
Aiko POV
Apakah Rein belum mengetahui jika Aldo sudah menikah denganku, sehingga dia merasa jika hanya dia yang berhak atas Aldo. Mengapa aku berpikir seperti itu? Lagi pula memang Rein adalah wanita yang dicintai oleh Aldo.
Setibanya aku di sebuah rumah yang begitu indah menurutku, aku tidak menyangka jika tuan Dae-Jung sangat pintar mendesign rumahnya. Sepertinya aku tahu siapa yang mendesign rumah ini, jika bukan nyonya Lili mungkin Yuki.
Karena hanya mereka berdua yang bisa melakukan semua ini, design mereka memiliki ciri khas tertentu sehingga orang lain tidak bisa menirunya. Hatiku merasa tidak enak sebab melihat Rein di acara makan malam ini.
"Apa kabar Aiko? Maafkan aku tadi pagi belum sempat mengobrol denganmu!" Rein berkata dengan senyum lembutnya.
Jika melihatnya dia sangat berbeda dengan Rein yang pertama kali aku bertemu. Apakah ini hanya perasaanku saja? Aku kembali teringat beberapa tahun yang lalu saat kecelakaan itu terjadi.
Rein mengatakan jika semua kecelakaan itu disebabkan oleh Aldo karena dia kesal melihatnya satu mobil bersama Isamu. Dia juga mengatakan jika keberadaannya di dalam mobil Isamu karena dia di tolong oleh Isamu karena ada beberapa orang yang berusaha untuk mencemarkannya.
Namun, Aldo tidak percaya itu sehingga Aldo mengejar mobil Isamu. Padahal dia sedang bersama dengan ayah, mengapa dia bisa bertindak ceroboh seperti itu? Itulah yang membuatku kesal padanya. Hanya karena rasa cemburu dia mencelakai kedua orang yang aku cintai.
Rein tersenyum padaku lalu dia mengajakku untuk duduk menemaninya, sedangkan Aldo bersama dengan tuan Dae-Jung. Mungkin mereka sedang membicarakan hal-hal tentang pekerjaannya.
"Aku pikir kau masih marah dengan Aldo?!" Rein bertanya padaku dengan nada menyelidiki.
"Menurutmu?!" Aku balik bertanya padanya.
Dia terdiam sesaat lalu dia mengatakan jika selama ini dia masih sangat mencintai Aldo. Dan dia ingin kembali padanya, mungkin kejadian beberapa tahun yang lalu bisa mulai di lupakan serta di maafkan.
"Aku bisa meminta bantuanmu?" ucapnya padaku.
Aku bertanya padanya apa bantuan yang dia punya padaku, dia meminta bantuanku untuk kembali pada Aldo. Mendengar itu aku sangat terkejut, apa yang harus aku lakukan karena Aldo sudah menjadi suamiku. Apakah aku bisa membantunya untuk kembali pada Aldo.
Apa aku sudah tidak waras, membantu wanita lain untuk dekat dengan suamiku sendiri. Namun, jika Aldo masih mencintai Rein mungkin aku akan mengalah dan mundur. Karena Aldo tidak akan bahagia denganku, dia akan bahagia bersama Rein.
Sebelum aku menjawab dari permintaanya Aldo mendekat, dia menatap Rein dengan tatapan yang sangat berbeda. Ada kesedihan di mata Aldo, apakah dia benar-benar masih mencintainya. Mengapa hatiku terasa tersayat melihat semua itu.
"Ayo ikut aku!" Aldo berkata padaku sembari menarik tanganku.
Apa yang dia lakukan? Jika dia bersikap seperti ini maka Rein akan merasa curiga. Aku menepis tangan Aldo, lalu berjalan duluan meski aku tidak tahu di mana ruang makan malam kali ini.
Langkahku terhenti karena ada yang memegang tanganku, aku berbalik kulihat Aldo yang sedang berdiri di belakangku. Dia terlihat sangat kesal padaku, itu terlihat dari sorot matanya. Namun, aku tidak mengerti dengannya. Bukankah seharusnya dia bersama dengan Rein, mengapa dia mengejarku.
