
Lexi POV
"Dasar kau Lexa! Membuatku kesal saja!" gumamku sembari menghempaskan tubuh di atas sofa.
"Ada apa denganmu?!" tanya Himawari yang baru saja duduk di sampingku.
Aku mengatakan padanya sedang kesal dengan Lexa karena saat dihubungi ke ponselnya tidak bisa di hubungi. Sedangkan saat aku menghubungi ponsel Hinoto rupanya dia yang mengangkat ponsel Hinoto dengan cepat.
Himawari terkekeh saat mendengar jawabanku yang kesal karena Lexa. Aku menyuruhnya berhenti tertawa karena tidak ada yang lucu dari sikapku.
"Kau seperti seorang ayah yang kesal pada putrinya yang sulit dihubungi," Himawari berkata padaku sembari tertawa kembali.
Sungguh berani sekali dia menertawakan diriku, tidak akan aku lepaskan kau kali ini wanita tengil. Dengan cepat aku memegang tangan lalu mengecup bibirnya agar dia menghentikan tawanya.
Dia berusaha melepaskan kecupanku tetapi aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Tanganku mencengkeramnya dengan erat, aku pikir dia akan terus melawanku. Ternyata dia akhirnya mengikuti permainanku.
Saat aku sedang menikmati permainan, tiba-tiba ponselku berdering. Aku mengabaikan suara ponsel hingga akhirnya deringan ponsel berhenti. Namun, beberapa detik kemudian ponselku kembali berdering.
Himawari mendorong perlahan tubuhku, aku tahu dia ingin menghentikan permainan yang aku lakukan karena ponselku berdering terus.
Aku sedikit kesal karena ponsel ini sudah mengangguku lalu aku mengambil ponsel dan melihat siap yang menghubungiku. Kulihat di layar ponsel tertera nama Aldo.
Ingin rasanya aku langsung memeluk kepalanya agar tidak mengangguku. Namun, aku kenali berpikir jika dia menghubungiku berkali-kali tandanya ada hal yang penting.
Setelah mengangkat dan berbicara dengan Aldo, aku memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Karena saat ini ada hal penting yang harus aku lakukan dengan Aldo.
"Ada apa?!" Himawari bertanya padaku.
"Bersiaplah, kita akan kembali ke Jakarta hari ini!" jawabku padanya.
Dia pun bergegas merapikan barang-barang bawaan kami, dia tidak bertanya lebih lanjut masalah yang terjadi. Saat ini aku belum bisa mengatakan padanya apa yang sudah terjadi.
Lebih baik aku mengatakan padanya jika sudah berada di rumah, agar dia tidak merasa khawatir. Sebenarnya aku tahu dia ingin tahu apa yang terjadi.
Setelah semuanya siap aku langsung menuju bandara, tiket untuk penerbangan ke Jakarta sudah di pesan oleh Aldo. Sehingga aku bisa dengan cepat kembali ke Jakarta.
***
Tibalah aku di Jakarta, terlihat Aldo yang sudah menunggu kedatanganku dan Himawari. Dia langsung menghampiriku dan menyuruh seorang sopir untuk membawa berangku serta Himawari.
"Ada apa sebenarnya?!" Himawari bertanya padaku dalam perjalanan menuju rumah.
Aku mengatakan jika Rosetta mulai menganggu perusahaan bunda, sepertinya dia sangat menginginkan perusahaan parfum. Terlihat rasa kesal dari sorot mata Himawari saat mendengar itu.
"Apa belum cukup yang sudah dia dapatkan dari ibuku?! Sehingga dia ingin memiliki perusahaan bundaku?" tanyanya dengan nada kesal.
Mendengar pertanyaan Himawari aku kembali berpikir apa sebenarnya tujuan Rosetta. Apakah dia ingin menghancurkan perusahaan bunda atau ingin memilikinya.
"Kita kerumahnya dulu untuk mengantar Himawari! Setelah itu kita pergi ke perusahaan!" Aku memerintah sopir.
