
Lexi POV
Setelah terbebas dari kejaran musuh, kami pun sampai di rumah dengan selamat. Aku menyuruh Lexa untuk segera membersihkan diri, kulihat lengannya terluka. Aku pun masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaian bersih kemudian aku pun masuk ke kamar mandi. Kulihat luka memar di sekujur tubuhku, dan luka di pelipis mataku. Semua terasa sakit, namun tidak sesakit setiap berpipi dan mengingat kematian bunda.
Aku sudah selesai dengan rutinitas ku membersihkan badan, aku teringat dengan luka lengan Lexa. Aku segera mengambil kotak P3K dan menuju kamar Lexa. Ku ketuk pintunya, dia tidak menjawab mungkin dia masih di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian ku ketuk kembali pintu kamar Lexa, dia menyaut dan menyuruhku masuk. Aku pun membuka pintu dan memasuki kamar Lexa.
Kulihat dia sedang terduduk sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Aku duduk di sampingnya, pas dengan posisi lengannya yang terluka. Ku buka kotak P3K, ku keluarkan semua obat yang ku butuhkan untuk luka Lexa. Kukatakan padanya untuk menahan rasa sakitnya, dia menganggukkan kepalanya. Aku tahu ini pasti sangat sakit, untung saja luka sayatan pedang tidak terlalu dalam. Jika dalam maka dia harus ke rumah sakit dan di jahit.
Saat ku oleskan obat pada lengannya yang terluka, dia berusaha menahan rasa sakitnya. Dia menggenggam erat selimut yang dia duduki. Ku tiup luka itu agar mengurangi rasa sakitnya, "tahan sedikit! Setelah selesai kau istirahat saja!" Perintahku pada Lexa.
"Maafkan aku! Karena sudah menghilangkan dokumen itu!" Lexa berkata dengan rasa penyesalan. Aku menepuk pundaknya dengan lembut, agar dia tidak perlu memikirkan maslah itu.
"Tenang saja, nanti juga dia akan menghubungimu! Karena barang yang dia inginkan ada ditangan mu kan!?" ucapku guna menenangkannya agar dia bisa segera istirahat.
Dia pun mengangguk menandakan dia setuju dengan apa yang aku katakan. Aku pun keluar dari kamar Lexa dan menuju kamar ku, aku pun mengobati semua luka yang ada di tubuhku. Tak berselang lama Lexa masuk ke kamarku, dia duduk di sebelahku dan sekarang giliran dia yang mengobati ku. Sebutir air mata menetes, aku terhenyak melihatnya menangis.
"Jika memang dia orang yang telah menyebabkan bunda tiada, apa alasan dia berlaku kejam seperti ini pada keluarga kita? Mungkin setelah dia tahu siapa kita, dia akan semakin menggila ingin menghancurkan kita!" Lexa berkata sembari meneteskan air matanya.
Aku tak bisa menghentikan tangisannya, biarkan saja dia mengeluarkan semua kesedihan yang ada di hatinya. Mungkin dengan menangis seperti ini dia akan merasa tenang. "Aww!" Tak sengaja suara ku keluar menahan rasa perih, akibat obat yang dioleskan oleh Lexa.
Lexa pun meniup luka ku yang baru dia oleskan, mengapa kita berdua suka meniup luka yang terasa sakit. Karena bunda suka melakukan hal itu pada kami, jika kami terluka dan mengerang kesakitan. Bunda selalu meniup luka kami dan tersenyum sembari berkata, "kalian anak Bunda yang hebat, kalian pasti bisa menahan rasa sakitnya!" Setelah berkata seperti itu bunda mengecup kening kami.
__ADS_1
Begitu banyak kenangan bersamamu yang tidak mungkin kami lupakan. 'Lindungi kami Bunda, agar kami bisa menghukum orang yang sudah menyebabkan kau tiada!' batinku. Setelah Lexa mengobati semua luka ku. Aku mendapatkan sebuah pesan dari Aldo, dia mengajakku untuk bertemu di suatu tempat. Dia tidak ingin ke rumah karena dia merasa ada yang mengikutinya. Aku pun segera menyuruh Lexa untuk beristirahat, sedangkan aku akan pergi menemui Aldo.
"Kamana kau akan pergi?! Aku ikut dengan mu!" ucap Lexa padaku, namun aku tidak mengijinkannya untuk ikut pergi bersama ku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, sudah cukup luka yang dia terima hari ini.
