Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 135


__ADS_3

Lexa POV


"Sebenarnya apa masalahmu Mamoru? Kenapa kau selalu saja menggangguku?!" cetusku padanya yang selalu saja menganggu.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya sehingga dia begitu yakin dengan yang dia rasakan. Apakah dia sudah tidak waras, sehingga melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku.


Dia berusaha untuk mendekapku tetapi aku tidak rela jika tubuh ini disentuh olehnya.Karena tubuh ini sudah seutuhnya menjadi milik Hinoto.


Saat dia berhasil mendekapku secara refleks aku langsung menyikutnya. Aku melayangkan tinjuan dan diakhiri oleh tendangan padanya. Sebagai tanda agar tidak berbuat sesuka hatinya.


Mamoru terhuyung kebelakang kalau dia terjatuh, rupanya kemampuannya hanya segini. Dia bisa kalah oleh tinjuan dan tendanganku.


Setelah melihatnya terjatuh di atas tanah, aku bergegas memasuki mobil. Karena aku sudah tidak ingin melihatnya.


Tidak begitu lama, aku melihat Hinoto berjalan menuju ke arahku. Dia melihat Mamoru yang masih terduduk di atas tanah.


Hinoto mengulurkan tangannya pada Mamoru tetapi dihenpaskannya begitu saja. Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Hinoto pada Mamoru.


"Apakah Hinoto melihat kejadian tadi?" gumamku.


Setelah dia bicara dengan Mamoru, aku melihat dia tersenyum tipis lalu pergi meninggalkannya. Terkadang aku juga tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Hinoto.


Hinoto membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di kursi kendali setir. Dia tidak banyak bicara, selama dalam perjalanan pulang.


Aku lebih memilih untuk diam sesaat lalu menunggu dia untuk menceritakan semuanya. Tibalah aku di rumah karena hari ini hari libur, saatnya bermalas-malasan sejenak.


Hinoto masih saja diam, dia duduk di atas sofa sembari memegang beberapa dokumen. Dia seperti membaca dokumen itu tetapi kenyataannya sama sekali tidak.


Sudahlah biarkan saja dia memikirkan apa yang menjadi masalahnya. Namun, jika dia masih bersikap seperti itu terus baru aku akan bertindak. Aku mengambil sebuah novel di atas nakas, lalu berjalan menuju balkon di dekat kamarku dan duduk di atas sofa.


Aku terbangun oleh hembusan angin yang membuat tubuhku kedinginan. Terlihat senja sudah menampakkan warnanya. Mungkin aku tertidur saat membaca sebuah novel.


Lebih baik sekarang aku masuk ke dalam kamar, rupanya Hinoto masih saja termenung. Sekarang tidak ada dokumen yang dia pegang. Namun, dokumen itu tercecer di atas meja.


Sebaiknya aku bertanya padanya saja sebab sedari pulang sikapnya tidak seperti biasanya. Akan tetapi sebelum bertanya padanya aku akan membersihkan diri terlebih dahulu.


Aku berjalan memasuki kamar mandi, lalu melepaskan satu per satu pakaian yang menempel di tubuhku. Kumulailah rutinitas membersihkan diri, setelah selesai aku berjalan keluar kamar mandi.


Dia masih terdiam pikirannya melayang entah kemana, itu yang membuatku sedikit kesal. Tubuhnya berada di sini tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Muncul ide jail yang akan membuatnya tersadar tentang keberadaanku. Aku melangkah secara perlahan agar dia tidak mengetahui bahwa aku sedang mendekatinya.


Dia merubah posisi duduknya sehingga pas bagiku untuk meluncur ke pangkuannya. 'Satu, dua ... tiga,' aku berhitung dalam hati.


Aku langsung meluncur ke dalam pangkuannya, dia sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dia tersadar dari lamunannya lalu menatapku dengan lekat.


Tunggu dulu! Mengapa aku bisa terpikirkan cara ini untuk menjaili Hinoto. Aduh ... Aku malu sekali ini, mengapa juga melakukan tindakan jail yang biasa dilakukan pada ayah.


Lebih baik aku segera bangun dan pergi dari pangkuan Hinoto. Jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan wajahku ini. Pasti sudah berubah seperti kepiting rebus yang sudah matang dan sudah siap untuk dimakan.


Saat hendak bangun dari posisi dudukku, tangan Hinoto langsung memeluk. Sehingga aku tidak dapat melepaskan diri darinya.


