
Still Lexa POV
Aku terus berlari untuk mengejar Rey Hirasaki yang membawa ayah, ternyata benar yang dikatakan Lexi dia membawa ayah ke arah jurang. Di belakangku masih ada pria bertopeng sedangkan di depanku ada Mamoru yang sedang berkelahi dengan pengawal Rey Hirasaki.
Sempat terpikir olehku jika mereka berdua sedang melindungi ku dari arah depan dan belakang. Kuhempaskan pikiran seperti ini lagi, aku melihat ayah yang sudah terkulai lemah, dia berusaha untuk melawan Rey.
"Cepat bantu Ayahmu! Aku akan urus para pengawal Rey Hirasaki!" Pria bertopeng itu bicara padaku.
Tanpa mengatakan apapun aku langsung berlari dengan sekuat tenaga, di depanku ada seorang pengawal dia hendak memukulku dengan sebatang kayu. Namun dengan cepat aku menghindar dari pukulannya, lalu aku berbalik dan menendangnya dengan kuat. Sehingga dia terjatuh.
"Lepaskan Ayahku!" teriakku pada Rey Hirasaki.
Dia tersenyum padaku dengan mencengkram kerah baju ayah, dia hendak melempar ayah ke bawah. Namun aku tidak akan membiarkannya melakukan semua itu.
"Jika kau bisa selamatkan Ayahmu, maka selamatkanlah!" Rey Hirasaki berkata lalu melepas ayah ke jurang.
"Ayah!!"
Aku berteriak memanggil ayah sembari berlari menuju jurang, aku tidak menyangka Rey akan melakukan itu. Saat aku berlari kulihat dia tersenyum puas.
Sreettt!
Aku berseluncur menggunakan tubuhku, aku langsung memegang tangan ayah yang masih memegang ujung jurang. Aku melihat ayah tersenyum padaku, entah apa yang ada di benak ayah. Apakah dia tidak merasa takut akan terjatuh.
Saat aku memegang tangan ayah yang masih bergelantungan, sekelebat bayangan masa lalu kembali berputar di otakku. Aku teringat kembali saat bunda akan terjatuh dari atas gedung.
Tidak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku, lalu menetes di tangan ayah. Aku tidak ingin mengingat itu kembali, aku tidak ingin ayah seperti bunda yang jatuh dari ketinggian dan akhirnya pergi meninggalkanku sendiri.
"Lexa sayang, jangan kau ingat kembali masa lalu! Kau putriku yang sangat kuat! Kau pasti bisa nak!"
Ayah berkata padaku dengan suara lirihnya, ayah tahu betul aku mengingat semua kejadian itu.
Aaaaaa!
__ADS_1
Aku berusaha menahan rasa sakit tanganku yang di injak oleh Rey Hirasaki, aku tidak boleh melepaskan genggamanku. Jika aku melepaskannya maka ayah akan terjatuh.
"Hahhaa aku ingin lihat sampai dimana kau bisa bertahan! Jika seperti ini aku teringat akan detik-detik terakhir Alin terjatuh!" Rey Hirasaki berkata dengan puasnya.
Aku kembali teringat kejadian itu, apakah Rey Hirasaki melihat semua kejadian itu. Mengapa dia tahu detik-detik bunda terjatuh.
"Dasar kau monster Rey Hirasaki! Kau tidak berperasaan!" Aku berteriak padanya dengan menahan rasa sakit di tanganku yang masih diinjak olehnya.
Aku melihat Rey mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya, aku tidak tahu apa yang hendak dia lakukan.
Cleb!
Dia menusuk tanganku, darah segar mengalir dari luka tusukan pisau Rey Hirasaki. Aku berusaha tidak mengeluarkan suara meski aku kesakitan.
Ayah tidak boleh tahu apa yang dilakukan oleh Rey Hirasaki padaku, aku tahu jika ayah mengetahui ini maka dia akan melepaskan tangannya dari genggamanku.
Darah mengalir semakin banyak setelah Rey Hirasaki mencabut pisaunya dari tanganku. Darah itu menetes sedikit demi sedikit pada wajah ayah.
