
Still Lexa POV
Aku sangat terkejut saat membuka kedua mataku, dia sedang menggendong. Kulihat jalan yang kulewati bukanlah rumahku, ini adalah apartemen yang dulu aku pernah datangi sewaktu aku terjatuh tidak sadarkan diri.
"Turunkan aku! Mengapa kau membawaku kemari? Apakah kau lupa apa yang kukatakan padamu tadi? Bahwa aku sudah menjadi milik orang lain! Itu artinya aku sudah memiliki seorang suami!"
Entah apa yang ada dipikirannya, aku sudah mengatakan yang sebenarnya dia masih terlihat tidak peduli. Dia membuka pintu apartemennya, lalu masuk dengan santainya sembari menggendongku. Dia mendudukanku di atas sofa, setelah itu dia berjalan meninggalkanku.
Saat dia tidak ada aku berpikir untuk pergi dari apartemen ini, lebih baik aku pergi dari sini. Karena tidak baik untukku yang sudah menikah berada di apartemen seorang pria asing. Saat aku berjalan perlahan mendekati pintu dan berniat membuka pintu, dia sudah ada di belakangku.
"Mau kemana, sayang?" Dia bertanya padaku dengan lirih.
Aku berbalik lalu mendorongnya ke belakang dengan sekuat tenaga, namun aku terjatuh bersamanya karena dia menarik tanganku. Sehingga aku mendarat di dadanya yang bidang.
Mataku tertuju pada matanya, kami saling memandang. Kulihat dia tersenyum, kedua tangannya mulai memelukku. Aku menggeliat seperti ikan yang berusaha melepaskan diri namun pelukannya semakin erat.
"Lepaskan aku! Kau tidak berhak melakukan ini padaku! Yang berhak hanya suamiku!" lirihku.
Perlahan dia melepaskan pelukannya, akhirnya dia mengerti bahwa aku sudah ada yang memiliki. Aku pun berusaha berdiri, setelah itu dia menyuruku untuk duduk dan aku melihat dia membawa kotak P3K.
"Buka jaketmu!" dia menyuruhku untuk membuka jaketku, jangan harap.
"Aku bisa sendiri, berikan kotak P3K-nya aku akan mengobatinya sendiri!" jawabku, karena aku tidak mau dia melihat bagian tubuhku yang tidak tertutup oleh pakaian.
Dia berdiri lalu menyuruhku untuk masuk ke kamar yang dia tunjukkan, setelah itu dia memasuki kamarnya. Itu lebih baik dia masuk ke dalam kamarnya, aku lebih baik masuk ke kamar yang dia tunjukkan itu.
Aku berjalan menuju kamar, kubuka pintu kamarnya kulihat kamar yang tidak asing bagiku. Benar saja ini adalah kamar yang pernah aku tiduri dulu sewaktu aku sakit dan dia membawaku kemari untuk mengobatiku.
__ADS_1
Kubuka jaketku secara perlahan terasa nyeri yang begitu menusuk hati, sebelum memberi obat pada lukaku lebih baik aku membersihkan diri dulu. Karena disini sudah ada perlengkapan untuk membersihkan diri, sebelum itu aku kunci terlebih dahulu pintu kamar ini. Aku takut saat di kamar mandi dia masuk dengan seenaknya.
Setalah pintu terkunci, kumelepaskan satu per satu pakaian lalu aku masuk ke kamar mandi dan memulai rutinitas membersihkan diri. Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dan mengoleskan obat pada luka di lenganku. Setelah itu aku balut lukaku dengan perban yang sudah tersedia di kotak P3K.
"Lebih baik aku kembali ke rumah! Aku takut ayah khawatir jika melihatku tidak ada di rumah!" gumamku.
Aku keluar dari kamar, sebelum pergi aku memutuskan untuk berpamitan pada pria itu. Aku mendekati kamarnya, aku pikir pintunya tertutup. Sungguh ceroboh dia, sampai-sampai pintu kamarnya tidak dia tutup dengan rapat.
Saat aku hendak membuka pintunya lebih lebar guna melihat wajahnya yang tanpa menggunakan topeng. Aku sungguh terkejut setelah mendengar dia sedang bercakap di saluran ponselnya dengan Mamoru. Setelah melihat wajahnya mataku terbelalak, ternyata dia adalah Hinoto.
Aku mengurungkan niatku untuk masuk, aku berjalan kembali ke kamar. Aku terdiam sejenak dan duduk di atas ranjang, aku memikirkan semuanya dengan baik. Yang mengganggu pikiranku adalah Mamoru, sebenarnya apa yang dia katakan pada Hinoto. Sepertinya aku harus mencari tahu semuanya.
Aku mendengar suara langkah kaki mendekati kamarku, aku segera naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhku. Aku berpura-pura tertidur karena kelelahan.
