
Still Lexa POV
Aku tidak mengira bahwa dia sudah menyiapkan sebuah gaun untukku, aku heran kapan dia menyiapkan gaun untukku. Karena aku tidak melihatnya keluar rumah atau seseorang mengantarkan barang.
Lebih baik aku bersiap terlebih dahulu setelah itu baru aku tanyakan padanya perihal gaun ini. Tidak mungkin 'kan ini adalah gaun wanita lain yang tertinggal di apartemen.
"Kau sudah siap?!" Hinoto bertanya padaku dengan senyumnya yang lembut.
"Kapan kau menyiapkan gaun ini? Ini bukan milik wanita lain, 'kan?" Aku berkata dengan nada menyelidiki.
Dia hanya tersenyum mendengar perkataanku, terkadang aku kesal dengan sikapnya. Disaat aku serius dia menanggapinya dengan senyumannya. Tetapi jika aku sedang ingin bergurau dia tampak dengan sikap dinginnya.
Dia melangkah mendekatiku, aku menatapnya terus hingga akhirnya dia tepat berada di hadapanku. Dia hanya menatapku dengan kedua matanya yang memancarkan kehangatan. Terlihat senyumnya yang begitu membuta semua para wanita akan bertekuk lutut, akan tetapi jika sudah mengenal sifat dinginnya maka tidak akan ada yang bisa bertahan. Itulah pendapatku mengenainya.
"Gaun itu khusus aku beli untukmu sayang," lirih Hinoto sembari tersenyum dan membelai lembut rambutku.
"Kapan kau membelinya?" Aku bertanya lagi karena pasih penasaran.
"Aku membeli beberapa gaun saat aku merawat kau yang sedang sakit dulu, apa kau ingat?" jawab Hinoto.
Aku kembali mengingat, benar juga dulu aku pernah jatuh tidakbsadsrkan diri. Saat aku terbangun sudah berada di sini, ya sudahlah lebih baik aku tidak bertanya lagi padanya.
"Aku sudah siap, ayo kita pergi." Aku berkata padanya.
Dia tersenyum lalu menggandeng tanganku, kami melangkah bersama keluar dari apartemen. Kami memasuki mobil, dia menjalankan mobilnya dengan perlahan. Aku duduk di sampingnya sembari memandangi jalanan yang kami lewati.
Aku terbangun dari lamunanku saat mobil terhenti, kupedarkan mata melihat lingkungan yang tidak asing. Rupanya ini adalah halaman rumahku sendiri, ku menoleh ke samping guna mencari jawaban dari Hinoto.
Dia hanya tersenyum lalu berkata, "Ayah menginginkan kita makan siang bersama di rumah."
Aku terdiam sesaat lalu berpikir, kenapa ayah menghubunginya? Bukankah aku adalah putrinya? Apakah dia sudah melupakannya? Semua pertanyaan itu muncul dalam benakku.
"Ayo cepat turun, Ayah sudah menunggu kita!" Hinoto berkata lalu dia keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Aku pun membuka pintu mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah, terlihat beberapa pelayan dan pengawal yang sudah menungguku kedatanganku.
"Bagaimana Hinoto? Apa kau menikmatinya semalam?" Lexi bertanya pada Hinoto dengan nada menggoda.
Aku langsung berjalan menuju kamarku, aku tahu Lexi pasti akan berkata seperti itu. Dari pada mendengarkan candaannya lebih baik aku menunggu semuanya siap di kamar. Aku pikir Hinoto akan berbincang-bincang bersama Lexi, akan tetapi aku melihatnya masuk ke dalam kamarku.
"Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sedang menggodaku?" ucap Hinoto padaku dengan senyum mesumnya.
Aku menghela napas, kenapa dia begitu percaya diri sekali. Apakah hanya itu saja yang ada di dalam pikirannya, apakah tidak ada hal lainnya yang dia pikirkan saat ini.
Ponselnya berdering, dia mengangkat telepon itu terlihat sangat jelas jika itu merupakan hal yang sangat penting. Aku duduk di atas sofa dengan memainkan ponselku, aku melihat ada sebuah email masuk dari Aiko. Aku membukanya lalu ku baca email tersebut, ternyata itu adalah dokumen yang harus aku cek. Jika sudah selesai ku cek maka Aiko akan menyiapkan dokumen tersebut untuk ku bubuhi tanda tanganku.
"Sayang, mungkin dalam beberapa hari ini aku tidak bisa kembali ke rumah." Hinoto berkata dengan menghela napasnya.
"Ada misi, 'kah?" tanyaku padanya.
Dia menggelengkan kepalanya, dia mengatakan bahwa kali ini tentang bisnisnya. Aku baru mengetahui bahwa dia juga memiliki bisnis, aku bertanya padanya tentang bisnis yang sedang dia jalani. Dia menceritakan tentang bisnisnya yang bergerak di bidang perhotelan.
