
Still Lexa POV
"Aku tidak menyangka mendapatkan sebuah surat yang dikirim bunda kalian sebelum tiada. Di sana tertulis jika bunda kalian menginginkan aku menjalankan perusahaan parfum." Rosetta berkata dengan yakin.
"Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu adalah surat dari bunda? Sedangkan bunda sudah tiada!" Aku bertanya padanya karena aku belum percaya sepenuhnya padanya.
Rosetta pun tidak percaya dengan surat itu tetapi saat dia sudah dewasa. Dan sang ayah mengatakan ingin mendapatkan perusahaan parfum bunda, dia kembali teringat dengan surat yang dia dapat. Lalu dia menemui ayah dan menyerahkan surat itu dan itulah alasan mengapa ayah mengizinkan dia untuk menjadi CEO perusahaan parfum.
"Aku tidak ingin perusahaan bunda kalian hancur oleh tangan ayahku sendiri. Karena aku tahu sifat ayahku, jika dia tidak bisa memiliki sebuah perusahan maka dia akan menghancurkannya. Dan aku tidak ingin itu terjadi, meski aku tahu jika ayah kalian sangat kuat tetapi dia sudah ingin hidup tenang untuk mengenang bunda kalian." Rosetta berkata padaku dan Hinoto terlihat sangat memperhatikan dirinya.
Yang dikatakan oleh Rosetta memang benar sekarang ayah sudah meninggalkan seluruh pekerjaan di dunia gelap. Karena ayah tidak ingin direpotkan bedengan masalah dunia gelap saat ini yang sudah tidak bisa terkendali.
"Bagaimana kau jelaskan tentang Takeda?!" tanyaku padanya.
"Sebenarnya aku juga merupakan seorang agen rahasia yang dipekerjakan oleh negara Jepang. Aku bekerja sendiri dan aku tidak tahu jika Himawari adalah seorang agen juga. Setelah aku tahu jika dia seorang agen, aku berusaha mengukur waktu agar Takeda tidak membunuhnya." Jawabnya padaku.
Aku melirik Hinoto seraya ingin tahu apakah yang dikatakan olehnya benar. Namun, dia hanya tersenyum dan aku tidak bisa menemukan jawaban dari senyumnya itu.
"Aku pikir kau adalah wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua keinginanmu! Termasuk menjual tubuhmu!" ucapku pada Rosetta, mungkin yang aku katakan ini sudah keterlaluan tetapi aku ingin tahu apa jawabannya.
"Astaga Lexa, jika kau tahu apa yang aku lakukan setelah aku bermesraan dengan Takeda. Aku bergegas kembali ke rumah dan membersihkan tubuhku dengan banyak sabun dan juga bibirku yang sudah bercumbu dengannya. Mungkin aku menghabiskan waktu 3 jam untuk yakin jika diriku sudah bersih." Jawabnya padaku sembari terlihat rasa jijik jika mengingat semua itu.
Hinoto terkekeh saat mendengar perkataan Rosetta, setelah perbincangan kami. Rosetta memutuskan untuk pulang, dia merasa tidak enak karena sudah larut malam.
Lagi pula dia harus mengerjakan sesuatu yang harus dia selesaikan sebelum kembali ke Indonesia. Dia juga meminta maaf karena telah membuat renggang hubungan ayah dan Lexi.
Aku hanya tersenyum, entah mengapa aku tidak bisa banyak bicara dengannya. Mungkin aku harus bicara pada ayah guna mencari kebenaran tentang apa yang sudah dia katakan.
Setelah Rosetta pulang, aku memutuskan untuk membersihkan perlengkapan makan yang sudah kotor. Dengan pikiran yang masih kesal dengan Hinoto.
Mengapa dia tidak mengatakan sedikitpun tentang Rosetta, entah mengapa itu sangat menggangguku. Apalagi setelah melihat kedekatan mereka berdua.
Semua sudah rapi dan bersih, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Sekilas aku berpikir untuk langsung kembali saja ke rumah tetapi semua itu aku hempaskan begitu saja. Karena saat ini pasti Lexi sudah tertidur dan aku tidak ingin mengganggunya.
