
Lexa POV
"Bagaimana keadaanmu Lexa?"
Aku memalingkan wajahku guna melihat siapa yang bertanya padaku. Rupanya itu adalah Mamoru, dia berkata sembari menghampiriku. Aku hanya diam melihat kehadirannya, aku masih belum bisa memaafkannya.
"Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu! Aku tahu aku sudah mengecewakanmu! Beri aku satu kali kesempatan untuk memperbaikinya!"
Ucap Mamoru padaku, aku tidak tahu apakah aku masih bisa memberikannya kesempatan atau tidak. Karena selama ini aku sudah memberikannya kesempatan untuk berkata jujur.
"Aku sudah memberikanmu beberapa kali kesempatan, apakah itu belum cukup?!" Aku berkata pada Mamoru.
Dia hanya terdiam mendengar perkataanku, entah apa yang dia pikirkan saat ini aku tidak peduli. Janji yang dia ucapkan padaku semuanya bohong.
Aku teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, aku mengira dia tidak bekerjasama dengan Rey Hirasaki. Tapi apa yang dia lakukan? Dia bahkan bekerjasama dengan Rey Hirasaki.
Itu adalah hal yang tidak bisa aku maafkan kali ini, jika saja dia tidak mengikuti rencana Rey Hirasaki mungkin aku akan memaafkannya. Aku membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan semua itu! Lebih baik kau pergi saja dari sini!" Aku sungguh tidak ingin melihatnya untuk saat ini.
Mamoru pergi setelah mendengar perkataanku, terlihat jelas di wajahnya sebelum dia pergi rasa penyesalan. Namu ini adalah buah dari hasil yang dia tanam.
Karena aku mengharapkan kejujuran dari orang yang aku sayangi, jika ada saja ketidakjujuran maka hubungan kami nantinya akan menghadapi masalah.
Aku hanya bisa memperhatikan sejauh mana kau akan membuatku kembali percaya padamu Mamoru. Karena kali ini akan sangat sulit mendapatkan rasa percaya dari ayah, setelah apa yang kau lakukan.
"Lexa!" Teriak Aiko padaku.
Dia baru saja tiba untuk menjengukku, kulihat dari bawah hingga atas tubuh Aiko. Aku merasa lega, dia tidak mendapatkan luka yang serius. Kalau terjadi sesuatu padanya, entah bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya pada kedua orangtuanya.
Aiko langsung memelukku, dia begitu senang melihatku kubsduah tersadar. Aku bertanya padanya apakah dia mendapatkan luka yang tidak terlihat oleh kedua mataku.
Dia terkekeh mendengar pertanyaanku lalu dia berkata, "Apakah aku harus melucuti seluruh pakaianku di hadapanmu?"
__ADS_1
"Seriuskah? Kau berani melucuti seluruh pakaianmu dihadapannya juga?" Aku berkata dengan sedikit menggoda Aiko, karena di belakangnya sudah berdiri Azura.
Terlihat jelas Aiko sangat terkejut, dia tidak menyadari kehadiran Azura. Aku terkekeh melihat ekspresi wajah Aiko, namun Azura hanya diam dia dingin sekali. Dia sungguh berbeda dengan Lexa atau Aldo jika aku sedang berkelakar.
"Sudah hentikan tawamu! Tidak ada yang lucu tahu!" Aiko menyuruhku untuk menghentikan tawaku. Lalu dia duduk di samping ranjangku.
Dia mengupaskan aku buah apel yang sudah tersedia di meja samping ranjangku. Lalu dia memotong kecil-kecil buah apel itu agar aku bisa memakannya dengan aman.
"Bagaimana keadaanmu Lexa?" Azura bertanya padaku sambil berjalan mendekatiku.
Aku mengatakan sudah membaik, lalu Azura mengatakan bahwa dia akan kembali ke Paris. Karena ada urusan yang harus dia selesaikan dengan cepat.
"Terimakasih ya Azura, karena kau sudah mau membantuku dan Lexi!" Aku mengatakan itu pada Azura, karena berkat dia juga aku berhasil menyelamatkan ayah dari tangan Rey Hirasaki.
Azura tersenyum, lalu dia berkata bahwa dalam hubungan keluarga tidak ada kata terimakasih. Memang sudah sepatutnya kita sebagai keluarga saling membantu.
