Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 142


__ADS_3

Siap sudah motor yang akan aku gunakan begitu juga motor yang akan Aiko gunakan. Setelah semua beres Annisa yang memulai duluan, dia menarik gas motornya secara perlahan.


Namun setelah keluar dari area rumah dia menambah kecepatan motornya. Aku tersenyum dan melirik Aiko lalu menggunakan helm, dia tahu maksud dari senyum serta lirikan mataku.


Aku pun menarik gas motor sehingga melesat meninggalkan rumah, Aiko tepat berada di belakangku. Mencari posisi Annisa yang sudah berada di depan, membuatku merasa senang karena sudah lama aku tidak memacu motor dengan kecepatan tinggi.


Kami berhenti ketika di depan kami sebuah lampu lantas bewarna merah. Dan aku berhenti tepat di samping Annisa, dia membuka kaca helmnya. Terlihat sorot mata yang begitu sangat bahagia, entah sejak kapan gadis kecil ini jadi menikmati semua ini.


Lampu merah sudah berganti dengan warna hijau, saatnya bagi kami memacu tunggangan dengan kecepatan tinggi. Saat ini baik aku atau Aiko hanya bisa berada di belakang Annisa karena aku belum tahu tujuan Annisa ke mana.


Annisa berhenti di sebuah tempat yang cukup luas dan terdapat arena untuk balapan motor. Sekilas aku bisa merasakan ada aura bunda di sini, sejak kapan gadis kecil itu tahu tempat bunda dan teman-temannya untuk memacu adrenalin dengan balapan motor.


Aku membuka helm lalu bertanya pada Annisa, "Sejak kapan kau tahu tempat ini?"


Dia tersenyum lalu menjawab, "Sejak aku sering lari dari rumah karena ayah dan ibu mengikatku dengan aturan tidak boleh keluar dari rumah tanpa beberapa pengawal."


Dan juga Annisa mengatakan jika dia tahu tempat ini dari ayah, rupanya ayah juga yang mengajari Annisa cara menggunakan motor balap. Dengan memberikan seorang pelatih untuk Annisa agar bisa menggunakan motor balap.


Aku sungguh tidak mengerti dengan sikap ayah, mengapa dia membantu Annisa menjadi seperti ini. Sebenarnya apa yang ingin ayah dapatkan dari membentuk Annisa menjadi seperti bunda.


Lebih baik aku meminta jawaban dari ayah nanti malam dan ayah harus menjawabnya dengan jujur. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Annisa tetapi aku merasa ayah sedang menghukum om Adam.


"Kak— kita coba satu putaran bagaimana?" tanya Annisa padaku dengan tersenyum manis.


Aku melirik Aiko guna mencari jawaban dari mata sahabatku ini, sebenarnya aku tahu jawabannya. Dia pasti setuju dengan ajakan Annisa karena dia pun sudah lama tidak memacu motor dengan kecepatan tinggi.


"Aku terima tantanganmu Annisa!" jawab Aiko dengan senyum khasnya.


"Baiklah jika semuanya mau mencoba satu putaran, aku juga ikut! Ayo kita mulai!" ucapku sembari menggunakan helm dan bersiap-siap untuk masuk ke area balapan.


Kami bertiga sudah berada di posisi masing-masing, aku meminta seorang gadis manis untuk memberikan aba-aba memulai balapan. Dia mulai menghitung mundur, 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1 ... Go.


Aku langsung menarik gas motor dengan kecepatan penuh, saat ini tidak ada kata mengalah meski yang dihadapi adalah Annisa dan Aiko. Tidak akan kubiarkan diriku kalah karena aku adalah putri dari Rosalina Sanjaya dan putri dari Alex Wibowo.


Meski aku tahu jika Annisa yang sudah di ajarkan oleh ayah tetapi aku diajarkan langsung oleh bunda. Maka aku tidak akan membuat guruku sekaligus bunda menjadi malu.


Whussss! Whussss! Dua motor melewati ku dengan mudah. Namun, aku tidak akan membiarkan kalian menang. Kuberi kalian kemenangan sesaat, agar kalian merasa senang sudah bisa mendahuluiku.


