
Jangan lupa kasi like dan komen ya 😉 itu penting banget buat macan. Selamat membaca...
__________________________________________
Still Lexi POV
Hari ini adalah hari yang aku tunggu, aku tidak menyangka bahwa akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Sekarang aku menunggu wanita yang akan menjadi pasanganku seumur hidup.
Melihat semuanya menghadiri upacara pernikahanku, ada nenek dan kakek. Jika melihat mereka berdua aku menjadi teringat akan bunda, melihat wajah nenek yang mirip dengan bunda tidak akan menghilang meski dimakan usia.
Aku juga melihat ada om Rio bersama tante Salma, tidak lupa juga ada Kharin dan Azura. Aku bersyukur semuanya dapat berkumpul disini, aku jadi teringat akan pernikahan Lexa.
Saat itu tidak ada saudara atau kerabat bunda yang menghadirinya. Sekarang aku ingin berbagi semua kebahagiaan ini bersamamu juga Lexa.
Lexa terlihat bahagia bisa berkumpul bersama kakek, nenek, om Rio, tante Salma dan semuanya. Terlihat juga Hinoto yang mulai di jahiliah oleh Kharin dan Azura.
Ditambah lagi dengan Annisa karena dia baru pertama kali bertemu dengan Hinoto. Semuanya terlihat sangat bahagia, bunda jika saja kau masih ada mungkin aku bisa melihat senyummu yang menghangatkan hatiku.
"Ada apa?" tanya Aldo yang sedang berdiri di sampingku.
"Apa kau melihat itu? Lexa begitu bahagia bisa berkumpul dengan semua keluarga bunda! Sudah lama aku tidak melihat Lexa seperti ini." Jawabku.
Kulihat Aldo tersenyum, dia juga mengatakan baru pertama kali ini melihat Lexa sebahagia ini. Dia berharap jika Lexa akan terus merasakan kebahagiaan karena Lexa sudah banyak menderita.
"Kau pun harus selalu berbahagia!" ucap Aldo padaku.
Aku tersenyum mendengar dia mengatakan itu padaku, sekarang dia bukan asisten pribadiku melainkan sahabat dan saudaraku. Lalu berkata, "Kau pun harus mencari cintamu lalu menikahlah!"
Sebelum Aldo menjawab atas perkataanku, aku melihat wanita yang sangat cantik sedang berjalan perlahan menuju ke arahku. Aku terkejut dengan apa yang dipakai oleh Himawari, dia sudah menutup seluruh auratnya.
Dia sangat memesona sehingga kedua mataku ini tidak mau berkedip, Lexa membisikkan sesuatu padaku sehingga aku kembali tersadar dari keterpesonaanku terhadap Himawari.
Acara pernikahan pun di mulai, aku bersyukur semuanya berjalan dengan lancar. Setelah semuanya selesai ayah memberikanku dua buah tiket menuju Bali.
Aku sempat bertanya mengapa Bali bukan ke Maldives saja tetapi ayah berkata jika itu terlalu jauh. Karena aku harus mulai bekerja dalam seminggu dari sekarang. Aku menghela napas saat ayah mengatakan itu, sehingga membuat semuanya tertawa.
"Terima saja keputusan Ayah! Kau beruntung bisa bulan mandu, sedangkan aku tidak!" timpal Lexa terhadap helaan napasku.
Semua terkekeh-kekeh mendengar keluhanku, kulihat Azura yang sangat senang menertawakan. Apalagi Kharin sudah lama dia tidak muncul di hadapanku tetapi setiap muncul dihadapanku selalu menggodaku.
"Hentikan Azura! Kapan kau akan menikah? Nanti Aiko keburu di rebut orang!" celetuk diriku untuk menghentikan tawa Azura.
Seketika Azura terdiam mendengar perkataanku, sekilas terlihat dia melirik Aiko yang terkejut juga dengan perkataanku. Hati ini merasa senang karena bisa membuat Azura diam tidak berkutik.
Semua menatap Aiko dan Azura sehingga membuat Aiko tersipu malu. Guna menghilangkan rasa malu kerena ulahku, Aiko mulai melontarkan kata-kata yang sangat pedas padaku. Namun, aku tahu dia dengan pasti yang sudah diucapkannya tidak sepenuhnya benar.
"Sudah hentikan kenakalanku itu Lexi! Lihat calon putri Tante jadi memerah begitu wajahnya!" ucap tante Salma yang pada intinya ikut menggoda Aiko.
