Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 170


__ADS_3

Lexa POV


"Lexa— ini dokumen yang kau butuhkan!" ucap Aiko padaku lalu dia duduk di hadapanku.


Aku kembali terpikir tentang makan siang kemarin lalu bertanya sekali lagi padanya. Mengapa dia belum bisa memaafkan Aldo karena semuanya bukan kesalahan Aldo saja. Namun, dia hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Mungkin dia tidak ingin aku membahasnya, aku takut jika dia marah dan pergi.


Ya sudahlah biarkan dia dengan pemikirannya asalkan dia tidak berpikir untuk pergi jauh. Karena aku tidak ingin dia pergi di saat dia belum tahu kejadian yang sebenarnya. Aldo pun belum menceritakan kejadian yang sebenarnya baik padaku dan semuanya.


Namun, aku yakin jika Aldo tidak bersalah dan apa yang dikatakan oleh Rein semuanya tidak benar. Karena Himawari mengatakan padaku jika Rein berkata tidak jujur, Aiko pun mendengar apa yang dikatakannya tetapi dia masih saja tidak percaya.


Setelah dokumen aku periksa dan dibubuhi tanda tangan, Aiko mengambil dokumen itu lalu pergi meninggalkan ruangan. Aku menyandarkan tubuh di kursi lalu memikirkan kembali apa yang sudah terjadi pada kedua sahabatku Aiko dan Aldo.


Aku berharap jika mereka akan kembali seperti mereka yang dulu, dimana hatinya tidak diracuni oleh dendam sehingga membuat mereka tidak bertegur sapa sama sekali. Dan aku tidak percaya mengapa Rein melakukan itu.


Ponselku berdering, melihat layar ponsel tertera nama suamiku. Aku langsung mengangkatnya, aku hanya mendengarkan apa yang dia katakan. Sepertinya dia harus keluar kota tetapi dia mengajakku yang jadi masalah saat ini adalah dia tidak mungkin mengajak Zeroun. Karena dia lebih khawatir jika mengajaknya bersama.


Aku mengatakan padanya akan meminta bantuan Himawari dan Lexi untuk menjaga Zeroun saat kita berada di luar kota. Entah mengapa aku merasa itu harus dilakukan. Biasanya aku selalu membawa Zeroun saat ikut perjalan bisnis Hinoto. Namun, kali ini aku lebih tenang jika Zeroun tidak ikut.


Setelah aku mengatakan itu Hinoto memutuskan sambungan teleponnya dan aku kembali dengan pekerjaanku. Namun, pikiranku kembali teralihkan dengan masalah Aiko dengan Aldo. Apakah mereka bisa kembali berlaku seperti dahulu.


Tidak terasa hari sudah sore dan Hinoto pun sudah menjemputku, dia duduk dengan santai di atas sofa sembari memainkan ponselnya. Aku merapikan mejaku dari berkas-berkas yang sudah aku periksa serta dibubuhi tanda tangan.


"Mari kita pulang!" ucapku pada Hinoto sembari mengulurkan tangan padanya.


Dia tersenyum lalu memegang tanganku dengan lembut, kami pun berjalan meninggalkan ruangan. Dia hanya tersenyum padaku dan tidak terlalu banyak bicara kali ini. Apakah ada yang sedang dipikirkannya? Sehingga dia hanya diam saja.


Dalam perjalanan pulang juga dia hanya diam, biar saja nanti aku akan bertanya padanya jika sudah tiba di rumah. Karena jika dibicarakan dengan santai maka akan membuat suasana hatinya membaik.


Tibalah kami di rumah, seperti biasa aku selalu disambut dengan teriakan Zeroun yang senang dengan kedatanganku dan Hinoto. Namun, kali ini dia lebih memilih di gendong oleh Hinoto. Aku tersenyum karena tidak biasanya mereka seperti ini.


Saat Zeroun bersama Hinoto, aku memutuskan untuk bicara dengan Himawari masalah kepergianku dengan Hinoto besok pagi. Aku mencari-cari keberadaan Himawari lalu bertanya pada seorang pelayan. Pelayan mengatakan jika Himawari sedang berada di taman belakang bersama Rosalina.


Mengetahui Himawari berada di taman belakang, aku langsung menuju taman belakang. Benar saja mereka berdua ada di sana sedang duduk di ayunan. Terlihat Himawari sedang menceritakan sesuatu pada Rosalina, aku berjalan mendekatinya.


