Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 67


__ADS_3

Lexi POV


Setelah pertemuanku semalam bersama Himawari, semakin yakin bahwa begitu banyak korban Rey Hirasaki. Namun yang semakin membuatku bingung adalah apa hubungannya dengan tante Nita.


Sepertinya aku harus mulai mencari korban-korban dari Rey Hirasaki, aku yakin bukan hanya kakaknya Himawari saja yang menjadi korban Rey Hirasaki. Aku harus mulai dari mana? Ini membuatku semakin pusing.


"Ada apa denganmu?!" Lexa bertanya padaku, mungkin dia melihatku yang sedang kebingungan.


Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ku katakan, lalu aku mengatakan apa yang sedang aku pikirkan. Lexa duduk di sampingku, dia mendengarkan semua yang aku katakan.


Aku pun menceritakan tentang pertemuanku semalam dengan Himawari. Kulihat dia juga sedang berpikir, lalu dia mengatakan tidak ada satupun diantara keluarga kita yang mengetahui ada hubungan apa antara Rey Hirasaki dengan tante Nita.


"Apakah kita langsung saja menemui Rey Hirasaki?!"


Aku terkejut dengan yang baru saja Lexa katakan, aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu. Jika memang itu dilakukan, aku rasa Rey Hirasaki tidak akan melepaskan kami.


Aku mengatakan pada Lexa, mungkin ide dia untuk menemui Rey Hirasaki adalah ide yang akan dilakukan jika sudah tidak ada lagi jalan. Handphone-nya berbunyi, di melihat siapa yang menghubunginya lalu dia pergi meninggalkanku.


Aku berharap dia tidak melakukan hal-hal dapat membahayakan dirinya sendiri. Sepertinya aku harus selalu memantau apa yang dia lakukan. Terkadang dia tidak bisa berpikir jika sudah menyangkut pembunuh bunda.


Aku tahu dia sudah lelah dan ingin mengakhiri semua ini, karena aku pun merasa lelah. Aku ingin semuanya berakhir, sehingga aku atau Lexa bisa hidup normal. Tanpa ada mimpi yang membuat kami merasakan kesakitan.


"Lexi aku akan pergi beberapa hari, ada tugas yang harus aku selesaikan!" Aldo berkata padaku.


Aku pun mengijinkan Aldo pergi, aku bertanya apakah tugas itu? Namun dia hanya mengatakan semua tugas ini diperintahkan oleh ayah Alex. Jadi dia belum bisa mengatakan semuanya padaku, aku pun memakluminya jadi aku tidak bertanya lebih lanjut.


Setelah ijin padaku, Aldo pun pergi dari rumah. Sedangkan aku masih berpikir sendirian di sini. Otakku sangat lelah, lebih baik aku cari udara segar saja di luar. Aku pun pamit pada Lexa bahwa aku akan pergi ke luar.


Sebelum aku pergi Lexa memanggilku, dia ingin ikut pergi bersamaku. Terlihat jelas raut wajahnya tampak kesal, entah apa yang terjadi padanya. Sebenarnya siapa yang sudah membuatnya kesal seperti ini? Apakah dia sedang kesal terhadap Mamoru.

__ADS_1


Lebih baik aku tidak bertanya dulu, aku ingin dia yang cerita padaku terlebih dahulu. Aku pun menjalankan mobilku, dalam perjalanan aku bingung mau kemana. Akhirnya Lexa mengajakku untuk ke sebuah taman.


Kami pun duduk di sebuah kursi, kutatap Lexa dia hanya termenung. Entah apa yang sedang dia pikirkan, saat aku hendak bertanya padanya dia mulai bicara.


"Aku bingung dengan Mamoru! Sebenarnya dia serius denganku apa tidak?" Lexa berkata sembari menghela napasnya.


Aku bertanya padanya, mengapa dia sampai berpikiran seperti itu? Yang aku lihat Mamoru adalah pria yang baik dan mencintainya. Lexa terdiam sejenak, lalu dia berkata bahwa selama ini dia merasa ada yang disembunyikan oleh Mamoru.


Aku sungguh tidak mengetahui apa-apa tentang Mamoru, sepertinya aku harus mencari tahu semua tentang Mamoru. Tapi otakku penuh dengan Rey Hirasaki, aku ingin segera menemukan motifnya? Kenapa dia sebenci itu pada bunda dan ayah.


Jika dia benci pada bunda dan ayah? Kenapa pula dia menyimpan foto tante Nita? Jika dia mencintai tante Nita, mana mungkin dia begitu membenci bunda. Karena bunda merupakan adik kesayangan tante Nita.


