
Still Aiko POV
Aldo mengatakan membatalkan kepulangannya ke Jepang, dia menginginkan satu hari ini khusus untuk kami berdua. Dia mengatakan akan mengajak aku menikmati indahnya pulau Jeju.
"Apa kau sudah mengatakannya pada Lexi—jika kita masih akan tinggal di Korea?" tanyaku padanya.
Dia mengangguk lalu mengatakan Lexi memberinya izin untuk tinggal beberapa hari saja sebelum kembali ke Jepang dan memulai pekerjaan. Aldo juga mengatakan jika Lexi tidak akan menandatangani pembelian perusahaan Paper-Kr. Aku merasa lega, apa yang sudah di putuskan oleh Lexi. Itu artinya masih ada waktu untuk memeriksa semuanya dengan baik.
"Sayang, bersiaplah kita akan pergi ke pulau Jeju!" Aldo berkata sembari memelukku dengan lembut.
Aldo juga menyuruhku untuk menyiapkan beberapa pakaian karena dia akan menginap satu atau dua malam di pulau Jeju. Semua sudah siap, kami pun pergi ke pulau Jeju.
Setibanya kami di pulau Jeju, Aldo telah memesan sebuah kamar hotel sehingga aku bisa beristirahat dulu sejenak sebelum melanjutkan acara jalan-jalan hari ini.
"Kita akan kemana hari ini?" tanyaku.
"Kita hanya akan berkeliling saja," jawabnya singkat.
Aku bersiap untuk berkeliling bersama dengan Aldo, sudah terbayang indahnya panorama yang di suguhkan oleh pulau ini. Sudah sejak lama aku ingin menikmati pulau Jeju. Dan tidak menyangka akan menikmatinya dengan suamiku sendiri.
Aldo berjalan dengan santainya menelusuri setiap jengkal Yeomiji Botanical Garden. Dia mengatakan ingin berjalan santai berdua denganku, sebelum besok pagi berkeliling untuk menikmati air terjun yang terkenal di pulau Jeju.
"Apa kau menyukai ini, Sayang?" bisiknya padaku sembari tangannya memegang erat jari-jemariku.
Aku menatap wajahnya dengan lekat, terlihat senyum yang merekah dari kedua sisi bibirnya. Dari sorot matanya juga terlihat bahwa dia sangat menantikan jawaban dari pertanyaan yang di layangkan tadi padaku.
Dengan senyum lalu menjawab, "Aku suka."
Dia memendarkan kedua matanya untuk menikmati taman setelah mendengar jawabanku. Tangannya masih menggenggam erat tanganku seraya tidak ingin melepaskannya.
Aku duduk di sebuah kursi untuk mengistirahatkan kedua kaki yang sudah berjalan lama mengelilingi taman ini. Saat mata ini melihat seluruh bunga yang ada di sekeliling. Aku melihat ada seorang wanita yang kukenal. Apakah dia selalu mengikuti kemana kami pergi? Tidak mungkin 'kan dia ada di pulau Jeju begitu saja.
"Apa yang kau lihat, Sayang?" Aldo bertanya padaku.
Dengan cepat aku menunjuk arah Rein, sembari melihat bagaimana reaksinya. Terlihat dari sorot matanya rasa kesal dan marah tetapi dia masih bisa mengontrol emosinya.
Rein mendekat dengan senyum manisnya, dia bertanya padaku mengapa aku ada di sini bersama Aldo. Aku tersenyum. Iya hanya tersenyum mendengar apa yang dia tanyakan padaku.
"Mengapa kau ada di sini?!" Aldo bertanya dengan ketus.
Rein mendekat pada Aldo sembari menjawab apa yang dia tanyakan, Rein mengatakan jika dia mencari tahu keberadaan Aldo. Baginya tidak sulit mencari keberadaan orang yang terkasih.
Mendengar kata-kata itu membuatku terasa sakit, apa sebaiknya aku tinggalkan mereka berdua. Untuk membicarakan apa yang belum terselesaikan.
"Aku ke toilet—kalian lajut saja!" ucapku pada Aldo dan Rein sembari berjalan meninggalkan mereka berdua.
Hatiku terasa sakit, aku pikir Aldo akan mengejarku tetapi tidak. 'Apa yang kau pikirkan Aiko—bukankah kau sendiri yang memberi kesempatan pada mereka,' batinku.
