
Hai gaes jangan lupa kasi like, komen ya karena itu sangat berarti bagiku😉 biar aku semakin semangat
___________________________________________
Lexa POV
"Sayang, apakah kau sudah mengetahui misi dari Himawari?" tanyaku pada Hinoto.
"Sepertinya dia sedang mencari informasi seorang pengusaha Indonesia yang bekerjasama dengan salah satu pengedar di Jepang." Hinoto menjawab pertanyaan dariku.
Aku kembali berpikir apakah orang itu adalah salah satu keluarga dari Himawari? Tidak mungkin— itu tidak mungkin. Lebih baik aku menyuruh Aiko untuk selalu mengawasi Lexi dan Himawari.
Entah mengapa aku merasa jika mereka berdua akan mendapatkan masalah besar. Tidak— aku harus membuang semua pikiran buruk ku terhadap Lexi dan Himawari.
"Sayang, kau tidak perlu khawatir! Aku yakin dengan kemampuan Himawari dan Lexi. Mereka tidak mudah dikalahkan," ucap Hinoto padaku.
Apakah aku terlihat khawatir, sehingga dia berkata seperti itu padaku. Sudahlah sekarang saat aku fokus pada perusaahan di Jepang, jika terjadi sesuatu di Indonesia maka aku akan segera kembali ke sana.
Tidak akan kubiarkan orang yang aku sayangi terluka atau celaka karena orang lain. Apa pun yang terjadi aku akan selalu melindungi mereka, meski menjadi tameng mereka aku siap.
Hinoto mengantarku ke perusahaan hari ini karena dia memaksa ingin mengantar. Entah mengapa dia menjadi posesif padaku akhir-akhir ini, padahal tidak ada seorang pria yang sedang mendekatiku.
Setelah tiba di perusahaan aku langsung menuju ruangan, lalu aku menghubungi Aiko agar dia segera menemui ku di ruangan. Tidak berapa lama Aiko tiba di ruangan.
"Ada apa?" tanya Aiko padaku.
"Apa kau masih mengawasi pergerakan Lexi?" Aku bertanya pada Aiko dengan nada serius.
Aiko menjawab iya, karena dia juga merasa khawatir sama denganku. Lalu aku menyuruhnya untuk mengawasi juga Himawari, dia bertanya apa hubungannya dengan Himawari.
Lalu aku menceritakan semuanya pada Aiko, dia sedikit terkejut dengan apa yang aku katakan. Seteoah mendengar itu Aiko mengatakan akan mengawasi pergerakan Lexi dan Himawari. Meski dia tahu jika nanti Lexi akan sangat marah padanya.
Lexi bukan pria sembarangan yang bisa diawasi karena dia bisa dengan mudah mengetahui jika ada yang mengawasinya. Apalagi di tambah dengan Aldo, dia juga memiliki kepekaan yang begitu bagus.
"Kau hubungi Aldo, minta dia untuk bekerjasama denganmu untuk mengawasi Lexi! Katakan saja aku yang menyuruhmu!" Aku berkata pada Aiko, dia mengangguk lalu pergi meninggalkan diriku.
Aku duduk di atas kursi yang sangat nyaman tetapi tidak bisa membuatku tenang. Aku begitu khawatir dengan Lexi, apakah dia sanggup melakukannya sendiri.
Sedangkan musuhnya sangat berbahaya karena mereka adalah orang-orang yang sangat bertentangan dengan hukum. Sehingga mereka bisa menghabisi siapa saja yang menghalanginya.
Aku tidak bisa memfokuskan pikiran untuk pekerjaan hari ini, aku masih saja memikirkan Lexi. Entah mengapa hati ini tidak bisa tenang, meski Hinoto sudah mengatakan jika aku tidak perlu khawatir.
Ponselku berdering, aku langsung mengangkatnya karena ayah yang menghubungiku. Pikiranku sudah buruk sehingga jika ada yang menghubungiku dari Indonesia aku menjadi gelisah.
Aku mendengarkan apa yang ayah katakan bahwa Lexi akan segera menikah dengan Himawari. Dan hari sabtu ayah serta Lexi akan kerumahnya Himawari.
Ayah juga mengatakan jika aku tidak sibuk dengan urusan di Jepang untuk segera kembali ke Indonesia. Ada rasa senang sekaligus khawatir tetapi dengan adanya ini aku bisa ke Indonesia.
Setelah mengatakan itu ayah memutuskan sambungan teleponnya, hatiku merasa lega paling tidak kali ini. Sepertinya aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku untuk beberapa hari kedepan agar aku bisa kembali ke Indonesia.
Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu, aku menyuruhnya masuk. Saat melihat siapa yang masuk rupanya Aiko yang membawa beberapa dokumen yang harus aku periksa.
"Aiko, sepertinya aku akan ke Indonesia. Ayah tadi menghubungiku jika Lexi akan menikah dengan Himawari." Ucapku pada Aiko.
Dia terkejut tetapi langsung terlihat bahagia karena akhirnya Lexi akan menikah juga dengan Himawari. Namun, dia kembali bersedih karena dia ditinggal menikah oleh Lexi. Padahal baru kemarin ditinggal menikah olehku.
Aku terkekeh mendengar apa yang dikatakannya, sehingga aku teringat kembali masalah kemarin. Saat aku hendak bertanya kemarin tentang masalahnya yang belum dia ceritakan padaku.
"Lebih baik kau ceritakan apa yang membuatmu gelisah?!" tanyaku padanya.
__ADS_1
Aiko masih terdiam, dia tidak menjawab apa yang aku tanyakan padanya. Beberapa saat kemudian dia menghela napasnya lalu duduk di depanku.
"Isamu menyatakan cintanya padaku tetapi aku belum bisa memutuskan menerima atau menolaknya." Aiko menjawab dengan nada lemah.
"Apakah kau belum bisa melupakan pria itu? Pria yang sudah meninggalkanmu demi wanita lain." Aku bertanya seperti itu guna mencari kepastian apa yang ada di dalam hatinya.
"Kau tahu aku, -kan? Aku bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta." Aiko menjawab.
Benar, aku tahu dengan pasti siapa dia sebenarnya. Karena bukan hanya satu atau dua tahun saja kami kenal. Aku masih ingat betul betapa kecewanya dia terhadap mantannya itu.
Aku menyuruhnya untuk mencoba dulu menjalani hubungan dengan Isamu. Mungkin dia adalah pria yang bisa membuatnya bahagia, jika dia bukan jodoh Aiko. Maka Aiko boleh memutuskan hubungannya.
"Kita lihat saja nanti, aku ingin melihat kesungguhan dari Isamu!" Aiko berkata lalu berdiri dan pamit untuk kembali ke ruangannya.
Melihatnya seperti ini membuatku merasa khawatir tetapi aku yakin denganmu. Mudah-mudahan saja kau bisa menemukan kebahagiaanmu yang sedang kau cari.
Ponselku berdering aku langsung mengangkatnya karena Lexi yang menghubungi. Dia bertanya mengapa Hinoto tidak bisa dihubungi, aku tidak tahu mengapa ponselnya tidak bisa di hubungi oleh Lexi.
Karena aku belum menghubunginya atau sebaliknya, Lexi menanyakan perihal penyelidikannya tentang misi Himawari. Sebenarnya aku sudah tahu tetapi aku masih ragu apakah harus memberitahukannya pada Lexi atau tidak.
Lebih baik aku tidak mengatakan padanya karena Hinoto yang berhak memberitahukannya pada Lexi. Entah mengapa aku tidak mau mengatakannya pada Lexi, ada rasa khawatir jika mengatakan itu padanya.
Aku mengatakan pada Lexi untuk bertanya langsung pada Hinoto, dia pun menuruti apa yang kukatakan. Lalu dia menutup sambungan teleponnya. Dan aku lupa bertanya padanya perihal pernikahannya dengan Himawari.
Sudahlah sebentar lagi juga aku akan kembali ke Indonesia, aku akan membantunya untuk mengatasi semua permasalahan yang ada. Aku kembali teringat dengan yang dikatakan oleh Lexi jika dia tidak bisa menghubungi Hinoto.
Lebih baik aku mencoba menghubungi Hinoto, apakah yang dikatakan oleh Lexi benar atau tidak. Kucoba menghubunginya, terdengar bunyi nada dering dari ponselnya. Namun dia tidak mengangkat panggilan dariku.
Tidak biasanya dia seperti ini, yang aku tahu jika aku menghubunginya dia langsung mengangkat. Apakah dia sedang sibuk? Sudahlah jika dia sudah tidak sibuk pasti dia akan menghubungiku kembali.
Tidak terasa hari sudah sore dan Hinoto belum saja menghubungi aku, sebenarnya kemana dia. Apakah dia akan menjemput atau tidak, jika dia tidak bisa menjemputku bisanya dia menghubungiku.
Sebenarnya kenapa kau Hinoto, jangan membuatku khawatir. Aku menghubungimu beberapa kali tetapi kau tidak mengangkat teleponku. Sungguh kau membuatku merasa sangat khawatir.