"Bisakah kau memelukku sebentar?" pinta Hinoto padaku.


Mendengar suaranya yang tampak sedih, tanpa berpikir panjang aku memeluknya. Terasa hangat bagiku jika memeluknya, aku bisa merasakan napasnya yang menembus dadaku.


Aku tersadar jika saat ini hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di tubuh. Saat aku hendak melepaskan pelukanku, dia tidak mau melepaskannya.


"Apa kau sengaja menggodaku?" bisiknya padaku lalu dia meniup daun telingaku. Sehingga membuat aku merasa kegelian.


"Siapa bilang mau menggodamu! Aku hanya terpeleset saja tadi." Jawabku padanya dengan memalingkan wajah.


Tunggu apa ini, ada sesuatu yang mengeras. Perasan saat tadi aku baru duduk di pangkuannya tidak terasa seperti ini.


Dia menatap wajahku, aku melihat sorot matanya seperti hendak menerkam mangsanya. Ini bahaya sekali bagiku, lebih baik aku segera menghindar.


Aku berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun, aku sudah terlambat— dia sudah memulai serangannya padaku.


Dia menarik tubuhku hingga tubuh ini semakin menempel pada tubuhnya. Lalu dia mengecup bagian leherku dengan lembut. Tanpa aku sadari dia mengecup bibirku sekilas.

__ADS_1


Lalu dia menghentikan sejenak serangannya, menatapku sejenak dan kembali mulai dengan mengecup lembut bibirku. Lidahnya bermain dengan lincah di dalam rongga mulutku. Sehingga aku menikmatinya dan ikut dalam permainannya.


Secara perlahan handuk yang melingkar di tubuhku terlepas oleh tangannya. Dia menghempaskan handuk itu, sehingga terpamgpanglah seluruh tubuhku.


Aku menghentikan permainan di bibir karena tersadar jika saat ini masih halangan. "Sayang, kau tidak lupa, -kan? Jika saat ini aku sedang berhalangan," bisikku padanya.


Dia tersenyum lalu berkata, "Aku tahu— tetapi aku masih bisa melakukan apa yang tidak melanggar aturan. Maka biarkan aku menikmati apa yang masih bisa aku dapatkan darimu."


Aku bersyukur dia mengerti, sehingga bisa melayani kebutuhannya dengan tidak terlalu jauh. Dia merubah posisinya, sekarang posisi tubuhku terlentang di atas sofa.


Dia mengecup bagian perut lalu menjalar ke bagian dadaku. Dia bermain dengan nakal di bagian dadaku, sehingga membuat aku menggeliat kegelian.


Namun, aku menikmati setiap permainan yang dia lakukan. Dia begitu menyukai bermain di area sana, lalu kecupannya menjalar menuju leherku.


Setelah mengecup bagian leherku, bibirnya berjalan dan akhirnya menemukan sesuatu yang bisa dia permainkan. Yaitu bibirku yang menahan suara hingga tidak keluar karena kenikmatan yang disebabkan oleh permainannya.


Dia mengecup bibirku dengan lembut tetapi dia memasukkan lidahnya untuk bermain dengan liarnya di dalam rongga mulutku.


Saat jari-jarinya hendak menyentuh bagian sensitifku paling bawah. Aku menghentikannya agar dia sadar dengan batasannya.


Dia mengerti maksud dari pelarangan itu, lalu tangannya berjalan perlahan sehingga sampailah di dadaku. Salah satu tangannya mulai bermain dengan daerah dadaku.


Secara cepat dia merubah posisiku sehingga aku kembali terduduk di pangkuannya. Namun, aku membelakanginya.


Bibirnya mengecup punggungku dengan lembut sedangkan kedua tangannya masih bermain di area dadaku. Dia semakin menggila dengan permainannya tangannya.


Aku pun terhanyut dengan permainannya tetapi aku merasa ada yang aneh. Pahaku merasa ada yang basah, apakah itu milikku? Saat aku melihatnya tidak berwarna merah. Aku terhenyak, lalu dengan cepat berdiri.


"Kau...." Sebelum melanjutkan ucapanku aku terkekeh dengan semua ini. Aku tidak menyangka jika akan terjadi seperti.


Dia bergegas menuju kamar mandi, mungkin untuk membersihkan dirinya. Saat dia masih di dalam kamar mandi, aku membersihkan bagian pahaku dengan tisu basah.