"Temani Rein—dia merindukanmu! Dan dia ingin kembali padamu." Aku berkata pada Aldo lalu menepis tangannya.
Aldo menarik tanganku kembali, langkahnya begitu cepat sehingga kakiku terasa sakit. Aku berusaha mengatakan pada Aldo untuk memperlambat langkahnya. Namun, dia tidak mendengar apa yang aku katakan.
Aku berusaha melepaskan tanganku tetap saja tidak bisa, genggamannya begitu kuat. Di depan ada tuan Dae-Jung, dia melihat kami dengan penuh rasa ingin tahu.
Aldo berhenti tepat di depan tuan Dae-Jung, dia mengatakan minta maaf karena acara makan malam kali ini tidak bisa berjalan dengan semestinya. Karena ada urusan penting yang harus diselesaikan.
Tuan Dae-Jung dengan tersenyum mengizinkan kami pergi meski belum menikmati makan malam. Rein yang mengejarku dari belakang, bertanya apa yang terjadi. Aldo hanya diam, dia tidak ingin menjawab apa pun.
"Tuan Aldo, ada kepentingan mendadak—sehingga tidak bisa melanjutkan acara makan malam kali ini!" ucap tuan Dae-Jung dengan kebutuhan pada Rein.
Rein pun terdiam, dia menatap lekat Aldo meski pria yang memegang tanganku ini menghiraukannya. Setelah pamit Aldo pun kali menarik tanganku menuju mobil. Dia menghempaskan tubuhku ke dalam mobil, mengapa Aldo bersikap kasar padaku? Apakah aku sudah berbuat salah padanya.
Aku tidak suka dengan sikapnya yang seperti ini, dia sama sekali berbeda dengan Aldo yang aku kenal. Meski beberapa tahun ini aku selalu berkata ketus padanya tetapi dia tidak pernah marah padaku.
Dia menyalakan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dengan kuat sehingga mobil meju dengan pesat meninggalkan rumah tuan Dae-Jung. Dalam perjalan pulang dia hanya diam, aku bertanya padanya dia tetap diam seribu bahasa.
Tibalah kami di apartemen, dia kembali menarik tanganku. Aldo benar-benar marah tetapi aku tidak tahu mengapa dia marah. Perasaan aku tidak mengatakan atau melakukan hal-hal yang merugikannya.
Saat aku sudah berada di depan pintu apartemen, dia membuka pintunya lalu menariknya dan menghempaskan tubuhku begitu saja. Sehingga tubuhku terjatuh di atas sofa.
Aku berusaha berdiri lalu bertanya, "Apa yang terjadi padamu?! Mengapa kau kasar padaku hah?!"
Aldo hanya diam, sorot matanya masih menandakan jika dia sangat marah. Dia hendak mendekatiku tetapi aku berjalan mundur secara perlahan karena aku tidak ingin dia menyentuhku di saat sedang marah.
__ADS_1
Dia terus mendekat dan aku terus menghindarinya, aku sungguh kesal dengan apa yang dilakukannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata aku langsung melayangkan pukulan padanya. Dia berhasil menghindar dari seranganku sehingga terjadilah perkelahian kecil diantara kami berdua.
"Sudah cukup Aldo! Katakan padaku apa salahku!?" tanyaku kembali padanya.
Dia masih saja tidak menjawab pertanyaan yang aku layangkan padanya, lalu aku mengatakan padanya apakah dia ingin kembali pada Rein. Jika itu keinginannya maka aku akan mundur dan membiarkan dia kembali bersatu dengan Rein.
"Sudah—hentikan ucapan bodohmu itu! Apa kau sudah tidak waras—membiarkan aku dekat dengan wanita lain! Jika kau tidak mencintaiku tidak mengapa tetapi jangan pernah terniat sekali pun untuk mempersatukan aku kembali dengan Rein!" Dia berkata dengan nada marah.
Itu terlihat sangat jelas jika dia membicarakan tentang Rein emosinya semakin meluap sebenarnya antara mereka hanya ada kesalahpahaman saja. Dan itu bisa di selesaikan dengan bicara dari hati ke hati.