"Lexa, lepaskan tangan Ayah nak! Jika kau terus memegang Ayah maka kau akan semakin terluka! Biarkan Ayah pergi agar Ayah bisa bertemu dengan Bunda kalian! Bagi ayah sudah cukup melihat kalian selamat dan berbahagia!"
"Tidak akan kulepaskan kau Ayah! Dulu aku tidak bisa menyelamatkan Bunda! Namun kali ini aku tidak akan menyerah! Sudah cukup aku kehilangan Bunda! Tidak dengan Ayah!" Aku berkata dengan menahan seluruh rasa sakit.
Rey Hirasaki terkekeh mendengar semua perkataanku, dia sangat kesal dengan apa yang dilihatnya. Sehingga dia pun menendangku hingga aku terjatuh ke dalam jurang, namun aku masih bisa bertahan dengan satu tanganku.
"Lexa!" Aku mendengar suara Lexi dengan cukup jelas.
Tanganku sudah lemas, ayah berusaha melepaskan tanganku. Namun aku berkata padanya jika ayah berniat melepaskan tanganku maka aku akan ikut bersama ayah.
Ayah terdiam, aku tahu ayah pasti sedang memikirkan cara terbaik untuk kami. Jika saja ayah tidak terluka mungkin ayah bisa memegang pinggiran bebatuan ini.
Rey Hirasaki melihatku dengan rasa puas, dia menginjak tanganku kembali. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi, mungkin ini adalah hari terkahirku. Namun aku tidak mau seperti ini, karena Rey Hirasaki belum mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.
"Ayah maafkan aku, selama ini aku belum bisa membahagiakanmu. Karena aku kau merasa malu, aku sangat menyayangimu Ayah! Maafkan aku yang memutuskan pembatalan pernikahanku! Aksi sayang Ayah dan tidak ingin membuatmu sedih atau menderita!"
__ADS_1
Aku sungguh sudah tidak tahan lagi menahannya, rasa sakit di tanganku sehingga membuat tenagaku terkuras habis. Sedikit demi sedikit tanganku mulai terlepas dari batu yang kupegang.
Brugggg!
Aku melihat Rey Hirasaki terjatuh, entah siapa yang membuatnya terjatuh. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, jariku sudah melemah mungkin sebentar lagi aku dan ayah akan terjatuh.
Aku teringat kembali dengan ayah, aku berusaha memegang batu penyangga. Namun tidak berhasil, tenagaku sudah habis. Lexi maafkan akan karena tidak bisa menepati janjiku padamu, untuk menyelamatkan ayah batinku.
"Tidak akan kubiarkan kau pergi begitu saja Alexa!" Aku mendengar perkataan Lexi padaku, dia pun memegang tanganku dengan erat.
Aku tersenyum padanya, aku masih beruntung bisa melihat wajahnya. Dia adalah saudaraku yang paling kusayangi, aku melihat Rey sudah terbangun. Dia hendak memukul Lexi dari belakang.
"Lexi awas di belakangmu!" Teriakku pada Lexi.
Namun semua yang kukatakan terlambat, Rey berhasil memukul Lexi. Namun Lexi berusaha menahan rasa sakit akibat pukulan benda tumpul dari Rey Hirasaki.
"Lepaskan aku Lexi! Ini yang terbaik untukmu! Aku tidak ingin kita semua terjatuh!" Aku berkata pada Lexi, aku tidak ingin dia merasakan kesakitan lagi.
Ayah pun mengatakan hal yang sama, namu Lexi tetap dengan pendiriannya. Dia tidak akan melepaskan baik aku atau ayah, meski Rey Hirasaki terus saja memukulinya.
"Dengarkan aku! Ayah dan kau Lexa, bukankah kalian sudah berjanji padaku tidak akan meninggalkanku sendirian! Jadi apapun yang terjadi kalian tidak boleh melepaskan satu sama lain!"
Aku menatap Lexi dengan penuh rasa bangga, ternyata dia sudah menjadi lebih dewasa lagi. Aku pun berkata pada ayah agar dia percaya kepada putranya, sehingga ayah tidak usah memikirkan untuk melepaskan tanganku.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉
c you next bab 😘