Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 141


__ADS_3

Hai gaes jangan lupa kasi like, komen ya karena itu sangat berarti bagiku😉 biar aku semakin semangat


___________________________________________


Still Lexa POV


Aku mengistirahatkan tubuh di atas tempat tidur dengan memikirkan bagaimana keadaan Hinoto. Karena dia belum tahu jika aku berada di Indonesia, dia memutuskan semua komunikasi yang bisa kita lakukan.


Apakah dia sedang menjalankan misi yang membuatnya harus memutuskan semua alat komunikasi dengan kehidupan pribadinya. Namun, aku masih belum bisa menerima semua ini, apa mungkin karena belum terbiasa saja.


"Arrrgggh ... Sudahlah buat apa terus memikirkan itu, lebih baik aku istirahat sejenak sebelum kedatangan ayah dan Lexi." Gumamku.


"Lihat mataku Lexi! Kenapa kau menjadi sebodoh ini hah! Apa yang aku ajarkan padamu tidak masuk dalam otakku!" teriak ayah.


Aku terbangun saat mendengar ayah berteriak pada Lexi, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa ayah bisa semarah ini padanya. Tanpa berpikir panjang kaki ini berlari menuju keributan.


Saat membuka pintu kamar— betapa terkejutnya diriku melihat ayah dan Lexi sudah berada di depan pintu. Mereka tersenyum padaku, Lexi langsung saja memeluk setelah itu giliran ayah yang memeluk.


"Tunggu dulu! Apakah kalian sedang bermain peran di sini?" tanyaku pada ayah dan Lexi, dengan tatapan mata tajam.


Mereka berdua terkekeh-kekeh saat aku mengatakan itu, aku rasa mereka sudah tahu tentang kedatanganku. Padahal— sudah terniat untuk mengejutkan mereka, sekarang malah aku yang terkejut.


"Siapa yang memberitahukan kalian— jika aku sudah ada di rumah? Pengawal dan pelayan aku suruh tutup mulut. Apakah ada yang membocorkannya pada kalian?" Aku bertanya lagi dengan nada menyelidiki.


"Aku ... Ini salahku— karena mereka memergokiku saat keluar dari kamar untuk minta makanan." jawab Aiko dari belakang tubuh Lexi.


"Kau–," sebelum melanjutkan kata-kataku Aiko langsung memasukkan biskuit pada mulutku. Sehingga aku tidak bisa memarahinya, terlihat ayah dan Lexi kembali terkekeh melihat kelakuan Aiko terhadapku.


Ayah menghela napasnya guna mengatur pernapasannya karena sudah tertawa sedari tadi. Lalu menyuruhku dan yang lainnya untuk duduk di ruang keluarga.


Karena jam makan malam sudah lewat, ayah menyuruh pelayan menyiapkan beberapa camilan dan minuman untuk aku dan Aiko. Semabari berbincang-bincang.


"Kenapa kau tidak mengabari Ayah jika akan kbali ke Indonesia?" Ayah berkata padaku dengan lembut.


"Tadinya aku ingin memberikan kejutan pada ayah dan Lexi! Tetapi malah aku yang dikejutkan oleh permainan peran kalian!" jawabku pada ayah yang masih sedikit kesal.


Ayah tersenyum lalu bertanya ganggang Hinoto, aku tidak tahu bagaimana kabarnya kali ini. Karena dia belum menghubungiku sama sekali.


Aku katakan saja jika Hinoto sedang menjalankan misinya sebagai seorang agen bukan sebagai seorang pengusaha. Setelah kukatakan itu ayah mengerti dan tidak bertanya lebih lanjut tentangnya.


Setelah selesai memakan camilan dan minum, ayah memutuskan untuk istirahat dan meninggalkan kami bertiga di ruang ke luarga menuju kamarnya.


"Lexa, sebenarnya Hinoto belum menghubungimu -kan?" tanya Lexi padaku dengan penuh keyakinan.


Aku menghela napas, Lexi selalu tahu apa yang aku pikirkan dia benar-benar saudara kembarku. Tanpa menjawab pun dia pasti sudah mengetahuinya.