"Jangan khawatir, mungkin Hinoto sedang sibuk!" Aiko berkata padaku guna memenangkanku.
Setelah mengatakan itu Aiko tersenyum lalu dia pergi meninggalkan rumah. Iya, mungkin Hinoto sedang sibuk sehingga dia tidak bisa mengangkat teleponnya atau menghubungi aku kembali.
Aku berjalan memasuki rumah lalu berjalan menuju kamar. Namun, pikiranku terus saja memikirkan Hinoto. Apakah dia baik-baik saja? Apakah tidak terjadi sesuatu padanya? Karena dia tidak biasanya seperti ini.
Lebih baik aku membersihkan diri dulu untuk menjernihkan pikiranku, sehingga aku tidak selalu berpikir buruk. Aku membuka satu per satu pakaian lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Liputan kran shower sehingga mengeluarkan air yang membasahi seluruh tubuhku. Lalu mengambil sabun cair ke telapak tangan dan membasuh tubuh menggunakan sabun yang sudah ada di telapak tangan.
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju almari guna mengambil pakaian tidur.
Seorang pelayang mengetuk pintu kamar, aku membukanya kulihat dia membawa secangkir minuman hangat yang biasa aku minum jika sepulang dari perusahaan.
Setalah menyimpan minuman di atas meja, pelayan itu pergi meninggalkan kamar. Hinoto belum juga memberi kabar padaku sehingga membuat diriku merasa khawatir.
Terdengar alunan lagu dari ponsel yang tersimpan di atas nakas, aku berjalan cepat untuk melihat siapa yang menghubungi. Kulihat layar ponsel tertera nama Hinoto.
Aku langsung mengangkatnya, dia meminta maaf padaku karena tidak bisa menghubunginya sedari tadi. Hinoto berkata jika dia tidak akan pulang dalam beberapa minggu karena dia harus menjalankan misi. Dan juga tidak bisa mengatakan masalah misinya kali ini.
Setelah mengatakan itu Hinoto mematikan sambungan teleponnya, sebenarnya aku kecewa padanya. Akan tetapi, ini sudah merupakan pekerjaannya sebagai seorang agen rahasia.
Sekarang lebih baik aku mendoakannya saja, agar dia selalu diberikan kemudahan dan selamat. Sehingga dia bisa kembali padaku, jika dia mau untuk berhenti dari pekerjaan sebagai agen rahasia. Aku akan sangat senang tetapi menjadi agen rahasia sudah menjadi keinginannya sejak lama.
Sudahlah lebih baik aku beristirahat dulu, besok aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Setelah selesai aku akan bersiap-siap kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Keesokan harinya, aku yang sudah bersiap-siap untuk ke perusahaan, dikejutkan dengan kedatangan Aiko. Dia tersenyum dan mengatakan jika sedang ingin menjemputku.
Sudah lama semenjak aku menikah dengan Hinoto, Aiko tidak pernah menjemputku di rumah untuk pergi bersama-sama ke perusahaan. Kami pun pergi bersama ke perusahaan.
"Aiko, aku akan pergi ke Indonesia besok. Karena Lexi akan menikah," Aku berkata pada Aiko.
"Aku akan ikut denganmu!" ucap Aiko padaku.
Aku tersenyum, bagaiman juga Aiko sudah seperti kakak bagi Lexi. Sehingga aku tidak bisa melarang ya untuk tinggal di Jepang mengurus perusahaan. Lagi pula di perusahaan ada seseorang yang bisa dipercaya untuk menjalankan perusahaan selama aku atau Aiko tidak berada di Jepang.
Tibalah kami di perusahaan, aku langsung berjalan menuju ruangan kerja begitu juga dengan Aiko. Dia tas meja kerja, sudah banyak dokumen yang harus aku selesaikan hari ini.
Mulai membaca satu per satu dokumen dengan teliti setelah itu membubuhi tanda tangan di dokumen tersebut. Tidak terasa waktu begitu cepat. Semua dokumen sudah terselesaikan.
Aku menghubungi tuan Hiroshima untuk menemuiku, tidak berapa lama dia tiba di ruanganku. Lalu aku mengatakan jika diriku serta Aiko akan pergi ke Indonesia dalam beberapa hari.
Sehingga aku mempercayakan semuanya pada tuan Hiroshima, dia mengangguk lalu mengatakan akan bekerja dengan keras. Agar tidak mengecewakan ayah. Aku tahu tuan Hiroshima sangat royal pada ayah, itu juga yang membuatku percaya sepenuhnya padanya.