Langkah kakiku terhenti saat ada yang menarik tangan, aku melihat ke belakang guna melihat siapa yang sudah berani menghentikan langkahku. Terlihat seorang pria yang menatap aku dengan sorot mata kemarahan, siapa lagi jika bukan Aldo.
Dia menarik tanganku, langkah kakinya begitu cepat dia menghempaskan aku sehingga aku hampir terjatuh. Namun, aku bisa menyeimbangkan tubuhku, di sampingku ada Rein yang sangat terkejut.
"Kau ingin tahu—siapa yang aku pilih, 'kan?!" ucapnya penuh dengan penekanan.
Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi sehingga Aldo terlihat sangat marah sekali. Sebenarnya apa yang sudah terjadi saat aku menjauh dari mereka tadi. Apakah Rein mengatakan hal-hal yang membuat Aldo marah atau tersinggung.
__ADS_1
Aldo sebenarnya apa yang akan dilakukannya, ini adalah di tempat umum. Aku merasa tidak enak jika Rein bersedih meski aku tahu jika dia sudah sangat bersalah. Entah mengapa aku tidak bisa membenci Rein karena sudah bermain api di belakangku bersama Isamu.
Lebih baik aku mundur saja, mungkin itu yang terbaik. Maafkan aku yang begitu lemah ini. Yang tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam hati ini. Sebagian hatiku menginginkan Aldo sebagian lagi aku ingin dia kembali pada wanita itu.
Brettt!
Aku terkejut saat Aldo memelukku lalu dia mengecup lembut bibirku di depan umum dan di depan Rein. Kecupannya begitu kuat, aku tahu jika di sedang marah. Apakah dia marah padaku karena hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Apa yang terjadi padamu—Aldo? Bukankah kau sangat mencintai aku? Mengapa kau bersama dia?!" pekik Rein yang membuat semua orang melihat kami.
Aku sungguh malu di perhatikan oleh mereka semua, mereka yang tidak tahu masalah yang sebenarnya akan menghakimi aku. Mereka pasti menganggapku wanita yang sudah merebut kekasihnya.
Mulai terdengar omongan mereka yang mengatai, aku bisa mengerti bahasa mereka semua. Hatiku sangat sakit mendengar semua itu, aku melepaskan diri dari dekapan Aldo. Berlari sekitar tenaga yang aku miliki, sudah tidak ada niat hati memikirkan Aldo.
Semua ini salahnya sehingga aku merasa sakit seperti ini, terdengar teriakan Aldo yang memanggil namaku. Namun, aku tidak mau menghentikan lariki. Tidak tahu mengapa aku bisa menjadi Aiko yang sangat lemah.
Seharusnya aku bisa membalas semua perkataan Rein, aku bisa mengatakan apa yang sebenarnya yang terjadi. Mengapa aku bisa sebodoh ini? Mengapa aku tidak bisa menjadi diriku yang biasanya. Aku yang kuat dan tidak pernah bisa kalah oleh serangan seperti itu.
"Berhenti Aiko!" teriak Aldo padaku.
Brett! Aldo berhasil menangkap tangan, seketika aku terjerembab kedalam pelukannya. Dia mengatakan kata-kata yang membuatku tenang tetapi aku masih belum bisa menerima semua itu. Mengapa aku begitu lemah, aku begitu bodoh.
"Tenangkan dirimu," Aldo berbisik lalu melepaskan dekapannya.
Dia menatapku dengan lekat, menghapus setiap tetes air mata yang sudah membasahi kedua pipiku. Dia terus mengatakan sesuatu untuk menenangkan diriku, dia memapah aku menuju mobil lalu kami pergi dari taman itu.
Dalam perjalanan aku hanya diam, tidak terniat sama sekali untuk mengucapkan sepatah kata pun. Hati masih terasa sakit dengan apa yang baru saja terjadi. Dan aku sudah bertindak bodoh, memperlihatkan sisi terlemah aku pada semua orang termasuk Aldo serta Rein.
Setibanya di kamar hotel aku hanya duduk, memikirkan apa yang harus di lakukan. Matahari sudah terlihat gelap, segelap hatiku yang bodoh ini yang tidak bisa menahan emosi.
"Apa kau sudah tenang, Sayang?!" Aldo bertanya padaku dengan lembut.
Dia tersenyum, membuatku semakin kesal. Aku terus mencecarnya dengan perkataan yang sangat buruk bagiku. Namun, dia hanya tersenyum saja. Apa yang dia pikirkan, bukannya dia akan sangat marah jika aku berkata sudah keluar dari jalurnya.
