Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
Part Aiko 2


__ADS_3

Still Aiko POV


Aku terbangun di pagi hari saat rasakan napas yang menerpa wajahku lalu aku membuka mata. Dan sungguh terkejutnya aku saat melihat Aldo yang masih tertidur. Tangannya masih memelukku dengan erat, aku mencoba melepaskan tangan Aldo yang melingkar di pinggangku tetapi tidak bisa.


Ternyata cukup sulit juga melepaskan pelukan dia jika sedang tertidur, aku menatap wajahnya dengan lekat. Wajahnya terlihat tenang, berbeda jika saat dia sudah terbangun. Entah mengapa aku masih belum bisa memaafkan dia. Padahal dulu kami bisa bicara selayaknya seorang teman dan sahabat.


"Apa kau sudah puas—menatapku?"


Betapa terkejutnya aku saat Aldo membuka matanya yang berkata seperti itu. Dengan cepat aku menjauh darinya, kenapa tiba-tiba jantungku berdegup tidak beraturan seperti ini. Lebih baik aku bangun dan membersihkan diri. Lagi pula hari ini aku harus bersiap untuk kepergian ke Korea.


Setelah selesai membersihkan diri, aku mencari pakaianku tetapi tidak menemukannya. Dan aku melihat sebuah dress berwarna biru muda tergeletak di atas tempat tidur. Apakah Aldo yang menyiapkannya untukku.


Saat aku melihat sekeliling tidak menemukan batang hidungnya, kemana dia pergi? Bukankah dia belum membersihkan dirinya.


"Pakailah—setelah aku selesai bersiap, kita kembali ke apartement!" Aldo berkata dengan nada dingin lalu duduk di atas sofa.


Aku kembali masuk dengan membawa dress yang sudah dia siapkan untukku. Saat aku mencobanya ukurannya pas dengan badanku, rupanya dia tahu betul ukuran badanku. Ini begitu nyaman aku kenakan, dia pintar sekali memilih pakaian yang membuatku nyaman.


Setelah selesai berpakaian aku keluar dan menyuruh Aldo untuk membersihkan diri. Saat dia sedang di dalam kamar mandi aku memutuskan untuk bertemu dengan Lexa terlebih dahulu untuk membicarakan keberangkatanku ke Korea.


Terlihat seorang pelayan, aku bertanya padanya apakah Lexa sudah bangun dan di mana keberadaanya. Dia mengatakan jika Lexa sedang berada di gazebo sembari menemani Zeroun. Setelah mengatakan itu pelayan pun pergi meninggalkan aku untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aku kembali masuk ke kamar karena ponselku tertinggal. Saat masuk kedalam kamar aku melihat Aldo yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi setengah tubuhnya. Dia sedang memilih pakaian di dalam almari.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyaku pada Aldo yang masih sibuk memilih pakaian di dalam almari.


Dia hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaanku. Entah mengapa itu membuatku sedikit kesal. Biasanya aku yang selalu marah padanya dan berkata cetus. Namun, semenjak menikah dia semakin dingin padaku.


"Kau punya mulut, 'kan? Apa kau sudah tidak bisa bicara?!" Akhirnya aku berkata dengan nada kesal padanya.


Aku sudah berusaha untuk berbuat baik padanya dengan bertanya apakah ada yang dia butuhkan. Namun, dia hanya diam saja dan itu yang membuatku sangat kesal padanya. Tanpa mendengar jawaban darinya aku langsung pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar.


Dengan hati kesal aku berjalan menuju gazebo di taman untuk menemui Lexa. Aku lihat dia sedang duduk bersama dengan Hinoto sembari memperhatikan Zeroun bermain bersama Rosalina. Aku berjalan mendekati mereka.


"Bibi Aiko...," teriak Zeroun yang langsung berlaru lalu memelukku begitu juga dengan Rosalina. Aku hampir saja terjatuh karena mereka berdua berdua memelukku bersamaan.


Mereka tersenyum lalu kembali bermain, sedangkan aku kembali berjalan mendekati Lexa dan Hinoto. Terlihat Lexa hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua bocah itu.


"Bagaimana tidurmu nyenyak?" tanya Lexa padaku.


