat Himawari yang sedang duduk sendiri, dari kejauhan ada sekelompok pria yang menghampirinya.


Sepertinya mereka hendak mengganggu Himawari tetapi mereka tidak tahu siapa yang sedang dihadapi. Benar saja, Himawari langsung menghajar mereka tanpa ampun.


Satu per satu pria itu jatuh tersungkur di atas tanah, sepertinya dia tidak membutuhkan bantuanku. Karena mereka bukanlah tandingan bunga matahariku. Mereka berusaha berdiri lalu pergi meninggalkan Himawari.


Prok! Prok! Aku bertepuk tangan atas keberhasilan Himawari menghajar para pria tidak berguna. Dia terkejut mendengar tepuk tangan dariku.


Namun, dia berlari lalu memelukku dengan erat. Terlihat dia juga sangat merindukanku tetapi saat dia tersadar karena memelukku. Dia dengan cepat melepaskan pelukannya dariku.


"Bagaimana kabarmu?" tanyaku pada Himawari.


"Aku baik-baik saja tetapi aku bertemu dengan keluarga ibu yang begitu memuakan. Mereka melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka. Jika aku tahu kelurga ibu seperti ini, lebih baik aku tidak bertemu dengan mereka." Himawari berkata padaku dengan menghela napasnya secara kasar.


Aku tahu sebagian informasi tentang keluarganya, mungkin Himawari merasa terkejut dengan mereka. Namun, aku tidak akan membiarkannya menderita lagi.


"Bagaimana dengan ibumu?" Aku bertanya kembali pada Himawari.


Dia menjawab bahwa sang ibu sangat baik tetapi dia terlihat sangat menderita. Ibunya berkata jika dia sangat menyesali karena telah meninggalkan Himawari di Jepang. Sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk meninggalkannya.


Akan tetapi semua itu harus dia lakukan karena harus memilih siapa yang akan bersamanya. Karena sebenarnya himwari memiliki seorang saudari kembar. Yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikannya di Kairo.


Sehingga dia belum pernah sekalipun bertemu dengan saudarinya itu tetapi ibunya berkata jika saudarinya itu juga sangat menderita. Itu sebabnya sang ibu menyuruhnya menyelesaikan pendidikannya di luar negri.


"Aku muak dengan keluarga itu! Ingin rasanya aku kembali ke Jepang. Akan tetapi pamanku mengancam jika aku pergi maka ibu dan saudariku akan menderita! Karena ibu masih memiliki saham di perusahaan keluarganya. Namun ibu berkeras tidak akan menyerahkannya pada paman. Menurut ibu itulah satu-satunya senjata untuk melindungi aku dan saudariku!"


Aku memegang tangan Himawari guna memberikan kekuatan padanya, sungguh ingin rasanya membawa pergi Himawari dan membawanya ke rumah. Karena di rumah dia tidak akan merasakan penderitaan.


"Maukah kau menikah denganku?" tanyaku dengan serius pada Sarada.


Dia tersenyum bahagia, dia mengangguk tandanya dia menyetujui permintaanku. Namun dia memintaku untuk memintanya pada ibu, karena saat ini yang dia miliki adalah ibu.


Aku menyetujui persyaratan Himawari, aku merasa dia belum mengetahui jika pamannya berusaha menghancurkan perusahaan peninggalan bunda.


Jika dia tahu masalah ini mungkin dia akan melawan, aku tidak mau dia melawan dengan gegabah. Karena itu akan membahayakan ibu, dia dan saudarinya.


Sekarang selain melindungi keluargaku sendiri aku juga harus melindungi Himawari dan keluarganya. Sekarang tugasku semakin banyak, mudah-mudahan aku bisa melindungi semuanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pulang, udara malam ini semakin dingin! Besok kita bisa bertemu lagi!" Aku berkata pada Himawari.


Himawari mengangguk lalu dia berjalan meninggalkanku tetapi aku mengikutinya dari belakang. Rupanya dia tidak menggunakan kendaraan. Dia hanya berjalan menelusuri jalanan, dia berhenti sejenak di depan sebuah rumah yang sangat besar.


Terlihat dia ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya, aku tidak tahu mengapa dia berhenti di depan rumah itu. Ada beberapa pengawal yang membukakan gerbang rumah itu.


Secara perlahan Himawari berjalan menuju rumah itu, ini artinya rumah itu adalah rumah keluarganya Himawari. Aku merasa tenang sekarang karena sudah tahu dimana dia tinggal.


Setelah Himawari masuk ke dalam rumah itu, aku berjalan meninggalkan rumahnya menuju mobil yang kuparkirkan di dekat taman. Tidak begitu jauh jarak antara rumah Himawari dan taman.


