Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 169


__ADS_3

Still Aldo POV


Brukkk! Mobilku di tabrak dengan sangat keras tetapi aku masih bisa menyeimbangkan laju mobilku. Aku menginjak pedal gas mobil sehingga kecepatan mobil melesat meninggalkan mereka.


Aku pikir sudah lepas dari kejaran mereka tetapi aku salah, ada satu mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari belakang. Namun, aku tidak tahu apakah mobil itu adalah salah satu dari musuh atau bukan. Karena sedari tadi hanya satu mobil yang mengejarku.


Ternyata aku salah mobil yang menyalip ku bukanlah teman mereka tetapi aku mengenal mobil itu. Iya benar, itu adalah mobil Isamu sebenarnya ini ada apa lalu mengapa Isamu memperlambat laju mobilnya.


Brakkk! Mobil dari belakang menghantam mobilku kembali, ponsel ayah Aiko berdering. Lalu ayah mengangkatnya, terdengar dia sangat kesal saat bicara dengan orang di seberang telepon. Dan akhirnya dia menutup ponselnya dengan rasa kesal yang memuncak.


"Mobil di depan adalah Isamu dan Rein, dia menginginkan kita mengikutinya!" ucap ayah Aiko.


"Apakah Ayah akan menuruti maunya?" tanyaku padanya.


"Tidak perlu! Lebih baik kita menjauh dari mereka, Aku tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka!" jawab ayah Aiko padaku.


Setelah mendengar jawaban dari ayah Aiko, aku langsung menginjak pedal gas dan mulai mencari jalan untuk lepas dari mereka. Mobil belakang mulai memojokkan diriku, lebih baik aku menghindar dari mobil belakang mencari kesempatan untuk menyalip mobil Isamu di depan.


Sepertinya aku menemukan waktu yang pas untuk menyalip Isamu, terdengar suara gas mobil dari belakang sepertinya mereka berniat menabrak mobilku kembali. Namun, aku tidak akan membiarkan mereka berhasil.


Brukkk! Mobil Isamu berguling-guling setelah di tabrak oleh mobil yang hendak menabrak mobilku.


"Awas Aldo!" teriak ayah Aiko padaku.


Brakk!


***


Aku membuka mataku, semuanya masih terasa gelap kepalaku terasa sangat sakit. Sebenarnya aku berada di mana dan apa yang sudah terjadi padaku.


"Aldo..., Syukurlah kau sudah bangun." ucap ayah padaku.


Sekarang aku bisa melihat dengan jelas wajah ayah yang terlihat lega, saat aku ingin bicara. Aku merasa sangat lemas sekali, aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk bicara pada ayah. Namun, aku belum sanggup.


Ayah menyuruhku untuk tidak bicara dulu lalu dokter tiba dengan dua orang perawat. Dia memeriksaku dengan saksama keadaanku, setelah itu dokter mengatakan pada ayah untuk ikut bersamanya. Aku masih bingung sebenarnya apa yang terjadi padaku.


Aku berusaha mengingat apa yang terjadi, berusaha dengan sangat keras sehingga kepalaku hendak pecah. Akhirnya aku mengingat semuanya, bagaimana dengan keadaan ayahnya Aiko? Apakah beliau selamat dan tidak apa-apa? Semua pertanyaan mulai bergelayut dalam pikiranku.


"Apa yang sudah kau lakukan pada ayahku Aldo!" teriak Aiko padaku.


Sungguh aku tidak mengerti mengapa dia sangat marah padaku, apakah sudah terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Katakan padaku— apa yang terjadi?" tanyaku padanya.


Dia mengatakan semua jika ayahnya sudah tiada dan semua itu merupakan kesalahanku. Karena aku yang membawa ayahnya dalam bahaya dan yang membuatku terkejut sekali lagi adalah dia mengatakan jika aku adalah penyebab kematian Isamu.


"Iya..., Kau adalah penyebab kematian kedua pria yang sangat aku cintai!" bentaknya padaku sembari menarik bajuku.


"Hentikan itu Aiko!"