Aku masih tetap mengatakan jika Rein sangat mencintainya dan dia juga memintaku untuk membantunya agar dia bisa kembali bersama Aldo. Mendengar perkataanku, Aldo melangkah dengan cepat sehingga dia berhasil menangkap diriku.
"Cukup Aiko!"
Aldo berkata dengan nada tinggi padaku lalu dia mendekatiku dengan sangat cepat. Dia menggendongku dan berjalan menuju kamar, aku berusaha melepaskan diri darinya tetapi tenaganya cukup kuat.
Brugggg!
Dia kembali menghempaskan tubuhku dengan sangat kuat ke atas tempat tidur. Tanpa mengucapkan sepatah kata dia langsung menyerangku dengan kecupan di bibir. Aku berusaha untuk lepas dari yang dia lakukan.
Namun, dia yang penuh dengan emosi tidak bisa mengendalikan dirinya, aku menggigit bibirnya agar dia menghentikan tindakannya. Aku tidak suka jika dia memaksa seperti ini. Dia menghentikannya tetapi dia kembali menyerangku dengan mengecup ceruk leherku lalu berjalan ke dada. Dia memberikan tanda dengan sangat kasar sehingga terasa sangat sakit.
"Hentikan Aldo—kau menyakiti aku," Aku berkata dengan lirih tidak terasa air mataku menerobos keluar.
Aldo menghentikan serangannya dan berkata, "Maafkan aku." Dia duduk membelakangi aku, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Mengapa dia begitu emosi jika aku berkata Rein masih mencintainya dan ingin kembali padanya.
"Katakan padaku Aldo? Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?" Aku berusaha memberanikan diri untuk bertanya pada Aldo, mungkin sudah saatnya dia bicara padaku tentang semuanya.
"Mungkin sudah saatnya kau mengetahui semuanya!" Aldo berkata padaku.
Dia mulai bercerita di saat Rein pernah membatalkan rencana pernikahan mereka. Karena Rein mencintai pria lain itu membuatnya merasa kecewa dan sedih.
Namun, karena rasa cintanya pada Rein membuat dia masih berharap jika pernikahan mereka masih bisa berlangsung. Setelah Rein mengatakan untuk pembatalan rencana pernikahan mereka, Himawari menghubunginya dan ingin bertemu lalu dia pun bertemu dengan Himawari di sebuah cafe.
"Kau tahu siapa pria itu?!" tanyanya padaku.
Aku menggelengkan kepala lalu menjawab tidak tahu karena memang aku tidak tahu. Dan aku baru mendengar cerita seperti ini, jika itu benar sungguh keterlaluan sekali Rein.
"Isamu," ucap Aldo singkat.
"Apakah aku tidak salah dengar? Yang dia ucapkan adalah Isamu. Itu tidak mungkin?" Aku berkata dengan tidak percaya apa yang baru saja aku dengar.
Aldo mengangguk lalu dia mengatakan jika ayahku melihat mereka berdua sedang bermesraan di cafe tersebut. Sehingga ayah merasa marah dan berdebat dengan mereka berdua. Dia juga mengatakan jika Rein mengatakan hal-hal yang buruk pada ayah. Sehingga membuat geram lalu dia keluar.
Dia membela ayah dan berusaha membuatnya tenang lalu dia pergi membawa ayah. Niatnya adalah untuk mengantar ayah ke rumah karena pada saat itu sopir ayah pergi untuk membawa istrinya ke rumah sakit. Yang dikatakan Aldo benar jika sopir ayah pada waktu kecelakaan sedang berada di rumah sakit menemani istrinya.
"Lalu apa yang terjadi?!" Aku bertanya padanya karena rasa ingin tahuku semakin meningkat.
Aldo berkata saat dalam perjalanan, ada mobil yang mengikuti lalu dia berusaha menghindar karena sudah jelas jika mobil itu menginginkan hal buruk terjadi padanya. Sebab mobil itu menabrak bagian belakang mobil Aldo.
Aku bertanya padanya mengapa orang itu ingin mencelakainya dan ayah, apakah orang itu adalah musuh yang selalu ingin menghancurkan Lexa dan Lexi. Dia menggelengkan kepalanya lalu mengatakan jika itu adalah suruhan Isamu.