"Sudahlah, lebih baik kau istirahat! Bukankah besok masih harus mengurus perusahaan bunda!" perintahku pada Lexi agar dia tidak terlalu banyak bertanya padaku mengenai Hinoto.


Karena aku tahu dia ingin mencari tahu tentang misi yang dilakukan oleh Himawari. Mengapa juga kami harus bertemu dan jatuh cinta pada seorang agen rahasia.


Setalah mengatakan itu pada Lexi, aku berdiri dan menyuruh Aiko untuk beristirahat. Lalu aku melangkah menuju kamar karena seluruh tubuhku membutuhkan kesegaran air hangat.


Aku memutuskan untuk berendam sejenak sebelum kembali beristirahat. Saat tiba di kamar aku menutup pintu kamar dengan rapat dan menguncinya. Lalu aku membuka pakaianku satu per satu dan berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Kunyalakan keran air yang berada di atas bhatup, menunggu hingga air hangat memenuhi bhatup lalu memasukkan aromaterapi di dalamnya. Setelah itu aku memasukkan tubuhku kedalam bhatup, terasa segar aromaterapi yang kugunakan kali ini.


Ingin menghilangkan semua pikiran mengenai Hinoto tetapi tidak bisa, karena dia selalu membayangi diriku. Jika dia tidak menghubungiku mengapa rasanya aku sangat kesal padahal dia sedang bertugas.


Seharusnya aku mengerti dengan pekerjaannya sebagai agen rahasia, sudahlah lebih baik kudoakan saja dia agar sehat selalu dan pekerjaan selesai dengan cepat.


Setalah selesai berendam, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju travelbag yang belum kurapikan untuk mengambil pakaianku.


Rasa kantukku hilang, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang bunda buat. Di malam yang dingin ini aku menatap langit yang begitu sepi, tidak ada bintang yang bermain diatasnya.


Duduk di atas kursi di taman ini selalu mengingatkan aku akan bunda, sekilas bayangan masa kecil aku dan Lexi bermain di hadapanku. Saat bunda mengejar kami berdua karena ulahku yang tidak mau belajar musik.


Semua kenangan itu kembali lagi, andai saja bunda masih ada mungkin aku tidak akan merasa sesedih ini. Aku akan memeluknya dengan erat dan tidak akan melepaskannya lagi.


Aku begitu merindukanmu bunda, rasanya belum cukup waktu kebersamaan kita. Bunda, aku belum bisa memberikanmu kebahagiaan yang seharusnya aku berikan padamu.


Tidak terasa air mata ini menetes membasahi kedua pipiku, aku sungguh tidak bisa menahan semua ini. Seharusnya tidak seperti ini, aku begitu kekanak-kanakan.


"Hentikan kesedihanmu itu! Kasihan bunda jika melihat kau seperti ini!" ucap Lexi padaku.


"Aku tahu itu tetapi izinkan aku mengais untuk bunda! Aku begitu merindukannya, tadi saja aku melihat bayangan kita bersama bunda di taman ini!" jawabku pada Lexi sembari menangis.


Dia merangkul pundakku sehingga aku bisa menangis di pundaknya, tangisku semakin menjadi karena aku tidak bisa menahannya. Betapa besar rasa rindu ini, sehingga aku bisa lepas kendali.


"Menangislah, setelah ini jangan menangisi kembali kepergian bunda! Ini sudah takdir bagi kita. Namun, kita harus bersyukur karena masih bisa merasakan kasih sayang ayah hingga saat ini!" Lexi berkata padaku.


Benar yang dikatakan oleh Lexi, seharusnya aku merasa bersyukur karena masih bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Dan juga aku bersyukur karena masih merasakan kasih sayang bunda, sejak dalam kandungan dan sebelum bunda tiada.


Setalah reda tangisku, kami berdua hanya duduk dan memandangi langit malam ini. Mungkin Lexi pun sedang membayangkan kenangan kami bersama bunda.


"Sudah tenang -kan? Lebih baik kita masuk dan beristirahat karena angin malam ini sudah tidak baik untuk kesehatan kita!" Lexi berkata sembari berdiri dan berjalan memasuki rumah.