__ADS_1


Aku melihat Lexi tiba di ruanganku dan menghentikan Aiko yang masih terlihat emosi. Aku berpikir kembali jika apa yang terjadi dengan Isamu, kepalaku terasa sakit lalu bayangan Rein yang sedang bermesraan bersama Isamu kembali muncul dalam otakku.


"Aku tidak bisa diam begitu saja Lexi! Dia telah menyebabkan Isamu dan ayah tiada!" pekiknya pada Lexi.


Aiko begitu marah, dia terlihat tidak bisa menahan semua emosinya. Sehingga Lexi pun kewalahan menghadapinya, begitu cintanya dia pada Isamu. Apakah dia tidak tahu jika Isamu telah mengkhianatinya bahkan dengan adik ipar sahabatnya sendiri.


Apakah dia bisa menerima semua kenyataan itu jika aku mengatakan kebenarannya. Aku tidak ingin membuatnya semakin terpuruk dengan kenyataan yang ada. Lebih baik aku menyimpan semua rahasia ini demi kau Aiko.


"Bagaimana dengan Rein?" tanyaku karena aku tidak mendengar tentang Rein.


Lexi mengatakan jika Rein masih dirawat dan dia tersadar dua hari yang lalu. Aku bertanya sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri, Lexi mengatakan jika aku sudah tidak sadarkan diri selama empat hari.


Empat hari aku tidak sadarkan diri, apakah begitu parahnya luka akibat kecelakaan ini. Aku mencoba menggerakkan kaki secara perlahan, akhirnya kaki ini bisa digerakkan meski terasa sangat sakit.


Beberapa saat kemudian Rein masuk ke ruang rawatku, Aiko dan Lexi masih ada. Entah apa yang sedang dia pikirkan tetapi aku merasa jika dia akan melakukan hal yang bisa membuatku dipersalahkan.


"Mengapa Aldo? Mengapa kau melakukan semua ini? Apa salah ayah Aiko dan Isamu? Mereka hanya ingin menyelamatkan diriku dari tindakan burukmu! Mengapa kau menghabisi merek berdua?" lirih Rein padaku.


Aku sungguh terkejut dengan apa yang dia katakan itu, sebenarnya apa yang ingin dia lakukan padaku. Apakah oengkhiatannya selama ini belum cukup. Sekarang dia ingin membuatku dipersalahkan atas tindakannya dan Isamu. Sungguh picik wanita ini, aku bersyukur tahu lebih cepat betapa busuknya pikiran wanita ini.


"Jawab Aldo? Mengapa kau melakukan semua ini hah?!" bentak Aiko padaku.


Mendengar dan hanya melihat Rein membuatku tidak habis pikir, dia bisa menyembunyikan wajah aslinya dengan topeng wanita muslimah. Namun, semua itu hanya topeng saja dan aku sudah muak terhadapnya.


Rein terus saja menangis dan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak, sehingga membuat namaku semakin buruk. Dia menagis histeris semua perkataan yang terlontar dari mulutnya begitu tajam. Membuat hatiku terkoyak dan terhina, apakah aku sehingga itu memperlakukan dirinya?


"Sudah cukup— hentikan omong kosongmu itu Rein!" ucap Himawari buang baru saja masuk kedalan ruangan.


Terjadi perdebatan diantara mereka berdua, semua itu membuatku merasa muak dan pusing. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, mengapa dia bisa sekejam ini padaku. Apakah semua kasih sayang yang aku berikan padanya belum cukup.


Plak! Himawari memaparkan wajah Rein, mungkin dia sudah tidak tahan dengan ucapan Rein. Apakah Himawari sudah tahu kebenarannya sehingga dia tidak membela Rein. Dia terlihat sangat kesal dengan Rein tetapi aku melihat Aiko masih menatapku dengan tatapan amarah.


Mungkin Aiko masih belum bisa menerima semua ini dan dia masih berpikir jika aku adalah penyebab kematian ayahnya dan Isamu. Rein berteriak karena Himawari menamparnya. Akhirnya tiba beberapa perawat yang menyuruh mereka semua pergi.