Saat memasuki kamar aku melihat Hinoto yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Aku berjalan menuju almari guna mengambil pakaian tidur.
Setelah itu aku berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur secara perlahan. Karena aku tidak ingin membangunkan Hinoto.
Posisi tubuhku membelakangi Hinoto karena aku masih kesal padanya sehingga aku malas melihat wajahnya. Dia memelukku dengan lembut, aku kira dia sudah tertidur rupanya dia masih terbangun.
"Ada apa denganmu, sayang?!" bisik Hinoto dengan lembut di telingaku.
Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang dia layangkan padaku. Yang aku inginkan adalah dia bicara jujur padaku tentang Rosetta, aku menunggunya untuk mengatakan itu tetapi dia tidak mengatakannya.
"Tidurlah, aku sudah lelah!" jawabku pada Hinoto sembari mematikan lampu kecil diatas nakas.
Hinoto menyalakan lampunya lagi lalu aku memadsmkannya lagi dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya Hinoto menarik tubuhku hingga aku saling berhadapan dengan wajahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kau terlihat berbeda? Apa aku melakukan hal yang membuatmu kecewa? Ayo katakan?!" Hinoto bertanya dengan nada kesal.
Mendengan pertanyaan Hinoto bukannya ingin menjawabnya, aku malah tidak ingin mendengar pertanyaan seperti itu. Apakah dia tidak merasakan ada yang ahrus dia jelaskan padaku? Ini makalah dia bertanya dengan bertubi-tubi.
__ADS_1
Aku langsung membalikkan tubuhku agar tidak melihat wajahnya yang kesal padaku. Seharusnya aku yang marah kepadanya, ini jadi terbalik malah dia yang marah padaku.
Dia masih saja memaksaku untuk mengatakan apa yang terjadi pada diriku. Aku mengatakan padanya jika sudah lelah dan ingin beristirahat tetapi dia tidak menginginkan diriku untuk beristirahat. Dan akhirnya aku kelas karena sikapnya yang terus memaksaku.
"Mengapa kau tidak mengatakan jika kau mengenal Rosetta?!" Aku bertanya dengan nada tinggi lalu membalikkan tubuhku agar tidak melihat wajahnya.
Setelah itu aku mematikan lampu dan berusaha untuk menutup kedua mataku untuk beristirahat. Sebenarnya aku menunggu jawaban darinya tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
Aku tersenyum masam, hatiku terasa sakit karena sikapnya seperti ini. Bukankah aku sudah mengatakan padanya jika tidak boleh ada rahasia diantara kita. Namun, buktinya dia sudah mulai tidak jujur padaku.
Hinoto kembali memelukku tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, aku membiarkannya karena saat ini aku sudah cukup lelah dengan semua pekerjaan di perusahaan dan juga masalah Lexi dengan ayah. Ditambah lagi dengan kehadiran Rosetta yang merupakan teman dari Hinoto.
Keesokan harinya aku terbangun karena ponselku berbunyi, setelah melihat layar ponsel. Aku menyimpannya kembali di nakas, saat hendak bangun tangan Hinoto melingkar di pinggangku. Aku berusaha melepaskannya tetapi sangat sulit karena pelukannya sangat erat.
"Lepaskan aku! Aku mau salat, bukankah kau juga harus salat?!" ucapku pada Hinoto.
Setelah mendengar ucapanku dia melepaskan pelakuknnya, aku segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi guna mengambil air wudu. Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi, kulihat dia sudah berada di balik pintu.
"Tunggu aku, kita salat bersama!" Hinoto berkata padaku lalu dia berjalan memasuki kamar mandi.
Aku menyiapkan perlengkapan untuk salat, tidak begitu lama dia keluar dari kamar mandi. Kami pun salat bersama, setelah selesai salat aku merapikan kembali perlengkapan salat.
Dan aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, hari ini aku bisa santai sedikit karena hari ini adalah hari minggu. Hinoto pun melakukan hal yang sama, dia memelukku dengan lembut.
"Sayang, apakah kau marah padaku? Apakah karena aku tidak mengatakan bahwa aku kenal dengan Rosetta?!" bisiknya padaku.
