
Lexa POV
Setelah selesai sarapan aku kembali ke kamar untuk merapikan ranjang sudah mereka kacaukan. Saat hendak merapikan ranjang, dia sungguh terkejut dengan apa yang dia lihat.
Dengan cepat dia melepaskan semua kain putih yang sudah terkena bercak merah, dia sungguh malu jika Hinoto melihat semua itu. Dia hendak mencuci kain yang terkena bercak merah itu Hinoto masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan?!" Hinoto berkata dari belakangku.
Aku terkejut secara spontan aku berbalik dan menyembunyikan kain itu di belakang. Dia terlihat sangat penasaran dengan apa yang aku sembunyikan. Dia berusaha mengambil yang ada di tanganku, tetapi aku tidak akan memperlihatkannya.
Aku berlari guna menghindarinya, akan tetapi dia berhasil menarik kain yang kupegang. Secara perlahan dia menarik kain tersebut sedikit demi sedikit aku pun tertarik olehnya.
Akhirnya dia melihat kain yang ada bercak merah, meski aku berusaha menutupinya. Dia masih bisa melihatnya, terlihat jelas dia tersenyum padaku. Aku tidak tahu apa yang sedang ada dipikirannya, dia melangkah mendekatiku.
Aku berjalan mundur ketika dia melangkah maju, aku masih teringat dengan kejadian semalam. Masih bisa kurasakan rasa sakit di bagian kewanitaanku. Aku belum siap jika dia menyerangku kembali lalu dia mulai bermain.
"Kenapa kau berjalan mundur sayang?!" ucap Hinoto dengan senyum mesumnya.
"Hentikan ini Hinoto! Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, lebih baik kita istirahat sejenak!" ucapku padanya. Namun dia tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan, dia terus saja mendekatiku.
Whuuss!
Aku melayangkan tendanganku dengan setengah tenagaku, namun dia berhasil menangkap kakiku. Sehingga aku berdiri dengan satu kaki saja, dia berpikir aku tidak bisa bertahan hanya dengan satu kaki saja. Dia salah telah menilaiku.
Srettt!
Brugggg!
Dia menarik kakiku dengan sekuat tenaga, sehingga aku terjatuh dalam pelukannya. Aku tidak menyangka dia akan menarik kakiku secepat ini, tadinya aku berniat berputar sehingga kakiku terlepas dari genggamannya.
"Bagaimana sayang? Apakah kau masih ingin menyerangku?" Hinoto berbisik padaku lalu dia mengecup telingaku dengan lembut.
"Hentikan ini Hinoto!" ucapku padanya.
"Apakah terasa sakit?" Hinoto berkata lirih.
"Iya itu sakit tahu! Apa kau tidak merasakannya?!" ucapku dengan sedikit kesal.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah terkekeh. Sungguh aku kesal di buatnya.
__ADS_1
Bug!
Kulayangkan tinjuanku ke arah perutnya, dia mengerang kesakitan. Namun dia masih melanjutkan tawanya, aku semakin kesal dibuatnya. Entah mengapa aku merasa semakin terlihat aura mesum darinya, setelah apa yang terjadi semalam.
Aku berjalan meninggalkannya menuju kamar, aku lelah setelah bergulat dengannya. Tenagaku belum pulih setelah semalam, ditambah dia membuatku kesal.
Aku merebahkan tubuhku untuk istirahat sejenak, aku tidak peduli dia mau berbuat apa. Yang penting aku istirahat sejenak, pintu kamar sudah aku kunci agar dia tidak bisa masuk menggangguku.
Aku merasakan ada yang menyentuh bagian tubuhku, sehingga aku terbangun. Saat aku menengok ternyata Hinoto sudah berada disampingku.
"Apa yang kau lakukan?!" tanyaku pada Hinoto.
Dia tidak menjawab apa yang kutanyakan, tangannya masih saja berseluncur di tubuhku. Aku tidak bisa membuatnya menghentikan semua permainannya. Dia memang suami mesumku, aku tidak akan kalah olehmu!
Aku berbalik, kutatap kedua bola matanya dengan lekat. Dia terkejut saat aku mengecup bibirnya. Sekarang aku yang memimpin senyumku, dia hanya terdiam dan menikmati semua permainanku.
Aku mengecup lembut bibirnya, lidahku bermain di dalam rongga mulutnya. Dia tidak tahu jika aku bisa melakukan apa yang sudah dia lakukan tadi malam.
Kecupanku tidak hanya di bibirnya saja, tetapi menjalar ke ceruk lehernya lalu berjalan ke dadanya dan menyesap bagian dadanya sehingga terlihat tanda kepemilikan yang hanya milikku.
