Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
Part Aiko 10


__ADS_3

Aiko POV


"Sayang—bangun, bukankah kau akan menemaniku untuk berkunjung ke rumah ibu?!" tanyaku pada Aldo yang masih tertidur.


Aku terus menggoyangkan tubuhnya agar dia bangun dan menemani aku ke rumah ibu karena ibu ingin makan siang bersama kami. Aku lelah membangunkannya tetapi dia masih saja tertidur.


Brettt! Dia menarik tanganku dengan sangat kuat sehingga aku terjerembab dalam pelukannya. Dia memeluk diriku dengan sangat erat, "Aku ingin kau sekarang."


Mendengar apa yang dia katakan membuatku terkekeh, mengapa dia menjadi sangat mesum akhir-akhir ini. Aku melepaskan dekapannya secara perlahan lalu merubah posisiku sehingga kami saling berhadapan. Dia menatapku penuh dengan kasih sayang dan aku pun mentalnya dengan lembut.


"Mengapa kau selalu ingin melahapmu, Sayang?" tanyaku padanya dengan sedikit menggoda.


Dia tersenyum dengan cepat dia mengecup bibirku, permainannya semakin hari membuatku tidak bisa melepaskan diri darinya. Aku selalu menikmati setiap permainan yang dilakukan, sehingga aku mengikuti setiap ritme permainan yang dia lakukan.


Pergulatan kami tidak terlalu lama atau sebentar, aku mengingatkan padanya jika siang ini ada acara makan siang di rumah ibu. Kami pun bersiap untuk pergi ke rumah ibu, sebenarnya aku sudah berencana untuk tinggal di rumah ibu. Namun, ibu tidak menyetujuinya. Ibu mengatakan jika sudah menikah aku harus mengikuti di mana pun suamiku berada.


Aldo pun setuju dengan apa yang aku rencanakan tetapi ibu tetap saja tidak mengizinkan aku tinggal bersamanya. Menurut ibu jika sudah menikah lebih baik jika tidak tinggal bersamanya. Semua itu dilakukan agar aku dan Aldo bisa mandiri untuk mengurus rumah tangga.


"Apa yang kau masak, Bu?" tanyaku pada ibu yang sedang sibuk di pantry meski ada pelayan yang membantu, ibu tetap saja ingin memasak untuk makan siang kali ini.


"Kalian sudah datang?" Ibu balik bertanya tanpa menjawab apa yang aku tanyakan.


Terlihat Aldo tersenyum pada ibu dan mengatakan jika kami baru saja tiba, lalu Aldo bertanya pada ibu apa yang sedang dimasak. Ibu pun mengatakan semua menu makanan yang sedang dimasaknya. Sedangkan aku hanya menjadi penonton saja, sebenarnya siapa yang anak dari ibuku ini? Aku atau Aldo?


Ibu sama sekali tidak peduli padaku, mereka berdua asik mengobrol sembari memasak. Terlihat ibu sangat menyukai Aldo karena Aldo ikut membantu ibu memasak juga. Lebih baik aku tidak mengganggu mereka, aku pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik memasak.

__ADS_1


Aku berjalan menuju kamar, melihat sekeliling ruangan yang sudah aku rindukan. Kamar ini adalah kamar sejak aku masih kecil hingga sebelum aku menikah dengan Aldo. Begitu banyak kenangan dari kamar ini, semua suka dan duka aku lalui di kamar ini. Aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, entah mengapa kedua mataku ini terasa berat.


"Sayang—kau ada di sini?" Aldo bertanya padaku.


Dia baru saja masuk kedalam kamar, sehingga membuat aku membuka kedua mataku yang tadinya hendak terpejam. Aku tersenyum lalu merubah posisiku sehingga menjadi posisi duduk.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanyaku padanya yang sedang melihat-lihat setiap barang yang aku miliki.


Senyumnya merekah dikala melihat diriku semasa kecil, aku berdiri lalu menarik tangannya untuk segera menuju ibu berada. Namun, dia tidak mau karena masih ada yang ingin dia lihat. Aku memiliki ide jahil padanya aku membisikkan sesuatu sehingga dia akan ikut denganku untuk menemui ibu.


Setttttt! Dia menarikan tanganku lalu mengecup bibirku dengan lembut, dia begitu bersemangat sekali padahal baru tadi pagi sebelum ke rumah ibu sudah menyerangku dengan permainannya.


"Ini adalah hak yang kau bisikkan padaku!" Dia berkata sembari tersenyum dan melangkah keluar dari kamar.


