Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 57


__ADS_3

Still Lexi POV


Aku lelah sekali di dalam benakku muncul begitu banyak pertanyaan. Lebih baik aku jalan keluar untuk mencari udara segar, aku perlu menyegarkan pikiranku. Kulihat Lexa sedang beristirahat, aku pun berkata padanya akan pergi keluar. Dia pun mengijinkan ku untuk pergi.


Ku ambil kunci mobil, ku jalankan mobil secara perlahan. Aku tak tahu harus kemana, ku ikuti mobil ini berjalan. Ku hentikan mobilku sejenak, ku berpikir akan pergi kemana?


Saat aku sedang berpikir, kulihat seorang wanita yang kelilingi beberapa orang. Seorang pria menodongkan senjatanya pada wanita itu. Kuperhatikan dengan seksama wanita itu, aku terkejut melihat wajahnya.


"Dia adalah wanita bercadar itu!"


Meski dia tidak bercadar, aku bisa mengenalinya. Karena aku sudah mengingat wajahnya, tidak mungkin aku melupakan wajah wanita yang sudah menyelamatkan ku dari musuh yang akan menghabisi ku serta Aldo.


Kulihat sekali lagi dengan seksama, benar dia benar wanita bercadar itu. Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia di tangkap oleh orang-orang itu? Sepertinya aku harus menolongnya.


Mereka sudah membawa wanita itu, aku harus mengikutinya. Kunyalakan mesin mobil, kuikuti mereka, jalanan mulai sepi. Mobil mereka memasuki sebuah gedung kosong. Kulihat jumlah mereka tidaklah sedikit. Kuhubungi Aldo agar dia segera menemui ku, aku memberikan lokasi keberadaan ku.


Dalam 20 menit Aldo sudah tiba, aku mengatakan semua keadaan situasi yang sudah diketahui. Aku tidak bisa bertidak seenaknya, ayah sudah memerintahkan padaku. Dalam setiap tindakan yang kulakukan harus beserta Aldo. Begitupun dengan Lexa, namun dia selalu saja tidak menuruti perintah ayah.


Dalam mobil sudah ada perlengkapan ku dan Lexa, aku menyuruh Aldo menggunakan topeng begitupun dengan ku. Untung saja perlengkapan yang di sediakan oleh Lexa dalam mobil ini masih tertata rapi.


Aku dan Aldo sudah siap, hari sudah sore daerah sini sudah sangat sepi. Dilihat juga gedung ini jauh dari pemukiman masyarakat, sehingga jika terjadi sesuatu tidak akan ada yang menyadarinya. Situasi sudah aman, jadi kuputuskan untuk segera masuk ke dalam gedung kosong.


Kami menerobos masuk ke dalam gedung kosong, Aldo mengecek berpakaian orang yang berada di dalam gedung itu. Total mereka kira-kira berjumlah 12 orang. Kulihat wanita itu sedang duduk terikat, wajahnya sudah ada luka lebam. Mereka benar-benar sampai hati memukul seorang wanita.


Kulihat semua berkumpul di satu titik, entah apa yang mereka rencanakan. Aku memberi aba-aba pada Aldo untuk langsung menyerang. Aku berjalan terlebih dahulu, wanita itu melihat ke arahku. Seorang musuh melihatku dia mulai bersiap untuk menyerangku.


Satu menyerang maka semuanya mulai menyerang, terjadilah perkelahian antara aku, Aldo dan para musuh. Semua saling mengeluarkan semua jurusnya. Tinjuan beterbangan di Sergai dengan tendangan.


Bak!


Bik!

__ADS_1


Buk!


Whussss!


Ku layangkan tinjuan bertubi-tubi diakhiri dengan tendangan. Satu persatu musuh berjatuhan. Semua sudah terkulai lemas, aku pun mendekati wanita yang sedang memandangiku. Kulepaskan semua tali yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya.


"Aldo hubungi pihak keamanan, suruh mereka memberikan semua ini!"


Perintahku pada Aldo, tapi wanita itu mengatakan tidak ada gunanya menghubungi pihak kepolisian. Karena mereka semua adalah polisi, mereka sengaja menangkapnya karena menginginkan sesuatu yang ku miliki.


"Lebih baik kita pergi dari sini! Sebelum teman mereka datang kemari!"


Wanita cantik ini jatuh tak sadarkan diri setelah mengatakan semuanya. Aku menggendongnya, kubawa dia pergi dari gedung ini. Aku menyuruh Aldo untuk menyetir, aku menyuruh Aldo untuk membawanya ke sebuah klinik. Dimana klinik tersebut adalah milik ayah namun tidak ada seorang pun yang tahu.