Kuhentikan permainanku sesaat untuk melihat wajah Hinoto yang begitu menikmati permainanku. Tangan jahilku berjalan menuju bagian bawah yang sangat sensitif baginya. Tanganku terus bermain di sana sehingga terlihat jelas Hinoto begitu menikmatinya.
"Apa kau menikmatinya, sayang?!" Aku berkata padanya dengan menjulurkan lidahku lalu berlari keluar.
Aku terkejut saat melihat wajahnya langsung berubah, aku tahu dia pasti sangat kesal dengan apa yang aku lakukan. Aku harus bersiap-siap jika dia akan membalas perlakuan yang tadi aku lakukan.
Aku bingung kenapa dia tadi bisa masuk ke dalam kamar? Bukannya aku sudah mengunci pintu kamar. Apakah dia memiliki kunci cadangan kamar.
"Dasar kau bodoh Lexa! Tentu saja dia bisa masuk, dia pasti memiliki kunci cadangan kamar! Ini 'kan apartemennya!" gumamku.
"Kau baru menyadarinya sayang? Bahwa aku bisa masuk kapan saja aku mau!" Bisiknya padaku.
Ternyata dia sudah ada di belakangku, dia pun sudah mendekapku dengan erat. Aku sudah tidak bisa lepas darinya, aku juga sudah lelah memikirkan cara untuk menjahilinya.
"Sudah cukup! Aku sudah lelah, istirahat sejenak ya? Ya? Ya?" ucapku dengan wajah memohon.
Hinoto tersenyum, tanpa mengucapkan apapun dia langsung mengangkat tubuhku lalu dia duduk di atas sofa. Dan aku duduk diatasnya pangkuannya.
"Apa semalam terasa sakit?" lirihnya padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk, mungkin dia tidak mendengar aku merasakan kesakitan saat bagian tubuhnya memasuki bagian tubuhku yang sangat sensitif. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat dengan rasa sakit itu. Namun aku juga masih ingat setelah rasa sakit mereda semuanya menjadi kenikmatan yang baru kurasakan.
"Maaf ya," lirihnya lagi padaku.
Aku tersenyum, kukecup bibirnya sekilas lalu kukatakan "Tidak apa-apa."
Dia memelukku setelah mendengar jawabanku, entah mengapa aku merasa nyaman dengan pelukannya. Selain ayah yang pernah memangku dan mendekapku sehingga membuatku nyaman. Hanya kau Hinoto, aku harap masih bisa merasakan kehangatan seperti ini.
Tanpa aku sadari aku membalas pelukannya, entah berapa lama aku mendekapnya terus. Namun itu tidak membuatku bosan, mataku terasa sangat berat sekali. Aku lelah dengan yang terjadi tadi malam, lalu saat aku hendak tidur dia menggangguku.
Aku membuka kedua mataku, aku tersadar masih dalam pangkuan Hinoto. Kulihat dia pun terlelap, lalu ku mencari jam yang menempel di dinding. Ternyata sudah sore, aku tertidur begitu lelapnya di atas pangkuannya. Apakah dia tidak merasa pegal, aku beranjak perlahan dari pangkuannya.
Aku merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia tidak terbangun. Mungkin dia juga merasa lelah. Aku biarkan saja dia untuk beristirahat, tenggorokanku terasa kering. Kulangkahkan kakiku menuju pantry, laku membuka lemari pendingin.
Terlihat di dalam lemari pendingin penuh dengan bahan makanan dan minuman. Aku mengambil sebuah minuman dengan rasa jeruk, seperti sangat segar jika melewati tenggorokanku.
Saat aku sedang duduk menikmati minumanku, kulihat dia sudah terbangun dari tidurnya. Dia mencari keberadaanku, aku tersenyum lalu dia berjalan menghampiriku.
"Apa kakimu tidak kebas?" tanyaku pada Hinoto dengan tersenyum.
"Sudah membaik, kau harus bertanggung jawab atas rasa kebas kakiku!" Hinoto menjawab dan jawabannya itu membuatku sedikit kesal. Namun aku memaafkannya kali ini.
Tanpa mengatakan apa-apa dia langsung mengambil gelasku, dia meminum sisa minuman yang berada di dalam gelas.
"Itu punyaku! Mengapa kau meminumnya?" Aku menjadi kesal kembali, karena aku tidak suka jika minumanku diambil orang lain. Bahkan jika Lexi mengambil minumanku pun aku marah.
"Mulai sekarang biasakan jangan marah jika aku meminum minumanmu! Karena aku akan selalu melakukannya!" ucap Hinoto dengan dingin.
"Huh ... Terserah kau sajalah! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" ucapku.
Dia tersenyum lalu berkata, "Bersiaplah sebentar lagi kita pergi makan makan di luar. Setelah itu kita kembali ke rumahmu!"
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