Ini sudah setengah jalan, baiklah akan aku mulai dari sini. Siap-siaplah kalian untuk menerima kekalahan. Aku menarik gas motor dengan kekuatan penuh. Sehingga motorku melesat dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mereka.


Sedikit demi sedikit aku mulai mendekati mereka berdua, aku menghitung langkah apa agar bisa melewati mereka sekaligus. Dalam mataku bisa terlihat hitungan apa saja jika aku menggunakan arah yang mana.


Dengan perhitungan waktu per sekian detik aku bisa menemukan hasil yang bagus agar aku bisa melewati mereka berdua sekaligus. Bingo! Aku sudah menemukan titik yang pas untuk bisa melewati mereka berdua sekaligus.


Karena mereka berdua saling mengapit, aku tahu apa yang dipikirkan Aiko. Dia berusaha mengapit terus Annisa, sehingga waktunya pas dia bisa menyalipnya.


Namun, rencana Akio tidak akan aku biarkan. Saat Aiko sudah bersiap untuk menyalip Annisa disitulah aku akan menyalip mereka berdua. Ok, sekarang saatnya.


Aku menarik kembali gas motor dengan kekuatan penuh, motor ini melesat dengan cepat. Aku merasakan jika bunda selalu ada di belakangku memberiku semangat dan dorongan. Seperti dulu saat aku bertanding dengan Lexi dan asisten Ari.


Sekelebat bayangan bunda yang berada di samping arena sedang memberiku semangat agar aku bisa menang dari lawanku. Aku tersenyum lalu menambah kecepatan motor.


Titik yang sudah kubiting sudah pas dan akhirnya aku melakukan gaya bermotor seperti yang pernah bunda ajarkan. Terdengar sorak para penonton yang sedang melihat balapan kami.


Aku tidak menyangka akan banyak orang yang melihat balapan kami karena saat memulai tadi tidak banyak yang menonton. Mengapa sekarang menjadi banyak orang yang menonton kami. Itu yang membuatku merasa kebingungan.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak bisa mengalahkanmu Lexa!" ucap Aiko yang sudah membuka helm-nya.


"Iya, aku juga tidak bisa mengalahkanmu, Kak!" timpal Annisa yang baru saja membuka helm-nya.


"Iya dong— siapa dulu gurunya?!" jawabku dengan penuh rasa bangga.


Annisa dan Aiko menjawab bersamaan, "Bunda."


Mereka menjawab dengan tepat karena memang bunda adalah guruku yang hebat. Dan juga bunda yang hebat dalam setiap pekerjaannya, dia tidak pernah mengeluh dan selalu semangat. Meski banyak musuh yang menghadangnya.


Aku ingin seperti bunda, meski aku tidak menggunakan hijab aku akan mencontoh kegigihan bunda dalam melindungi orang-orang yang dia sayangi. Meski nyawa menjadi taruhannya.


"Ohh— jadi ini yang kau lakukan di luar rumah?!" ucap seseorang yang dari belakangku.


Saat aku berbalik, sudah ada om Adam yang berdiri dengan sorot mata yang penuh kesal. Apakah dia kesal dengan Annisa? Apakah Annisa pergi dari rumah tidak meminta izin pada om Adam? Semua pertanyaan melayang di otakku.


"Dan kau Lexa, baru tiba di Indonesia tidak mengunjungiku! Malah hari ini aku melihatmu balapan dengan Annisa. Kau juga Aiko bukannya mencegah mereka, malah kau mengikuti mereka berdua!" om Adam berkata tanpa henti, seperti seorang ayah yang sedang memarahi ketiga putrinya.


Aku dan Aiko hanya terdiam mendengar perkataan om Adam, aku langsung memeluk om Adam dengan erat. Lalu berkata bahwa aku merindukannya. Agar rasa kesal yang ada di hati om Adam memudar.


