Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 27


__ADS_3

Kami sampai di area parkiran, aku meminta kunci mobil pada Lexi. Aku pikir lebih aku yang pegang kendali setir, agar Lexi bisa dengan mudah mencari jalan keluar menggunakan laptopnya. Dia pun menyetujuinya, karena orang yang mengawasi kami masih ada.


Kunyalakan mesin mobil, aku langsung tancap gas. Mobilku melesat dengan cepat, aku mengikuti arahan Lexi agar bisa menghindar dari mereka. Tapi mereka masih saja mengejar kami, aku harus bisa lebih cepat dari mereka, aku tidak ingin mereka mendapatkan USB ini. Karena USB ini adalah info yang sangat penting bagi kami.


Ku pacu mobilku dengan menambah kecepatannya, ku salip mobil di depanku, salip kanan dan salip kiri. Aku pikir bisa menghindari mereka. Namun aku salah mereka masih saja mengikuti kami, ku pacu terus mobil ku hingga batas kecepatan.


Ckitttt!!


Aku menginjak rem sekuat tenagaku, karena di depanku ada seorang wanita membawa stroller. Aku keluar dari mobil, ku dekati wanita itu untuk menanyakan apakah dia baik-baik saja. Tiba-tiba wanita ini menyerangku dengan tinjuannya, aku terkejut dengan serangannya, secara refleks aku menghindar dari serangannya.


Ternyata aku salah di dalam stroller itu bukanlah seorang anak, melainkan senjata yang akan wanita itu gunakan. Dia mengeluarkan jurus-jurusnya, aku mulai siap-siap dengan memasang kudu. Aku bertahan dengan semua serangannya, sambil melihat kelemahan yang dimilikinya.


Bak!


Bik!


Buk!


Whussss!


Wanita itu melayangkan tinjuan dan tendangan secara bertubi-tubi, aku masih dengan jurus bertahan. Aku terus menghindari tinjuan dan tendangannya. Lexi hanya memperhatikan ku dari dalam mobil. Karena aku yang menyuruh Lexi agar diam di dalam mobil.


"Binggo..!"


Aku tersenyum karena aku sudah melihat titik kelemahannya, aku mulai satu persatu layangkan tinjuan ku, dia masih bisa menahannya. Kulayangkan sebuah tendangan dengan setengah kekuatan, dia masih bisa menghindar.


Bak!


Bik!


Buk!


Aku melayangkan tinjuanku secara terus-menerus, sehingga dia kewalahan. Dia mulai terengah-engah karena kelelahan, dia menghapus darah di daerah bibirnya, karena tinjuanku mengenai bibirnya. Dia merasa kesal karena tidak bisa mengalahkan ku dengan mudah. Aku tersenyum picik melihat pandangannya.


Bak!

__ADS_1


Bik!


Buk!


Dia membalas semua serangan ku, aku menghindar dan bertahan. Setelah ada kesempatan aku langsung membalas semua serangannya. Ku layangkan tinjuan secara terus-menerus dan di akhir tinjuan, ku layangkan tendangan ku dengan sekuat tenaga.


Whussss!!


Dia terhuyung dan terjatuh. Kulihat dia sudah tak berdaya, aku langsung melangkah pergi meninggalkannya. Aku melihat Lexi memberiku isyarat agar aku mengaktifkan earphone. Aku mengikuti isyaratnya, setelah kuaktifkan earphone Lexi berkata, "awas di belakangmu!!"


Aku berbalik badan dan kulihat wanita itu sudah berdiri dan mengambil senjata di dalam stroller. Aku pikir ini sudah berakhir ternyata belum, dia memegang sebuah pedang dan berlari ke arahku. Aku tersenyum tipis dan melepaskan sabuk di pinggangku. Sabuk putih mengkilap jika dilihat tidak begitu tajam, tapi setelah ku gunakan ketajamannya bisa di rasakan oleh musuh ku. Sabuk ini bisa berubah menjadi sebuah pedang, aku sengaja memesannya khusus.


Whussss!


Wanita itu mengibaskan pedangnya ke arah ku, secara refleks aku menghindar dan kuayunkan pedang untuk menyerangnya.


Whussss!


Dia menahan serangan pedang yang aku layangkan, ku dorong dia dengan pedangku. Di terdorong ke belakang dan dia mendorong balik aku menahannya. Dengan waktu bersamaan kami mundur beberapa langkah. Aku mengatur napas agar tenaga ku kembali.


