
Aldo POV
Apakah Azura masih ada di dalam hati Aiko, aku membuang napas dengan kasar sembari melanjutkan memasak untuk makan malam kali ini. Rupanya tugasku terlalu berat untuk membuatnya jatuh hati padaku.
"Apakah sudah selesai?" Aiko bertanya padaku sembari berjalan mendekat.
"Sebentar lagi siap, duduklah!" jawabku padanya.
Makanan sudah siap, aku menyimpannya di atas meja tepat di depannya. Dia terlihat sangat senang dengan apa yang aku masak untuknya. Tanpa mengucapkan apa-apa dia langsung menyantapnya. Sesekali dia menyuapkan makanan padaku sehingga kami berdua makan dalam satu piring.
Makan malam kali ini membuatku merasa senang, dengan melihatnya menyantap apa yang aku masak dengan perasaan bahagia itu sudah cukup bagiku. Aku berharap dia akan selalu berada di sisiku hingga akhir hayat.
"Sayang—apakah yang kau putuskan itu sudah pasti? Meninggalkan perusahaan Lexa dan mengurus perusahaan keluargamu?!" Aku kembali bertanya guna menyakinkan apa yang sudah dia putuskan final.
"Iya, aku sudah memutuskan itu karena aku tidak tega melihat ibu kelelahan mengurus semua tanggung jawab yang seharusnya aku kerjakan. Apakah kau menyetujuinya—Sayang?!" Dia menjawab sekaligus bertanya kembali padaku.
"Aku akan selalu mendukung apa pun keputusanmu—asalkan itu tidak membuatmu kesulitan!" jawabku padanya sembari memeluknya dengan erat.
Dia tersenyum lalu mengecup bibirku sekilas lalu melepaskan diri dari pelukanku, rupanya dia mulai nakal padaku. Akan aku balasan kenakalannya kali ini dan tidak akan aku lepaskan hingga dia tidak bisa berdiri. Aku tersenyum melihatnya merasa puas karena sudah membuatku tergoda.
Tidak aku sangka dia akan mengeluarkan senyum senakal itu setelah mengecupku. Aku menarik tangannya dengan kuat, sehingga tubuhnya terjerembab kedalam pelukanku. Menatap matanya dengan lekat membuat aku tidak bisa menahan keinginan untuk langsung menikmatinya.
Dengan senyum aku langsung mengecup bibirnya dengan lembut tetapi ada keinginan untuk melahapnya dengan sepuas hatiku. Dia begitu menikmati setiap permainan yang aku lakukan sehingga dia mengikuti setiap ritme permainan yang aku lakukan.
***
Dua hari berlalu setelah kekacauan yang dilakukan oleh Isamu, Aiko pun sudah mengundurkan diri dari perusahaan Lexa dan menjalankan perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Kini ibu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan merawat taman, itu semua membuat ibu merasa tenang dan nyaman.
Hari ini juga Dae-Jung dan Rein akan tiba di Jepang, Dae-Jung ingin bertemu dengan Himawari serta Lexi untuk membicarakan hubungannya dengan Rein. Dia ingin mengesahkan status mereka menjadi ikatan pernikahan.
"Aldo—bisakah kau dan Aiko nanti malam ke rumah? Aku mengadakan makan malam untuk menyambut kedatangan Rein dan Dae-Jung." Lexi bertanya padaku.
"Baiklah aku dan Aiko akan hadir nanti malam," jawabku padanya.
Lexi bertanya padaku tentang Isamu, dia merasa khawatir jika dia akan mengacau malam ini. Aku bertanya mengapa khawatir, dia menjawab jika Himawari mengatakan Isamu beberapa kali menghubungi Rein dan memintanya untuk kembali. Namun, Rein tidak mau.
Aku mengatakan pada Lexi tidak perlu khawatir karena dia tidak mungkin berani mengacau di rumahnya. Akan ada penjagaan yang begitu ketat untuk menjaga acara nanti malam dan tidak akan aku biarkan dia berhasil menghancurkan kebahagiaan Rein. Sudah cukup dia bersama dengan pria yang salah.