Aku pun berpikiran sama dengannya, jika saja Azura menghadapi kesulitan maka aku pun dengan suka rela akan membantunya. Setelah mengatakan semua yang ingin dikatakan Azura pun pergi meninggalkan aku dan Aiko.
Sebelum pergi Azura berkata akan mengunjungi ayah terlebih dahulu, aku pun mengatakan padanya untuk berhati-hati dalam perjalanan pulang nanti.
Aku terdiam sesaat, lalu aku mengatakan bahwa Mamoru meminta kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki hubungan kami. Namun aku belum memberikan keputusan apakah aku menerimanya atau tidak.
Aiko memegang tanganku lalu dia berkata, "Semua keputusan ada di tanganmu, namun yang pasti kau harus memikirkan semuanya dengan baik! Jangan sampai kau menyesali keputusan yang sudah kau ambil!"
"Aiko, bisakah kau mencari tahu bagaimana dengan Rey Hirasaki. Apakah dia sudah tiada atau dia masih hidup?"
Aku meminta bantuan pada Aiko, karena hanya dia yang bisa aku andalkan saat ini. Karena jika aku meminta Lexi atau Aldo, mereka tidak akan membantuku. Karena mereka pasti menyuruhku untuk tidak banyak memikirkan itu.
Namun aku masih belum bisa bernapas lega, jika aku belum melihat dengan kedua bola mataku ini mayat dari Rey Hirasaki. Aiko pun mengangguk dia akan berusaha mencari info tentang Rey Hirasaki.
Aku menyuruhnya menyembunyikan semua ini dari ayah, Lexi dan yang lainnya. Ini semua agar mereka tidak khawatir dengan apa yang aku lakukan.
"Lexa! Apakah kau tahu pria bertopeng yang menyelamatkan kita kemarin?" Aiko bertanya padaku tentang pria bertopeng itu.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku, aku masih belum bisa memastikan siapa pria bertopeng itu. Namun yang pasti aku sangat berterimakasih kepadanya karena sudah menyelamatkanku dan semuanya.
Namun batinku masih memikirkan pria yang kutemui sewaktu aku berada di apartemen Himawari. Dia begitu mirip dengan pria bertopeng, namun sikap dinginnya itu sangat berbeda dengan pria bertopeng yang selalu berkata mesum padaku.
"Sudahlah, nanti jika kau bertemu dengannya ucapkan rasa terimakasihmu! Sekarang kau harus istirahat, aku akan kembali ke kantor. Sebelum itu aku ingin bertemu dengan Ayahmu dulu!"
Aiko berkata dengan lembut, dia memelukku lalu dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku merasa kesepian lagi, rasanya aku ingin segera kembali ke rumah.
Semuanya bisa berjalan melihat ayah, aku juga ingin melihat ayah. Namun dokter belum mengijinkanku untuk bangun dari tempat tidurku, jika saja aku diijinkan aku akan langsung menemui ayah.
Waktu terasa sangat lama sekali jika aku tidak melakukan apa-apa, terdengar suara langkah kaki. Mungkin beberapa orang sedang melewati ruanganku.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan perlahan, aku melihat seorang dokter serta perawat mengikutinya dari belakang masuk ke ruanganku. Dokter memeriksaku dengan seksama.
"Dok, bolehkah aku bertemu dengan Ayahku?!" Aku bertanya dengan lirih agar dia mau mengijinkanku bertemu dengan ayah.
Setelah memeriksaku, dokter berkata aku bisa mengunjungi ayah. Namun dengan beberapa syarat, yaitu aku tidak boleh banyak bergerak. Aku menyetujuinya lalu dokter menyuruh dua perawat yang mengikutinya untuk membantuku mengunjungi ayah.
Dokter pun pergi, salah seorang perawat pergi keluar lalu dia masuk kembali dengan membawa kursi roda untukku. Kemudian mereka membantuku untuk duduk di atas kursi roda.
Mereka mendorong kursi rodanya secara perlahan agar tidak membuatku merasakan kesakitan. Akhirnya aku bisa keluar dari kamarku, walau ini hanya berjalan di sebuah lorong rumah sakit.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉
__ADS_1
c you next bab 😘