"Kenapa kau lama sekali Lexa? Ternyata cuma segini keahlian mu!" sindir Lexi padaku di dalam earphone, dia mulai membuatku kesal dengan sindirannya. Wanita itu berlari dengan mengarahkan pedangnya ke depan, akupun bersiap untuk menerima semua serangannya.


Whussss!


Suara pedang kami beraduan dan memunculkan percikan api. Bearti dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk pertarungan ini begitupun dengan ku. Sepertinya dia sudah mulai kelelahan, kaki kanannya sudah bergetar dan itu adalah titik lemah yang harus aku serang.


Whussss!


Kuayunkan pedangku ke arahnya, dia menahan pedangku sepersekian detik aku mundur, langsung kulayangkan tendangan yang mengarah pada kaki kanannya.


Brugggg...


Dia terjatuh disaat ingin berdiri dia terjatuh lagi, sepertinya tendangan ku berhasil mengalahkannya. Dia berusaha berdiri lagi menggunakan pedang sebagai penopangnya tapi gagal. Lexi berbicara padaku untuk segera pergi meninggalkan wanita itu. Karena dia melihat ada beberapa mobil yang mendekati mereka. Aku pun segera masuk ke dalam mobil, ku injak gas mobil dengan kecepatan penuh.


"Kau terluka?" Lexi bertanya padaku karena melihat luka di wajah. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu, ternyata dia khawatir juga padaku.

__ADS_1


Lexi menunjukkan arah yang harus ku lewati, dia melihat dan memainkan jari-jemarinya mendekat tuts keyboard Notebooknya. Aku kira sudah bisa lepas dari mereka ternyata aku salah, mereka masih bisa mengejar kami. Aku meningkatkan kecepatan mobil sambil menyalip mobil di depan kami. Kami melewati jalanan yang sepi, sepertinya daerah ini jarang di lewati orang.


Dor!


Dor!


Mereka menembaki mobil kami, untung saja Lexi sudah memodifikasi mobilku ini dengan anti peluru. Ku injak gas mobil sehingga mobil pun melesat meninggalkan mereka. Ternyata mereka pun masih bisa mengikuti kami, Lexi mengeluarkan senjata yang selalu dia bawa, dia membuka jendela mobil diarahkannya ke belakang.


Dor!


Duarrrrr!!


Tembakan Lexi mengenai salah satu ban mobil musuh kami, mobil itu oleng, berguling dan akhirnya meledak. Mobil lainnya tidak bisa mengejar kami karena terhalang mobil yang terbakar akibat meledak.


Aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh, agar kami bisa lolos dari kejaran mereka. Lexi memberiku jalur yang menurutnya aman untuk dilewati oleh kami. Ternyata mereka tidak mengikuti kami lagi. Aku harus memutar arah agar sampai di rumah. Aku tak mau mereka bisa menemukan tempat kami.


Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah, aku langsung memasuk ke dalam kamar ku. Begitupun dengan Lexi dia langsung masuk ke kamarnya. Aku pergi mandi dan membersihkan seluruh tubuhku, kulihat banyak luka lebam akibat perkelahian tadi. Semua luka ini terasa sakit, tapi lebih sakit ketika ingatan itu kembali. Ingatan dimana aku melihat bunda terjatuh dari ketinggian.


Jika teringat itu hatiku terasa di iris-iris benda tajam, tak terasa air mataku berjatuhan dengan jatuhnya air di atas kepalaku. Bunda aku sangat merindukan mu! Jika saja kau masih ada mungkin semua ini tidak akan terjadi! Tidak Alexa kau harus kuat demi bunda, kau harus balas semua yang telah mereka perbuat padamu dan keluarga mu!!


Tok!


Tok!


Sura seseorang mengetuk pintu kamar mandi ku, pasti itu Lexi. Aku harus berhenti menangis dan segera menyelesaikan mandi ku.


"Sudah hentikan tangisan mu!" ucap Lexi di luar kamar mandi, rupanya dia tahu bahwa aku menangis.


Aku pun menghentikan tangisanku dan menyelesaikan mandi. Ku pakai handuk untuk mengeringkan tubuhku yang basah oleh air. Dan ku kenakan pakaian yang sudah kusiapkan tadi sebelum masuk ke kamar mandi. Ku buka pintu kamar mandi, sudah ada Lexi yang duduk di sofa di depannya sudah ada Notebook.


____________________________________________


Sampai ketemu di bab selanjutnya 😉


Jangan lupa kasi author semangat ya biar makin semangat melanjutkan ceritanya 😙

__ADS_1


Dan jangan lupa like, komen dan love nya ya 😉


Author sayang kalian 😘😘


__ADS_2