"Dari mana kau tahu jika mereka suruhan Isamu?!" tanyaku kbali padanya sebab aku tidak percaya jika Isamu melakukan semua ini.
Dia menjawab jika Isamu menghubungi ponsel ayah lalu dia mengatakan jika semua itu adalah perintahnya. Dia meminta ayah untuk tidak mengatakan semuanya padaku. Namun, ayah tidak peduli. Setelah itu terjadilah kecelakaan yang mengakibatkan ayah tiada.
"Apa yang kau cerita ini benar? Mengapa kau tidak mengatakan semuanya padaku waktu itu? Kau begitu jahat padaku Aldo!" Aku berkata dengan perasaan yang tidak menentu begitu banyak kesedihan yang aku rasakan.
Aku pun bertanya padanya apakah semua orang tahu tentang kejadian ini. Dia mengangguk semuanya tahu termasuk juga dengan ibuku tetapi kenapa hanya aku saja yang tidak tahu. Mengapa mereka tidak mengatakannya padaku. Aldo mengatakan jika mereka berusaha memberitahukan aku tetapi aku yang belum siap dengan semuanya.
Tidak terasa bulir-bulir air mataku menerobos keluar, dengan berpikir jika semua yang dikatakan oleh Aldo benar maka aku sudah salah menilainya. Aku sudah bertindak kerasa padanya atau mungkin aku sudah menyakiti hatinya.
"Kau bodoh Aldo—kau benar-benar bodoh," Aku berkata semabri menangis.
__ADS_1
Dia memelukku dengan erat sehingga tangisku menyeruak di dalam dadanya. Terdengar bisikan darinya, "Menangislah aku akan selalu ada untukmu."
Entah sudah berapa lama aku menangis dalam pelukannya, sehingga kemeja yang dia kenakan basah oleh air mata. Aku menghentikan tangisku karena aku sudah mengeluarkan semua emosi di dalam hatiku.
"Apa kau sudah tenang? Kemejaku basah," Aldo bertanya padaku tetapi ada sedikit nada menggoda.
Aku melepaskan diri dari pelukannya, dia terlihat tersenyum lembut padaku. Dan sialnya aku, di saat seperti ini perutku berbunyi yang menandakan jika saat ini para cacing sedang meronta ingin makan.
Aldo terkekeh saat mendengar suara kelaparan yang menderaku, melihatnya seperti itu aku langsung berdiri dan berjalan menuju pantry. Sungguh aku sangat malu dengan semua ini, mengapa juga rasa lapar ini tidak bisa menunggu sesaat saja.
"Apa yang ingin kau makan malam ini?"
Aldo bertanya padaku yang sedang membuka lemari pendingin, sebenarnya aku bingung juga mau makan apa? Mau masak aku tidak bisa. Aldo bertanya kembali padaku karena aku tidak menjawab pertanyaannya karena bingung dengan menu yang aku inginkan.
"Terserah saja—yang penting aku makan!" jawabku.
Dia tersenyum lalu menyuruhku untuk duduk di atas kursi, aku pun mengikuti apa yang dia perintahkan. Melihatnya memasak di pantry dan itu hanya untukku. Entah mengapa aku menyukai suasana seperti ini.
"Nanti kau harus belajar memasak," ucap Aldo padaku.
"Apa kau tidak suka memiliki istri yang tidak suka memasak?!" tanyaku padanya.
Dia berbalik, terlihat senyumnya yang menggoda lalu dia berkata "Aku menyukai istriku meski kau tidak bisa memasak!"
Setelah mengatakan itu dia kembali fokus memasak makanan untukku, saat dia mengatakan itu mengapa aku merasa sangat panas, saat melihat wajahku di cermin kecil yang ada di atas meja terlihat jelas memerah. Apakah aku demam?
Aku memegang keningku guna merasakan apakah demam atau tidak. Saat aku sentuh kening tidak terasa demam, mengapa wajahku menjadi memerah setiap dia bicara lembut padaku.