***


Kami tiba di klinik, aku menyuruh seorang perawat untuk segera menangani semua luka yang di deritanya oleh wanita ini. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, mengapa sampai polisi ingin menghabisinya.


Untuk malam ini aku tidak akan pulang ke rumah, aku memutuskan untuk menjaganya di klinik. Entah mengapa aku ingin menjaganya sediri, padahal nama saja aku belum mengetahuinya. Lebih baik nanti setelah sadar ku tangankan namanya.


Niat ku ingin selalu terjaga, untuk menjaga wanita ini. Namun rasa kantukku semakin kuat. Aku keluar sejenak untuk membeli satu cup kopi, untuk menghilangkan rasa kantukku.


Saat aku kembali ke ruangan untuk, aku begitu terkejut karena wanita itu sudah tidak ada di ranjangnya. Dia hanya meninggalkan secarik surat yang berisikan rasa terimakasihnya. Dia sama sekali tidak menyebutkan namanya. Hanya simbol bunga matahari yang dia sematkan di kertas itu.


"Jika kita berjodoh pasti kita bertemu kembali!"


Itu tulisan terakhir yang dia tulis, sungguh dengan sikapnya yang misterius seperti ini membuatku semakin ingin mengejarnya. Jika aku menemukanmu! Aku tidak akan melepaskanmu! Sampai kau mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya.


Sudah tidak ada gunanya aku berada di klinik ini, lebih baik aku segera kembali ke rumah. Lebih enak istirahat di rumah dari pada di klinik. Aku pun segera memesan taksi, karena mobil dibawa pulang oleh Aldo.


Sesampainya di rumah Aldo menanyaiku tentang wanita itu, aku pun mengatakan semuanya padanya. Bahwa dia pergi tanpa menemui ku terlebih dahulu. Sebenarnya aku merasa sangat kesal dengan yang dia lakukan.

__ADS_1


Namun apa daya ku dia sudah pergi meninggalkan klinik. Aku memutuskan untuk segera istirahat, kusuruh Aldo untuk segera istirahat pula. Aku tahu kalau Aldo merasa kelelahan dengan semua pekerjaan yang dia lakukan seharian ini.


Di dalam kamar aku masih memikirkan bunga matahari ku. Lebih enak menyebutnya bunga matahariku dibandingkan dengan wanita bercadar. Aku tersenyum geli jika membayangkan bunga matahari ku di saat berada di atas kapal sewaktu di Kairo.


Entah mengapa aku selalu bertemu dengan bunga matahariku ini, sepertinya musuhnya dan musuhku sama. Tapi mana mungkin, berpikir seperti itu mengingatkan ku apa motif sebernya Rei Hirasaki?


Semakin keras aku memikirkannya, semakin pusing kepalaku. Sebaiknya aku istirahatkan otakku sejenak, lebih baik aku segera tidur. Aku pun mematikan lampu kamar, hanya lampu redup yang menyala.


Aku teringat Lexa, aku pun bangun dan memeriksa keadaan Lexa. Karena kemarin malam dia tidak pulang, katanya dia demam dan menginap di rumah temannya. Aku yakin dia berbohong, karena yang kutahu teman yang bisa diandalkan hanya Aiko.


Aku melangkah keluar kamar dan menuju kamar Lexa, kubuka pintunya ternyata dia tidak mengunci pintu kamarnya. Sungguh sikap yang ceroboh, jika ada orang jahat yang masuk bagaimana jadinya.


Dia sudah tidur nyenyak, namun kudengar dia bergumam memanggil nama bunda dan ayah. Apakah dia demam? Aku pun mendekatinya dan memegang keningnya. Ternyata benar dia demam, aku segera mengambil kotak P3K kulihat obat pereda demam.


Kubangunkan Lexa untuk meminum obat, dia membuka matanya dan mengambil obat yang ada di tanganku. Setelah meminum obatnya dia langsung tertidur. Niatku ingin istirahat, tapi melihat Lexa seperti ini lebih baik aku menjaganya untuk malam ini.


____________________________________________


Sebutan baru bagi wanita bercadar yang membuat Lexi ingin mengejarnya "Bunga Matahariku"


Apakah mereka berjodoh??


____________________________________________


Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"


____________________________________________


Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉


selamat membaca c u next bab 😘

__ADS_1


__ADS_2