Aldo mendekat, dia mendekapku dengan lembut lalu. Terdengar jelas olehku dia mengatakan, "Aku suka jika kau seperti ini—aku harap hanya di depanku saja kau selemah ini! Jangan perlihatkan sisi lemah kau pada orang banyak termasuk Rein."
Kata-katanya membuat aku merasa tenang, entah mengapa itu yang aku rasakan. Dia menggendongku dengan lembut lalu membisikkan sesuatu, "Karena kau telah membuat kesalahan—sekarang waktunya hukuman."
Aku terdiam, mengingat kembali apa yang menjadi kesalahanku. Saat sedang berpikir dia menghempaskan aku begitu saja ke atas tempat tidur. Senyumnya terlihat penuh dengan rasa ingin memakanmu tanpa menyisakannya.
***
Ponsel Aldo berdering, aku melihat di layar ponselnya tertera nama Rein. Aku tidak berani untuk mengangkat ponselnya, meski terdengar Aldo berteriak padaku agar mengangkatnya.
"Mengapa kau tidak mengangkatnya?" tanyanya padaku.
Dia terlihat terburu-buru keluar dari kamar mandi sehingga hanya menggunakan sehelai handuk yang terikat di pinggangnya. Dia tidak menyadari jika di punggungnya masih ada sabun yang menempel.
Aldo melihat ponselnya, lalu dia mengangkatnya setelah selesai bicara dia menutup ponselnya.
"Rein ingin bertemu dengan kita," ucap Aldo.
Aku tersenyum, mengatakan padanya jika dia harus melanjutkan membersihkan dirinya karena sabun masih menempel di punggungnya. Dia tersenyum lalu menarik tanganku untuk membantunya membersihkan dirinya dari sabun yang masih menempel itu.
"Kau jangan manja! Cepatlah—aku akan bersiap!" ucapku padanya sembari melepaskan diri darinya lalu keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Selesai sudah bersiap untuk menemui Rein begitu juga dengan Aldo. Kami pergi ke tempat di mana Rein mengundang kami untuk bicara. Aku harap dia bisa menerima semuanya dan bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
Terlihat Rein yang sudah duduk menunggu kedatangan kami, dia di temani oleh tuan Dae-Jung. Apa yang akan dia lakukan dengan tuan Dae-Jung, apakah dia akan mengacaukan kerja sama kami denganya. Jika Rein melakukan itu maka dia akan semakin dibenci oleh Aldo.
Kami duduk saling berhadapan dengan Rein dan tuan Dae-Jung, terlihat dengan jelas mata Rein sembab. Apakah dia semalaman menangis karena mengetahui pernikahan kami, apakah dia masih belum menyerah dengan semua ini.
"Apa yang menjadikan alasan kalian menikah?!" Rein bertanya tanpa basa-basi.
"Semuanya sudah menjadi diputuskan sebelum kita berdua bertemu!" jawab Aldo pada Rein.
Rein bertanya kembali, mengapa semua sudah ditentukan dan siapa yang menentukannya. Nyonya Alin, dia lah yang menentukan semuanya sebelum tiada. Aldo menjawab dari setiap pertanyaan Rein, aku ingin sekali bertanya padanya mengapa dia bisa berhubungan dengan Isamu. Padahal dia sudah tahu jika Isamu adalah tunanganku.
Aldo dan Rein masih saling bertanya dan menjawab, sedangkan aku hanya diam mendengar mereka berdua berdebat begitu juga dengan tuan Dae-Jung. Aku terus memperhatikan dia karena dari wajahnya terlihat sangat tenang, apakah dia mencintai Rein? Itu adalah pernyataan pertama yang aku lihat jika memperhatikan tatapan tuan Dae-Jung pada Rein.
"Mengapa kau bermain api dengan Isamu?!" tanyaku yang membuat suasana menjadi hening.
"Aku sudah menyesali semuanya—munvkon saat itu terpengaruh oleh Isamu sehingga dia berhasil merayuku!" jawabnya.
Mendengar jawabannya begitu enteng, apakah dia tidak menyadari akibat perbuatan dia dan Isamu sudah menghancurkan dua hati sekaligus. Yaitu hati aku dan Aldo, di tambah lagi dengan kematian ayahku yang di sebabkan oleh Isamu.
"Hubungan kita sudah berkahir dan tidak mungkin untuk kita kembali bersama lagi! Semua itu sudah keputusan finalku!" Aldo berkata dengan serius.
