
Lexi POV
Aku bingung harus mencari kemana lagi kau Lexa, aku begitu khawatir dengan keadaanmu. Tidak biasanya dia tidak pulang dan tidak memberi kabar padaku. Aku harap tidak terjadi sesuatu padamu.
Handphone ku berbunyi, kulihat ternyata Alexa yang menghubungiku. Aku pun langsung memberikan pertanyaan bertubi-tubi padanya, Aiko serta Annisa pun mulai dengan kecerewetan mereka. Sedangkan yang dikhawatirkan malah terkekeh.
Aku kesal dibuatnya, dia sudah membuatku tidak bisa tidur semalaman. Sekarang hanya terkekeh, apakah dia tidak merasa bersalah padaku apa? Lihat saja nanti jika pulang aku akan memberinya hukuman.
Setelah mengetahui Lexa baik-baik saja, aku memutuskan untuk tidur sejenak. Mataku sudah terasa lelah karena menunggu kabar dari Lexa. Biar saja Annisa dan Aiko yang menunggunya pulang, biar tau rasa dia disidang oleh Aiko yang super cerewet.
"Lexa!!"
Aku terbangun mendengar suara Aiko yang sedang menanyai Lexa. Aku segera menghampiri mereka, kulihat Lexa sedang terkekeh mendengar semua perkataan Aiko yang ditimpali oleh Annisa. Aku hanya melihat kelakuan 3 wanita super ribut.
Lexa tahu aku memperhatikannya, dia tersenyum padaku. Aku tahu yang ada dihatinya, dia pasti ingin meminta maaf padaku. Huh jangan harap aku akan memaafkan mu dengan mudah. Kau yang sudah membuatku khawatir semalaman.
Dia menghampiriku tanpa basa-basi dia memelukku, aku diam karena aku sedang kesal dengannya. Dia terus memandangku dengan wajah memelas, aku tak peduli dia memasang wajah seperti apapun.
"Lexi maafkan aku ya, aku janji tidak akan melakukannya lagi!"
Aku kesal sungguh kesal, apa dia tidak tahu jika aku sangat takut kehilangannya. Aku selalu ingat bunda pernah berkata, kami harus saling menjaga dan saling melindungi. Jika terjadi sesuatu padanya bagaimana aku bisa memenuhi janjiku pada bunda.
Dia terus memelas, meminta maaf terus menerus tapi aku menghiraukannya. Dia memberikan Drafting tube yang dimana isinya adalah dokumen yang ditinggalkan oleh Leo Ahmad. Aku mengambil Drafting tube tersebut, kukeluarkan dokumen yang berada di dalamnya.
Keadaan dokumen masih sama, semuanya masih tertutup rapat. Sepertinya pria bertopeng itu tidak membuka dokumen ini, benar saja dugaan ku bahwa pria bertopeng itu bukanlah musuh kami. Kubuka secara perlahan bagian yang melindungi dokumennya, saat ku sedang membuka dokumen terdengar suara Aldo.
__ADS_1
Annisa yang membukakan pintu saat Aldo datang, dia merasa bingung kenapa ada Annisa di sini. Dia bertanya pada Lexa kenapa Annisa berada di Jepang. Bukannya cerita dia malah menyuruh Aldo tanya sendiri ke orangnya. Akhirnya Aldo pun bertanya pada Annisa, Annisa pun menjelaskan semuanya.
Annisa berada di Jepang karena sedang melakukan studi kasus, dia sedang menyelesaikan kuliahnya. Namun dia mengambil judul tesis yang mengharuskannya ke negara yang bersangkutan. Sebenarnya itu hanya alasan dia saja, yang utamanya dia ingin bertemu dengan kami.
Annisa kemari bersama beberapa kawannya, namun untuk beberapa hari ini dia meminta ijin untuk tinggal bersama kami. Aku harap dia cepat kembali bersama teman-temannya, karena aku khawatir jika musuh kami mengincarnya. Aku tidak ingin melibatkannya dalam misi berbahaya kami.
Sekarang aku akan fokus pada yang ada di depanku yaitu dokumen Leo Ahmad. Ku buka satu per satu, kubaca dengan teliti, ada sebuah foto yang terpampang di sebuah dokumen terakhir. Lexa yang melihat foto itu berkata, "itu dia Rei Hirasaki"
"Benar dugaan ku, jika aku bertemu dengannya ada perasaan aneh! Ternyata benar dia yang telah menyebabkan Bunda tiada!"