Pintu kamar terbuka, dia masuk ke dalam kamar lalu mendekatiku. Dia memegang lenganku yang sudah terbalut perban, dia melepaskan perbanya lalu mengikatnya dengan rapi. Setelah itu dia menutup tubuhku dengan selimut dengan lembut.
Aku terdiam, aku penasaran apa yang dikatakan oleh Mamoru padanya. Aku merubah posisi dudukku, lalu mengambil ponselku yang tersimpan di atas nakas. Aku mencari nama mamoru di ponselku, lalu aku menekan namanya. Terdengar nada sambung yang selalu aku dengar jika menghubunginya.
Tidak membutuhkan waktu lama langsung tersambung, dia mengangkat teleponnya. Setelah itu terdengar suara yang dulu membuatku merasa melayang, namun itu semua sudah berlalu yang ada hanya rasa kesal dan benci padanya.
Aku bertanya pada Mamoru apa yang sudah dia katakan pada Hinoto, dia terkekeh mendengar apa yang kukatakan padanya. Lalu dia mengatakan bahwa yang dia katakan pada Hinoto adalah bahwa hati dan tubuhku sudah menjadi milik Mamoru.
Aku sungguh kesal dibuatnya, mengapa dia bisa mengatakan itu pada Hinoto. Aku langsung menutup ponselku, karena aku sudah tidak ingin mendengar suaranya lagi.
Kuhempaskan tubuhku kembali ke atas ranjang, aku sungguh tidak menyangka bahwa Hinoto akan terpengaruh dengan ucapan Mamoru. Apa Hinoto tidak percaya dengan didikan ayah dan bundaku? Arrgghhhh sungguh aku kesal dengan Hinoto seperti ini.
Aku berjalan keluar dari kamar, lalu melangkah menuju kamar Hinoto. Aku langsung membuka pintu kamarnya, aku terkejut melihat Hinoto hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Aaaaaa..., Cepatlah kau berpakaian!" teriakku dengan menutup kedua mataku dengan kedua telapak tanganku.
"Bukalah matamu!" dia berkata.
Aku pun melepaskan kedua tanganku, lalu aku melihat ke arahnya yang sudah menggunakan kaos namun masih memperlihatkan dadanya yang bidang. Namun dia masih menggunakan topeng yang selama ini dia gunakan saat bertemu denganku.
Dalam hatiku masih terasa kesal sehingga muncul niat nakalku untuk menggodanya. Aku melangkah perlahan mendekatinya, lalu melepaskan jaket yang menempel di tubuhku. Dia terlihat terkejut dengan apa yang aku lakukan.
Aku tersenyum nakal padanya lalu aku berkata, "Kau pernah mengatakan padaku 'kan bahwa kau akan menjadikanku sebagai milikmu! Sekarang aku akan menjadi milikmu!"
Akhirnya aku tepat berada di depannya sehingga tidak ada jarak atau apapun yang menghalangi kami, sehingga kami bisa berbagi udara untuk bernapas. Dia mengambil sebuah kain yang ada di sebuah sofa lalu menutupi tubuhku dengan dengan kain itu.
"Kau mengatakan padaku tadi bukan! Bahwa kau sudah memiliki suami dan hanya dia yang berhak atas dirimu! Kembalilah ke kamarmu!" Hinoto berkata.
Aku menyeringai, ternyata dia memang bodoh. Sehingga dia percaya dengan apa yang dikatakan Mamoru.
"Dasar kau bodoh! Sehingga kau percaya begitu saja pada Mamoru!" Aku berkata lalu berjalan meninggalkannya.
Street!
Dia menarik kain yang menempel di tubuhku, lalu dia berjalan mendekatiku. "Apa yang kau katakan tadi?" ucapnya yang menandakan agar aku mengulanginya lagi.
Aku sudah malas menghadapinya, aku lebih suka dengan kejujuran namun dia menutupi semuanya dariku. Bahkan aku masih dibohongi olehnya ternyata dia adalah pria bertopeng yang selalu berpikir mesum padaku. Ditambah lagi dia percaya dengan perkataan Mamoru dan dia tidak memintaku untuk mengklarifikasi semuanya.
"Pikirkan saja sendiri!" ucapku singkat lalu berjalan meninggalkannya.
Langkahku terhenti sebelum keluar dari kamarnya, dia mendekapku dengan erat lalu dia berbisik padaku. "Aku tanya sekali lagi! Apa yang kau katakan tadi sayang!" bisiknya padaku namun ada nada penekanan, setelah itu dia mengigit telingaku dengan lembut. Aku sungguh terkejut dengan apa yang dia lakukan sehingga secara refleks aku menyikutnya.
__ADS_1