Saat dia bertanya seperti itu aku teringat perkataan Aldo jika Lexi memasang kamera pengintai di kamar. Dan itu membuatku kesal di tambah dengan Aldo yang bersikap sangat dingin padaku.


"Mana Lexi?!" Aku balik bertaya pada Lexa dengan nada kesal.


Lexa bertanya padaku apa yang terjadi sehingga aku bertanya tentang Lexi. Aku mengatakan padanya jika Lexi sudah tidak sopan memegang kamera pengintai di kamar Aldo. Mendengar apa yang aku ceritakan Hinoto terkekeh-kekeh lalu diikuti oleh Lexa. Mereka berdua membuatku semakin kesal saja.


"Siapa yang melakukan itu?!"


Aku mendengar Lexi bertanya di belakangku, aku langsung melayangkan cubitan pedas padanya. Sehingga dia meringis kesakitan tetapi aku tidak akan melepaskan dia kali ini. Meski dia meminta ampun padaku.


"Hentikan Aiko! Kau ingin membunuhku hah?!" ucap Lexi dengan nada memohon.


Lexi terus mengatakan jika dia tidak melakukan apa yang aku katakan, aku tahu jika dia sedang berbohong. Karena aku tahu dengan benar jika dia sedang berbohong. Aku mengenalnya bukan hanya baru setahun atau dua tahun saja.


Akhirnya dia meminta bantuan pada Lexa dan Hinoto agar aku melepaskannya. Namun, Lexa tidak mau membantunya karena menurut dia Lexi pantas mendapatkan hukuman.


"Hukum saja dia Aiko—dia pantas mendapatkannya!"


Terdengar suara Himawari yang baru saja tiba, aku menyeringai semua orang mendukung apa yang aku lakukan. Terlihat Lexi cemberut seperti anak kecil karena tidak ada yang mau membelanya.


Aku pun melepaskannya, dia terlihat seperti anak kecil menghadap Himawari. Dan Lexi mulai menatap istrinya, apakah dia sedang dihukum juga oleh Himawari. Sebenarnya kenakalan apa lagi yang dia perbuat sehingga membuat Himawari kesal.


"Siang ini kalian harus pergi ke Korea!" Lexa berkata padaku.


Lexi pun mengatakan jika ada satu masalah tentang salah satu client dan client tersebut sangat sulit untuk diajak bicara. Aku mendengarkan semua penjelasan dari Lexi. Dia pun mengatakan jika Aldo sedang mengetahui semuanya.


Tidak berapa lama terdengar teriakan Rosalina yang memanggil Aldo, seketika aku terdiam karena aku mengingat kejadian tadi di kamar. Rasa kesalku kembali meningkat.

__ADS_1


Lexa menatapku seraya bertanya padaku ada apa, aku menggelengkan kepala. Karena aku tidak ingin membuatnya terlalu banyak memikirkan masalahku. Dia sedang mengandung sehingga tidak boleh banyak berpikir dan aku takut jika dia merasa stress.


"Bagaiamana—apa semuanya sudah siap?!" Aldo bertanya pada Lexi.


Lexi menjawab jika semua dokumen sudah siap, dia meminta Aldo untuk berhati-hati dalam menghadapi seseorang. Mungkin dia akan merepotkannya di Korea.


Aku penasaran orang yang dimaksud oleh Lexi siapa? Karena dia tidak mengatakan padaku siapa saja yang harus aku perhatikan. Mereka berdua mulai merahasiakan sesuatu padaku, apakah Lexa tahu hal ini.


Lexa memberiku isyarat dengan maksud aku harus mengikutinya, dia beranjak dari posisi duduknya lalu mengajakku untuk berjalan-jalan menelusuri taman ini.


Kami berjalan-jalan menelusuri taman, dia bertanya padaku bagaimana semalam. Dia tahu pasti dengan apa yang dilakukan oleh Lexi, dia mengatakan jika semua yang dilakukan oleh Lexi itu semua demi aku dan Aldo.


