
Kharin POV
Entah sampai kapan dia akan terus menggangguku, aku tidak ingin bertemu dengannya. Yang berjanjian adalah Henry mengapa dia menagih janji padaku. Aku harap tidak bertemu dengannya di sini, aku lelah jika harus berhadapan dengannya. Aku bingung dengan sikap Henry, dulu dia membuang ibuku sehingga akhirnya dia kehilangan nyawanya setelah melahirkanku. Lalu sekarang dia ingin aku mengakuinya sebagai ayah, sungguh memuakkan. Lebih baik aku tidur saja, kumatikan lampu kamar lalu aku berusaha menutup kedua mataku. Agar aku bisa cepat beristirahat.
Saat terbangun dari tidurku, aku terkejut disampingku sudah ada ibu yang sedang memelukku. Entah sejak kapan ibu tidur denganku, tapi aku suka dengan pelukan ini. Sudah lama aku tidak tidur bersama ibu, aku sungguh merindukan pelukanmu seperti ini ibu.
"Kau sudah bangun?!"
Ibu tersenyum lalu berkata padaku, aku pun membalas senyumnya sembari menganggukkan kepala. Aku bertanya pada ibu sejak kapan dia berada di kamarku, ibu menjawab beberapa saat setelah aku mematikan lampu kamar. Tapi mengapa aku tidak merasakan kehadiran ibu, mendengar perkataan ku ibu terkekeh. Dia malengatakan bahwa tidurku seperti putri tidur yang sulit dibangunkan.
Ibu bertanya padaku, apakah orang itu menggangguku lagi. Dia memang ibuku, meski dia bukan ibu kandungku. Namun dia mengerti apa yang menjadi kegelisahanku. Ibu menatapku, dia ingin mendengar jawaban dariku. Lalu aku mengatakan semuanya pada ibu, bahwa Henry memintaku untuk menikah dengan pria pilihannya. Aku menolak keinginannya, sehingga dia mulai membuat hidupku kacau.
Ibu langsung memelukku dia berkata bahwa aku harus bersabar, tidak boleh menyerah dengan keadaan. Harus selalu berusaha demi kebahagiaan, yang penting jangan menjadi seorang wanita yang merebut perhatian pria yang sudah memiliki pasangan. Aku mengangguk, aku akan selalu mengingat semua perkataan ibu padaku.
Ibu tersenyum lalu dia mengatakan untuk aku segera membersihkan diri, karena nanti kita akan sarapan bersama dengan Lexa dan yang lainnya. Aku pun bergegas ke kamar mandi, sedangkan ibu keluar dari kamarku. Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku bersiap. Lalu aku melangkah keluar dari kamar, aku menuju kamar Lexa terlebih dahulu. Aku ingin melihatnya apakah dia sudah bangun apa belum.
__ADS_1
Saat aku mengetuk pintu kamar Lexa, terdengar suara tangisan. Aku pun langsung masuk kedalam kamar Lexa, aku melihatnya sedang menangis. Lalu aku bertanya padanya, apa yang membuatnya menangis seperti ini. Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya menangis lalu memelukku. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, aku hanya bisa memeluknya tanpa banyak bicara. Aku biarkan saja dia meluapkan semua kesedihannya.
Beberapa saat kemudian, tangisan Lexa sudah berhenti. Dia mengatakan padaku agar tidak memberitahukan hal ini pada siapapun, dia tidak ingin membuat semua orang merasa khawatir. Aku pun mengangguk, lalu aku suruh dia untuk bersiap karena sebentar lagi pasti akan ada pelayan yang menyuruh kita ke bawah. Lexa pun beranjak dari duduknya, lalu dia masuk ke kamar mandi. Benar saja saat Lexa di dalam kamar mandi, seorang pelayan menyuruh kami segera ke bawah untuk sarapan.