Sekarang yang ada di hatiku sudah tidak ada Rein, aku sudah menganggapnya hanya sebagai seorang adik. Entah sejak kapan hati ini sudah mulai mencintai Aiko, semakin lama rasa itu semakin besar dan tidak ingin aku kehilangan akan dirinya.
Pembicaraan kami sudah selesai, aku kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaan. Tidak terasa waktu sudah senja, sudah waktunya Lexi pulang, aku bergegas menuju ruangannya. Niat hati akan mengantarnya ke rumah tetapi dia menolak, dia mengatakan padaku untuk menjemput Aiko lalu bersiap untuk acara makan malam kali ini.
Semenjak aku menikah, Lexi sudah tidak ingin diperlakukan sebagai atasan yang selalu diikuti olehku. Entah mengapa dia merubah semua kebiasaan yang biasa aku lakukan seperti yang biasa ayah lakukan pada tuan Alex.
Aku pernah bertanya padanya mengapa aku tidak bisa menjalankan seperti yang ayahku lakukan pada ayahnya. Dia menjawab jika aku bukan ayahku dan dia bukan ayahnya, dengan arti dia tidak ingin mengikatku sehingga aku harus berada di sisinya setiap saat.
Karena sudah tidak mungkin memaksakan kehendak aku pun menjemput Aiko setelah itu kembali ke apartemen. Aku mengatakan pada Aiko untuk segera bersiap untuk acara makan malam kali ini. Aiko mengangguk karena Lexa sudah memberitahukan jika malam ini akan ada acara makan malam menyambut kedatangan Rein dan Dae-Jung.
__ADS_1
Kediaman Lexa dan Lexi.
Suasana rumah Lexa dan Lexi begitu ramai dengan celoteh kedua bocah yang tidak bisa diam, siapa lagi jika bukan Rosalina dan Zeroun. Dengan kehadiran mereka seisi rumah tidak pernah sepi.
Terlihat Aiko yang begitu bahagia jika melihat tingkah Rosalina dan Zeroun yang selalu menggoda Lexi. Sehingga membuat Lexi kewalahan menghadapinya, rupanya Rein dan Dae-Jung sudah tiba. Mereka sedang duduk di atas sofa sembari menemani Lexa dan Hinoto.
"Wah ... Rupanya sedang ada acara," terdengar suara yang tidak asing bagiku.
Saat aku melihat ke arah suara itu berasal, aku melihat Azura yang baru saja tiba. Dia langsung di sambut hangat oleh pelukan Rosalina dan Zeroun. Aku melihat Aiko, dia sangat terkejut dengan kedatangan Azura.
"Bagaimana kabarmu—Aiko?" Azura bertanya dengan senyum khasnya pada Aiko yang terlihat masih terpaku karena kedatangan Azura.
Aiko masih tetap tidak menjawab pertanyaan Azura sehingga Azura menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Aiko. Terlihat dengan jelas dia salah tingkah, apakah kau masih menyimpan dia di dalam hatimu sayang.
Sepertinya aku membutuhkan udara segar, aku berjalan meninggalkan mereka menuju taman di samping rumah. Duduk di di kursi sembari melihat langit yang begitu gelap tetapi di taburi oleh bintang-bintang yang berkelip Sanga indah.
"Mengapa kau duduk di sini?!" tanya Lexi padaku sembari duduk di samping.
Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaan darinya hanya menatap langit di malam hari. Dan akhirnya dia pun ikut diam, hanya memandang langit sama denganku. Terdengar embusan napas kasar darinya, mungkin dia sudah lelah dengan diamnya aku.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, ada baiknya kau menemani Aiko! Karena dia membutuhkanmu di sana, yakinlah jika Aiko hanya untukmu!" ucap Lexi padaku dengan penuh keyakinan.
Dia mengatakan itu lalu berdiri dan mengajakku untuk masuk karena makan malam akan segera di mulai. Tidak enak jika mereka menunggu terlalu lama, aku pun mengikuti Lexi dari belakang. Terlihat Aiko yang sedang duduk di atas sofa, dia sedang mengobrol bersama Rein, Dae-Jung serta Azura. Sedangkan Lexa, Hinoto, Himawari sedang menyiapkan semua makan malam di ruang makan.
