
Still Lexa POV
"Aku mohon Lexa, beri aku kesempatan terakhir untuk memperbaikinya! Pernikahan kita harus berlangsung!" Mamoru berkata padaku.
Aku hanya diam, karena aku sudah memberikan dia kesempatan untuk mengatakan yang sejujurnya namun dia telah menyia-nyiakan semua kesempatan yang aku berikan.
Sekarang aku hanya bisa pasrah dengan keputusan ayah, karena aku berjanji jika aku tidak menikah dengan Mamoru maka aku akan menikah dengan pria pilihan ayah.
"Kau sudah tidak berhak lagi meminta kesempatan pada putriku! Karena aku sudah memutuskan untuk menikahkan dia dengan pria pilihanku!" Ayah berkata dengan dingin, sehingga membuat Mamoru terdiam.
Aku terdiam sesaat, aku pikir apa yang ayah rencanakan tidak akan ayah laksanakan sekarang. Namun aku tidak bisa membantah lagi, karena aku sudah cukup membuatnya bersedih dan kecewa.
"Tuan aku mohon maafkan aku dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!" Mamoru berkata dengan memelas agar dia dimaafkan oleh ayah.
Namun Lexi segera menarik Mamoru lalu memberikannya pukulan, karena aku tahu Lexi sudah menahannya sejak lama. Tuan Eiji pun tidak bertindak, dia terlibat kecewa atas perbuatan putranya sendiri.
Meski Lexi telah menghajarnya namun Mamoru masih teguh dengan pendiriannya. Aku melihat kekesalan di mata ayah, sepertinya dia sudah tidak bisa bertahan dengan sikap keras kepala Mamoru.
"Hinoto masuklah!" Ayah memanggil Hinoto lalu mengatakan pada pemimpin pernikahan untuk melanjutkan pernikahanku dengan Hinoto.
Ayah juga memberikan berkas-berkas untuk pernikahanku dengan Hinoto. Jadi ayah sudah menyiapkan semua ini, apakah ayah menyadari bahwa akan terjadi peristiwa ini? Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran ayah.
Hinoto pun masuk dengan setelan jas bewarna hitam, dia berjalan mendekatiku. Dia tersentak tipis, entah apa yang ada dipikirannya. Namun setelah itu dia kembali dengan sikapnya yang dingin.
Aku melihat Mamoru yang begitu terkejut melihat kehadiran Hinoto. Dalam tatapan matanya ada begitu banyak kebencian yang dia layangkan pada Hinoto. Sebenarnya ada apa Antara Hinoto dan Mamoru.
"Hinoto ... Akhirnya aku bisa bertemu denganmu!" ucap tuan Eiji dengan senyumnya.
Aku semakin tidak mengerti dengan semua ini, mengapa tuan Eiji sangat senang bertemu dengan Hinoto. Sebenarnya siapa Hinoto ini? Yang disambut gembira oleh tuan Eiji namai di tatap dengan penuh kebencian oleh Mamoru.
__ADS_1
Sepertinya ayah sudah mengetahui semuanya, otakku terasa lelah. Aku sudah tidak ingin banyak berpikir lagi. Aku berjalan mendekati kursi yang tadi aku duduki. Begitupun dengan Hinoto dia duduk di sampingku.
Ayah menyuruh pemimpin pernikahan untuk memulai proses pernikahan. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Hinoto menjadi suamiku yang sah.
Aku tidak tahu harus merasa senang atau tidak, karena aku menikah dengan pria yang tidak aku cintai dan juga pria yang belum aku kenal sama sekali.
"Tidak! Pernikahan ini tidak sah! Apa yang kau lakukan padaku Hinoto? Kau menikamku dari belakang hah? Apa kau sudah merencanakan semua ini? Apakah kau berencana merebut semua orang yang ku cintai?" Mamoru berteriak, dia menghampiri Hinoto lalu menarik kerah kemajanya.
Aku sungguh kesal dengan yang dilakukan oleh Mamoru, aku menyuruhnya untuk melepaskan Hinoto. Namun dia tidak mau, terlihat jelas dia ingin mengejar Hinoto.
"Aldo! Usir pria ini dari rumahku! Aku sudah lelah menghadapi semua kelakuannya!" ucapku dengan nada marah.
Sudah cukup semua keributan yang dia lakukan, karena aku sudah puas mempermalukannya di depan umum dan juga di depan semua teman-temannya yang hadir di pesta ini.
Aldo pun langsung menarik Mamoru dan mengusirnya dari rumah, begitupun dengan wanita yang menjadi selingkuhannya. Aku sudah muak melihat mereka semua.
Aku masih bingung dengan apa di katakan tuan Eiji, ayah berkata padaku jika Hinoto adalah kakak dari Mamoru namun berbeda ayah namun satu ibu. Aku baru mengerti sekarang kenapa mamoru begitu membenci Hinoto.