Himawari melihat kedatanganku lalu dia tersenyum dengan lembut padaku. Begitu pula dengan Rosalina, dia berteriak memanggil namaku dengan suara gadis ciliknya.


"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanyaku pada Himawari.


"Ada apa?" Dia berbalik bertanya padaku.


Aku pun mengatakan padanya jika besok pagi akan pergi keluwr kota bersama Hinoto. Namun, aku tidak bisa membawa Zeroun ikut bersama kami. Dan aku ingin menitipkan Zeroun padanya.


"Ohh hanya itu— aku pikir kau mau meminta apa dariku!" ucap Himawari sembari terkekeh.


Dan dia mengatakan juga jika dia akan menjaga Zeroun dengan baik karena dia sudah menganggap Zeroun seperti anaknya sendiri. Sehingga aku tidak usah cemar dengan Zeroun jika ada dirinya.


Setelah mengatakan itu aku pamit padanya untuk kembali ke kamar karena aku ingin membersihkan diri lalu beristirahat. Sebelum makan malam dimulai.


Aku berjalan menuju kamar, kulihat Lexi baru saja tiba bersama Aldo. Dia mengatakan padaku untuk ke ruang baca karena ada yang ingin dia bicarakan padaku. Dia terlihat serius dengan apa yang dia katakan, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi. Aku pun mengikutinya menuju ruang baca.


Saat sudah berada di ruang baca aku duduk menunggu Lexi mengatakan apa yang akan dia katakan padaku. Dia berkata padaku jika harus mulai berhati-hati karena Rosetta sudah mulai bergerak. Dan dia tidak ingin terjadi sesuatu baik padaku atau Hinoto.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan pergi bersama Hinoto ke luar kota! Aku titipkan serius pada kau dan Himawari!" ucapku pada Lexi.


"Bagus, lebih baik Zeroun di rumah bersamaku! Dan aku harap kau dan Hinoto selalu berhati-hati karena kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Rosetta!" Lexi berkata padaku lalu kami membicarakan hal-hal lainnya.


Sewaktu kami masih berbincang-bincang, terdengar suara ketukan pintu. Aldo membukanya lalu terlihat seorang pelayan dan mengatakan jika makan malam sudah tiba dan semuanya sudah menunggu di ruang makan. Setelah mengatakan itu, pelayan tersebut pergi untuk kembali mengerjakan apa yang belum diselesaikan.


Beberapa saat kemudian setelah pelayan pergi, aku mengajak Lexi dan Aldo untuk makan malam. Tadinya aku ingin merebahkan diri sebentar tetapi tidak bisa karena Lexi ingin bicara. Jadi sekarang lebih baik menuju ke ruang makan saja.


Aku berjalan terlebih dahulu lalu Lexi dan Aldo mengikutiku dari belakang. Saat tiba di ruang makan terlihat Zeroun yang sudah terlihat segar dan Hinoto sudah duduk. Aku duduk di samping Zeroun sehingga dia berada di tengah-tengah aku dan Hinoto.


Lexi dan Aldo sudah duduk, kami pun mulai makan malam dengan suasana seperti biasanya yang selalu diramaikan oleh Zeroun dan Rosalina. Mungkin besok malam aku tidak bisa merasakan ini karena aku dan Hinoto akan pergi beberapa hari ke luar kota.


Setelah acara makan malam selesai, Aldo memutuskan pulang ke apartemennya. Sebenarnya aku sudah mengatakan pada Aldo agar tinggal di rumah tetapi dia tidak mau dan lebih memilih di apartemen sendirian. Itulah yang akan membuatnya semakin menderita.


Aku kembali masuk ke kamar bersama Zeroun dan Hinoto, malam ini aku mengatakan pada Zeroun untuk tidur bersamaku. Pertamanya dia tidak ingin tetapi setelah aku mengatakan jika beberapa hari ke depan aku serta Hinoto tidak akan kembali ke rumah karena ada urusan di luar kota.


"Bunda— mengapa aku tidak bisa ikut?" tanya Zeroun padaku.


"Dengarkan Ayah, kau tidak bisa ikut kerena lebih aman jika kau berada di rumah bersama ibu Himawari dan ayah Lexi!" jawab Hinoto dengan lembut pada Zeroun.


