
Lexa POV
Di pagi hari suasana kamar ku di kacau kan oleh Aiko. Dia langsung berhamburan masuk ke kamar ku dan membangunkan ku. Dia langsung menyalakan televisi yang ada di kamar ku. Dia mencari Chanel yang dia lihat di kamarnya dan dia menemukan Chanel yang dia ingin tunjukkan padaku. Kulihat sebuah berita terkini, dalam berita tersebut sebuah perusahaan bisa pailit dalam waktu semalam.
Aku terkejut perusahaan yang pailit tersebut adalah perusahaan Doni. Terlihat sekali ekspresi Doni sangat sedih dan frustasi, dia tidak bisa mengatasi kehancuran perusahaannya. Setelah aku melihat semua itu, aku langsung berlari menghampiri ayah. Aku tahu ini pasti perbuatan ayah, saat aku melihat ayah sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi dan membaca berkas-berkas.
"Ayah! Apa semua ini Ayah yang lakukan?" tanya ku pada ayah yang sedang menikmati kopi.
"Apa yang kau maksud Lexa? Jika yang kau maksud perusahaan Doni! Iya aku yang melakukannya! Karena dia sudah berani menghina putra kesayangan ku!" Ayah berkata dengan nada dingin, ini lah sifat asli ayah, jika ada yang menggangu orang yang disayanginya.
Kalau ayah sudah bertindak aku tidak bisa berbuat apa-apa, itu salah mereka membuat ulah pada Lexi. Dan ayah melihat ulah mereka dengan mata kepalanya sendiri. Sebenarnya aku ingin memberi pelajaran yang lebih menyakitkan tapi ayah sudah bertindak. Lebih baik aku fokus pada misi ku.
"Ada apa sih pagi-pagi kau sudah berisik Lexa?" tanya Lexi pada ku, sepertinya dia belum tahu semua berita hari ini.
Aiko memberitahukan semuanya pada Lexi, dia sangat terkejut kemana semuanya terjadi. Saat mengetahui bahwa semua itu perbuatan ayah, dia hanya diam dan tak mau membahas semua itu. Aku mengerti dengan Lexi, dia tidak mau memikirkan masa lalu yang sudah membuatnya kecewa.
"Lebih baik sekarang kita mencari tahu semua tempat yang pernah bunda kunjungi, sebelum dan sesudah bertemu dengan ayah!" ucapku dengan serius.
Semuanya diam dan memikirkan apa yang aku tanyakan, saat semuanya diam ayah menyuruh asisten Ari untuk mengambil sebuah berkas. Asisten Ari pun memberikan sebuah berkas padaku, di sana sudah ada beberapa salinan informasi. Aku membaca semua data dari berkas itu, ternyata semua itu adalah informasi tempat yang pernah bunda kunjungi. Selain Indonesia bunda mengunjungi Kairo, Paris dan Jepang, apakah kami harus mengunjungi ketiga negara ini.
"Lebih baik kalian segera pergi ke Kairo untuk mengumpulkan semua puzzle yang peninggalan Leo!" ucap ayah pada kami.
"Kita akan pergi besok lusa! Hari ini aku ingin menikmati kasih sayang dari mu Ayah!" Aku berkata dan Lexi pun menyetujuinya.
Ayah tersenyum mendengar ucapan ku, dia berdiri dan memeluk ku dengan lembut dan mengecup keningku dengan lembut. Aku sangat menyukai pelukan dan kecupan ayah, aku merasakan kehangatan yang hampir sama seperti bunda. Lexi yang melihatku di peluk ayah langsung memeluk kami berdua. Akhirnya kami bertiga saling berpelukan.
"Tuan, maaf saya menggangu Anda! Ada pertemuan yang harus Anda hadiri hari ini!" Asisten Ari berkata.
Ayah pun pergi untuk bersiap ke kantor, asisten Ari pun menyiapkan semua keperluan ayah. Aku bersama Aiko pergi ke ruang latihan yang biasa bunda pakai. Sudah lama tidak meregangkan otot-otot ku. Sedangkan Lexi dia memilih duduk di depan komputer kesayangannya.
Bak!
Bik!
__ADS_1
Aku melayangkan tinjuan dan tendangan ku pada sebuah samsak, yang sudah menjadi teman latihan ku selama aku masih di Indonesia. Setelah selesai dengan pemanasan yang kulakukan, Aiko mengajak ku berlatih bersama. Kami saling mengeluarkan jurus yang kami miliki. Kulayangkan tinjuanku dia menahannya, aku terus menyerangnya dan dia terus bertahan.
Whussss!
Aiko melayangkan tendangannya, secara refleks aku menghindar. Dengan cepat Aiko kembali menyerangku dengan tinjuan ya yang bertubi-tubi. Aku pun bertahan menghadapi serangannya, tinjuannya sangat cepat dan bertenaga. Rupanya dia sudah mempersiapkan semua ini untuk menghadapi para musuhnya.
Setelah puas dengan saling serang dan bertahan kami memutuskan untuk beristirahat. Setelah latihan selesai aku berencana mengajak Aiko ke arena balapan motor, yang biasa aku atau bunda memacu kecepatan motor kami. Aku pun membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian untuk balapan motor. Warna hitam, aku lebih suka pakaian berwarna hitam jika mengendarai sepeda motor, sama seperti bunda.
Saat aku sedang duduk menunggu Aiko, Lexi berlari ke arahku dan berkata, "Ayah dalam bahaya! Kita harus menolongnya!"
Aku terkejut dengan yang di ucapkan Lexi, aku langsung bertanya padanya, "dimana lokasi Ayah? Apakah kau sudah melacaknya!"
