
Hari demi hari kami jalani dengan bahagia, aku Alex dan kedua anak kami. Alex masih melakukan terapi nya, tak terasa sudah delapan tahun dari kesadaran nya dari koma. Tapi Alex belum bisa berjalan seperti semula.
Aku melihat anak-anak bermain dan bercanda dengan Alex, aku begitu sangat bahagia dengan keakraban mereka. Aku ingin semua kebahagian ini tidak hilang.
"Nyonya!" Sapa Ari padaku, dia ingin memberikan sebuah informasi padaku. Ada sebuah undangan dari sebuah perusahaan, dimana perusahaan itu akan bekerja sama dengan perusahaan kami.
Aku tidak tahu apakah Alex akan menyetujui ini atau tidak, Alex selalu menolak untuk hadir di acara seperti itu. Tapi pesta ini sangat penting bagi perusahaan. Tidak ada pilihan lain kami harus menghadirinya.
Akan aku coba bicara padanya, agar dia mau hadir di pesta itu. Mudah-mudahan aku bisa menyakinkan nya, hahhh pasti sangat sulit membujuknya dia sangat keras kepala.
Tak terasa hari begitu cepat, sekarang sudah malam saja. Rutinitas ku sama seperti biasanya, menemani Alex di ruang baca. Anak-anak pun sudah berada di kamar mereka masing-masing.
"Sayang!" Aku memanggil Alex yang sedang fokus membaca dokumen nya.
"Mmmm...!" Jawaban yang tidak Kusuka dari dia, kalau aku panggil. Ingin rasanya aku jitak kepalanya, tapi aku tak bisa melakukan hal itu.
"Besok malam ada undangan untuk menghadiri sebuah pesta, kita di haruskan hadir disana!" Aku berharap dia menyetujui untuk hadir di pesta besok malam. Alex menghentikan membacanya, dan menutup berkas yang baru dia baca.
"Kemarilah!"
Alex menyuruhku untuk mendekatinya, dan menyuruh ku untuk duduk di pangkuannya. Aku mengikuti apa yang dia perintahkan.
"Bukankah kau sudah tahu, semenjak aku terbangun dari koma, sampai sekarang aku tidak mau menghadiri pesta apapun. Ku harap kau bisa mengerti!"
Haaaah aku tahu dia pasti akan menolaknya, tahu gitu aku tidak usah bertanya padanya, untuk ikut menghadiri pesta besok malam. Aku sedikit merasa kecewa, dengan penolakan Alex untuk hadir bersama ku di pesta itu. Tapi apa boleh buat aku harus menghadirinya sendiri.
Tanpa sepatah kata pun, aku beranjak pergi dari Alex. Tapi Alex menarik tanganku, sehingga aku terduduk di pangkuannya lagi. Dia memeluk ku dengan erat, aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" Entah apa yang ada dipikirannya, apa sifat mesum nya kembali lagi. Aku berusaha melepaskan diri, tapi sulit sekali tenaga Alex sangat kuat.
"Aku tidak akan melepaskan mu! Aku belum menghukum mu, atas tindakan gegabah mu kemarin. Yang menyerang musuh tanpa seorang pengawal pun!"
Ternyata dia marahnya belum selesai, untuk kecerobohan ku menyerang musuh tanpa pengawal.
"Apakah kau khawatir padaku?" Aku tahu apakah dia marah pada ku atas ketidak mampuan ku untuk melindungi mama Rahma.
"Kau bodoh istri tengilku! Mana mungkin aku tidak khawatir padamu, aku begitu mencintaimu. Sebetulnya aku ingin memarahi mu atas kecerobohan mu itu, tapi aku tidak sanggup, apalagi melihatmu jatuh sakit! Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi!"
"Aku pikir kau marah padaku atas kecelakaan yang menimpa mama Rahma?" Ucap ku dengan nada sedih, sebab setiap kali aku mengingat kejadian itu, aku merasa bahwa diriku tidak mampu, untuk melindungi orang yang kusayangi.
"Aku tidak marah padamu, aku marah pada diriku sendiri kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa, demi orang yang kusayangi. Jadi hentikan semua rasa bersalahku, ini adalah takdir yang harus kita jalani. Yang terpenting adalah aku sedang menyelidiki, siapa orang yang terus menyerang ku!"
