
Lexi POV
Setelah menghubungi Lexa, aku menyiapkan semuanya untuk ke Indonesia. Mudah-mudahan masalah di sana tidak terlalu serius, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk tinggal di sana.
Aku masih belum bisa melupakan semua kejadian yang membuat bunda tiada. Semuanya masih terasa nyata, jika aku melewati setiap jalanan yang aku lewati bersama Lexa dan bunda.
Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan apa lagi dengan kenangan yang sangat menyedihkan. Namun ayah membutuhkan bantuanku untuk menyelesaikan masalah di perusahaan cabang Indonesia.
Aku juga tidak pernah mengatakan pada ayah jika rasa sedih akibat kehilangan bunda masih sering menghantuiku. Apalagi detik-detik saat bunda terjatuh dari ketinggian. Dulu Lexa selalu bermimpi akan hal itu, seiring berjalannya waktu dia tidak terlalu sering bermimpi.
"Apakah kau sudah siap?" Ayah bertanya padaku.
"Aku, siap." Jawabku singkat.
Seorang pelayan masuk lalu membawa travel bag yang akan kubawa ke Indonesia. Aku berjalan menuju mobil dengan ayah yang berjalan di sampingku. Kami pun langsung menuju bandara lebih awal sehingga tidak tertinggal pesawat.
"Kamu sudah menghubungi Lexa jika kita pergi ke Indonesia?" Ayah bertanya padaku.
"Sudah, mungkin dia akan tinggal beberapa hari lagi di Korea. Karena urusan Hinoto belum selesai." jawabku pada ayah.
Tibalah kami di bandara, aku penerbangan kali ini mengapa terasa sangat berat sekali. Padahal aku ingin kembali ke Indonesia, entah mengapa ini terasa sangat sesak. Apakah rasa traumaku belum pulih sepenuhnya.
**
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba di Indonesia. Udara yang aku rindukan, tetapi yang membuatku merasa sesak. Apakah Lexa akan merasakan hal yang sama jika kembali ke Indonesia.
Aku menghela nafasku secara kasar, sehingga membuat ayah tersadar dengan apa yang aku lakukan.
"Lupakan semua kesedihanmu, tataplah masa depan dengan kebahagiaan." Ayah berkata sembari menepuk lembut pundakku.
__ADS_1
Apakah aku bisa melakukan apa yang baru saja dikatakan oleh ayah, memang terasa mudah untuk mengatakan semua itu. Namun akan terasa sulit jika melakukannya.
Assisten Ari sudah menyiapkan sebuah mobil untuk kami, aku berjalan di belakang ayah memedulikan mobil menuju rumah. Jika aku mengingat tentang rumah, itu semakin membuatku sesak.
Karena semenjak kepergian bunda baik aku, Lexa jarang berada di rumah. Kami selalu menyibukkan diri untuk melupakan peristiwa itu, contohnya Lexa selalu sibuk dengan latihan bela dirinya. Dan masih banyak kegiatan yang dapat menghabiskan waktu luang, sehingga saat tiba di rumah kami hanya beristirahat.
Ckitttt!
Mobil terhenti, rupanya sudah sampai di rumah. Aku terdiam sesaat melihat rumah yang penuh dengan kenangan kebersamaan kami bersama bunda.
Aku turun dari mobil, berjalan menelusuri setiap jengkal rumah hanya ada bayangan bunda. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat karena aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Ingin rasanya aku pergi dari rumah ini. Namun rumah ini adalah rumah yang penuh dengan kenangan bunda.
"Lexi!"
Teriak seseorang dari arah belakang, aku membalikkan tubuh guna melihat siapa yang memanggil. Rupanya Annisa, sudah lama tidak bertemu dengannya. Namun kelakuannya tidak berubah sama sekali, tetapi aku suka dia yang seperti ini.
"Bagaimana kabarmu?" Aku bertanya pada Annisa yang sudah melepaskan pelukannya.