Saat Zeroun bersama Hinoto, aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu aku bisa beristirahat dan tidur bersama kedua pria yang sangat aku sayangi yaitu suami dan putraku.


Saat aku keluar dari kamar mandi aku melihat Zeroun dan Hinoto sudah terlelap. Mereka terlihat sangat manis jika sudah tertidur, aku menatap Zeroun dengan lekat. Dia benar-benar mirip dengan Hinoto, dari Minion wajahnya hingga posisi tidur mereka benar-benar sama persis.


Aku menyelimuti mereka berdua lalu aku pun merebahkan tubuhku di samping Zeroun. Aku memeluknya dengan lembut, tiba-tiba tangan Hinoto memelukku juga. Dia membuka matanya lalu tersenyum padaku dan kembali tertidur.


***


Aku sudah bersiap begitu pula dengan Hinoto, aku melihat wajah Zeroun sedih. Mungkin dia ingin ikut bersamaku tetapi aku tidak bisa karena Hinoto mengatakan hal-hal yang membuatku khawatir. Aku kembali menasehatinya jika pekerjaan kali ini dia tidak bisa ikut.


"Bunda— sungguh aku tidak bisa ikut?" tanya dengan nada sedih.


"Sayang, bukan Bunda atau Ayah tidak ingin mengajakmu tetapi pekerjaan Ayah kali ini sedikit padat. Jika kau ikut, nanti kau akan merasa bosan!" jawabku dengan lembut padanya.


Dia terdiam tetapi dia kembali mengatakan jika perkerjaan ayahnya sudah selesai. Kami harus segera kembali, aku mengangguk lalu memeluknya dengan erat dan mengecup keningnya.


Hinoto mendekati Zeroun lalu dia mengatakan hal-hal yang membuatnya tenang. Dia memeluk Zeroun dan mengecup keningnya dengan lembut, melihat mereka berdua aku pun memeluk suami dan putra kesayanganku itu.


Setelah selesai kami pun pergi menuju stasiun kereta Shinkansen, mengapa menggunakan kereta karena Hinoto ingin menggunakan alat transportasi kereta berdua denganku. Aku tidak mengira dia ingin melakukan perjalanan berdua denganku seperti layaknya sepasang kekasih. Jarak tempuh dari Tokyo ke Kyoto kurang lebih dua jam lebih.


Dalam perjalanan menuju Kyoto, kulihat dia hanya diam tidak seperti biasanya. Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan, semalam aku lupa bertanya padanya tentang masalah yang dia pikirkan.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanyaku padanya.


Dia hanya diam, apakah dia tidak mendengar apa yang aku tanyakan? Mengapa dia seperti ini. Sungguh dia membuatku semakin khawatir saja, aku menyentuh tangannya dengan lembut guna menyadarkannya jika aku berada di dekatnya.


Hinoto tersadar dari lamunannya, aku menatapnya dengan mengisyaratkan apa yang sedang dia pikirkan. Dia tersenyum padaku lalu berbisik jika dia akan menceritakannya jika sudah tiba di Kyoto. Lalu dia mengecup keningku dengan lembut.


Tibalah kami di Kyoto, kami langsung menuju hotel. Setelah tiba di hotel aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Guna melemaskan tubuhku dari perjalanan Tokyo-Kyoto.


"Sayang, kau istirahatlah dulu— aku ada urusan sebentar! Nanti malam kita akan menghadiri makan malam biasa dengan teman-temanku." Hinoto berkata padaku sembari mengecup kening lalu bibirku dengan lembut.

__ADS_1


Ponselku berbunyi ada pesan yang masuk, aku membukanya lalu melihat siapa yang mengirim pesan. Tertera nama Aiko, dia mengirimkan email padaku. Dan aku harus segera membukanya lalu mengeceknya guna mengambil keputusan, sehingga semua rencana bisa dikerjakan dengan cepat.


Aku mengambil Notebook lalu mengaktifkannya, setelah itu aku membuka email yang di kirim oleh Aiko lalu memeriksanya dengan saksama. Setelah aku memeriksa email tersebut, semuanya tidak ada masalah.


Ponselku kembali berdering sekarang Lexi yang menghubungiku, dia bertanya tentang email yang Aiko kirim padaku. Aku mengatakan padanya semuanya sudah pas dan bisa dilakukan lebih lanjut lalu aku mengatakan pada Lexi untuk membubuhi tanda tangan pada dokumen tersebut. Namun, dia harus memeriksa kembali agar tidak terjadi kesalahan yang bisa berakibat fatal.