Melihat Lexi yang berjalan memasuki rumah, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Meski rasa kantukku belum menghampiriku, saat berjalan menuju kamar aku melihat ayah yang baru saja keluar dari ruang bacanya.


Apakah ayah tadi melihatku yang sedang menangis bersama Lexi? Ahh tidak mungkin. Ayah berjalan menuju kamarnya, terasa sedih memang. Melihatnya selalu sendirian tetapi ini adalah pilihan ayah yang tetap akan setia hingga akhir hayatnya pada bunda.


Aku begitu mengagumi ayah yang sangat setia dengan cintanya, apakah Hinoto akan seperti ayah yang setia dengan cintanya? Dan kembalilah aku memikirkan Hinoto. Semua ini membuatku sangat kesal, lebih baik aku mengistirahatkan mata dan pikiranku.


Melangkah secara perlahan, menaiki anak tangga yang penuh dengan kenangan. Namun, aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Berusaha untuk tersenyum saat melewati semua kenangan bunda.


Saat aku memasuki kamar lalu mencari keberadaan ponsel guna melihat apakah Hinoto mengirim sebuah pesan atau tidak. Akhirnya kutemukan ponsel yang tergeletak di atas sofa, kulihat layar ponsel tidak ada satu pesan pun yang muncul bahkan tanda panggilan pun tidak ada.


Kusimpan ponsel di nakas lalu menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Berusaha untuk mengistirahatkan kedua mata dan pikiranku, meski terasa sulit karena perasaan kesal pada Hinoto.


***


Aku terbangun saat mendengar ponsel berdering, mungkin saja itu adalah Hinoto yang menghubungiku. Saat mengambil ponsel dan melihat layar ponsel, aku menghela napas dan kembali melemah.


Yang menghubungiku bukan Hinoto melainkan Annisa, sepertinya dia sudah tahu jika aku berada di Indonesia. Kuabaikan sesaat tetapi dia terus saja menghubungiku.


Akhirnya aku mengangkatnya, terdengar pertanyaan yang begitu cepat secepat mobil tanpa menginjak rem. Aku terkekeh mendengar Annisa seperti ini, dia terdiam lalu menggerutu.


Aku mengatakan padanya untuk datang ke rumah jika ingin bertemu denganku. Setelah aku mengatakan itu dia menutup sambungan teleponnya. Aku yakin bahwa dia sedang menuju kemari, meski orangtuanya melarang.

__ADS_1


Yang tadinya masih merasa ngantuk setelah mendengar suara Annisa membuat rasa kantuk itu hilang seketika. Lebih baik aku membersihkan diri agar tubuh ini terasa segar dan bisa menghadapi gadis yang sudah berubah 180 derajat ini.


Tidak menyangka saja Annisa yang dulunya tenang sekarang menjadi tidak mau diam. Sebenarnya apa yang bisa merubah dia menjadi seperti ini.


Lexi pun pernah mengatakan jika Annisa sangat berdosa sekali dengan terkahir kita bertemu di Jepang. Saat Fais menculiknya dan Alan menyelamatkannya dari tangan Fais.


Sepertinya aku harus melihatnya sendiri bagaimana sikap anak itu, mungkin akan mencari tahu juga mengapa dia bisa berubah. Jika perubahan ini tidak merugikan siapa pun maka tidak apa-apa. Namun, jika merugikan dirinya atau om dan tante baru aku akan bertindak.


Setelah selesai membersihkan diri lalu aku bersiap, tidak begitu lama terdengar suara ketukan pintu kamar. Aku membukanya, seorang pelayan mengatakan jika ayah dan Lexi sudah menungguku di ruang makan.


Pelayan itu pergi setelah mengatakan semuanya, aku menutup pintu kamar lalu menuju ruang makan. Sebelum itu aku menghampiri kamar Aiko untuk melihat apakah dia sudah bangun atau belum.


Sebelum membuka pintu kamarnya, Aiko sudah membuka pintu kamar dia sudah dipastikan untuk ke ruang makan. Sepertinya pelayan itu sudah memberitahukannya terlebih dahulu pada Aiko lalu padaku.


"Ayo kita sudah ditunggu di bawah!" Aku berkata sembari berjalan terlebih dahulu dan dia mengikutiku.