Ponselku berdering, saat melihat siapa yang menghubungi tertera nama Rein. Apa yang dia inginkan dariku, lebih baik aku mengangkatnya agar tidak membuat Aldo merasa terganggu.
Untuk mengangkat telepon dari Rein, aku menjauh dari Aldo. Karena aku tidak ingin dia mendengar apa yang kami bicarakan. Aku mengangkatnya, dengan cepat dia bertanya padaku sebenarnya apa yang terjadi pada Aldo. Mengapa Aldo membawaku pergi dari acara makan malam.
Aku bingung apa yang harus aku katakan, apakah aku harus mengatakan jika kami sudah menikah. Namun, itu tidak mungkin karena yang harus mengatakan semua itu adalah Aldo.
Rein terus saja bertanya padaku, sepertinya dia mulai curiga dengan hubunganku dan Aldo. Dia terus saja memaksa aku untuk mengatakan semuanya, tiba-tiba ponselku lepas dari tangan. Rupanya Aldo yang mengambil ponselku lalu dia menutup sambungan teleponnya. Dan dia mematikan ponselku sehingga tidak ada yang bisa menghubungi aku lagi.
"Apa yang kau lakukan?!" tanyaku padanya.
"Lupakan saja—ayo kita makan!" jawabnya padaku lalu dia berjalan lebih dulu menuju meja makan yang berdekatan dengan pantry.
Aku pun berjalan perlahan mendekatinya yang sudah terlihat duduk di tas kursi. Aku hanya bisa memandang punggungnya, ingin rasanya aku memeluknya dan meminta maaf atas semua yang aku lakukan.
Namun, sebagian hatiku melarang aku untuk melakukannya. Lebih baik aku makan saja, tidak enak juga jika aku tidak menikmati apa yang sudah dia masak untukku. Aku duduk di sampingnya, lalu menyantap makanan yang sudah dihidangkan di atas meja.
Setelah selesai menyantap makanan yang sudah Aldo masak, aku berjalan menuju pantry guna membersihkan peralatan yang kotor. Sedangkan Aldo berjalan menuju kamar mungkin masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
Semuanya sudah rapi dan bersih, badanku terasa lengket lebih baik aku membersihkan diri. Aku berjalan menuju kamar, melihat Aldo yang duduk di atas sofa dengan laptop di pangkuannya. Sepertinya dia sudah membersihkan diri karena dia masih menggunakan jubahnya.
Aku melangkah masuk kedalam kamar mandi, setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Aku keluar dan berjalan menuju alam Ari guna mengambil pakaian untuk tidur.
"Apa ada masalah dengan perusahaan?!" tanyaku pada Aldo.
Dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya lalu dia menceritakan jika Lexi ingin membeli sebuah perusahan di Korea. Dan dia masih belum yakin dengan perusahaan yang hendak dibeli Lexi. Aku bertanya apakah Lexa mengetahui semua itu.
Aldo mengatakan jika Lexa mengetahui semua itu tetapi dia juga ingin aku menyelidiki semuanya. Sebelum perjanjian penyerahan perusahaan di sepakati. Sepertinya aku harus membantunya agar dia tidak terlalu berat menjalankan pekerjaannya.
Aku pun meminta semua data yang dia peroleh tentang perusahaan itu, dia mengirimkan semua data yang sudah diperolehnya ke email aku. Sehingga aku membuka laptop untuk memeriksa semuanya.
Setelah memeriksa semuanya, aku merasa ada yang ganjil. Lebih baik aku menghubungi dia yang selalu membantuku untuk mencari informasi yang aku butuhkan.
Aku mencari ponselku karena tadi Aldo yang memegangnya, aku lihat ponsel berada di sampingnya. Tanpa memikirkan apa-apa aku langsung mengambil ponsel dengan menghilangkan tubuhku sehingga berada di dalam pangkuan Aldo.
"Apa kau menggodaku?!" bisik Aldo padaku.
__ADS_1
Dengan cepat aku merubah posisi tubuhku menjadi posisi duduk karena ponsel juga sudah ada di tanganku. Aku menatapnya sekilas, dia hanya tersenyum padaku lalu melanjutkan pekerjaannya.