Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 159


__ADS_3

Lexi POV


Aku bersyukur semua masalah sudah selesai dan aku berharap hidup kami akan kembali tenang. Tidak ada masalah lagi yang akan membahayakan kami semua.


Namun, aku harus mengurus satu hal lagi yaitu memberi pelajaran pada Rosetta yang telah membohongi ayah melalui nama bunda. Juga membuat Himawari, ibu serta Rein menderita. Ditambah lagi dia sudah membuat Lexa dan Hinoto menjadi renggang.


"Aldo apakah semua sudah siap?!" tanyaku pada Aldo mengenai dokumen yang akan di bubuhi tanda tangan oleh Rosetta.


Aldo mengatakan semuanya sudah siap dan juga dia sudah tahu dimana keberadaan Rosetta saat ini. Kebetulan dia masih berada di Jepang.


Ponselku berdering, kulihat layar ponsel ternyata ayah yang menghubungiku. Ayah bertanya bagaimana perkembangan dengan Rosetta. Aku mengatakan pada ayah untuk tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasi semuanya dengan baik.


Setelah mendengar perkataanku ayah memutuskan sambungan teleponnya. Dan aku kembali fokus dengan pekerjaanku, Aldo juga mengatakan jika saat makan siang dia akan membawaku ke tempat dimana Rosetta berada.


Aldo pergi meninggalkan ruanganku lalu tidak lama dari dia keluar. Lexa masuk ke ruanganku. Dia bertanya apakah dia perlu ikut untuk mengurus Rosetta.


Aku tersenyum lalu mengatakan padanya tidak perlu, jika dia ikut yang ada dia sangat emosi dan akan membuat keributan. Lebih baik aku pergi sendiri, setelah tidak aku ijinkan dia kembali ke ruangannya.


"Maafkan aku Lexa, semua ini demi menjaga perasaanmu! Aku takut jika Rosetta akan mengeluarkan perkataan yang bisa merenggangkan hubungan Anata Lexa dan Hinoto." Gumamku.


Entah mengapa selam beberapa hari kebelakang sifat Lexa berubah menjadi sering marah atau menjadi cepat menangis. Dia sangat sensitif sama seperti Himawari.


Terkadang aku dan Hinoto sangat sulit menghadapi mereka berdua jika sudah mulai dengan kesensitifan mereka. Bahkan aku dan Hinoto pernah sampai tidak diizinkan untuk masuk kamar, padahal yang kami lakukan hal yang sangat sepele.


Terdengar suara ketukan pintu, aku menyuruhnya masuk. Saat Meliah siapa yang masuk ternyata dia Aldo. Dia mengatakan jika sudah saatnya untuk pergi menemui Rosetta.


Aku menutup Notebook lalu berhak dari dudukku dan berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Aldo. Sebelum aku pergi, kulihat Lexa dan Aiko memperhatikan diriku.


"Ada apa?!" tanya Aldo yang melihatku terhenti dalam melangkah.


"Apakah kau menyadari jika Lexa sudah berubah dalam beberapa minggu kebelakang? Aku balik bertanya padanya.


Dia terkekeh lalu mengatakan, "Yang berubah bukan saja Lexa tetapi Himawari pun berubah."


Lalu Aldo mengatakan jika dia sempat dimarahi oleh mereka berdua padahal dia hanya membela Hinoto dan juga aku. Dari semenjak kejadian itu dia tidak pernah mau membela aku dan Hinoto.


Rupanya itu yang menjadi alasan Aldo tidak mau membatu kami jika kami berdua sedang memacu adrenalin pada malam hari. Entah mengapa aku dan Hinoto menjadi lebih suka memacu mobil kami dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Jika Lexa atau Himawari tahu masalah ini mungkin mereka berdua akanenghukim kami. Dan hukuman itu terasa berat karena Himawari tidak memberiku jatah pada malam hari. Saat aku bertanya pada Hinoto jika dia membuat kesal Lexa, dia pun tidak pernah diberi kehangatan oleh Lexa.


Aku terkekeh jika mengingat curhatan kami berdua, rupanya kedua istri kami memiliki karakter yang sama dalam menghukum kami berdua.


Aldo yang melihatku terkekeh merasa heran lalu dia berkata, "Apa kau masih waras?!"


Mendengar Aldo mengatakan itu padaku, aku langsung menepuk pundaknya dengan sangat kencang sehingga dia merasakan kesakitan. Namun, aku tidak peduli jika dia kesakitan. Karena dia sudah berani mengatakan aku tidak waras.