Lexi ingin membuatku dan Aldo semakin mendekat, dia tidak ingin aku tidur terpisah. Karena kami sudah menikah, Lexa juga mengatakan jika Aldo sudah siap mungkin dia akan menceritakan semuanya padaku.


Sebenarnya apa yang sudah disembunyikan Aldo, Lexa dan yang lainnya. Entah mengapa aku merasa jika hanya aku saja yang tidak mengetahuinya. Apa aku sudah tahu tetapi aku tidak menyadari semuanya.


"Dengarkan aku Aiko—apa pun yang terjadi di masa lalu tidak selalu sesuai dengan apa yang kita lihat. Mungkin kita belum mengetahui apa dibalik semua itu. Aku harap kau bisa berbahagia bermasa Aldo." Lexa berkata dengan lembut.


"Mengapa kau selalu mengatakan hal seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang tidak aku ketahui? Kau bisa mengatakan itu, 'kan?" tanyaku padanya.


"Yang berhak menjawab semua itu adalah Aldo!" jawabnya.


Setelah menjawab itu, dia mengajakku untuk kembali ke gazebo. Terlihat dari wajahnya sudah kelelahan. Dia menjadi cepat merasa lelah semenjak kehamilannya yang kedua ini. Namun, yang membuatku bingung mengapa jika saat sedang bekerja di kantor dia tidak pernah terlihat cepat lelah.


Saat aku baru tiba di gazebo, terlihat ayah dan ayah Alex sudah duduk bersama yang lainnya. Aku serta Lexa ikut bergabung dengan mereka semua.


Ayah mengatakan jika hari ini akan kembali ke Indonesia bersama ayah Alex. Aku bertanya mengapa begitu cepat, ayah mengatakan jika banyak pekerjaan di sana dan tidak mungkin baginya menyerahkan semua pekerjaan pada yang lainnya.


"Jika tidak ada Ari—aku tidak bisa bekerja! Karena hanya dia yang bisa aku andalkan!" Ayah Alex berkata sembari tersenyum lembut.


"Ayah, kau pasti teringat akan bunda, 'kan?!" tanya Lexi dengan nada menyelidiki.


Ayah Alex terkekeh mendengar pertanyaan Lexi, lalu berkata jika setiap detik dia selalu mengingat istrinya. Aku sungguh mengidolakan ayah Alex karena dia begitu sangat mencintai istrinya meski sudah tiada bertahun-tahun lamanya.


Setelah semuanya berbincang-bincang, aku pamit pada semuanya karena harus bersiap pula untuk berangkat ke Korea. Setelah tiba di apartemen aku bergegas menyiapkan semua keperluanku untuk tinggal beberapa hari di Korea.


"Biar aku yang rapikan!" Aku berkata pada Aldo.


Dia menjawab bahwa bisa melakukan sendiri, lalu dia kembali merapikan barang-barangnya. "Ada apa denganmu Aldo!? Jika kau tidak ingin menikah denganku lebih baik kau menolaknya! Jika kau seperti ini terus aku bisa mati karena kesal!"


Aldo hanya dia saja meski aku sudah berkata keras padanya, rasa kesalku memuncak akhirnya aku terus berkata yang sudah keluar dari jalur. Rasa marahku membuat aku tidak bisa mengontrol perkataanku.


Dia menarik tanganku lalu mengecup bibirku dengan lembut, aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya. Dia melepaskan bibirnya dari bibirku lalu tersenyum dan berkata, "Sudah cukup—hentikan ocehanmu yang sudah keluar jalur itu!"


Setelah mengatakan itu dia melepaskan pelukannya dan kembali merapikan pakaiannya. Sedangkan aku masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi.


Aldo menjentikkan jarinya lalu berkata, "Apa kau sudah siap—ayo kita pergi!"


Aku tersadar lalu bergegas mengambil tas dan travel bag yang sudah siap aku bawa. Sekilas aku melihat Aldo kembali tersenyum sama seperti setelah dia mengecup bibirku.


Entah mengapa aku tidak marah dengan apa yang dilakukan oleh Aldo, biasanya aku selalu ingin bertindak kasar jika ada yang mengecupku tanpa meminta izin terlebih dahulu.


***


Korea.