Aku mengetuk pintu kamar mandi, untuk mengatakan pada Lexa untuk segera kebawah. Lexa mengatakan padaku untuk pergi lebih dahulu, aku pun berjalan keluar dari kamar Lexa. Lebih baik aku menunggunya di bawah, agar tidak menimbulkan kecurigaan di mata semua orang. Aku melihat semua sudah berada di ruang makan, aku pun melangkah mendekati mereka lalu duduk di kursi yang tersedia untukku.
"Dimana Lexa?!" Ibu bertanya padaku.
Aku mengatakan sebentar lagi dia akan ke bawah, setelah aku menjawab pertanyaan ibu. Lexa terlihat sedang berjalan mendekati kami, aku melihatnya ternyata dia berhasil menutupi matanya yang sembab akibat menangis. Dia pun duduk di samping om Alex, terlihat Lexi dan om Alex menatap Lexa. Aku yakin mereka menyadari ada yang berbeda dari Lexa, karena yang aku tahu mereka memiliki ikatan yang begitu kuat.
Aku meminta ijin pada ayah dan ibu untuk pergi keluar, aku mengatakan bahwa Haciko mengajakku untuk bertemu. Ayah mengijinkanku untuk pergi, namun seperti biasa aku selalu di beri wejangan agar selalu berhati-hati. Setelah mengantongi ijin, aku pun segera bersiap-siap untuk menemui Haciko. Aku senang akhirnya aku bisa bertemu kembali dengannya setelah sekian lama kita berpisah. Aku tidak mengira kan bertemu secepat ini, karena kemarin aku mendapatkan info bahwa Haciko sedang berada di Hongkong.
Persiapanku sudah selesai, aku pun keluar dari kamar. Lebih baik aku memesan taxi saja untuk bertemu dengan Haciko. Saat berjalan menuju ke bawah, aku bertemu dengan om Alex, dia bertanya aku akan pergi kemana. Aku pun mengatakan akan bertemu dengan temanku, om Alex mengatakan untuk memakai mobil yang sudah tersedia. Dia menyuruh asisten Ari untuk menyiapkan sebuah mobil dan sopir. Namun aku menolak jika menggunakan sopir, om Alex bersikukuh aku harus menggunakan sopir jika tidak dia tidak akan mengijinkanku untuk keluar. Aku menghela napas, jika om Alex sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa membayarnya lagi. Jika aku membantahnya maka ayah dan ibu akan berubah pikiran.
Aku pun berjalan menuju keluar, ternyata asisten Ari sudah menyiapkan semuanya. Dia tersenyum padaku lalu dia mengatakan untuk selalu berhati-hati. Aku pun mengangguk, asisten Ari sudah lama mengikuti om Alex. Dia sungguh setia pada om Alex, dia pun sangat melindungi seluruh keluarga. Aku sangat menghormatinya, dulu aku pernah mendapatkan masalah. Lalu aku bertemu dengannya, dia pun langsung membantuku tanpa banyak bertanya apa masalahku.
__ADS_1
Dalam perjalanan aku menelepon Haciko, aku memastikan apakah dia sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan atau dia masih di rumah. Haciko pun mengatakan bahwa dia sudah berada di Blue cafe. Aku segera menutup telepon lalu menyuruh sopir untuk bergegas ke Blue cafe, sopir pun mengangguk lalu dia menambah kecepatan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, aku pun sampai di Blue cafe. Sopir manegatakan bahwa dia akan menungguku, aku tersenyum lalu masuk ke dalam cafe. Aku mengerlingkan kedua bola mataku, aku mencari keberadaan Haciko. Aku melihat ke sebelah kanan ada seorang wanita melambaikan tangannya. Seraya menyuruhku untuk menghampirinya, dia adalah Haciko. Aku pun menghampiri dia, lalu aku memeluknya dengan erat. Aku begitu merindukannya, dia pun berkata sangat merindukanku.
____________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉
Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉
c you next bab 😘
__ADS_1