Aku memberikan pengertian padanya agar dia istirahat di rumah, meski butuh perjuangan untuk membujuknya agar tidak ikut. Akhirnya dia menuruti perintahku, aku sayang kau Lexa jadi jangan kau menjadi lemah. Kau harus lebih kuat dibandingkan Alexa yang dulu. Karena kita sudah mengetahui siapa musuh kita sebenarnya, pasti tidak lama lagi dia pun akan mengetahui siapa kita sebenarnya.
Aku pun bersiap untuk segera menemui Aldo, mungkin ada hal penting yang akan dia beritahukan padaku. Kami janji bertemu di Harajuku, aku sengaja mengajaknya bertemu disana. Karena disana banyak orang berlalu-lalang, sehingga memudahkan kita untuk cepat menghilang. Aku melihat Aldo sedang berdiri, dia mengenakan sebuah topi. Aku dapat mengenalinya, karena kami sudah cukup lama bermain dan belajar bersama.
Aku dekati dia dan berpura-pura sedang menunggu orang lain, sembari memainkan handphone ku. Aldo yang sudah menyadari kedatangan ku, dia memberikan sebuah USB. Setelah itu dia pergi meninggalkan ku tanpa sepatah katapun. Begitupun dengan ku, aku pergi menuju sebuah cafe. Aku memesan secangkir kopi, kunikmati susasan malam ini. Kulihat banyak orang yang berlalu-lalang, pandanganku tertuju pada satu titik. Seorang wanita berhijab, dia sedang berjalan sendirian.
Aku terus saja memandanginya, 'sedang apa dia di sini?!' gumamku. Seharusnya dia tidak berada disini apalagi dia sendiri, itu sangat berbahaya baginya. Lebih baik ku ikuti dia, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Aku harus cepat, jangan sampai aku kehilangan jejaknya. Aku berjalan dengan cepat, sehingga aku bisa berada di belakangnya. Aku tidak mau membuatnya tidak nyaman dengan kehadiranku.
Saat berbelok aku kehilangan dia, kemana sebenarnya dia pergi? Apakah dia berbelok arah ke kanan atau ke kiri?! Sial, kenapa aku harus kehilangan dia sih. Aku terus mencari arah yang tepat, aku berusaha mendengarkan suara di sekitar. Siapa tahu ada suara yang mencurigakan. Ku harap tak terjadi sesuatu padanya, jika terjadi sesuatu padanya. Aku akan sangat menyesal karena tidak bisa melindunginya.
Bak!
Brugggg!
Terdengar suara perkelahian, aku segera mencari dimana suara itu berasal. Aku terus berlari mencari gadis itu, sungguh aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Sudah cukup aku kehilangan orang yang kusayangi. Tidak lagi! Tidak aku sungguh tak ingin merasakan hal itu lagi. Akhirnya aku menemukannya, kulihat dia sedang berkelahi. Ternyata dia tidak membutuhkan bantuan ku, ternyata dia hebat. Aku tersenyum melihat para preman yang jatuh tersungkur satu per satu.
Tak kusangka dia memang hebat, kuakui kau sudah bertambah hebat. Itu bagus, sehingga kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dia menyadari keberadaan ku. Dia tersenyum padaku, sembari melanjutkan perkelahiannya. Saat aku hendak mendekatinya untuk membantunya, dia leranngku dengan memberikan sebuah kode. Aku pun berhenti, hanya melihatnya yang sedang bersenang-senang.
__ADS_1
Aku tidak ingin mengganggu kesenangannya, biarkan saja para preman itu tahu rasa. Mereka pikir wanita itu lemah, aku terkekeh membayangkan jika yang berada di posisi gadis itu adalah Lexa. Mungkin para preman itu tidak akan dilepaskan sedikitpun oleh Lexa, meski mereka menyembah dan meminta ampun pada Lexa. Aku ingin tahu apakah gadis ini bisa bertindak kejam atau tidak?
Tak lama kemudian para preman sudah tak bertenaga lagi, mereka sudah kalah oleh seorang gadis. Aku tersenyum dan memetiknya selamat dengan menepuk kedua tanganku. Dia melihatku dan tersenyum, dia melangkah mendekati. Dengan senyum khasnya itu pria mana yang tidak akan tergoda olehnya.
____________________________________________
Siapakah gadis berhijab ini? Yang membuat Lexi tersenyum melihat aksinya?
____________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
Atau bisa masuk ke dalam group yang ada di aplikasi Noveltoon
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like, love atau jadikan favorit 😍
Jangan lupa vote ya biar berada di barisan atas hehehe...
__ADS_1