"Ayah, Annisa -kan sudah bilang akan pergi bersama Lexa! Apa ayang tidak mendengarnya sebelum aku pergi?" tanya Annisa yang sedikit kesal oleh ulah om Adam yang datang-datang langsung memarahi kami bertiga.


Aiko terkekeh karena melihat om Adam dan Annisa mulai berdebat, entah apa yang ada dipikirannya. Melihat Aiko tersenyum, om Adam mendekati Aiko dia menyentil keningnya. Dengan maksud agar dia berhenti menertawakan.


"Om sudahlah, jangan terlalu memarahi Annisa! Nanti dia akan lari mengejarku ke Jepang dan meninggalkan Om di Indonesia!" ucap Aiko pada om Adam.


Mendengar perkataan Aiko membuat om Adam semakin kesal tetapi tidak begitu lama muncul senyum hangat dari mulut om Adam. Lalu om Adam mengelus kening Aiko yang terlihat merah akibat sentilannya.


"Apakah terasa sakit?" tanya om Adam dengan lembut pada Aiko.


Namun, berbeda dengan tante Anna yang selalu marah jika om Adam memarahi Aiko atau menyentil kening Aiko seperti ini. Sehingga Aiko bisa bermanja-manja dengan tante Anna.


"Akan aku katakan pada Tante Anna jika Om menyentil keningku lagi!" Aiko berkata dengan memonyongkan bibirnya.


Aku terkekeh melihat sikap Aiko seperti itu begitu juga dengan Annisa. Dia mengatakan pada om Adam akan terkena masalah jika ibu mengetahui itu semua.


"Hahah, iya kita beritahukan saja tante Anna tentang hal ini Nisa!" timpalku guna menggoda om Adam.


"Ohhh— jadi kalian bertiga hendak mengadu pada Anna hah?!" tanya aim Adam dengan nada meninggi.


Namun, berubah seketika menjadi nada memohon agar tidak memberitahukan semuanya pada tante Anna. Sikap om Adam itu membuat aku, Aiko dan Annisa kembali terkekeh-kekeh.


"Sudah hentikan tawa kalian! Annisa ingat pesan Ayah jangan pulang terlambat, kalau bisa siang ini makan siang bersama ibumu!" Om Adam berkata pada Annisa lalu pergi meninggalkan kami bertiga.


Setelah kepergian om Adam, aku berencana untuk makan siang di rumah bersama Tante Anna. Annisa yang tadinya ingin makan siang di luar terpaksa menuruti keputusanku. Karena Aiko juga ingin makan siang di rumah bersama tante Anna.


***


Tibalah kami di rumah tante Anna, aku disambut dengan pelukan hangat tante Anna. Begitu pula Aiko yang dipeluk dengan hangat oleh tante Anna.


"Mengapa keningmu memerah?!" tanya tante Anna pada Aiko.


Mendengar pertanyaan Tante Anna, Aiko melirikku dan Annisa guna mencari tahu apa yang yang harus dikatakan. Karena aku tahu dia pasti meminta persetujuan kami berdua untuk membalas perbuatan om Adam.


Aku mengangguk begitu juga dengan Annisa, sekarang giliran kami bertiga yang menggoda om Adam. Aku ingin lihat apa yang akan terjadi jika tante Anna mengetahui jika om Adam yang telah membuat kening Aiko memerah.

__ADS_1


"Om Adam yang melakukannya Tante! Karena aku memacu adrenalin bersama Lexa!" jawab Aiko dengan manja pada tante Anna.


Terlihat sorot mata yang marah setelah mendengar jawaban Aiko. Namun, semua itu diredam oleh suara perut Aiko yang berbunyi, sehingga membuat kami semua terkekeh.


"Ahhh perutmu itu? Tidak bisa di ajak kompromi!" celetukku.


"Aku lapar tahu!" jawab singkat Aiko.


Mendengar itu tante langsung mengajak kami untuk menyantap makan siang. Karena siang ini tante sudah memasak banyak makanan, padahal tidak tahu jika kami akan datang ke rumah untuk makan siang.


Mungkin ini adalah insting seorang ibu yang akan dikunjungi oleh putri-putrinya. Melihat makanan yang tertata rapi di atas meja membuat mata Aiko berbinar.