Aku memasuki mobil lalu menjalankannya dengan perlahan tetapi secara perlahan aku menambah kecepatan mobil. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, aku kembali teringat akan perkataan Himawari.


Terasa sedih jika tidak bisa menjaga wanita yang aku cintai, mengapa dia harus merasakan penderitaan ini lagi. Setelah dia ditinggalkan oleh ayah dan kakaknya.


Padahal aku selalu berdoa untuknya agar menemukan ibu kandungnya, sehingga dia bisa merasakan kebahagian. Sudah cukup dia menderita di Jepang. Sebenarnya dia bisa pergi dan kembali ke Jepang karena di Jepang dia masih seorang agen.


Tunggu dulu! Aku merasakan ada hal yang janggal dengannya, apakah dia sedang menyelidiki sesuatu. Apakah ini ada hubungannya dengan pekerjaannya sebagai seorang agen.


Sepertinya aku harus menghubungi Hinoto, mungkin dia bisa mencari tahu tentang Himawari. Entah mengapa hatiku merasa seperti itu, jika benar dia sedang bertugas. Itu artinya dia dalam bahaya.


Tibalah aku di rumah, setelah memarkirkan mobil aku keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah. Lalu berjalan menuju kamar, sepertinya ayah sudah tidur karena aku tidak melihat asisten Ari di sini.


Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur, memikirkan semuanya. Himawari aku begitu ingin menjadikanmu sebagai istriku, akan aku lindungi dirimu dan memberikan semua kebahagiaan padamu.


Ponselku berdering, aku mengambil ponselku yang tadi aku simpan di atas nakas. Kulihat layar ponsel tertera nama Himawari, langsung kuangkat teleponnya.


Dia bertanya apakah aku sudah tiba di rumah, aku menjawab sudah berada di rumah dan sekarang sedang merebahkan tubuh dia tas tempat tidur.


Himawari mengatakan jika ada sesuatu yang belum dia katakan padaku tetapi belum saatnya untuk menceritakan padaku semuanya. Nanti jika sudah tepat waktunya dia akan mengatakan semuanya.


Dia juga berkata bahwa sangat mencintaiku, rasanya tidak ingin berpisah. Dan juga sudah tidak sabar dengan rencanaku yang akan melamarnya pada ibunya.


Akan tetapi dia meminta aku mendatangi ibunya minggu depan karena dalam seminggu kedepan. Tidak memungkinkan untuk melakukan sebuah pertemuan keluarga.


Aku menyetujui apa yang dia katakan, lalu aku mengatakan padanya agar selalu berhati-hati dalam bertindak. Ingat akan kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.


Himawari berkata iya dengan apa yang aku katakan, dia pasti akan menjaga dirinya sendiri. Jika dia membutuhkan bantuanku maka dia akan menghubungiku langsung.


Setelah mengatakan itu Himawari menutup sambungan teleponnya. Aku kembali memikirkan semua perkataannya, dia benar-benar membuatku semakin khawatir.


"Aku berharap kau bisa menjaga dirimu Himawari, aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu!" gumamku.


Saat akan mengistirahatkan mata dan pikiranku ponsel kembali berdering. Rupanya itu Lexa, aku langsung mengangkatnya lalu bertanya untuk apa dia menghubungiku.


Dia bertanya tentang keadaanku karena dia merasakan ada yang aneh dengan hatinya. Mungkinkah ini adalah ikatan di antara kami berdua, sehingga Lexa bisa merasakan diriku yang sedang gelisah.


Lexa memintaku untuk menceritakan apa yang membuatku gelisah, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan padanya. Namun, jika aku tidak jujur padanya maka dia akan langsung terbang ke Indonesia dan bertanya padaku langsung.


Mungkin dengan kedatangannya yang tiba-tiba maka akan menimbulkan keributan. Karena ayah juga akan bertanya padaku apa yang terjadi.


Akhirnya aku mengatakan apa yang terjadi pada perusahaan bunda dan juga masalah Himawari. Setelah mengatakan itu aku teringat dengan Hinoto.


Aku meminta Lexa untuk memberikan ponselnya pada Hinoto karena aku ingin bicara dengannya. Dia pun langsung memberikan ponselnya pada Hinoto.


Hinoto tanpa basa-basi apa yang aku butuhkan, lalu aku mengatakan padanya untuk mencari tahu misi terbaru Himawari. Dia pun menyetujui apa yang aku pinta.


Sungguh beruntung aku memiliki ipar seperti dia karena dia sama seperti ayah yang bisa diandalkan. Dan juga dia sangat mencintai Lexa, semoga saja mereka bisa selalu bersama hingga masa tuanya nanti.


___________________________________________


Hai gaes jangan lupa kasi like, komen ya karena itu sangat berarti bagiku😉 biar aku semakin semangat

__ADS_1


Sampai jumpa di bab berikutnya


__ADS_2