"Besok aku akan pergi, kau baik-baik di rumah ya! Ingat jangan tergoda oleh mantanmu!" Hinoto berkata dengan serius namun di akhir kalimat membuatku terkekeh.
Aku beranjak lalu berjalan menuju pintu kamar guna melihat siapa yang mengetuk pintu. Aku membuka pintu kamar, kulihat seorang pelayan. Dia mengatakan bahwa ayah dan Lexi sudah menungguku di meja makan. Aku mengangguk lalu menyuruhnya untuk kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo, Ayah dan Lexi sudah menunggu kita di bawah!" Aku mengajak Hinoto untuk ke meja makan.
Kami berjalan menuju ruang makan, ternyata benar mereka sudah menungguku. Hinoto menggeserkan kursi seraya menyuruhku untuk duduk. Aku tersenyum lalu duduk di samping ayah, Hinoto duduk disampingku.
Ku melirik Lexi yang tersenyum melihat perlakuan Hinoto padaku begitupun dengan ayah. Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil saja yang baru melihat adegan seperti ini.
Ku tatap Lexi dengan tatapan tajam dengan arti agar dia menghentikan menertawakanku. Namu yang kulakukan tidak berhasil, malahan membuatnya semakin terkekeh.
"Sudah hentikan Lexi! Jangan kau goda saudarimu terus!" ucap ayah yang di buat tegas. Namun masih terdengar jika dia sedang menahan tawanya.
Setelah makan siang, ayah meminta kami untuk duduk di ruang keluarga. Sekarang keluarga kami bertambah satu yaitu Hinoto, dia selalu duduk di sampingku.
__ADS_1
"Ayah ingin mengatakan sesuatu pada kalian, karena sudah tidak ada yang perlu Ayah khawatirkan lagi. Maka ayah memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ayah akan menjalani sisa hidupnya dengan semua kenangan Bunda kalian di Indonesia. Jika Lexi akan menikah baru Ayah akan kembali bersama kalian!" Ayah berkata dengan penuh kesedihan.
Aku terdiam mendengar apa yang Ayah katakan, aku masih belum puas berada di sisinya. Aku tidak ingin ayah kembali ke Indonesia dan meninggalkanku. Aku masih ingin melihatnya selalu ada di rumah saat aku kembali. Aku selalu ingin dekat dengannya, akan tetapi aku juga tidak boleh egois.
"Kenapa Ayah harus kembali ke Indonesia? Bukankah di sini juga masih ada kenangan Bunda? Bukankah kita selalu bersama Bunda? Apa aku tidak berhak mendapatkan kasih sayang Ayah lagi?" Pertanyaan yang ku ajukan membuat semua orang terdiam.
Apakah aku salah dengan mengatakan semua itu, apakah aku terlalu egois. Hinoto memegang tanganku dengan erat, seraya menghentikanku dengan pertanyaan yang baru saja aku layangkan.
"Lexa, apa kau tidak bisa menyaring kata-katamu? Apakah kau tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, akan membuat ayah sedih?" Lexi berkata sangat tegas padaku.
Aku terhenyak, apakah yang dikatakan oleh Lexi benar. Bahwa semua pertanyaanku membuat ayah sedih. Kulihat ayah beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya.
"Sayang, temui Ayah! Dia pasti sangat sedih!" ucap Hinoto padaku.
Aku pun berjalan menuju kamar ayah, aku memikirkan kembali apa yang sudah aku katakan pada ayah. Mungkin benar yang dikatakan Lexi, aku sudah membuat ayah sedih.
Aku mengetuk pintu kamar ayah, lalu terdengar suara dari dalam kamar yang mengijinkan aku untuk masuk. Ku lihat ayah sedang duduk di atas sofa sembari memegang bingkai foto Bunda. Aku merasa bersalah karena sudah berkata kasar seperti itu pada ayah.
"Ayah maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu! Jika ayah ingin kembali ke Indonesia, aku akan mengijinkannya. Aku tidak akan melarang ayah untuk melakukan apapun yang terpenting adalah Ayah bahagia." Ucapku pada ayah dengan beruraian air mata.
Ayah tersenyum lalu dia menyuruhku untuk duduk disampingnya. Aku pun duduk disamping ayah, tanpa mengucapkan sepatah kata ayah memelukku dengan erat.
"Dengarkan aku sayang, kau adalah putri kesayanganku! Sesungguhnya aku tidak ingin pergi meninggalkan kalian, namun aku sudah ingin hidup dengan tenang bersama semu kenangan Bunda kalian! Aku sudah tenang karena kau sudah menikah dengan Hinoto, dia adalah pria yang baik dan bisa menjagamu. Sedangkan Lexi dia masih harus mengejar cintanya, namun aku tidak khawatir dengannya.karena ayah yakin dia pasti bisa!" Ayah berkata dengan lembut padaku dan aku tahu ada kesedihan dari suara yang terdengar begitu lembut.
Aku memeluk ayah kembali lalu mengatakan, "Aku sangat sayang Ayah."
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