Sungguh aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Aku kira dia bisa menahannya, ternyata dia tidak bisa.


Lucu juga— baru pertama kali aku melihat wajah malunya itu. Biasanya dia -kan lebih banyak menggunakan ekspresi wajah dinginnya atau mesumnya.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku bergegas mengambil pakaian di dalam almari. Aku melihat dia sedang berdiri di balkon, mungkin dia sedang mencari udara segar untuk menghilangkan rasa malunya.


Aku duduk di atas tempat tidur sembari memainkan ponsel. Aku melihat beberapa email yang masuk, lalu aku membaca email tersebut.


Dia masuk ke dalam kamar, aku terkekeh kembali saat teringat kejadian tadi. Tawaku tidak terkendali, sehingga terlihat sorot mata kesal dari Hinoto.


Dia berjalan cepat ke arahku, lalu dia menyerangku dengan menggelilitiki area tubuhku yang sangat sensitif jika di gelitik. Aku tertawa karena kegelian.


"Sudah cukup! Hentikan Hinoto," ucapku padanya sembari tertawa kegelian.


Dia masih saja menggelitikku sehingga air mataku keluar. Aku lelah dengan tertawa terus-menerus, memohon agar dia menghentikan kegiatannya menggelitikku.


"Apa kau yakin? Aku akan menghentikannya!" lirihnya.


"Iya..., Aku minta maaf, aku tidak akan menertawakanmu lagi." Aku berkata dengan tawa yang tidak bisa berhenti.


Akhirnya dia menghentikannya, aku merasa lelah hingga terengah-engah. Dia merebahkan tubuhnya di sampingku. Lalu menyelipkan lengannya pada leherku, sehingga kepalaku bertumpu pada tangannya.


Aku masih mengatur pernapasanku karena dia menggelitikku tanpa henti. Setelah bisa bernapas dengan normal. Aku hendak bangun dari posisi tidurku.


Namun, dia tidak mengijinkannya, dia ingin aku berada di dalam pelukannya. Aku mengatakan hendak minum dulu karena kehausan. Setelah itu kembali masuk dalam pelukannya.


"Ada apa denganmu?" tanyaku padanya.


Dia terdiam sesaat, lalu mulai menceritakan kisahnya. Aku tidak menyangka jika dia memiliki kisah yang menyedihkan.


Aku pikir kisahku saja yang menyedihkan, dia terlihat sangat sedih. Dengan tidak berpikir panjang aku langsung memeluknya.


"Biarkan kisah itu terkunci di ruang hati kita paling dalam. Sekarang saatnya kita menulis kisah yang indah berdua." ucapku padanya guna menghilangkan rasa sedihnya.


Dia tersenyum lalu berkata, "Terimakasih karena sudah mau menulis bersamaku untuk kisah indamu."


Aku berharap kita bisa menulis kisah indah kita hingga maut memisahkan kita. Dan juga aku berharap kau mencintaiku seumur hidupmu, seperti ayah yang mencintai bunda seumur hidupnya.

__ADS_1


***


Pagi ini baik aku atau Hinoto sudah berjanji untuk saling melengkapi. Tidak akan ada rahasia di antara kami. Jika ada sesuatu maka harus dibicarakan, sehingga tidak ada keraguan diantara kita berdua.


"Sayang, apakah kau mau ku antar ke kantor hari ini?" Hinoto bertanya padaku yang saat ini masih berada di dalam kamar mandi.


Aku keluar dari kamar mandi lalu berkata padanya jika aku lebih baik pergi sendiri. Karena aku tidak ingin menyusahkannya.


Saat dia hendak memasangkan dasinya, aku mendekatinya lalu membantunya untuk memasangkan dasinya. Dia tersenyum padaku, lalu dia membisikkan kata-kata yang membuatku tersipu malu.


"Kita makan siang bersama ya? Nanti aku jemputmu," bisiknya padaku.


Aku mengangguk, setelah semua selesai dan siap untuk pergi ke kantor. Kami berpisah di depan rumah, dalam perjalanan menuju kantor ada sebuah mobil yang selalu mengikutiku.


Siapa dia? Yang sudah berani mengikutiku sedari aku keluar dari rumah. Aku ingin lihat siapa dia sebenarnya.


Ckitttt!


Mobilku terhenti mendadak karena mobil yang mengikutiku sudah menyalip lalu menghadangku. Seorang pria keluar dari dalam mobil, setelah mendekat aku bisa melihat siapa dia.