Begitu banyak misteri yang harus ku pecahkan, aku juga tidak ingin melihat Lexa sedih seperti ini. Baiklah aku akan membantu Lexa terlebih dahulu, aku akan mencari tahu tentang Mamoru.


Handphone Lexa berbunyi, dia pun menjawab teleponnya. Terlihat jelas ada rasa kesal diwajahnya, apakah itu Mamoru yang meneleponnya. Setelah menutup handphone-nya dia pun mengatakan semuanya padaku.


Kami pun melanjutkan kegiatan kami, yaitu menukangi suasana taman. Kulihat dua orang anak yang sedang berjalan-jalan bersama kedua orangtuanya. Jika melihat itu aku teringat akan bunda dan ayah, jika saja bunda masih ada kami masih bisa pergi jalan-jalan bersama.


"Aku rindu Bunda!" Lexa berkata sembari menitikan air mata, lama kelamaan suara tangisnya terdengar.


Aku memeluknya guna membuatnya tenang, aku tahu kau begitu merindukan bunda. Karena aku pun sama sangat merindukan bunda, aku terus memeluknya dengan erat. Dia masih terus menangis, aku pun berkata padanya agar menenangkan dirinya.


Beberapa saat kemudian Lexa pun sudah tenang, dia sudah tidak lagi menangis. Sebenarnya aku malu jika dia menangis seperti itu di tempat umum. Semua orang menatapku, mereka berpikir bahwa aku menyakiti seorang wanita.


"Lexa, apakah kau tidak kasihan padaku? Kau lihatlah mereka manatapku! Mereka pikir aku sudah menyakiti wanitaku! Mereka tidak tahu bahwa kita bersaudara!"


Lexa terkekeh mendengar ucapanku, aku suka melihat Lexa yang tertawa seperti ini. Aku tidak ingin melihatnya sedih atau menderita, aku berharap kau akan bahagia selalu.


Dia memelukku dengan erat sembari mengatakan bahwa dia sangat menyayangiku, dia berharap selalu bersama-sama hingga kami menemukan pasangan hidup.

__ADS_1


Aku katakan padanya kita akan selalu bersama, meski nanti kami sudah memiliki pasangan masing-masing. Karena yang aku miliki hanya dia seorang dan ayah.


Sudah puas dengan acara curhatan kami, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Lagi pula nanti malam Lexa akan pergi makan malam dengan Mamoru.


Sebelum pulang ke rumah, aku memutuskan mengajak Lexa ke sebuah toko pakaian. Aku ingin membelikannya sebuah gaun untuk dia gunakan nanti malam.


Lexa tidak mau aku membelikan sebuah gaun, karena dia masih banyak gaun yang belum digunakan. Namun aku memaksanya, aku ingin membelikan gaun untuknya. Jadi aku tidak mau dengar penolakan darinya.


Dia pun terpaksa mengikuti mau ku, dia mengikutiku yang sedang mencari gaun yang pas dengannya. Aku pun melihat-lihat beberapa gaun, lalu ku suruh Lexa untuk mencobanya.


"Apa kau tidak salah Lexi? Kau suruh aku mencoba gaun sebanyak ini?!" Lexa bertanya dengan mengerutkan keningnya.


Aku tersenyum, lalu menyuruhnya pergi ke ruang ganti untuk mencoba gaunnya. Aku menunggu Lexa dengan sabar, hingga dia keluar menggunakan gaun pilihanku.


Lexa keluar dengan gaun bewarna merah, modelnya tidak sesuai dengan Lexa. Aku pun menyuruhnya kembali untuk mencoba gaun yang lainnya. Dia pun menurut padaku, dia kembali masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang lain.


Beberapa saat kemudian dia kembali keluar lalu mendekatiku, terlihat jelas raut wajahnya sudah kesal. Dia sudah akan mengeluarkan auman macannya.


"Berapa kali lagi kau akan menyuruhku berganti pakaian hah!? Ini sudah ke 4 kalinya kau menyuruhku ganti pakaian!" Lexa menggerutu.


Aku terkekeh melihatnya seperti itu, aku melihat gaun berwarna hitam yang di kenakan Lexa. Itu terlihat sangat cocok untuknya, aku pun mengatakan oke dengan kode tangan.


Setelah itu dia langsung ke kamar ganti, mengganti pakaiannya. Lalu aku membayar gaun yang aku beli untuk Lexa nanti malam. Setelah selesai, aku pun mengajak Lexa untuk pulang.


____________________________________________


Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉


selamat membaca c u next bab 😘

__ADS_1


__ADS_2