Saat berjabat menuju ruang makan Aiko bertanya padaku apakah Hinoto sudah menghubungi. Aku menggelengkan kepala dengan maksud dia belum menghubungiku sama sekali.


"Sudahlah, jangan merusak laguku dengan hal yang menyebalkan!" ucapku pada Aiko.


Aiko merangkul pundakku lalu dia berbisik bagaimana jika hari ini jalan-jalan menelusuri ibu kota. Aku tersenyum lalu mengatakan padanya kita lihat nanti karena Aiko tidak tahu ayang akan mengunjungi saat ini sedang dalam perjalanan.


Melihat ayah dan Lexi yang sudah menunggu di meja makan, aku dan Aiko mempercepat langkah menuju meja makan. Karena aku tidak ingin membuat kedua pria itu menggunakan dan terlambat menuju kantor.


Aku duduk di samping ayah dan di hadapan Lexi, terlihat semua sudah rapi. Sarapan sudah tersedia, ayah mengatakan untuk memulai sarapan sebelum itu Lexi yang memimpin doa.


Kebiasaan ini yang tidak pernah hilang jika kami makan bersama, dulu Lexi selaku menggerutu jika selalu yang harus memimpin doa. Dia mengatakan jika aku tidak pernah memimpin doa.


Namun bunda memberikan pengertian padanya sehingga Lexi tidak pernah menggerutu jika disuruh memimpin doa sebelum makan. Aku tersenyum jika membayangkan itu kembali.


Setelah sarapan selesai ayah dan asisten Ari pergi menuju perusahaan, sedangkan Lexi pergi bersama Aldo ke perusahaan bunda. Sebenarnya aku ingin ikut dengan Lexi tetapi niatku terhalangi oleh kedatangan Annisa.


Betapa terkejutnya aku melihat Annisa, dia sungguh berbeda dengan terakhir kalinya bertemu di Jepang. Aku melihatnya seperti bunda dikala belum menikah dengan ayah.


Karena aku masih memiliki semua bukti kenangan bunda semasa mudanya. Dia terlihat tomboy dan cuek, om Rio pernah berkata jika bunda sangat tidak bisa diatur dan lebih suka berkelahi serta balapan. Sehingga membuat kakek selalu marah dengan penampilan bunda kala itu.


Sekarang aku melihat Annisa seperti bunda, apakah yang terjadi padanya. Dulu dia hanya menggunakan pakaian yang sedikit longgar dan tidak suka mengendarai sepeda motor.


Sekarang dia menggunakan pakaian untuk berkendaraan roda dua. Seperti yang biasa aku dan Aiko gunakan. Terlihat jelas wajah Aiko yang kaget melihat perubahan penampilan Annisa.


"Sejak kapan kau berubah seperti ini gadis kecil?!" tanya Aiko yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Hai— kak Aiko jangan katakan aku gadis kecil! Aku sudah dewasa tahu! Aku ingin mengajak kalian balapan motor— mau tidak?" jawab Annisa yang membuatku terkekeh.


Namun, ada rasa ingin tahu yang cukup besar dalam hatiku untuk mengetahui apa penyebab gadis ini berubah. Lebih baik aku terima ajakakkanya untuk balapan motor.


"Baiklah, kita akan balapan motor! Tunggu aku akan bersiap-siap!" ucapku pada Annisa.


Aku menyuruh Aiko untuk bersiap-siap, lalu Aiko berkata untung saja dia membawa pakaian untuk mengendarai motor. Aku tersenyum karena aku juga sama.


Aku menyuruh seorang pengawal untuk menyiapkan 2 motor balap. Lalu aku pergi melangkah menuju kamar untuk bersiap-siap. Sepertinya hari ini aku akan bersenang-senang melawan Annisa dan Aiko.


Persiapanku sudah selesai aku bergegas menuju Annisa yang sedang menunggu di halaman depan. Aku pikir Aiko belum siap ternyata dia sudah tiba lebih dulu dibandingkan diriku.

__ADS_1


Melihat 2 motor balap yang sedang dinyalakan dan dibersihksn oleh seorang pengawal. Aku menjadi teringat motor itu yang selalu bunda rawat dan digunakan.


__ADS_2