Setelah tiba di Korea, Aldo langsung mengajakku ke sebuah apartemen yang sudah disiapkan oleh Lexa dan Lexi. Entah mengapa mereka menyiapkan sebuah apartemen untuk kami berdua.


Malam ini sepertinya hanya akan berdiam diri di apartemen, andai saja bisa berjalan-jalan keluar mungkin mengasikan. Namun, aku melihat Aldo sedang sibuk dengan pekerjaannya. Apakah ini yang dia lakukan setiap hari, hanya kerja dan kerja.


Apakah ini salah satu cara untuk melupakan Rein, apakah dia begitu sangat mencintai Rein. 'Kenapa aku kembali memikirkan Rein? Bukannya mereka sudah tidak berhubungan. Aku merasa jika Aldo masih sangat mencintai Rein.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Aldo padaku.


"Apa pekerjaanmu masih banyak?" Aku balik bertanya.


Dia meletakkan Notebook-nya di atas meja, setelah itu dia berdiri lalu berjalan mendekat. Aku pikir dia mau melakukan hal-hal yang akan membuat jantungku berdegup tidak karuan.

__ADS_1


Namun, dia hanya mengambil ponsel yang berada di sampingku. Sungguh aku sudah gila, mengapa aku bisa salah tingkah jika di dekatnya. Dan ini terjadi gegara aku tidur di rumah Lexa, dia semalaman memelukku dengan lembut. Entah mengapa aku menikmatinya karena pelukannya begitu hangat.


Dia tersenyum kembali, lalu bertaya padaku bosan berada di apartemen saja. Secara tidak langsung dia tahu apa yang ada di dalam hatiku tetapi aku tidak bisa egois. Terlihat olehku jika dia sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Sedangkan aku, semua pekerjaan sudah terselesaikan. Karena tugasku tidak terlalu banyak seperti yang Aldo lakukan. Sebenarnya aku hanya tinggal menerima hasil dari pekerjaan Aldo.


Aku mengatakan padanya untuk melanjutkan pekerjaannya, lalu aku berjalan keluar dari kamar menuju pantry. Membuka lemari pendingin, saat melihatnya aku tersenyum.


"Pasti Lexa yang melakukan semua ini," gumamku.


Perutku terasa lapar tetapi aku tidak bisa memasak yang begitu rumit. Karena selama ini ibu yang memasak jika tidak aku lebih memilih makan di luar. Andai saja aku belajar memasak dari ibu mungkin aku tidak akan menderita seperti.


Sebenarnya aku bisa keluar sendiri tetapi di luar sana sedang hujan, aku coba saja masak mie instan. Mungkin berhasil, aku pernah memasaknya satu kali di rumah.


Prang!


Aaaaaa...


"Ada apa?!" Aldo berteriak sembari berlari menuju arahku.


Aku terkejut saat melihat ulat yang ada di sebuah sayuran yang ingin aku masukkan dalam mie instan. Saking terkejutnya semua air yang ada di dalam panci tumpah dan percikan air panasnya mengenai tanganku.


Aldo dengan cepat memegang lalu menarik tanganku dia meniupnya dengan lembut. "Apa kau tidak bisa berhati-hati! Jika tidak bisa memasak kenapa tidak pesan makanan saja!" Aldo berkata padaku dengan penekanan.


Tidak terasa air mataku menetes, entah karena rasa sakit tanganku yang terkena air panas atau karena Aldo yang berkata padaku dengan nada seperti memarahi.


Dia mengusap air mataku lalu berjalan meninggalkan aku, sungguh bodoh aku ini. Masa hanya memasak mie instan saja tidak bisa, apakah aku pantas menjadi seorang istri? Mengapa pertanyaan itu muncul saat ini. Sembari menangis aku merapikan sisa mie yang sudah kotor, merapikan pantry agar tidak terlihat kotor akibat ulahku sendiri.


"Biarkan itu—kemarilah!" Aldo berkata padaku dan menyuruhku untuk mendekatinya.


Aku bergeming karena aku tidak ingin memperlihatkan wajah sedihku dan sikap bodohku padanya. Karena selama ini aku selalu memperlihatkan sisi wanita yang selalu bisa melakukan segala hal.