Aiko datang dan menanyakan apa yang terjadi, aku pun menceritakan semuanya pada Aiko. Aku langsung pergi menggunakan motor begitu pun Lexi dan Aiko. Lexi yang memimpin kami menuju lokasi ayah. Karena dia yang tahu pasti lokasi ayah berada. Kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh, aku tidak ingin kehilangan ayah. Tidak kali ini, tidak akan kubiarkan mereka mencelakai ayah, seperti mereka mencelakai bunda.
Setelah melewati jalanan sepi, akhirnya kami melihat ayah sedang di berkelahi dengan para penjahat. Ayah sudah terpojok, tinggal tersisa ayah, asisten Ari dan Aldo. Mereka bertiga masih bisa bertahan. Begitu banyak penjahat yang mengepung mereka, aku tahu mereka Masri sudah kelelahan. Aku langsung tarik gas motor seketika motorku melesat dengan cepatnya.
Ckitttt!
Suara decitan motor terdengar nyaring, kami mengerem dengan kuat motor kami. Semua penjahat terkejut dan memandang kami, aku turun dari motorku begitu pula Lexi dan Aiko. Kami langsung menyerang mereka tanpa membuka helm.
Bak!
Bik!
Whuuss!
Kulayangkan pukulan secara membabi-buta pada para penjahat, sesekali juga aku menendang mereka. Lima penjahat mengepungku, kupasang kuda-kuda sambil melihat serangan mereka. Salah satu penjahat melayangkan pukulannya, ku lindungi wajahku dengan kedua tanganku. Aku terus bertahan menghadapi serangnya sambil melihat titik kelemahannya.
Whussss!
Bruug!
Kupukul dia dengan tinjuanku dan kulayangkan tendangan dengan sekuat tenaga, dia pun terhuyung kebelakang dan terjatuh. Karena melihat kawannya terjatuh, ke empat penjahat itu langsung menyerangku secara bersamaan. Aku bersiap dengan serenagn mereka, mereka pikir bisa mengalahkan begitu saja. Salah satu penjahat membawa balok kayu dan memberikannya kepada ketiga kawannya.
__ADS_1
"Lexa!!" teriak Aiko padaku sambil melemparkan sebuah tongkat pemukul pada ku.
Aku menangkap tongkat kayu yang di berikan Aiko dan membuka helm. Lalu aku bersiap untuk menghadapi serangan mereka berempat. Dalam hitungan detik mereka langsung menyerangku. Kutangkis pukulan mereka, aku membiarkan mereka untuk menyerangku. Aku ingin lihat sampai dimana kekuatan mereka dan mencari kelemahan mereka.
"Binggo!!"
Mereka sudah kelelahan aku langsung menyerang mereka dengan pukulan secara bertubi-tubi. Aku tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk membalas serangan ku. Satu per satu penjahat jatuh tak berdaya, mereka mengerang kesakitan. Aku melihat ke sekeliling, ternyata para penjahat sudah berhasil di lumpuhkan. Aku langsung menghampiri ayah, aku melihat ada luka di wajahnya dan dia mulai kelelahan. Aku langsung memeluk ayah, sungguh aku takut kehilangannya. Karena hanya dia yang kumiliki selain Lexi.
"Sudahlah aku tidak apa-apa!" ayah berkata padaku dengan senyum lembutnya.
Dor!!
Dor!!
Aku terkejut mendengar suara tembakan, teryata ada beberapa penjahat yang masih bertahan dan mereka mengeluarkan senjata api. Kami terdiam, kami tidak bisa melakukan apapun yang bisa kami lakukan mencari celah untuk menyerang mereka.
Dor!!
Dor!!
Satu per satu penjahat terjatuh terkena tembakan, aku mencari suara tembakan yang menyerang mereka. Ternyata asisten Ari dan Aldo yang menembakkan senjata api ke pada para penjahat. Setelah semuanya dilumpuhkan, asisten Ari menelepon pihak berwajib. Dia melaporkan semua yang terjadi, aku bersama ayah dan yang lainnya pergi meninggalkan lokasi perkelahian. Kami memutuskan kembali ke rumah, sedangkan asisten Ari dan Aldo mengurus semuanya sampai pihak berwajib tiba.
Pada malam harinya aku memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada ayah dan yang lainnya. Aku mengumpulkan semuanya termasuk asisten Ari dan Aldo.
"Aku sudah memutuskan! kita harus segera mencari pecahan puzzle yang di tinggalkan Leo Ahmad! Sepertinya orang yang menyerang ayah tadi siang adalah orang yang sama yang membuat Bunda tiada!" ucapku dengan serius.
Mereka mendengarkan semuanya dan berpikir, akhirnya Lexi memberikan keputusannya. Dia setuju dengan ucapan ku, begitu juga dengan Aiko. Sebenarnya aku ingin menyuruh Aiko kembali ke Jepang, untuk mengurus perusahaan di sana. Tapi dia bersikeras tidak ingin kembali ke Jepang, dia ingin membantu ku membalaskan dendam bunda.
"Baiklah kalau begitu! Ayah ijinkan kalian pergi besok! Dengan satu sayarat, kalian pergi bersama Aldo! Dan apa pun yang kalian lakukan, kalian harus melaporkan semuanya padaku!" ucap ayah dengan tegas, seraya kami tidak boleh membantahnya. Dan kami pun menyetujui semua yang menjadi syarat ayah.
____________________________________________
Yuhuuu, terima kasih semuanya yang telah setia membaca dan menantikan update novel ku. Jangan lupa ya kasi like, bintang-bintang yang bertaburan ya 😀 dan juga komen yang membangun.
__ADS_1
kalau bisa jadikan favorit juga ya hihihi, apalagi kalau kalian memberikan poin kalian untuk novel ini. Woaahhh aku banyak mau nya ya 😂😂😂
c you next bab ya gaes!