Aku hanya diam dan berpura-pura tertidur tetapi dia tahu jika aku tidak tertidur. Dia mengecup tengkuk leherku lalu menggigit daun telingaku dengan lembut sehingga membuatku merasa geli.
"Hentikan itu! Aku masih mengantuk!" Aku berkata sembari menjauhkan diri dari Hinoto.
Dia mengatakan jika tidak ada hubungan apa-apa antara dia dan Rosetta. Semuanya piur adalah kerja sebagai tim atau partner, sedangkan Himawari tidak mengenal Rosetta sebagai agen rahasia. Karena mereka tidak pernah bertemu.
Rosetta selalu mengerjakan misinya seorang diri tetapi dia pernah menjalankanisi bersama Hinoto. Itupun hanya satu kali selebihnya dia tidak pernah kembali bekerjasama.
Dan pertemuan di Indonesia merupakan pertemuan yang tidak disengaja. Karena partner Hinoto kala itu adalah Himawari, dia pun sempat terkejut karena kehadiran Rosetta.
Aku hanya diam mendengar penjelasan darinya, seharusnya dia mengakan sejak kami berada di Indonesia. Sehingga aku tidak merasa kesal melihat mereka berdua berbincang-bincang.
"Apa kau cemburu, sayang?!" Hinoto berbisik padaku.
Terdengar napas lembutnya di telingaku dan tawa kecil dari bibirnya. Aku tahu dia pasti merasa senang jika aku marah padanya karena masalah wanita. Untuk menghindari dari paertnayaan aku berpura-pura untuk tertidur.
Dia membalikkan tubuhku sehingga posisiku berubah menjadi terlentang. Dengan cepat dia sudah berada di atas tubuhku dengan senyum nakalnya.
"Apa yang kau lakukan? Aku masih mengantuk!" Aku berkata padanya.
Hinoto tersenyum, dia ingin mendengar jawaban apakah aku cemburu atau tidak. Dia begitu kekanak-kanakan, sekarang dia mulai mengancam akan melakukan hal-hal yang akan membuatku menangis jika aku tidak menjawab dari pertanyaan.
"Kau kekanak-kanakan sekali, cepat lepaskan aku!" ucapku seraya memerintahnya.
Dia tidak mendengar apa yang aku katakan, terlihat jelas dia tersenyum licik. Sepertinya dia benar-benar ingin melakukan sesuatu pada diriku. Dan yang pasti sesuatu itu bukan hal yang baik karena aku bisa merasakannya.
__ADS_1
"Cepat katakan— sebelum kau menyesal!" Hinoto mengatakan itu penuh dengan penekanan tetapi dengan senyum tipisnya.
Aku masih menutup mulutku dengan arti tidak ingin mengatakan apa-apa. Tangan kirinya memegang kedua pergelangan tanganku dengan erat. Lalu tangan kirinya mulai membuat gerakan kecil di bagian lekuk yang berada di antara pangkal lengan dan badan.
Dari mana dia tahu itu adalah bagian sensitifku jika ada yang menyentuhnya dan melakukan gerakan kecil maka aku tidak bisa menahan tawaku karena rasa geli.
Hinoto terus melakukan itu hingga aku tidak bisa menahan tawaku, aku tertawa dan tubuhku mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeramannya tetapi aku tidak bisa. Tenaganya begitu kuat menekan tubuhku agar tidak bisa lepas darinya.
"Hentikan ini Hinoto! Geli tahu...." Aku berkata agar dia melepaskan aku.
Dia mengatakan akan menghentikannya jika aku mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku tidak mau karena itu akan membuatnya merasa di atas awan.
Hinoto terus aja melakukannya sehingga aku tidak bisa menghentikan tawaku. Hingga air mataku menetes keluar karena aku tertawa tak henti-henti.
"Baiklah— aku menyerah! Hentikan dulu apa yang kau lakukan!" ucapku padanya.
Dia pun menghentikan kegiatannya dan menunggu aku menjawab apa yang dia ingin dengar. Namun, dia sudah mulai bersiap jika aku tidak mengatakannya.