Dia menarik tanganku lalu mengajak duduk di atas sofa yang tidak jauh dari posisi kami. Setelah duduk, dia mulai menceritakan semua dari awal hingga akhir. Aku menatapnya sesaat, sungguh aku bahagia melihat dia sudah kembali riang.
Aku kembali teringat dengan peristiwa di Jepang yang membuat dia kembali trauma akan masa lalunya. Dia masih saja bicara tanpa jeda, apakah dia tidak merasa lelah dengan apa yang dia lakukan.
Begitu banyak bahan pembicaraan yang dia berikan padaku, mungkin jika tante Anna datang dia masih terus bicara. Aku bangun dari posisi duduk lalu menghampiri tante sembari mencium punggung telapak tangannya.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" tante Anna berkata dengan lembut.
"Alhamdulillah, aku baik Tante Anna." Jawabku sembari tersenyum.
Kami pun berbincang-bincang sesaat, karena perbincangan kami terganggu saat seorang pelayan mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Ayah juga sudah menunggu di meja makan bersama om Adam, aku bergegas menuju meja makan. Karena aku sudah rindu dengan om Adam.
__ADS_1
Saat sudah dekat dengan meja makan, aku melihat om Adam yang masih berbincang dengan ayah. Muncul niat jailku, aku teringat jika sudah ada di meja makan tidak boleh membicarakan hal pekerjaan. Itulah aturan yang dibuat oleh bunda, tetapi tante Anna pun mengikuti aturan itu.
"Apakah aturan sekarang sudah berubah?" ucapku.
Ayah dan om Adam terkejut dengan apa yang aku katakan, seketika mereka berdua terdiam. Ternyata mereka masih ingat betul dengan aturan yang sudah diterapkan oleh bunda.
Aku tersenyum lalu duduk di kursi dekat ayah, terlihat jelas wajah ayah yang hendak memarahiku. Namun tante Anna terkekeh sehingga suasana kembali ramai. Dan ayah pun ikut tertawa, setelah itu kami pun menyantap makan yang sudah tersedia di meja makan.
Setelah acara makan siang, aku memutuskan untuk segera beristirahat. Karena tubuh ini rasanya lelah sekali, kuhempaskan tubuh ini di atas tempat tidur.
Kucoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa terpejam. Pikiran ini melayang menuju Himawari, entah mengapa aku mengingat dia. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah di Indonesia? Jika iya aku bisa menemuinya.
Terdengar suara ponsel yang tersimpan di atas nakas, aku terbangun karena suara tersebut. Mataku melirik jam yang menempel di dinding kamar. Ternyata aku tertidur sangat lama, mungkin sebentar lagi akan ada orang yang memintaku untuk makan malam.
Lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu aku keluar mencari ayah. Akan kutanyakan pada ayah mengenai Maslaah perusahaan yang harus aku selesaikan.
Kumelangkah dengan cepat menuju kamar mandi guna membersihkan diri, setelah selesai terdengar suara pintu diketuk. Aku membukanya lalu melihat seorang pelayan, dia mengatakan bahwa ayah sudah menunggu di ruang baca.
Aku pikir dia menyuruhku untuk makan malam, ternyata ayah menunggu menyuruhnya untuk memanggilku. Setelah pelayan itu pergi, aku bergegas menuju ruang baca menemui ayah.
Mungkin yang akan ayah katakan adalah mengenai masalah perusahaan. Aku harus segera menyelesaikan semua masalah ini, sehingga bisa kembali ke Jepang.
Saat tiba di depan pintu ruang baca, aku mendengar ayah yang sedang marah-marah. Entah apa yang membuatnya begitu marah, apakah ada yang sudah membuatnya kesal. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di perusahaan cabang Indonesia.
Tok!
Tok!
Aku mengetuk pintu ruang baca, terdengar suara ayah yang mengatakan masuk. Setelah itu aku membuka pintu ruang baca lalu masuk. Aku melihat ayah yang sedang duduk tetapi terlihat wajah kesal ayah sehingga membuat asisten Ari terdiam. Jika sudah seperti ini, mungkinkah yang terjadi itu sangat fatal.
__ADS_1