
Still Lexi POV
"Duduklah Lexi!" ayah berkata padaku.
Aku duduk lelaki berkata, "apa yang terjadi? Sehingga Ayah terlihat kesal."
Ayah mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menghancurkan perusahaan. Dia menggunakan cara-cara licik sehingga membuat kerugian yang sangat besar. Dan juga dia sudah menyebabkan sebuah keluarga kecil kehilangan orang yang dicintai.
Aku sungguh terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar dari ayah, pantas saja ayah sangat geram dengan semua ini. Aku tahu dia adalah tipe pria yang sangat melindungi orang-orang yang penting bagi perusahaannya.
"Mulai besok, kamu urus pekerjaan kantor! Ayah ingin kau menyelesaikan semua kekacauan yang sudah terjadi!"
Aku mengangguk, lalu meminta berkas-berkas yang bisa membatu dalam menyelesaikan semua masalah perusahaan. Asisten Ari mengatakan bahwa semua berkas sudah ada di tangan Aldo, besok dia akan pergi bersamaku ke perusahaan.
Setelah mendengar itu aku pamit untuk kembali ke kamar, sebelum ke kamar seorang pelayan bertanya mengenai makan malam. Dia mengatakan akan makan di kamar atau di ruang makan. Aku mengatakan untuk membawa makan malam ke kamar, karena masih banyak yang harus aku periksa.
Aku pikir Aldo akan mengurus perusahaan di Jepang, tetapi dia sudah berada di Indonesia. Apakah masalah perusahaan kali ini sangat serius, kuharap Lexa cepat kembali ke Jepang. Sehingga dia bisa mengurus perusahaan.
Ponselku bergetar ada sebuah pesan yang masuk, melihat nama yang tertera adalah Aldo. Aku membuka pesan yang dia berikan, setelah membaca pesannya sungguh terkejut. Sepertinya butuh waktu yang banyak untuk menyelesaikan semua ini.
Mungkin aku akan tinggal di Indonesia dalam jangka waktu yang lama, andai Lexa ada disini juga mungkin dia bisa membantuku. Karena dia bisa mengerti apa yang aku inginkan.
Ponselku berdering, muncul nama Himawari dari layar ponsel. Aku sungguh rindu dengannya.
"Hallo." Ucapku pada himawari.
Tidak terasa sudah satu jam kami berbincang-bincang, dia memutuskan sambungan teleponnya karena dia sudah mengantuk. Aku senang akhirnya dia menghubungiku dan lagi dia sudah berada di Indonesia.
__ADS_1
Jika bertemu dengannya aku harap dia bisa menceritakan semuanya, sebenarnya hati ini ingin membantunya untuk menemukan ibu kandungnya. Namun aku harus menyelesaikan masalah di perusahaan ayah terlebih dahulu.
**
Pagi ini aku terbangun oleh suara azan subuh, aku bergegas menuju kamar mandi guna membersihkan diri lalu salat. Setelah selesai dengan semua itu barulah aku bersiap untuk pergi ke kantor.
Saat aku menuju meja makan untuk sarapan, kulihat Aldo sudah berdiri di samping asisten Ari. Dan ayah yang sudah duduk sembari membaca dokumen.
"Apakah Ayah tidak lelah?" tanyaku pada ayah yang masih membaca dokumen.
"Duduklah, kita sarapan terlebih dahulu." Ayah berkata sembari menyerahkan dokumen yang dia baca tadi pada asisten Ari.
Aku pun duduk di samping ayah, lalu menyantap makanan yang sudah di hidangkan oleh seorang pelayan. Setelah menyelesaikan sarapan, ayah memintaku untuk ke ruang bacanya.
Saat sudah berada di ruang baca, ayah mengatakan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu saat tiba di kantor. Pembicaraan kami tidak terlalu lama dan panjang karena aku harus segera pergi ke kantor bersama Aldo.
Aldo sudah siap dengan semua yang aku perlukan di kantor, dokumen yang asisten Ari siapkan udah ada di tangannya. Sekarang aku ingin tahu bagaimana keadaan perusahaan ini saat aku tiba disana.
Saat dalam perjalanan menuju perusahaan Aldo memberikanku sebuah dokumen. Aku membukanya lalu membacanya dengan seksama, aku tidak mengerti dengan dokumen tersebut.