Tibalah kami di rumah, aku menyuruh Himawari untuk menunggu di rumah. Aku tidak mengijinkannya untuk keluar rumah, agar aku tidak terlalu merasa khawatir terhadapnya.
Setelah melihatnya masuk kedalam rumah aku menyuruh sopir untuk segera jalan menuju perusahaan. Aldo memberikan beberapa dokumen lalu aku membacanya dengan seksama.
"Lexi, Rosetta sudah ada di perusahaan!" ucap Aldo padaku.
"Mau apa dia sebenarnya?" gumamku.
Ponselku berdering, aku melihat layar ponsel siapa yang menghubungiku. Tertera nama Lexa, aku langsung mengangkatnya. Dia bertanya tentang perusahaan bunda, sepertinya dia mengetahui jika perusahaan bunda kembali dalam masalah.
Lebih baik aku berkata jujur padanya, lalu aku mengatakan pada Lexa apa yang sudah terjadi. Lexa mengatakan bahwa dia percaya padaku bisa mengatasi semua itu.
Setelah selesai beicara dengan Lexa, aku memutuskan sambungan telepon. Karena saat ini aku sudah tiba di perusahaan, aku dan Aldo bergegas ke ruangan.
Seorang sekretaris mengatakan jika Rosetta sudah menunggu di dalam ruangan. Aku sangat marah mengapa dia mengizinkan Rosetta untuk menunggunya di ruangannya, mengapa tidak di suruh menunggu di ruang rapat saja.
Sekretaris mengatakan jika Rosetta sesniri yang memaksa masuk ke dalam ruangan. Keamanan pun sudah menyuruhnya untuk keluar tetapi dia membuat ulah.
Saat aku memasuki ruangan, kulihat Rosetta sedang berdiri dan melihat-lihat foto bunda. Dia terlihat sangat berbeda jika melihat foto bunda yang terpajang sangat rapi.
"Ada apa kau kemari?!" tanyaku Rosetta.
Dia sedikit terkejut dengan nada bicaraku yang sedikit meninggi tetapi dia bisa merubah ekspresi wajahnya dengan sangat cepat. Dan raut wajahnya berubah menjadi seperti Rosetta yang licik dan penuh ambisi.
"Aku ingin memiliki perusahaan ini!" jawabnya padaku dengan nada percaya dirinya.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau menginginkan perusahaanku?! Bukankah kita tidak memiliki hubungan sama sekali! Jadi untuk apa aku memberikan perusahaan ini padamu?!"
Dia tersenyum mendengar apa yang aku katakan, entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Namun, yang pasti dia memiliki sebuah rencana yang akan membuat aku merasa kesal.
"Jika kau mau— aku bisa menjadi istrimu, sehingga aku berhak meminta perusahaan ini untukku!" Rosetta berkata dengan nada menggoda.
__ADS_1
Aku tidak habis pikir dengan yang dia katakan tadi, apakah dia tidak berpikir sebelum bicara seperti ini padaku. Bukankah dia sudah tahu jika aku adalah suami dari sepupunya. Lagi pula aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Seorang wanita yang memiliki banyak ambisi dan untuk memenuhi ambisinya itu dia rela mengorbankan tubuhnya yang sendiri.
"Hahah, apakah kau sudah hilang ingatan Nona Rosetta? Aku adalah suami dari Himawari, sepupumu!" Aku berkata sembari tertawa.
"Kau bisa berpisah dengannya atau aku bisa menjadi istri keduamu!" jawabnya padaku dengan serius.
"Dengarkan aku, sampai kapan pun aku Alexi Wibowo tidak akan pernah berpisah dengan istriku atau menikah dengan wanita seperti dirimu!" Aku mengatakan semua itu dengan penekanan agar dia tidak berharap lebih dari keinginannya.