Himawari menghampiri diriku lalu dia meminta maaf karena perbuatan Rein Padang. Dia terlihat sangat sedih dan kecewa dengan sikap Rein yang seperti ini. Dan dia tidak menyangka jika adiknya bisa berlaku kejam seperti ini. Setelah itu dia pergi bersama Lexi, terlihat jelas tatapan Lexi padaku tersirat jika dia sangat menyesal dan meminta maaf. Semua ini bukan salah kalian berdua, yang harus bertanggung jawab adalah Rein.


Setelah kepergian mereka, beberapa jam kemudian Lexa dan Hinoto masuk ke ruanganku. Terlihat jelas tatapannya sangat sedih lalu aku melihat Hinoto. Tatapannya menyiratkan rasa ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Lexa bertanya dengan nada khawatir.


"Aku baik-baik saja," jawabku.


Lalu Hinoto bertanya sebenarnya bagaimana bisa terjadi peristiwa itu, aku belum bisa mengakan dengan pasti semuanya. Yang hanya bisa aku katakan pada mereka jika aku tidak ingat dengan semuanya peristiwa itu. Biarlah semuanya terkubur dalam hatiku.


Dan biarkanlah Rein berkata dengan apa yang dia ingin katakan, aku sudah tidak peduli dengannya. Luka di tubuhku bisa sembuh dan menghilang tetapi luka di hatiku tidak akan pernah bisa sembuh dan hilang begitu saja.


Aku tidak bisa melupakan semua pengkhianatan calon istriku dan calon suami temanku. Akan aku ingat semua ini sebagai bukti jika aku tidak bisa percaya begitu saja pada wanita. Dan aku tidak akan pernah percaya dengan yang namanya cinta karena itu sangat menyakitkan bagiku.


Untuk masalah ayahnya Aiko mungkin semua ini adalah tanggung jawab diriku. Namun, kematian Isamu bukanlah kesalahanku, semua itu terjadi karena mobil yang hendak menabrakku malah menabrak mobil Isamu. Dan aku yakin jika mereka adalah suruhan Isamu serta Rein.

__ADS_1


Terlihat jelas jika Hinoto tidak puas dengan jawabanku. Namun, semua ini harus kulakukan demi kebaikannya, biarkan dia mengetahui kebaikan sahabatnya bukan keburukannya. Jika sudah saatnya tiba aku pasti akan mengatakan yang sebenarnya.


Mungkin dia sudah tahu sedikit cerita ini tetapi aku tidak peduli jika mereka semua kecewa padaku. Biarlah mereka berpendapat seperti itu karena hatiku sudah mati rasa. Namun, aku akan tetap melindungi keluarga Lexa dan Lexi karena kalian berdua merupakan sahabat serta kalian sudah aku anggap orang paling penting untukku.


Satu hari berlalu Aiko selalu saja menemuiku untuk mengeluarkan semau rasa marah dan kesalnya padaku. Sehingga ayah memutuskan untuk membawaku kembali ke Indonesia. Sedangkan Rein, aku tidak tahu kemana dia pergi dan aku tidak peduli sama sekali dengan wanita itu.


***


Semua kenangan itu membuatku merasa sangat sakit, aku berharap tidak akan bertemu dengan Rein selama sisa hidupku. Karena jika aku melihatnya kembali maka aku tidak bisa menahan emosiku.


Rasanya kepalaku akan pecah jika mengingat semua kejadian itu, lebih baik aku membersihkan diri ini agar kepalaku terasa dingin. Aku membuka. Satu per satu pakaianku lalu berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri aku berjalan menuju almari lalu mengambil pakaian. Setelah itu aku gunakan pakaian yang baru aku ambil dari almari dan berjalan menuju tempat tidur. Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur.


Berusaha untuk menutup kedua mataku agar aku bisa beristirahat dengan tenang. Namun, semuanya terasa sulit karena aku selalu teringat akan kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya Aiko. Aku masih teringat jelas tatapan terakhir sebelum aku tidak sadarkan diri.


"Maafkan aku Aiko karena aku tidak bisa melindungi ayahmu!" gumamku semabari memejamkan kedua mataku guna beristirahat.