Setelah mengatakan itu, tuan Hiroshima pergi meninggalkan ruanganku. Setelah itu Aiko pun masuk dan mengatakan akan mengantarku pulang ke rumah.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di rumah, sebelum Aiko pergi aku mengatakan padanya untuk bersiap-siap. Karena besok kita akan segera pergi ke Indonesia.
Aiko mengangguk lalu dia pergi meninggalkan rumah dengan menjalankan mobilnya. Dia melesat dengan kecepatan tinggi, mungkin dia sudah tidak sabar untuk tiba di rumahnya.
Aku berjalan memasuki kamar dan kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Lalu melihat ponselku yang sedari pagi tidak mendengar nada panggilan khusus dari Hinoto.
Apakah dia terlalu sibuk? Sehingga dia tidak bisa sebentar saja menghubungi diriku. Terasa sangat kesal jika memikirkan hal seperti ini, menghempaskan semua pikiran buruk dalam otakku. Namun, itu kbali lagi menggangguku.
Aku bangun dari atas tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Aku kembali merebahkan tubuh ke atas tempat tidur untuk beristirahat.
Ponselku berdering dan tidak berhenti-henti sehingga membangunkanku dari tidur. Aku pikir itu Hinoto, ternyata bukan yang menghubungiku adalah Aiko yang mengingatkan jam keberangkatan hari ini ke Indonesia.
Aku terperanjat melihat jam yang menempel di dinding, dengan cepat kumatikan sambungan teleponnya. Lalu masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke bandara.
Untung saja semua perlengkapan untuk pergi ke Indonesia sudah aku siapkan dari kemarin. Sehingga aku tidak repot dalam keadaan genting seperti ini. Karena aku bangun kesiangan.
Setelah siap aku meminta sopir untuk mengantarku ke bandara dengan cepat. Sopir langsung tancap gas, karena aku tidak ingin tertinggal pesawat. Jika iya, maka aku harus menunggu jam penerbangan yang begitu lama.
Tibalah aku di bandara, saat keluar dari mobil aku melihat Aiko yang baru saja tiba di antar oleh seorang sopir juga. Setelah itu kami langsung masuk ke dalam bandara. Karena sudah terdengar jika pesawat yang menuju Indonesia akan segera lepas landas.
Setelah menempuh perjalan yang tidak sebentar, akhirnya aku tiba di Indonesia. Tidak ada yang menjemput kami di bandara karena aku tidak mengatakan pada ayah jika akan kembali ke Indonesia.
Aku memesan sebuah taksi, lalu mengatakan pada sopirnya untuk menuju alamat yang aku berikan. Dalam perjalan aku mengingat satu per satu jalanan yang pernah kulewati bersama bunda.
Sudah lama aku tidak kbali ke Indonesia tetapi kenangan itu tidak pernah hilang dalam ingatanku. Begitu besar sehingga aku tidak akan pernah melupakannya.
Jalanan di ibu kota masih seperti biasa di penuhi oleh kendaraan beroda empat yang berlalu-lalang. Sehingga menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalanan.
Tibalah aku tiba di rumah yang penuh dengan kenangan bunda, pagar rumah yang menjulang tinggi terbuka dengan otomatis setelah melihat wajahku di dalam taksi.
Taksi memasuki rumah, terlihat beberapa pengawal yang sudah bersiap-siap untuk menyambutku. Karena mereka mengenalli wajahku, meski terlihat sedikit keterkejutan dari wajah mereka.
Mungkin jika mereka tahu kedatanganku ke Indonesia, pasti merekalah yang datang menjemputku di bandara. Mobil taksi berhenti tepat di depan rumah. Aku keluar dengan Aiko, dua orang pengawal membantu sopir taksi untuk mengeluarkan barang bawaanku.
Rumah terlihat sepi, mungkin ayah dan Lexi sedang berada di perusahaan. Seorang pelayan menyambutku dengan hangat dan penuh hormat.
Sebelum aku bertanya keberadaan ayah dan Lexi, pelayan itu mengatakan jika mereka berdua akan pulang saat makan malam. Aku mengatakan pada semuanya agar tidak ada yang boleh memberitahukan pada ayah serta Lexi tentang kepulanganku.
Mereka semua mengangguk lalu pergi untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Hanya dua orang pelayan yang membantuku untuk membawa barangku dan Aiko.
__ADS_1
"Siapkan satu kamar tamu untuk Aiko!" perintahku pada seorang pelayan.
Salah seorang pelayan menagngguk lalu membawa Aiko menuju kamarnya. Aku menyuruh Aiko untuk beristirahat, sedangkan aku masih ingin berjalan-jalan menelusuri setiap jengkal rumah yang penuh dengan kenangan bunda.