Dia terdiam tetapi tidak berapa lama dia tersenyum dan duduk di atas sofa dengan santainya. Lalu dia mengatakan jika lambat lain perusahaan ini akan menjadi miliknya karena perusahaan ini lebih cocok jika dia yang memegangnya.
Dia juga berkata jika aku lebih cocok memegang perusahaan ayah yang penuh dengan persaingan antar dunia gelap. Yang dia maksud dunia gelap adalah para mafia Jepang.
Entah dari mana dia menemukan informasi seperti itu tetapi apa yang dikatakannya memang benar. Semua perusahaan ayah semua saingannya adalah orang-orang yang bergelut di dunia hitam.
Namun, semenjak ayah menikah dengan bunda, ayah sudah mulai mundur perlahan dari dunia itu. Dan sekarang lebih memilih menjalankan perusahaan dengan jalan yang bersih.
"Kau tidak berhak memutuskan apa yang cocok dan tidak cocok denganku! Namun, yang pasti aku akan mempertahankan perusahaan ini karena ini adalah perusahaan yang bunda lindungi semasa dia masih hidup!" Aku berkata padanya dengan dingin.
Terlihat sorot matanya berubah saat aku mengatakan bunda tetapi dia dengan cepat bisa merubah semua ekspresi wajahnya, menjadi wanita yang sangat menyebalkan.
"Kita lihat saja nanti! Aku akan menjadi pimpinan perusahaan ini!" Rosetta berkata dengan senyum sinisnya lalu dia pergi meninggalkan ruangan.
Aku tidak habis pikir dengan wanita itu, mengapa dia begitu percaya diri akan memiliki perusahaan ini. Sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan perusahaan bunda pada siapa pun.
"Aldo, aku ingin kau selidiki semuanya! Mengapa Rosetta sangat yakin dengan apa yang dia katakan tadi!" perintahku pada Aldo.
"Baik!" jawab singkat Aldo lalu pergi dari ruanganku.
Setelah kepergian Aldo aku kembali mengerjakan apa yang belum aku selesaikan saat sebelum pernikahan. Aku menyuruh sekretaris untuk mengambil beberapa dokumen yang aku butuhkan.
Tidak berapa lama sekretaris membawakan beberapa dokumen yang aku minta. Setelah itu dia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak terasa waktu sudah senja, Himawari sudah menghubungi menanyakan kapan aku akan kembali ke rumah karena ayah sudah berada di rumah.
Setelah aku selesai bicara dengan Himawari, pintu ruanganku ada yang mengetuk. Lalu aku menyuruhnya masuk, yang masuk adalah Aldo dia sudah siap untuk mengantarku kembali ke rumah.
***
Saat aku tiba di rumah, aku melihat ayah sudah duduk di sofa sembari membaca dokumen yang ada di tangannya. Aku menghampirinya sembari mengucapakan salam sembari mengecup punggung telapak tangan ayah.
Tidak begitu lama aku melihat Himawaru berjalan menghampiriku lalu dia mengucaokan salam padaku dan mengecup punggung telapak tanganku. Aku pun mengecup keningnya dengan lembut, sekilas aku melihat ayah yang tersenyum melihat aku dan Himawari.
"Apa kau tidak mengajakku makan malam? Mengapa hanya ayah yang kau ajak makan malam?" tanyaku dengan nada kesal.
Ayah terkekeh mendengar ucapanku dan yang membuatku semakin kesal Himawaru, Aldo serta asisten Ari ikut menertawakanku. Aku kesal lalu berjalan meninggalkan Himawari menuju kamar.
Namun, langkahku terhenti saat lenganku dipegang oleh Himawari. Aku melihat wajahnya dengan senyum manis, lalu membisikkan kata-kata yang begitu sejuk dan mengajakku untuk makan malam juga.
"Ahhhh ... Aku tidak menyangka jika putraku masih seperti anak kecil yang suka ngambekan dan iri pada ayahnya sendiri!" Ayah berkata sembari melewatiku berjalan menuju meja makan.