Aku terbangun kembali, melihat jam yang menempel di dinding rupanya masih jam dua belas malam. Entah sampai kapan aku akan selalu bermimpi tentang kecelakaan itu. Atau mimpi ini akan selalu menghantui seumur hidupku.


***


Keesokan harinya.


Aku sudah siap dengan semuanya sekarang saatnya aku ke rumah Lexi untuk menjemputnya. Setelah itu akan bisa pergi ke perusahaan bersamanya. Aku berjalan keluar apartement menuju mobil di parkiran, setelah itu aku bergegas menuju kediaman Lexi.


Tibalah aku di kediaman Lexi, terlihat Zeroun yang sedang serius memandangi sebuah tanaman. Aku berjalan mendekatinya lalu bertanya padanya, "Sedang apa?!"


Dia tersenyum lalu mengatakan jika dia sedang memperhatikan bunga yang sebentar lagi akan mekar. Setelah itu aku membiarkannya dengan kesibukannya dan aku melangkah masuk ke rumah guna melihat apakah Lexi sudah siap apa belum. Sembari memeriksa semua keamanan rumah ini karena aku tidak ingin jika ada musuh yang masuk kedalam rumah.


"Kau sudah datang?" tanya Himawari dengan nada lembut.


Aku mengangguk lalu dia menyuruhku untuk sarapan bersama, meski aku menolak pasti nanti Lexa dan Lexi akan memaksa agar aku sarapan bersama mereka. Jika tidak aku harus mendengarkan ceramah di pagi hari dari oleh kedua suami istri ini. Bahkan tidak ketinggalan Zeroun badan Rosalina.


Semuanya sudah berkumpul dan duduk di tempat masing-masing, setelah itu aku pun duduk karena tatapan mereka semua membuatku merasa tidak nyaman.


Setelah semua selesai sarapan, aku langsung menuju mobil Lexi dan Lexa guna melihat apakah mobil yang akan digunakan sudah aman untuk digunakan. Selesai di periksa dan semuanya aman, aku bisa bernapas lega paling tidak sedikit.


Hari ini Lexa diantar oleh Hinoto karena dia ingin mengajak Lexa ke suatu tempat terlebih dahulu. Dan aku aku siap pergi bersama Lexi untuk ke perusahaan. Dalam perjalan perjalanan menuju perusahaan Lexi bertanya tentang semau jadwalnya hari ini.


Tibalah aku di perusahaan, Lexi langsung menuju ruangannya dan meminta dokumen yang dia butuhkan. Setalah itu aku langsung menuju ruanganku untuk menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan oleh Lexi.


Hari ini aku akan menemani Lexi untuk menghadiri sebuah meeting, aku berharap semuanya akan berjalan dengan baik. Sehingga tidak akan menambah pikiran Lexi. Karena dia sudah terlalu banyak berpikir tentang Rosetta.


Yang membuat diriku tidak mengerti dengan Rosetta mengapa dia kembali membuat ulah. Apakah hukumannya belum cukup dari Lexi? Apakah dia ingin dihancurkan hingga tidak bisa kembali bangkit. Lexi sudah berbuat baik padanya tetapi dia kembali berbuat ulah, mungkin kali ini dia tidak akan memberi ampun pada Rosetta.


Lebih baik aku kembali fokus terhadap pekerjaanku kali ini, sehingga bisa selesai dengan cepat. Dan Lexi bisa memeriksa dokumen yang sudah aku siapkan. Ponselku bergetar, ada sebuah kesan yang masuk. Saat melihatnya rupanya itu adalah pesan dari ibunya Aiko.


Ibunya Aiko menuliskan bahwa dia ingin menemuiku tetapi dalam beberapa hari kedepan. Karena ibunya Aiko masih ada di luar kota, aku menyetujui apa yang diminta oleh ibunya Aiko. Aku kembali fokus dengan pekerjaan setelah mengirim pesan pada ibunya Aiko.

__ADS_1


Dokumen yang diinginkan oleh Lexi sudah selesai, lebih baik aku segera ke ruangannya menyerahkan dokumen yang dibutuhkan oleh Lexi. Setelah itu pergi bersamanya untuk meeting di luar perusahaan.


__ADS_2