__ADS_1


**


Tibalah aku di sebuah restoran Jepang, aku melihat Rosetta telah duduk dengan santai menunggu kedatanganku. Saat dia melihatku dia tersenyum lembut.


Entah apa yang ada dipikirannya apakah dia tidak merasa bersalah sama sekali dengan apa yang sudah dia lakukan pada keluarga kami. Aku berjalan menghampiri dirinya bersama Aldo, lalu kami duduk saling berhadapan.


Aldo langsung menyodorkan amplop putih yang berisi dokumen penyerahan saham yang dimiliki oleh ibu Himawari. Aku ingin saham itu kembali pada ibu sehingga Rein bisa mengurusnya.


"Apakah kau sedang tergesa-gesa Lexi? Sehingga kau tidak ingin berbincang-bincang denganku?!" Rosetta berkata dengan genit padaku.


Aku sungguh sudah muak dengan apa yang dia katakan, aku ingin segera menyelesaikan semua ini dengan cepat. Lalu pergi dari sini dan kembali ke perusahaan.


"Cepat kau baca dan tanda tangani saja dokumen ini!" perintahku pada Rosetta.


Dia tersenyum lalu membaca dokumen yang Aldo berikan, terlihat dia tidak suka dengan syarat yang aku buat. Namun, semua itu sudah benar karena dia harus menerima apa yang sudah seharusnya dia terima.


"Apa kau sudah tidak waras? Jika aku menandatangani ini maka aku akan mengalami kerugian yang sangat besar?!" ucapnya padaku dengan nada meninggi.


Aku hanya tersenyum dingin padanya, sampai kapan pun syarat yang sudah aku tentukan untu dia tidak akan berubah. Karena dia sudah berani membuat orang yang aku cintai menderita.


"Itu terserah padamu! Jika kau menolak makan kau akan hancur dan kau akan dikejar-kejar oleh para musuh Takeda hingga sampai lubang tikus!"


Terlihat jelas dia ketekutan, tidak berapa lama Hinoto tiba. Dia mulai dengan permainannya untuk membalas apa yang sudah diperbuat oleh Rosetta sehingga Lexa menaruh curiga padanya.


Setelah itu dia pergi meninggalkan kami dengan membawa dua amplop. Sebelum itu Aldo sudah mengambil dokumen asli yang sudah di bubuhi tanda tangannya.


"Apa yang kau berikan pada Rosetta sehingga dia bersedia menandatanganinya?!" Aku bertanya pada Hinoto.


Dia tersenyum lalu mengatakan bahwa seluruh agen di Jepang dan Indonesia akan selalu mengawasi gerak-geriknya seumur hidup. Karena dia sudah membuat nama agen rahasia kami tercoreng dengan perbuatannya.


"Bagaiman jika malam ini kita kembali balapan?!" tanyaku pada Hinoto.


"Hentikan itu! Jika kalian tidak ingin mendapat hukuman dari istri kalian!" Aldo berkata dengan tegas.


Aku tahu mengapa dia mengatakan semua ini, karena dia tidak ingin ikut bersama kami. Dia menjadi penakut oleh Lexa dan Himawari, mungkin dia juga takut tidak disetujui hubungannya dengan Rein.


"Ahh, kau jadi penakut seperti ini?" ucapku pada Aldo.


"Apa kau takut jika Himawari tidak merestui hubunganmu dengan Rein, 'kan?" timpal Hinoto.


Aku terkekeh ternyata yang dia pikiran sama dengan ayang aku pikirkan. Melihatku terkekeh, Aldo terdiam lalu dia mulai mengancam diriku. Dia mengatakan jika semua ini akan diberitahukan pada Himawari dan Lexa.


Hinoto dan aku langsung mengunci tubuh Aldo aamgwr dia tidak berkutik untuk mengikuti apa yang kami mau. Ada seorang pelayan wanita yang masuk, dia melihat kami yang saling berpelukan. Entah apa yang akan dipikirkan oleh pelayan wanita itu.


Kami bertiga terkekeh-kekeh saat pelayan wanita itu pergi dengan rasa takut yang paling banyak adalah rasa malu dan jijik karena melihat pede kami yang begitu menggoda.

__ADS_1


**


Malam sudah larut aku berencana pergi bersama Hinoto tetapi tidak bisa terlaksana karena Lexa jatuh tak sadarkan diri. Hinoto yang merasa khawatir tidak bisa berpikir apa-apa.