Rupanya dia adalah Mamoru, aku tidak habis pikir dengannya. Sebenarnya apa yang dia inginkan? Dulu dia berniat untuk menyakitiku guna membalas perbuatan bidan pada Leo Ahmad.


Setelah tahu kejadian yang sebenarnya dia ingin kembali padaku. Sungguh orang yang berpikiran picik, apa aku akan menerimanya begitu saja.


Dia mengetuk pintu kaca mobilku lalu berkata jika dia perlu bicara denganku. Aku membuka kaca mobilku lalu mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.


Apa yang aku katakan tadi tidak membuatnya menyerah dan pergi meninggalkanku. Dia masih terus berusaha agar aku memberinya waktu untuk bicara.


Akhirnya aku menyetujuinya dan mengatakan ini yang terlahir kalinya bicara dengannya. Dan aku memberikan beberapa syarat padanya, dia punenyetujui persyaratan yang aku berikan.


Dia menyuruhku untuk mengikuti mobilnya dari belakang. Saat dia sudah berjalan menuju mobilnya, aku mengirim pesan pada Hinoto tentang masalah ini.


Aku menuliskan bahwa dia tidak perlu khawatir terhadapku. Kenapa aku mengiriminya pesan agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara kita.


Karena aku tidak ingin jika Hinoto tahu tentang pertemuanku dengan Mamoru dari mulut orang lain. Sebab akan terasa berbeda jika tahu dari orang lain dengan tahu dariku langsung.


Aku bersyukur dia bisa mengerti aku dan percaya padaku sepenuhnya. Dia juga mengatakan jika memerlukan bantuannya bisa langsung menghubunginya.


Mobil Mamoru sudah bergerak, aku mengikutinya dari belakang. Rupanya dia ingin bicara denganku di cafe tempat kami bertemu dulu.


Meski disini banyak kenangan aku dan dia yang sangat indah. Namun, semua itu adalah masa lalu yang sudah tidak mungkin terulang kembali.


Karena bagiku yang ada dalam hati dan pikiranku adalah Hinoto seorang. Dia keluar dari mobilnya begitu juga aku.


Dia memesan sebuah meja dimana tempat itu adalah tempat kami berdua jika mengunjungi cafe ini. Aku duduk dengan santai tanpa memikirkan apa pun.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku dengan nada dingin padanya.


"Apakah sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk kembali bersamamu?" jawabnya dengan sebuah pertanyaan yang tentunya sudah tahu dari hasil semuanya.


Aku mengatakan padanya jika sudah banyak kesempatan yang diberikan padanya. Namun, dia selalu saja menyia-nyiakan semua itu.


Sekarang semua kesempatan sudah habis, karena dalam hatiku sudah tidak ada namanya yang ada hanya nama Hinoto.


"Kau sudah mencintainya? Sehingga kau tidak bisa kembali padaku. Itu bisa terlihat dari sorot matamu," Mamoru berkata dengan nada sedihnya.


Aku mengatakan apa yang ada di dalam hatiku padanya. Jika saat ini yang ada dalam hatiku adalah Hinoto.


"Baiklah, sepertinya aku sudah tidak bisa memaksakan kehendakku padamu. Aku berharap kau bisa hidup bahagia dengannya." Mamoru berkata dengan yakinnya meski masih ada rasa sedih di dalam setiap kata-katanya.


Aku tidak menyangka bahwa dia akan menyerah semudah ini. Namun, aku berharap jika dia bisa berubah demi ayah.


Lalu aku berkata padanya bahwa akan mendoakannya agar mendapatkan wanita yang mencintainya. Dan saat sudah menemukan wanita itu cintailah dia dengan sepenuh hati. Satu lagi buatlah bahagia ayah, jangan membuatnya merasa sedih di hari tuanya.


Dia tersenyum padaku, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lalu dia berkata, "Terimakasih sudah memaafkanku, aku akan melakukan apa yang kau katakan—Kakak ipar."


Setelah berkata itu dia pergi meninggalkanku seorang diri. Tidak terasa air mataku menetes, aku tidak menyangka dia bisa berubah. Aku harap apa yang dia katakan tadi benar-benar dia lakukan.


"Semoga kau menemukan wanita yang sangat mencintaimu dan kau pun mencintainya!" gumamku.

__ADS_1


__ADS_2