Setelah mendengar perkataanku Lexi menutup sambungan teleponnya dan aku kembali memeriksa semua email yang masuk. Setelah itu aku kembali melihat semua foto-foto Zeroun sedari dia baru lahir hingga saat ini. Aku memandangi setiap foto yang berada di Notebook.


"Sayang, kau serius sekali!" bisik Hinoto yang membuatku terkejut.


"Kau— kapan kau kembali?!" tanyaku padanya sembari memegang dada karena jantungku berdegup dengan cepat.


Dia terkekeh melihatku yang sangat terkejut, lalu dia duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Ada apa dengannya mengapa dia sangat berbeda dari kemarin.


"Sayang, jujurlah padaku— apa yang sudah terjadi?!" Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Aku telah salah menilai sahabatku sendiri!" jawabnya dengan nada sedih.


Aku bingung dengan apa yang dia katakan, lalu aku bertanya lagi siapa yang dia maksud. Karena aku tidak yakin apakah yang dimaksud adalah Isamu atau yang lainnya.


"Isamu— aku tidak menyangka jika dia begitu busuk!" ucap Hinoto padaku.


Dia kembali menceritakan jika Aldo sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Hinoto sangat terkejut kala itu sehingga dia tidak bisa berpikir apa-apa. Lalu dia mengatakan jika Isamu dan Rein menjalin hubungan yang sangat serius.


Hinoto juga mengatakan sebelum kecelakaan itu sempat terjadi perdebatan antara Rein, Isamu dan ayahnya Aiko. Rein berkata kasar pada ayahnya Aiko. Dan Aldo tidak tahan dengan perkataan Rein langsung membela ayahnya Aiko. Setelah itu Aldo dan ayahnya Aiko pergi meninggalkan mereka.


Aku sungguh terkejut saat Hinoto mengatakan semua itu, terlihat jelas jika dia sangat sedih dan kecewa atas perbuatan sahabatnya itu. Ditambah pula dengan Rein yang dia kira adalah wanita baik-baik. Namun, buktinya berkata lain.


"Apakah Aldo sudah ingat bagaimana kecelakaan itu terjadi?" tanyaku kembali pada Hinoto.


Hinoto mengangguk, jika semua kecelakaan itu adalah kesalahan Isamu dan Rein. Namun, semua tindakan jahat mereka berbalik pada mereka sendiri. Akan tetapi, yang menjadi korban adalah ayahnya Aiko hingga tidak bisa terselamatkan.


Aku memeluk erat Hinoto karena aku tahu dia pasti sangat sedih, dia membalas pelukanku. Hanya ini yang aku bisa lakukan untuknya, aku berharap setelah dia mengeluarkan isi hatinya maka dia bisa merasa lega.


"Jangan kau menyalahkan dirimu sendiri, dia bukanlah sahabatmu jika dia menyembunyikan semuanya darimu! Aku akan selalu ada bersamamu, sayang!" lirihku.


Hinoto hanya memelukku dengan erat, setelah merasa tenang dia melepaskan pelukannya lalu mengatakan terima kasih. Aku tersenyum lalu mengecup bibirnya sekilas dengan lembut lalu mengatakan tidak usah berterimakasih padaku.


"Bagaimana dengan makan malam kali ini?" Aku bertanya padanya.


"Kita makan malam di kamar hotel saja, teman-temanku masih ada kesibukan." Jawabnya padaku.


Dia pun memesan makanan untuk diantar ke kamar, sedangkan aku menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah itu baru makan malam.


Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat makanan yang dipesan sudah tertata rapi di atas meja. Aku melihat Hinoto tersenyum padaku, dia menyuruh aku duduk di sampingnya.


Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya, lalu kami menyantap makan malam ini hanya berdua. Namun, aku kembali teringat akan Zeroun. Jika ada dia maka akan terasa seru dan ramai.


"Apa kau mengingat bocah itu?!" tanyanya padaku.


Mendengar dia mengatakan bocah pada Zeroun membuatku terkekeh, itu terdengar seperti berkata dengan saingannya saja. Aku berkata dengan lirih jika beberapa hari ini akan selalu ada untuknya.

__ADS_1


__ADS_2