Kulihat Himawari berusaha menahan tawanya tetapi dia sudah tidak bisa menahan tawanya. Sehingga dia melepaskan tawanya dengan sangat keras.
Jika dia seperti ini aku teringat dengan Lexa, dia sama dengan Lexa yang tidak bisa menahan tawa walau sesaat. Baru berupa hari tidak bertemu dengannya, aku sudah merasakan rindu. Apakah aku bisa bertahan tanpa dia.
"Kenapa, sayang? Kau teringat Lexa ya?!" Himawari bertanya padaku.
Dia sungguh tahu apa yang ada di dalam pikiranku, itu sebabnya aku begitu mencintainya dan tidak akan pernah berpaling darinya. Meski maut memisahkan kami berdua.
Aku ingin menjadi seperti ayah yang hanya setia dengan cintanya, tidak berpaling sedikit pun pada wanita lain meski wanita itu lebih cantik dan pintar dari pada bunda.
Namun, menurut ayah bunda adalah wanita yang paling cantik dan pintar di dunia ini. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kecantikan dan kepintaran bunda.
Ayah memangilku untuk makan malam, aku pun berjalan menghampiri ayah bersama Himawari. Sedangkan Aldo dan asisten Ari memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena baik aku atau ayah sudah tidak memerlukan bantuannya lagi.
Terkadang pernah terbersit di dalam pikiranku untuk menyuruh asisten Ari dan Aldo untuk menempati kamar kosong di rumah ini. Namun, mereka tidak mau karena mereka lebih memilih tinggal di rumah yang ada kenangan istri asisten Ari yang tak lain ibu dari Aldo.
Setelah makan malam selesai, ayah memintaku untuk ke ruang kerjanya. Ada suatu hal yang ingin dibicarakan, aku pun mengikuti ayah ke ruang baca sedangkan Himawari menungguku di kamar.
"Ada apa Ayah?!" tanyaku pada ayah semabri duduk.
"Apa Rosetta sudah menemuinya?!" Ayah berbalik bertanya padaku.
Aku mengatakan jika Rosetta menemui ku di perusahaan bunda, lalu aku mengatakan pada ayah apa yang dikatakan oleh wanita itu. Saat aku sudah selesai mengatakan semuanya, terlihat jika ayah sangat sedih.
Entah apa yang ada di pikiran ayah, mengapa ayah terlihat sedih setelah mendengar apa yang aku ceritakan. Lalu aku bertanya pada ayah, sebenarnya apa hubungannya Rosetta dengan bunda.
"Serahkan perusahan bunda padanya!" Ayah berkata dengan nada serius.
"Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Mengapa aku harus menyerahkan perusahaan bunda pada wanita seperti dia! Jelaskan kepadaku Ayah!?" Aku bertanya dengan nada tinggi karena rasa terkejut mendengar ucapan ayah.
Ayah tidak banyak bicara padaku lalu menyuruhku untuk kembali ke kamar. Aku masih kesal pada ayah, mengapa bisa berkata seperti itu? Apakah ada hubungan antara ayah dan Rosetta? Tetapi tidak mungkin karena ayah hanya mencintai bunda.
__ADS_1
Apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu pada ayah, sehingga ayah memutuskan untuk menyerahkan perusahaan bunda. Perusahaan yang sudah bunda besarkan hingga akhir hayatnya.
Aku masuk kedalam kamar dengan perasaan kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari ayah. Jika ayah memang ingin bersama wanita lain itu silahkan saja tetapi buka Rosetta karena dia bukan wanita yang baik untuk ayah.
"Ada apa? Kau terlihat kesal hari ini?!" Himawari bertanya padaku.
Aku mengatakan semuanya pada Himawari, dia juga terlihat sangat terkejut sama seperti aku saat mendengar ayah tadi. Lalu dia bertanya mengapa ayah melakukan itu.