Lexa berkata dengan nada marah, aku tahu dia pasti sangat marah pada orang itu. Ternyata benar Rei Hirasaki yang dimaksud oleh Leo Ahmad sama dengan Rei Hirasaki ayah dari inspektur Alan. Bearti aku harus berhati-hati dalam bertindak, ternyata dia memiliki pengaruh juga di pihak kepolisian.
Kulihat Lexa sudah akan pergi, aku tahu dia akan pergi kemana. Aku mencegahnya, aku tidak ingin dia bertindak gegabah karena emosi. Aku mengatakan padanya bahwa kita perlu strategi yang bagus untuk menyerangnya. Jika ingin menghancurkannya kita perlu menghancurkan usahanya secara perlahan namun pasti.
Aku sudah memikirkan bagaimana cara membuatnya hancur secara perlahan. Setelah mendengar yang ku ucapkan Lexa kembali tenang. Kuharap dia bisa menjernihkan pikirannya, agar tidak membocorkan penyamaran kita.
Annisa bersikeras ingin tinggal dan membantu kami, namun Lexa memberinya pengertian. Sungguh baik aku atau Lexa tidak ingin Annisa terbawa ke dalam misi kami, karena misi kami sangat berbahaya. Bahkan kami yakin akan menimbulkan korban jiwa, maka dari itu Annisa tidak boleh dekat-dekat dengan kami.
Annisa pun mengerti dengan yang dijelaskan oleh Lexa, akhirnya dia menyetujui permintaan ku dan Lexa. Dia membereskan semua barang-barangnya, dia menelepon temannya bahwa dia akan bersama mereka. Aku menyuruh Aldo untuk mengantar Annisa ke tempat teman-temannya berada.
Annisa sedih dia tidak bisa membatu kami, aku berkata padanya dengan dia tidak dekat dengan kami dia sudah membatu. Akhirnya Aldo dan Annisa pergi, Aiko yang sudah sedari malam berada di rumah ijin untuk pulang. Aku pun mengijinkannya pulang, karena besok dia sudah mulai mengurus pekerjaan perusahaan.
Aku pun mengirimkan informasi yang kami dapat pada ayah, aku bertanya padanya sebenarnya ada hubungan apa? sehingga Rei Hirasaki bermusuhan dengan keluarga kami. Namun ayah pun tidak bisa menjawab, karena ayah pun baru tahu tentang Rei Hirasaki. Aku pun mengakhiri pembicaraan kami.
Jadi sebenarnya apa penyebab Rei Hirasaki menyerang terus-menerus keluarga kami, sampai bunda pun tiada karenanya. Aku terus berpikir apa motif sebenarnya, begitupun Lexa dia memikirkan hal yang sama dengan ku.
__ADS_1
"Motifnya apa? Sehingga dia membuat bunda tiada?"
Aku tidak bisa menjawab yang Lexa tanyakan namun aku berkata, "itulah yang harus kita ketahui motif dia apa? Sehingga dia sangat dendam pada keluarga kita?!"
Saat memikirkan semua itu, aku teringat akan luka di lengan Lexa. Aku pun menanyakan bagaimana keadaan lengannya, dia menjawab bahwa lenganmya sudah membaik. Aku tahu yang dia katakan tidak benar, karena aku masih bisa melihat dia menahan rasa sakitnya.
"Apa kita perlu ke dokter?!" tanya ku pada Lexa
Lexa menggelengkan kepalanya, dia sudah di periksa oleh dokter. Dia pun sudah diberi obat oleh dokter, jadi dalam beberapa hari ini lukanya akan sembuh. Aku lega mendengar semuanya, Lexa pun kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri sesaat.
Sedangkan aku mulai memikirkan semua strategi dan mencari tahu motif Rei Hirasaki. Aku mulai memainkan jari-jemariku, aku mencari tahu semua informasi tentang Rei Hirasaki. Dari dia masih muda sampai saat ini. Mungkin ayah atau bunda pernah bermasalah dengannya.
Rei Hirasaki! Kita lihat seberapa tangguhnya perusahaan mu! Aku akan mulai dari apa yang telah kau rintis yaitu perusahaanmu! Akan ku tagih setiap tetes air mata yang telah keluarga ku teteskan! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Kau yang memulai semua ini! Maka aku akan mulai dari sekarang!!
____________________________________________
Apa yang menjadi motif Rei Hirasaki??
____________________________________________
Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"
____________________________________________
Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉
__ADS_1
selamat membaca c u next bab 😘