"Aldo, apakah dokumen yang kau berikan padaku benar?" Aku bertanya pada Aldo.
"Benar, Tuan Alex meminta saya untuk mencari tahu apa penyebab perusahaan parfum peninggalan Nyonya Alin mengalami kerugian yang sangat besar." Jawab Aldo.
Aku pikir perusahaan ayah yang sedang dalam masalah, rupanya ini adalah perusahaan parfum bunda. Aku harus menyelesaikan semua ini dengan cepat. Jika tidak akan bahaya bagiku, karena Lexa bisa marah besar.
Jika Lexa marah besar dia bisa langsung terbang ke Indonesia lalu memarahiku seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Tidak begitu lama akhirnya aku tiba di perusahaan parfum bunda.
__ADS_1
Sudah lama aku tidak berkunjung kemari, semuanya masih terlihat sama. Mungkin ayah tidak mengubah semuanya, hanya terlihat beberapa bagian yang sudah direnovasi.
Seorang pria yang sudah berumur menghampiriku, dia tersenyum padaku. Terlihat guratan-guratan di sekitar wajahnya, tetapi aku tidak akan melupakan wajah ini. Dia yang selalu membantu bunda untuk mengurus perusahaan.
"Apa kabar Pak Dim?" tanyaku dengan lembut sembari bersalaman dengannya.
"Alhamdulillah, saya baik Tuan Lexi." Jawab pak Dim.
Pak Dim mempersilahkan aku untuk mengikutinya, rupanya dia sudah menyiapkan sebuah ruangan untukku dan Aldo. Dia berkata bahwa ruangan ini adalah ruangan bunda selagi masih bekerja di perusahaan.
Tidak ada yang berubah dengan ruangan ini, semuanya masih tampak sama. Pak Dim berkata jika ayah yang memerintah pada semua orang untuk tidak merubah sedikitpun ruangan ini.
Begitu besar rasa cinta ayah pada bunda sehingga apapun yang pernah bunda tempati tidak boleh ada yang merubahnya. Aku dengar juga jika ruangan ini merupakan ruangan pertama kali mereka bertemu. Pantas saja ayah tidak mengijinkan ada yang merubahnya.
"Setiap hari Tuan Alex, selalu duduk di ruangan ini selama beberapa jam. Setelah itu Tuan Alex pergi ke perusahaannya."
Aku tersenyum mendengar pak Dim menceritakan semuanya padaku, sehingga aku tahu betapa besar rasa cinta ayah pada bunda. Mungkin itu salah satu sebabnya ayah tidak ingin mencari pasangan baru untuk menemaninya di hari tua.
Namun aku akan selalu ada untukmu ayah, meski kau sendiri karena aku sudah berjanji pada bunda untuk selalu berada di sisimu. Aku juga tidak tahu apakah aku akan bertahan lebih lama di Indonesia atau kembali ke Jepang.
Sebenarnya jika kembali ke Indonesia, aku lebih senang jika Lexa pun kembali ke Indonesia. Entah mengapa itu yang aku inginkan, mungkin karena kami kembar sehingga perasaan saling membutuhkan masih sangat kuat. Meski dia sudah menikah, aku masih merasakan membutuhkannya.
Jika kami berjauhan rasanya ada yang kurang, apakah Lexa merasakan apa yang aku rasakan. Kuhempaskan tubuhku di atas kursi kerja, tidak berapa lama Aldo menyerahkan beberapa dokumen yang harus aku periksa.
Aku memeriksa dokumen yang Aldo berikan, jika ada Lexa apa yang akan lakukan untuk mengatasi semua masalah ini. Sial, mengapa juga aku tidak bisa lepas dari dia. Seharusnya aku bisa melepaskan ketergantungan terhadapnya. Karena dia sudah menikah dan memiliki kehidupannya sendiri.
Sekarang aku harus bisa menyelesaikan semua ini, kuhempaskan semua pikiran dan rasa ketergantunganku terhadap Lexa. Aku tidak ingin mengganggu kebahagian Lexa. Sekarang aku harus bisa menjalani hidupku sendiri. Dan mencari belahan jiwaku, seperti ayah bertemu dengan bunda serta Lexa yang sudah menikah dengan Hinoto.
__ADS_1