Makan siang pun di mulai dengan kebahagiaan, aku melihat raut wajah ibu terlihat cerah. Semuanya terlihat sangat bahagia, jika saja ayah masih bersama kami. Mungkin aku masih bisa melihat senyumnya yang lebar.


Aku tersenyum mendengar ibu mengatakan hal itu, Aldo memegang tanganku seraya memberikan kekuatan padaku agar tidak perlu bersedih. Benar apa pun yang sudah terjadi adalah takdir dan sudah tidak bisa di rubah.


***


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari pernikahan antara Rein dan Dae-Jung tiba. Semuanya sudah berkumpul di pesta yang diadakan di sebuah taman yang begitu indahnya, inilah pesta yang diinginkan oleh Rein. Semuanya terlihat Idan dan sangat cantik, aku melihat semua keluarga Lexa sudah berkumpul. Begitu pula dengan keluarga Dae-Jung yang sudah tiba bari Korea.


"Sayang, kapan kau akan memberikan aku seorang cucu?!" ucap ayah Ari padaku yang di timpalku oleh ibu yang juga menginginkan seorang cucu.


"Ayah, jangan mendesaknya—karena aku selalu menyerangnya tanpa henti, jadi bersabarlah!" Aldo menjawab.

__ADS_1


Semua terkekeh mendengar apa yang di katakan oleh Aldo, dia sungguh tidak tahu malu. Mengapa mengatakan itu dihadapan ayah dan ibu, bukankah itu rahasia yang boleh tahu hanya kita berdua. Aku kesal dibuatnya, sehingga mencubit dengan keras pinggangnya. Dia meringis kesakitan dan aku bersyukur dia merasakan kesakitan seperti itu.


Rein menghampiri kami, dia ingin mengatakan sesuatu pada kami. Ayah dan ibu langsung pergi meninggalkan kami. Rein mengatakan permintaan maaf atas segala kesalahan yang telah dia lakukan. Terlihat penyesalan yang begitu besar dari sorot matanya, mungkin dia merasa menyesal karena telah menyebabkan kematian ayahku.


"Aku sudah memaafkan kau Rein—sekarang hiduplah dengan baik, berbahagialah dengan suamimu!" ucap Aldo pada Rein.


Dia tersenyum lalu menatapku, aku tahu dia membutuhkan maaf dariku. "Aku juga sudah memaafkan dirimu Rein, yang berlalu biarkan berlalu. Sekarang kita harus menyongsong masa depan dengan penuh kebahagiaan, jangan kau sia-siakan pria yang sangat mencintaimu itu."


"Terima kasih," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Terdengar teriakan Lexi yang memanggil pengantin wanita, dengan cepat Rein berjalan menghampiri Lexi dan semuanya. Sudah saatnya mereka melakukan sesi foto keluarga, semua terlihat bahagia. Aku harap kebahagiaan ini tidak akan hilang dari keluarga mereka karena aku sangat menyayangi mereka semua.


"Aku harap kita akan memiliki keluarga besar seperti mereka, sehingga aku bisa merasakan kehangatan seperti itu." Aldo berkata dengan senyum khasnya.


Aku tahu apa yang dia inginkan, kami berdua adalah anak tunggal sehingga tidak merasakan kasih sayang seorang adik atau kakak. Aku berbisik padanya, "Mari kita miliki dua orang anak."


Dia tersenyum padaku dengan lembut lalu memelukku dengan erat, dia pun berbisik padaku. "Jangan salahkan aku jika melakukannya setiap hari—kau harus siap-siap!" Aku terkekeh dengan yang dikatakannya.


"Hei kalian—pengantinya bukan kalian, ayo kemari!" teriak Lexi padaku dan Aldo.


Aldo menggenggam tanganku dengan erat lalu kami berjalan menuju Lexi dan semuanya, mereka mulai menggoda kami. Semuanya tampak indah bagiku, meski aku adalah anak tunggal tetapi aku merasakan kehangatan sebagai anak yang memiliki beberapa saudara dan saudari.


"Ayo kita berfoto!" Lexi berteriak dia begitu bahagia dengan semua ini.


Bagaimana tidak, semuanya berkumpul di sini untuk sebuah acara yang akan membawa kehidupan baru bagi Rein. Semua kesedihan dan penderitaan sudah berlalu yang ada adalah kebahagiaan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Sayang!" bisik Aldo padaku dan aku menjawab "I love you so much."


________________THE END__________________


__ADS_2