"Aldo, kemarilah!" ucap Lexa padaku sembari melambaikan tangannya.
Aku mendekatinya lalu bertanya, "Ada apa?"
Aiko memanggilku tetapi aku menghiraukannya, dia luar terlihat Isamu yang sedang berdebat dengan para pengawal. Dia bersikeras untuk masuk tetapi dia dihalau oleh para pengawal.
"Ada apa kau kemari?!" tanyaku padanya.
"Aku ingin bertemu dengan Rein!" bentaknya.
Jika melihat dari sikapnya tidak mungkin dia akan bersikap tenang, dia pasti akan berbuat hal yang membuat semuanya menjadi kacau. Terdengar suara Azura yang mengatakan jika Isamu boleh masuk. Isamu terlihat sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh Azura.
Isamu berjalan dengan penuh percaya diri memasuki rumah, aku mengikutinya dari belakang. Begitu pula dengan Azura lalu dia mengatakan, "Sudah saatnya menyelesaikan semuanya malam ini!"
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan tetapi aku yakin pasti akan terjadi keributan di dalam. Saat aku masuk semuanya sudah duduk di atas sofa, Aiko menangkapku seraya dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Aku pun berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya.
"Mau apa kau kemari?!" tanya Rein dengan nada dingin pada Isamu.
Isamu mengatakan bila dia ingin kembali bersamanya dan menulis semuanya dari awal, entah apa yang dia pikirkan. Begitu percaya diri sekali dia meminta sesuatu yang sudah tidak mungkin lagi. Karena aku melihat dari sorot mata Rein sudah tidak ada rasa cinta pada Isamu.
"Hentikan semua ini isamu—sekarang aku sudah tidak memiliki rasa terhadapmu! Aku harap kau bisa melanjutkan hidupmu dan menemukan cinta sejatimu." Rein berkata dengan tegas dan tidak ada keraguan dari setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Isamu masih bersikeras dengan apa yang dia inginkan, sehingga membuat geram semuanya. Meski Rein sudah menjelaskan semuanya dia masih tidak percaya, sehingga membuat Azura mengatakan hal-hal yang membuat kami semua terkejut.
__ADS_1
Apa yang dia katakan oleh Azura membuat Isamu terdiam, dia mengatakan jika dulu Isamu menjebaknya agar pergi menjauhi Aiko. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan. Dan semua perbuatan Isamu telah membuat Azura mengalami kerugian yang sangat besar dan hampir kehilangan nyawanya. Namun, semua itu dia sembunyikan dari Aiko bahkan pada Lexa dan Lexi.
Sebenarnya Azura tidak merasa gentar tetapi saat melihat Aiko yang bahagia bersama Isamu. Membuatnya mundur secara perlahan, dia berpikir bahwa Isamu akan membahagiakan Aiko dan tidak akan menyakitinya.
"Jadi semua itu yang kau lakukan—Isamu?!" Aiko bertanya dengan nada dingin tetapi ada nada kesal dan marah dari setiap kata-katanya.
Isamu hanya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin dia sudah merasa kalah dan tidak bisa berbuat apa pun. Mulutku sudah gatal ingin mengatakan sesuatu padanya, semua perkataanku begitu menusuk Isamu sehingga dia terlihat sangat kesal.
Setttttt! Isamu berusaha menyerangku dengan belati yang dia ambil dari saku celananya. Namun, aku berhasil menangkisnya dengan tangan kosong. Sehingga tanganku tersayat dan mengeluarkan darah segar.
"Kau bodoh Isamu! Aku diam selama ini bukan berarti aku takut! Aku akan membuatmu menyesal dan meringkuk di dalam jeruji besi!!" teriaknya pada Isamu yang sudah ditangkap oleh para pengawal.
"Kalian akan menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini!" pekik Isamu.
Lexa menyuruh pengawal untuk menyerahkan Isamu pada pihak berwajib, lalu dia menyuruh Aiko untuk membawaku ke kamar untuk diobati. Aku berjalan bersama Aiko menuju kamar yang sedari awal untukku jika menginap di rumah ini.