Aku menarik napas untuk mengatur ritme pernapasanku karena sudah banyak tertawa. Setelah dirasa cukup teratur aku mengatakan, "Aku tidak suka kau dekat atau akrab dengan wanita lain! Dia tambah pula kau tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Rosetta. Apakah dia wanita yang pernah kau cintai?!"
Hinoto tersenyum saat aku mengatakan itu, lalu dia mengecup sekilas bibirku dengan lembut. Dia melepaskan kedua tanganku dan kembali merebahkan tubuhnya disampingku.
"Aku senang kau cemburu pada wanita yang dekat denganku tetapi kau harus tahu jika aku dan Rosetta tidak memiliki hubungan yang spesial! Dan alasan aku tidak mengatakan itu karena ayah, dia ingin memberikan kalian ujian." Hinoto bemagtaka itu aku tidak mengerti di bagian ayah ingin mengujiku.
"Apa maksudmu? Ayah mengujiku?!" Aku bertanya pada Hinoto.
Dia mengatakan jika perusahaan bunda akan diberikan pada Rosetta karena dia yang bisa memegang perusahaan. Dan itu juga yang diinginkan oleh bunda.
Ayah baru mengetahui jika itu adalah keinginan bunda setelah menemukan sebuah surat di ruang bacanya. Di dalam surat itu tertuliskan nama Rosetta karena menurutnya dia adalah orang yang tepat untuk mengurus perusahaan parfum.
Sedangkan aku dan Lexi lebih tepat mengurus perusahaan ayah jika suatu hari nanti ayah sudah tiada. Karena perusahaan yang ayah rintis dari bawah memiliki banyak musuh. Dan bunda sudah bisa melihat bahwa aku dan Lexi harus bekerja sama dan fokus.
Jika aku dan Lexi bersatu makan perusahaan akan semakin kuat karena kami saling melengkapi dan melindungi. Aku tidak menyangka bunda bisa memprediksikan semua ini.
Aku sudah salah paham pada ayah, kupikir ayah sudah berpaling dari bunda dan mencintai Rosetta. Rupanya ayah sangat menyayangi bunda. Tidak terasa air mataku menetes karena aku sudah salah menilai ayahku sendiri.
"Mengapa kau menangis, sayang? Bukankah aku tidak melakukan apa-apa!" Hinoto berkata sembari mengusap air mata di pipiku.
Lalu dia memelukku dengan lembut aku menangis dalam pelukannya. Sungguh aku telah salah pada ayah karena berprasangka buruk padanya. Padahal ayah tidak pernah melakukan hal yang membuat kami kecewa.
Hinoto berkata lirih padaku untuk menghentikan tangisku tetapi aku belum bisa. Karena masih terasa sangat sedih lalu memikirkan bagaimana ayah menerima sikap Lexi seperti itu.
Hinoto memberikan kecupan di kepalaku dengan lembut seraya mengatakan agar aku bisa menghentikan tangisku. Aku berusaha menghentikan tangisku.
Setelah aku tenang dan tidak menangis lagi, dia menatapku dengan lembut lalu mengatakan akan memberiku hadiah karena sudah menghentikan tangisku.
Dia mengecup lembut bibirku lalu bermain secara perlahan namun pasti lidahnya sudah bermain di dalam rongga mulutku. Aku berpikir ini bukanlah hadiah darinya. Tapi memang dia sudah berpikir mesum padaku.
Secara perlahan aku pun mulai mengikuti permainannya, setelah dia puas bermain dengan bibirku. Dia menghentikannya lalu tersenyum padaku.
"Ini namanya bukan hadiah, melainkan kau ingin bertindak mesum padaku!" ucapku padanya setelah dia melepaskan bibirku.
__ADS_1
Dia terkekeh karena aku mengatakan semua itu, tetapi semua itu benar. Jika hadiah bukan seperti ini lalu dia membisikkan sesuatu apakah aku ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Aku mengatakan tidak karena hari ini aku sedang tidak ingin melakukan hal-hal itu. Namun, aku mengatakan padanya jika ingin mengunjungi suatu tempat bersamanya hari ini. Dia pun menyetujuinya.