Apa yang ditanyakan oleh Himawari tidak dapat aku jawab karena aku pun tidak tahu alasan yang pasti tentang apa yang ada di dalam pikirannya.
"Sudahlah, tenangkan dirimu. Mungkin ayah memiliki alasan yang baik dibalik itu! Aku juga tidak tahu Rosetta seperti apa tetapi aku merasa ada yang disembunyikan oleh Rosetta. Dia bersikap jahat dan buruk padaku dan keluargaku. Namun, entah mengapa aku merasa dia tidak sejahat itu!" Himawari berkata berdasarkan apa yang dia rasakan.
Akan tetapi aku tidak bisa menyetujui begitu saja, meski Himawari mengatakan jika Rosetta adalah wanita baik. Aku tidak akan pernah percaya begitu saja padanya.
Himawari berkata padaku agar aku bisa lebih tenang dalam menghadapi segala masalah. Setalah itu dia pergi berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Aku masih terduduk di atas sofa semabari memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah. Saat aku berpikir wajahku terkena tetesan air dari atas. Sempat terpikir apakah kamarku bocor tetapi itu tidak mungkin.
Saat aku mendongakkan kepala, aku melihat wajah Himawari berada tepat di atasku. Rupanya tetesan air berasal dari rambut Himawari, dia tersenyum lembut padaku.
Namun, yang aku lihat dari senyumannya itu dia sedang menggodaku. Aku menyeringai lalu menarik tengkuk lehernya dan mengecup lembut bibirnya yang terasa manis bagiku.
Dia berusaha untuk melepaskan diri dariku tetapi aku tidak akan melepaskannya kali ini. Aku menghentikan sesaat kecupanku padanya tetapi tanganku sudah memegang tangannya sehingga dia tidak bisa lari dariku.
Aku menarik tangannya sehingga dia terjerembab kedalam pelukanku, dia terlihat terkejut saat aku menarik tangannya. Namun, sebelum dia berkata-kata aku langsung mengecup bibirnya dengan lembut lalu bermain di rongga mulutnya.
Sepertinya dia menikmati permainanku sehingga dia pun ikut bermain, selain bibirku bermain dengan hangat tanganku pun tidak ingin diam begitu saja. Tanganku melepaskan handuk yang melilit tubuhnya, lalu jari-jemariku mulai berselancar di setiap lekuk tubuhnya.
Tubuhnya begitu menikmati setiap sentuhan jari-jemariku, sehingga tubuhnya menggelinjang. Aku hentikan kecupanku lalu bibirku mengecup bagian ceruk lehernya. Lalu menuju bagian dadanya, aku berlian cukup lama di bagian dadanya. Rupanya itu adalah bagian sensitifnya.
Terdengar suara lembut yang keluar dari mulutnya yang menandakan bahwa dia begitu menikmatinya. Setiap aku mendengar suara lembutnya itu membuatku semakin ingin bermain dengannya.
Akhirnya kami pun menikmati setiap gerakan yang dilakukan, hingga mencapai titik puncak kenikmatan kami berdua. Sehingga kami terasa terpuaskan tidak ada yang merasa tidak terpuaskan.
Setelah beristirahat sejenak aku menggendong Himawari lalu membawanya ke kamar mandi. Aku berinisiatif untuk membesarkan diri berdua dengannya. Setelah selesai membersihkan diri aku memutuskan untuk beristirahat. Karena besok masih ada yang harus di kerjakan.
***
Keesokan harinya aku berniat untuk ke perusahaan tetapi ayah mengatakan jika aku tidak perlu ke perusahaan. Karena ada hal yang harus aku urus di Surabaya membantu perusahaan haha yang sedang dalam masalah.
Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke Surabaya karena sudah pasti aku akan meninggalkan perusahaan bunda. Dan aku yakin jika Rosetta akan mulai melancarkan rencananya untuk menguasai perusahaan.