Inilah dia yang membuat aku terkekeh jika melihat sorot mata Aiko yang kelaparan. Seperti seorang wanita yang tidak bertemu dengan makanan selama berhari-hari.


"Sudah hentikan cara memasang ku seperti itu, Lexa!" perintah Aiko padaku.


Mendengar itu aku semakin terkekeh karena sudah tidak tahan dengan sikap Aiko. Tanpa berkata-kata dia langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh tante Anna.


"Sudah-sudah kalian makan saja dulu, tante mau menghubungi om Adam!" ucap tante pada kami.


Aku tahu jika tante masih merasa kesal dengan om Adam karena sudah membuat kening Aiko memerah. Sesudah menghubungi om Adam tante duduk bersama kami untuk makan siang.


Kami sudah selesai menyantap makan siang kami, om Adam tiba dengan tergesa-gesa menemui tante yang saat ini sedang duduk bersama kami.


Terlihat jelas sorotan tajam dari om Adam melihat kami bertiga, mungkin di dalam hatinya menghujat kami yang sudah mengadu pada tante Anna.


"Sayang, jangan kau percaya ketiga gadis tengil itu!" ucap om Adam untuk menyelamatkan dirinya.


"Siapa yang bilang mereka gadis tengil?! Apa kau tidak melihat dengan matamu itu?" jawab tante Anna dengan nada dingin.


Om Adam heran dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, aku terkekeh melihat ekspresi om Adam yang keheranan seperti itu. Mungkin om Adam lupa jika aku sudah menikah.


Aiko tidak bisa menahan tawanya lalu dia terkekeh-kekeh dan Annisa pun ikut terkekeh. Sehingga membuat kesal am Adam yang masih kebingungan dengan perkataan tante Anna.


"Hentikan tawa kalian!" Om Adam berkata dengan nada tinggi.


"Apa— sudah berani membentak mereka di hadapanku!" timpal tante Anna yang membuat om Adam terdiam.


Rupanya om Adam masih merasa takut dengan tante Anna, tapi aku salut dengan om dan tante mereka bisa bersikap tegas juga bisa bercanda seperti ini.


Aku tahu jika sudah menyangkut Annisa mereka berdua bisa sangat kompak. Bisa dilihat bagaiman mereka berdua membatasi Annisa yang ingin bebeas. Sehingga ayah dari belakang mendukung Annisa.


"Sayang, apa kau tahu Ama yang ketiga gadis tengil itu lakukan?" tanya om Adam pada tante Anna.


"Kau selalu mengatakan mereka 3 gadis tengil! Apakah kau tidak melihat dengan jelas mereka bertiga?" Tante bertanya kembali pada om Adam.


Mengapa hari ini om Adam terlihat lamban memahami apa yang dikatakan oleh tante Anna. Karena sudah kesal dengan om Adam yang telat menyadari kelemahannya.


"Om, kau sudah tua rupanya sehingga tidak bisa melihat dengan jelas kami bertiga! Lexa bukan gadis lagi tetapi wanita bersuami, aku bukan gadis lagi melainkan wanita karier. Nah untuk putri kesayanganmu Annisa dia masih gadis." Aiko berkata dengan sedikit kesal karena om Adam yang telat menyadarinya.


Om Adam terkekeh mendengar penjelasan Aiko tetapi tawa om membuat Aiko semakin kesal. Aku hanya bisa melihat mereka bersikap seperti anak kecil.


"Aku sudah tahu itu, rupanya gadis Jepang om sudah menjadi wanita dewasa! Akan tetapi kalian bertiga tetap gadis tengil Om."


"Jika kau sudah mengetahui jika Aiko wanita dewasa, mengapa kau masih melukai keningnya dengan sentilanmu itu?!" ucap tante Anna dengan nada dingin.

__ADS_1


Om Adam langsung memeluk tante dan berkata untuk jangan marah lagi. Karena baginya baik aku, Aiko atau Annisa masih menjadi gadis kesayangannya.


__ADS_2