"Mengapa kau begitu bodoh hah?! Apa kau tidak bisa menghindar dari serangannya? Sejak kapan kau menjadi pria yang tidak waspada seperti ini hah?!" Aiko bertanya padaku dengan bertubi-tubi.
Aku tersenyum melihatnya marah, itu mendalam jika dia mulai mencintai aku. Dia semakin kesal melihat aku tersenyum, sembari mengobati luka di tanganku mulutnya terus saja memarahiku tanpa henti.
Aku sudah lelah mendengar apa yang dia bicarakan, akhirnya aku mengecupnya dengan lembut. Agar dia bisa menghentikan ocehannya itu, dalam hati aku tersenyum karena dia membalas permainan yang aku mainkan.
"Ups ... Maaf mengganggu kalian!" ucap Azura yang masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu.
"Masuklah!" ucapku padanya.
Dia berdiri dan hanya menatap kami berdua dengan senyum jahilnya, aku tahu dia hendak menggoda Aiko karena terlihat dengan sangat jelas dari wajahnya yang memerah karena malu.
"Berbahagialah kalian—aku berdo'a untuk kebahagiaan kalian berdua, aku bersyukur Aiko mendapatkan kau Aldo! Semoga aku bisa mendapatkan wanita yang sudah menjadi jodohku!" Azura berkata padaku dengan penuh syukur.
Sepertinya dia sudah melupakan semuanya dan melangkah ke depan, dia sama seperti Lexa yang tidak memikirkan masa lalu yang sudah tidak bisa digapainya. Aku pun mendo'akan Azura agar dapat menemukan wanita yang benar-benar mencintainya sehingga dia bisa hidup bahagia.
"Aku hanya sebentar di Jepang—besok pagi aku akan kembali ke Paris!" ucapnya pada kami, setelah itu dia mengatakan jika makan malam yang terganggu oleh Isamu akan di mulai.
Aiko sudah selesai mengobati luka di lenganku, lalu aku bersama dia turun menuju ruang makan karena semuanya sudah menunggu. Acara makan malam pun di mulai meski sudah lewat pada waktunya karena kekacauan yang dilakukan oleh Isamu.
Makan malam pun sudah selesai, semuanya kembali duduk di ruang tamu untuk membicarakan tanggal pernikahan Rein dan Dae-Jung. Yang membuat kami terkejut adalah keinginan Dae-Jung mengenai tanggal pernikahannya yaitu tidak kurang dari seminggu. Karena dia sudah menghitung tanggal yang pas untuk pernikahan mereka.
Semua keluarganya sudah siap dan akan tiba dalam beberapa hari di Jepang, Lexi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menyetujuinya. Semuanya sudah setuju dengan tanggal pernikahan dan terlihat begitu banyak kebahagiaan di dalam keluarga ini. Aku sangat bersyukur bisa melihat semuanya bahagia. Jika anda melihat ini nyoya Alin, anda pasti akan sangat bahagia.
Setalah semuanya selesai, aku memutuskan untuk kembali ke apartemen. Lexi asalnya memintaku untuk menginap. Namun, aku menolaknya dengan lembut karena aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat hubunganku dengan Aiko merenggang. Sebab Rein ada di rumah Lexi, guna menjaga perasaan Aiko dan Dae-Jung lebih baik aku kembali ke apartemen bersama Aiko.
Setibanya di apartemen, Aiko membantuku untuk melepaskan kemeja yang sudah berlumuran darah. Terlihat dari sorot matanya rasa khawatir. Namun, aku tidak ingin melihatnya seperti itu.
"Apa kau sedih?!" tanyaku padanya.
Dia hanya diam, terlihat tetesan air mata membasahi pipinya. Dia mengatakan, "Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi—entah mengapa aku menjadi cengeng seperti ini!"
__ADS_1
Aku tersenyum lalu memeluknya dengan erat, aku bisikkan kata-kata yang selama ini ingin aku ucapkan hanya untuk dia seorang hingga akhir hayatku. "Aku sangat mencintaimu, Sayang."
Dia tersenyum lalu mengatakan, "Aku juga mencintaimu."