Akhirnya upacara pernikahan pun selesai yang tersisa hanya Aiko, Himawari, Lexi, Aldo, ayah dan asisten Ari. Aku terduduk dia tas sofa karena lelah dengan pesta hari ini, apalagi menghadapi sikap Mamoru yang tidak tahu diri. Namu aku sangat senang dengan rencanaku yang bisa dibilang berhasil.
"Hai pengantin baru, kanapa kau senyum-senyum begitu?!" Aiko berkata padaku dengan nada menggoda.
Semua yang mendengar perkataan Aiko terkekeh-kekeh, aku sungguh dibuat malu oleh perkataan Aiko kali ini. Untuk menghilangkan rasa malu ku, aku mengatakan sangat bahagia karena rencanaku berjalan dengan baik.
Hari sudah larut malam, aku menyuruh Aiko dan Himawari untuk menginap malam ini. Aku ingin tidur bersama mereka malam ini untuk merayakan keberhasilan rencana kami.
Mereka menyetujui untuk menginap malam ini di rumah, namun mereka memilih tidur di kamar tamu. Aku mengatakan kita tidur bersama saja dalam satu kamar. Mereka malah terkekeh mendengar usulanku.
"Apa yang kau katakan Lexa? Malam ini kau harus tidur di kamarmu bersama suamimu?" Lexi berkata padaku namun aku tahu dia sedang menggodaku.
__ADS_1
Aku melempar bantal yang ada di kursi tepat ke arahnya, namun dia bisa menangkap dengan tepat. Aku sungguh kesal karena mereka semua menggodaku.
"Sudahlah kalian terus saja membuatku kesal! Lebih baik aku kembali ke kamarku saja!" Aku berkata lalu berdiri dan berjalan menuju kamar.
Aku mendengar ayah berkata pada Hinoto untuk ikut ke ruang kerja ayah. Aku tidak peduli sekarang yang aku inginkan adalah berendam dan melepaskan gaun dan semua aksesoris yang menempel di tubuhku.
Aku membuka pintu kamar, aku tidak menyangka kamarku sudah dihias sedemikian rupa. Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini, karena tadi pagi aku berada di ruang yang berbeda untuk persiapan pernikahan.
Aku tahu pasti ini ulah Lexi, karena siapa lagi kalau bukan dia yang melakukannya atau mungkin ayah. Karena ayah sudah tak aku Kana menikah dengan Hinoto. Arrgghhhh sudahlah lebih baik aku melepaskan semua benda yang menempel di tubuhku.
Semua perhiasan sudah aku lepaskan, namun aku kesulitan untuk melepaskan ritsleting yang tepat di punggungku. Aku berusaha untuk membuka ritsleting itu namun tetap tidak bisa.
"Apa kau butuh bantuan?" bisik seseorang di telingaku dengan suara lirihnya.
Aku terkejut dengan kehadiran Hinoto di kamar, aku pikir dia masih lama bersama ayah. Karena jika ayah sudah berada di ruang kerjanya makan akan keluar sangat lama.
Aku mundur satu langkah, lalu aku mengatakan bisa melakukannya sendiri. Aku berusaha melepaskan ritsleting namun masih tidak bisa juga, aku sungguh dibuat kesal karena ritsleting.
Hinoto mendekatiku lalu membantuku membuka ritsleting gaunku, setelah terbuka aku bergegas masuk ke kamar mandi. Entah mengapa aku merasa tidak aman jika berada di dekatnya.
Aku berharap dia tidak bertindak mesum malam ini, karena aku ingin mengistirahatkan otak dan tubuhku ini. Aku tidak sanggup untuk melawannya jika dia bertindak mesum.
Entah mengapa aku masih memikirkan Mamoru, aku merasakan bahwa dia tidak akan menyerah begitu saja. Mengapa aku merasa dia akan melakukan hal yang sama seperti Leo Ahmad terhadap bunda.
Jika dia berani melakukan hal yang buruk pada keluargaku, aku tidak akan memaafkannya. Aku akan melindungi keluargaku meski aku harus berjuang lebih keras lagi.
Apakah Hinoto adalah pria yang bisa membantuku untuk melindungi orang-orang yang kusayangi atau dia hanya akan bertindak egois. Arrgghhhh sudahlah Lexa lebih baik kau memikirkan hal-hal yang baik untuk saat ini.
Kau harus percaya bahwa keputusan ayah sudah tepat. Karena ayah tidak mungkin salah menilai seorang suami untukku. Karena bunda pernah berkata saat berada di dalam mimpiku, bahwa aku harus percaya pada keputusan yang di buat ayah.
__ADS_1