Namun, aku juga tidak bisa menolak perintah ayah, aku pun pergi ke Surabaya. Di sana aku segera menyelesaikan semua pekerjaan sehingga aku bisa kembali dengan cepat ke Jakarta.
"Apa kau mau ikut ke Surabaya?!" tanyaku pada Himawari.
"Tidak, kau kesana untuk bekerja. Lagi pula nanti malam kau sudah bisa kembali ke Jakarta -kan?!" jawabnya padaku.
Dia tahu betul jika aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Aku melihat Aldo yang sudah siap untuk pergi bersamaku ke Surabaya, dalam perjalanan ke bandara aku bertanya pada Aldo apakah dia sudah menemukan tentang Rosetta.
Aldo menjawab sepertinya ada yang melindungi Rosetta sehingga dia tidak bisa mencari tahu bagaimana Rosetta. Mungkinkah itu ayah yang melindungi semua informasi tentang Rosetta.
Sebenarnya siapa wanita itu sehingga ayah mau melindunginya, bukankah ayah begitu mencintai bunda. Aku tidak percaya jika Rosetta bisa membuat ayah melupakan bunda dengan mudah.
Setibanya di Surabaya aku langsung mengerjakan apa yang harus aku kerjakan. Agar aku bisa segera kembali ke Jakarta, entah mengapa aku merasakan akan terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan.
Aku bersyukur semua makalah di perusahan ini tidak terlalu serius, sehingga aku bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Aku menyuruh Aldo untuk memesan tiket ke Jakarta sore ini.
Tanpa aku perintahkan rupanya dia sudah menyiapkan tiket untuk kepulangan kami. Sehingga aku tidak perlu menunggu lama waktu penebangannya.
Pukul 20.00, aku tiba di Jakarta setelah itu aku langsung kembali ke rumah. Suasana rumah sudah sepi, mungkin ayah sudah berada di dalam kamarnya.
Saat aku hendak ke kamar, ayah memanggilku lalu menyuruh aku untuk mengikutinya ke ruangan baca. Aku pun mengikuti ayah, mungkin ayah ingin tahub pekerjaanku di Surabaya.
"Bagaimana? Apakah perusahaan di Surabaya sudah kau atasi dengan benar?" tanya ayah padaku.
Aku menjawab sudah menyelesaikan semuanya dengan benar, sehingga tidak akan dapat masalah lagi dalam waktu dekat ini. Mungkin juga dalam beberapa tahun kedepannya sistemnya baru bisa diperbaharui.
Setelah mendengar jawabanku, ayah mengatakan padaku untuk segera beristirahat. Aku pun meninggalkan ayah sendiri di ruang baca, mungkin ayah akan duduk beberapa lama di sana untuk mengenang bunda.
Karena itu yang selalu ayah lakukan setiap malam, selalu duduk di ruang baca melihat setiap kenangan kebersamaannya bersama bunda. Aku berharap kau selalu sehat ayah karena aku belum bisa membuatmu bahagia.
Saat memasuki kamar, aku melihat Himawari yang sudah terlelap. Mungkin dia kelelahan sehingga sudah tertidur jam segini, lebih baik aku membersihkan diri lalu beristirahat.
Aku melangkahkan kedua kakiku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur tepat di samping Himawari.
Dia terbangun tanpa mengucapkan kata-kata dia tersenyum lalu masuk ke dalam pelukanku. Aku tidak akan menganggunya malam ini, lebih baik aku pun segera beristirahat.
Saat aku hendak memejamkan mata, Himawari kembali bangun lalu dia bertemu bagaiman dengan pekerjaanku. Kami pun berbincang sesaat, setelah aku menceritakan hariku di Surabaya dia pun tersenyum. Lalu dia menawariku ingin minum atau tidak.
Aku menggelengkan kepalaku karena saat ini yang kuinginkan adalah memeluk istri yang aku cintai. Sehingga aku menyuruhnya kembali tidur dalam pelukanku. Karena dengan adanya dia bisa membuatku merasa tenang.
__ADS_1