Aldo berkata kembali, entah mengapa kakiku langsung berjalan mendekatinya. Dia menepuk sofa seraya menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Terlihat kotak P3K di atas meja, rupanya dia mengambil kotak P3K.


Dia menarik tanganku sehingga aku terjerembab di pangkuannya, dia membisikkan sesuatu padaku. Dan itu membuatku merasa geli, sehingga aku mengatakan padanya untuk tidak berbisik padaku.


"Mengapa kau menangis? Apakah terasa sakit sehingga kau menangis seperti ini?!" tanyanya padaku sembari mengoleskan gel pereda sakit pada tanganku.


Aku hanya diam, tidak tahu mengapa aku tidak ingin bicara padanya. Dia bertanya padaku apa yang sebetulnya terjadi sehingga bisa air yang ada di panci tumpah dan mengenai tanganku.


Dia terus memaksaku untuk bercerita jika tidak dia akan terus bertanya dan berbisik padaku. Akhirnya aku mengatakan padanya jika aku terkejut melihat ulat yang ada di sayuran, sehingga panci yang ada di atas kompor tersenggol tangan dan akhirnya terjadilah apa yang dia lihat tadi.


Aldo terkekeh saat aku menceritakan semuanya, aku kesal karena dia sudah berani menertawakan diriku. "Hentikan tawamu itu—tidak lucu tahu!"


Setelah mengatakan itu aku beranjak dari dudukku, dia menarik tanganku kembali dan aku kembali terjerembab di dalam pangkuannya. Dia menatapku dengan lekat, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Bibirnya secara perlahan mulai mendekat pada bibirku, aku tidak tahu mengapa tidak bisa bergerak.


Terdengar suara dari perutku yang menandakan jika saat ini aku sedang dilanda kelaparan. Dan Aldo kembali terkekeh saat mendengar itu, aku berdiri karena merasa malu padanya.


"Kau mau makan apa? Aku akan memasak untukmu," Aldo berkata semabri berdiri lalu dia berjalan menuju pantry.


Tanpa aku sadari kakiku melangkah mengikuti langkahnya menuju pantry, lalu duduk di kursi yang menghadap ke pantry. Terlihat Aldo membuka lemari pendingin, dia memilih beberapa bahan makanan.


Aku tidak menyangka jika dia bisa memasak, sejak kapan dia bisa memasak? Yang aku tahu dia tidak pernah memperlihatkan keahliannya dalam memasak selama aku kenal dengannya.


Dia mulai memotong bahan-bahan yang dia keluarkan dari lemari pendingin. Terlihat sekali jika dia sudah terbiasa dengan semua ini, aku sungguh tidak menyangka ini adalah Aldo.


Beberapa saat kemudian masakan Aldo sudah siap, dia menyajikannya pada sebuah piring. Dia menatanya dengan sangat indah sehingga aku tidak kuasa untuk memakannya.


Menu malam ini adalah steak, sungguh menggoda mataku dan perutku yang sedang kelaparan ini. Aldo berkata padaku untuk segera menyantapnya. Aku bertanya padanya mengapa hanya membuat satu saja? Lalu dia menjawab akan meminta bagiannya padaku. Itu artinya dia ingin makan berdua denganku.


Memang benar apa yang dia katakan karena daging yang di oleh ini sangat besar bagiku. Mungkin aku akan keuangan jika memakan semuanya seorang diri.


"Makanlah," Dia berkata dengan lembut padaku.


Saat aku hendak menyiapkan potongan daging ke dalam mulutku, dia langsung memasukkan daging tersebut kedalam mulutnya. Sehingga mulut kami sangat dekat tetapi tidak terjadi kecupan.


Dia tersenyum, bukan hanya sekali dia melakukan itu tetapi sudah melakukan beberapa kali. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya, aku lihat dia hendak membersihkan peralatan yang kotor.

__ADS_1


"Biar aku yang merapikannya!" Aku berkata pada Aldo tetapi dia tidak mendengar apa yang aku katakan. Dia masih melanjutkan pekerjaannya, lalu dia berkata khusu malam ini dia yang akan melayani aku.


__ADS_2