Akhirnya aku yang menghubungi dokter untuk datang ke rumah, saat dokter tiba dia langsung memeriksa keadaan Lexa. Terlihat kecemasan di wajah Hinoto. Aku baru melihat wajahnya yang seperti ini, begitu dia sangat mencintai Lexa.


Dokter keluar dari kamar lalu mengatakan jika Lexa sedang mengandung. Hinoto yang sedang dengan kabar kehamilan Lexa langsung memeluk dokter. Setelah itu dia bergegas menuju kamar untuk menemui Lexa.


Betapa bahagianya dia akan menjadi seorang ayah, entah mengapa aku pun ingin segera memiliki seorang bayi. Mungkin jika Himawari dan Lexa melahirkan anak secara bersamaan rumah akan menjadi sangat ramai.


Sebelum dokter pergi meninggalkan rumah, seorang pelayan wanita berteriak dan mengatakan jika Himawari terjatuh di taman. Semua orang menjadi kalut. Dua orang wanita di rumah ini tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.


Aku menyuruh dokter untuk jangan pergi dulu karena harus memeriksa Himawari. Aku bergegas menghampiri Himawari, rupanya dia sudah sadar. Namun, dia masih terlihat lemah sehingga aku langsung menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar.


Dokter pun memeriksa Himawari dengan seksama, setelah memeriksa Himawari dokter tersenyum. Lalu dia berkata, "Selamat Tuan Lexi hari ini Anda akan menjadi Paman sekaligus seorang Ayah."


Aku bingung dengan yang dikatakan oleh dokter, sehingga Aldo terkekeh dan mengatakan jika aku menjadi bodoh. Aku memukul kakinya hingga dia meringis kesakitan. Dokter tersenyum laku mengatakan lagi bahwa Himawari sedang mengandung.


Ini adalah kabar gembira bagiku juga, ternyata aku akan menjadi seorang ayah dan juga menjadi seorang paman. Jika ayah mendengar semua ini makan ayah akan merasa bahagia.


Dokter memberiku resep obat untuk diminum oleh Himawari dan juga untuk Lexa. Aku menyuruh Aldo untuk membelinya di apotek, dia pun pergi untuk membeli obat untuk Lexa dan Himawari.


Sedangkan aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk melihat bledaan istriku. Dan calon anak yang ada di dalam kandungan Himawari. Saat aku melihat wajahnya yang tersenyum semabri memegang perutnya aku merasa cemburu.


"Apa aku bisa membelai calon bayiku?!" Aku berkata dengan lirih pada Himawari.


Dia tersenyum lalu memegang tanganku dengan lembut kalau menempelkan tanganku ke perutnya. Dia terlihat sangat bahagia sekali meski wajahnya terlihat pucat.


"Aku mencintaimu, sayang. Terima kasih," aku berkata lalu mengecup keningnya dengan lembut lalu kecupan itu berlanjut pada bibirnya yang terlihat menggoda bagiku.


Saat aku sedang mengecupnya, aku langsung melepaskan bibirku yang menempel di bibirnya karena ibu dan Rein masuk tanpa mengetuk pintu. Aku sedikit terkejut dan malu mereka melihat kami sedang bermesraan.


"Maafkan Ibu— ya? Karena sudah menggangu kalian berdua!" Ibu berkata dengan sedikit menggoda kami.


"Ahh Ibu ini— aku akan keluar sebentar, Ibu dan Rein bisa menemani Himawari. Apakah Ibu sudah melihat keadaan Lexa?" Aku bertanya pada ibu.


Dan Rein yang menjawab bahwa tadi sebelum ke kamar Himawari mereka sudah menuju kamar Lexa. Dan ibu terlihat sangat senang karena akan memiliki 2 cucu sekaligus.


Setelah mendengar itu aku langsung berjalan keluar, guna melihat Aldo apakah dia sudah tiba atau belum. Aku melihat Hinoto yang sedang duduk di luar. Aku penasaran apa yang dia lakukan di luar bukannya menemani Lexa di dalam kamar.


"Mengapa kau ada di sini?!" tanya ku pada Hinoto.


Dia mengatakan jika Lexa tidak mau mencium bau badannya, padahal dia sudah mandi dan berendam dengan wewangian. Aku terkekeh mendengar itu, mungkin saja itu alasan Lexa untuk mengusirnya keluar. Karena aku mendengar dari seorang pelayan jika Aiko sedang ada dikamar Lexa.


"Hentikan tawamu! Aku beroda jika kau merasakan apa yang aku rasakan!" ucapnya sembari pergi meninggalkan diriku yang masih terkekeh-kekeh.

__ADS_1


__ADS_2