Alex menekan tombol di kursi rodanya, secara perlahan kursi roda bergerak. Dia menekan salah satu tombol di remote control, secara perlahan sebuah pintu terbuka, itu adalah pintu yang menghubungkan ruang baca dan kamar kami.
Aku membatu Alex mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, kubuka kancing kemejanya satu persatu. Setelah terbuka semuanya, aku melepaskan kemejanya. Aku mengambl pakaian tidurnya, dan akan mengenakannya pada Alex. Namun Alex menarik ku, dia mencium bibir ku dengan lembut.
Aku pun terbawa oleh suasana, begitu lembutnya dia menciumku. Akhirnya aku membalas ciumannya, aku merasakan Alex kembali menjadi Alex yang mesum. Alex semakin memanas, aku hampir kehabisan napas. Alex yang tahu aku kehabisan napas, dia melepaskan ciumannya. Sehingga aku bisa mengambil napas, dia hanya tersenyum melihatku.
"Kenapa? Kau menjadi tidak pandai membalas ciuman ku?" Alex menyidir ku dengan kata-katanya. Ahhh kenapa dia kembali bersikap mesum lagi sih.
"Huh sejak kapan kau kembali menjadi mesum lagi sih?" Aku berkata sambil menstabilkan napasku.
"Hahaha, aku rindu dengan semua ini! Sayang...," Bisiknya di telingaku, sehingga aku merasa kegelian.
"Hentikan itu Alex, kenapa kau selalu berbisik di telingaku!"
__ADS_1
Seketika Alex tertawa terbahak-bahak, dan memelukku dengan lembut. Seakan-akan dia tidak mau melepaskan ku, aku pun sama tidak ingin lepas darinya. Aku merindukan suasana seperti ini, aku sangat mencintai imamku ini.
*****
Keesokan harinya, aku bertanya sekali lagi pada Alex, tentang pesta nanti malam. Alex masih belum bisa memutuskannya, aku kesal dengan sikapnya yang keras kepala ini. Akhirnya aku menghentikan semua harapan ku, pergi dengan Alex ke pesta malam ini. Aku pun berpamitan pada Alex, untuk pergi ke kantor dan mengantarkan Lexa dan Lexi ke sekolah.
Teryata di kantor sudah ada yang menunggu, dia adalah Anna teman kuliah ku sewaktu di Kairo. Sekarang dia menjadi adik ipar ku, dengan kata lain dia istri dari Adam. Entah apa yang akan di curhatkan pada ku hari ini, yang pasti aku akan menjadi pendengar setianya.
"Assalamualaikum Ann?"
"Waalaikumsalam Lin!"
Anna mulai bercerita, tentang semuanya dari mulai Adam sampai Annisa. Terkadang jika Anna sedang kesal pada Adam, dia langsung marah-marah padaku. Aku pun bingung yang buat salah Adam, kenapa Anna marah padaku.
Tapi aku selalu tersenyum mendengar cerita dan keluhannya. Aku tahu dulu dia sempat mau dijodohkan oleh orang tuanya. Namun terjadi suatu kejadian, yang menyebabkan Anna tidak jadi menikah dengan orang yang di jodohkan ya.
Dulu Anna dan Adam tidak pernah akur, selalu saja bertengkar seperti anak kecil. Aku yang selalu menjadi penengah antara mereka, dan entah sejak kapan Anna pun mulai belajar ilmu seni bela diri. Di kala dia sedang kesal dia selalu datang padaku, dan mengajakku bertanding di dalam ring.
Ternyata bela dirinya sudah cukup, untuk melindungi dia dan orang yang dia sayangi. Aku tidak menyangka saja Anna yang feminim berubah sangar jika sudah marah. Dan mulai mengeluarkan jurus-jurusnya.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab berikutnya 😊
aku siap menampung poin kalian kalau mau mendukung novel ku 😚😚
ku tunggu dukungan kalian ya jangan lupa vote biar aku semakin maju ke depan kalau tidak juga tak masalah 😏
__ADS_1