"Semua ini adalah salahmu Rein, mengapa kau menyia-nyiakan pria yang sangat mencintaimu! Sekarang semuanya sudah berkahir—terimalah kenyataanya dan mulailah hidup barumu bersamaku!" Tuan Dae-Jung berkata dengan lembut padanya lalu memegang tangannya dengan sangat lembut.
Aku yakin jika dia bisa membahagiakan Rein, karena hatiku percaya akan hal itu. Mudah-mudahan kalian bisa berbahagia. Rein menangis mungkin itu adalah air mata penyesalan, seharusnya sebelum melakukan hal-hal yang berakibat buruk di pikirkan lebih dalam.
Pembicaraan menjadi semakin dalam, aku hanya bisa memperhatikan mereka semua, karena saat ini adalah waktunya bagi Aldo untuk menyelesaikan semua masa lalunya. Mungkin setelah ini dia akan merasa tenang dengan meninggalkan semua masa lalunya dan menutupnya rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam.
"Saya harap Tuan Dae-Jung bisa menjaga Rein dengan baik—jiks bisa mintalah dia pada keluarganya yang di Jepang! Mungkin kakaknya akan merasa senang dengan keseriusan Anda!" ucap Aldo padan tuan Dae-Jung.
"Baiklah—saya akan berkunjung ke Jepang dalam beberapa hari ini, selain untuk mengurus kerja sama kita saya akan meminta dengan serius pada kakanya Rein." Jawab tuan Dae-Jung dengan penuh keyakinan.
Pembicaraan kami selesai aku memutuskan untuk kembali ke hotel saja, karena aku sedang malas untuk pergi ke luar. Rasanya lelah dengan semua yang sudah terjadi tetapi aku sudah lega akhirnya ada seorang pria yang bisa melindungi Rein dengan baik.
"Bagaimana menurutmu tentang tuan Dae-Jung?!" tanyaku pada Aldo yang sedang fokus menyetir.
"Dia orang yang baik—aku yakin dia bisa membimbing Rein menjadi lebih baik lagi!" jawabnya padaku.
Dia bertanya balik padaku, apakah serius tidak akan pergi ke suatu tempat. Aku mengatakan padanya hanya ingin berada di kamar hotel bersamanya. Hanya berdua, iya hanya berdua itu yang aku inginkan saat ini.
Terlihat dari kedua sisi bibirnya tersenyum, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Jangan bilang jika pikiran mesumnya sedang menggelayutinya. Aku menghela napas dengan pelan dan menyandarkan kepalaku ke kursi mobil.
Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur setelah masuk ke dalam kamar hotel, Aldo merebahkan tubuhnya di sampingku. Kukatakan padanya ingin beristirahat sejenak jadi dia tidak boleh mengganggu.
Baru saja aku mengatakan itu, tangannya sudah nakal dan berjalan menelusuri setiap lekuk tubuhku. Dia memelukku, mengecup tengkuk leher, sehingga aku merasakan setiap napas yang keluar dari hidungnya. Terasa panas tetapi begitu menggelikan, apakah dia sudah menginginkannya. Bukannya sudah tadi malam kita melakukannya, dia begitu bersemangat beberapa hari ini. Aku mulai sedikit kelelahan menghadapinya permainannya.
"Apa kau tidak lelah, Sayang?" Aku bertanya dengan lirih karena dia terus saja membuatku merasa kegelian.
Dia tidak menjawab apa yang aku tanyakan, dia masih saja bermain dengan tubuhku. Dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Aku sudah tidak bisa menolaknya, dia begitu menginginkannya.
Kecupan lembut melayang ke bibir, dia begitu lembutnya sehingga aku mengikuti setiap permainannya. Dia melepaskan pakaianku secara perlahan dan pasti, dia mulai melancarkan serangannya dengan sangat lembut tetapi sangat kuat. Sehingga aku hanya bisa menikmati setiap permainannya.
Selesai dengan pergulatan kami, aku sudah tidak bisa berkata apa-apa. Meski terasa lelah tetapi aku begitu bahagia dan menikmatinya. Aku penadangi wajah Aldo yang terlihat tenang tertidur dia sampingku. Aku harap kita berdua tidak akan pernah terpisahkan, mungkin aku sudah mulai mencintainya dan tidak ingin kehilangan dirinya.
___________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa like, komen yang membangun, serta jadikan favorit ya 😉
Nah jangan terlupakan juga follow Instagram @macan_nurul ya