"Tuh dengar Aiko, Tante Salma saja sudah mendukung kamu dan Azura!" timpal Lexa yang ikut menggoda Aiko.
Aiko merasa kesal karena kenakalan kami memutuskan untuk pergi keluar ruangan. Mungkin dia menuju sebuah taman yang ada di samping ruangan pesta ini.
Tidak begitu lama Azura izin untuk ke toilet, semua sudah bisa menebak jika Azura akan menemui Aiko. Namun, aku masih belum bisa percaya penuh jika dia mencintai Aiko karena dia masih memikirkan wanita yang baru saja memutuskan cintanya.
Aku melihat dari kejauhan Aldi sedang berbicara dengan Rein, entah apa yang mereka bicarakan kelihatannya sangat serius. Semoga saja Aldo bisa membantu yang menjadi permasalahan Rein.
Setelah pesta pernikahanku selesai, aku langsung menuju bandara untuk penerbangan ke Bali. Aku harus selalu bersyukur dengan apa yang aku dapatkan kali ini.
Dalam perjalanan menuju bandara kulihat Himawari begitu cantik dengan balutan hijabnya. Aku tidak menyangka dia akan menutup seluruh auratnya di saat pernikahan kami.
"Sejak kapan kau akan memutuskan untuk berhijab?" tanyaku pada Himawari dengan lembut.
Dia tersenyum lalu menjawab, "Saat kau datang ke rumah dan ayah menentukan tanggal pernikahan kita. Aku sudah berjanji pada diriku untuk menutup aurat ku sehingga yang bisa melihat aurat ku hanya suamiku seorang."
Aku suka dengan jawaban yang diberikan, sungguh diriku tidak salah menilai dan memilih Himawari sebagai istriku. Kuharap dia bisa menjadi seperti bunda yang selalu ada untuk ayah dan selalu mencintaiku.
__ADS_1
Tibalah kami di bandara, kami mendengar informasi yang mengatakan penerbangan ke Bali akan segera berangkat. Sehingga aku bergegas untuk masuk ke dalam pesawat.
***
Tibalah aku dan Himawari di Bali, ayah sudah menyiapkan sebuah vila. Dimana bila ini adalah tempat kami dulu berlibur bersama bunda. Ayah berkata membeli vila ini untuk bunda karena vila ini sangat indah dan cantik seperti bunda.
Begitu besar rasa cinta dan kasih sayang ayah terhadap bunda, meski bunda sudah tiada ayah tetap masih memikirkannya. Semua kenangan indah mereka berdua selalu dikenang dan tidak terlupakan.
Ayah selalu menceritakan kenangan-kenangan indah bersama bunda, meski dulu bunda tidak mencintai ayah. Namun, secara perlahan ayah bisa menaklukan macan betina seperti bunda.
Yang membuatku terkekeh di saat ayah menyebut nama bunda dengan gadis tengil. Apakah dulu bunda setengil itu sehingga sebutan tengil sudah melekat pada bunda meski sudah menjadi istri dan seorang ibu.
"Apa yang kau pikirkan?!" tanya Himawari yang membuyarkan semua pikiranku mengenai bunda.
Aku tersenyum padanya lalu menghampirinya, tanpa basa-basi aku langsung memeluknya dan memberikan kecupan hangat di bibirnya. Niatku hanya ingin mengecupnya sekilas tetapi bibirku tidak bisa berhenti untuk bermain dengan bibirnya.
Kecupan hangat ku berubah menjadi sangat membara, sehingga aku tidak menyadari jika Himawari hampir saja kehabisan napasnya. Aku pun melepaskan kecupannya yang sangat aku nikmati itu.
Terlihat Himawari yang sedang berusaha mengatur ritme pernapasannya karena seranganku di bibirnya. Aku tersenyum melihat wajah Himawari memerah akibat ulahku.
"Apa kau tidak bisa memberikanku waktu untuk bernapas?!" ucap Himawari dengan terengah-engah.
Aku tersenyum lalu mengecupnya kembali tetapi kali ini dia mulai bisa mengimbangi permainanku. Sehingga lidahku bertemu di rongga mulutnya.
Terdengar suara ponselku, aku mengabaikannya tetapi ponsel itu terus saja berdering sehingga mengacaukan suasana. Akhirnya aku menghentikan permainanku dan mengangkat telepon.
Kulihat di layar ponsel tertera nama Aldo, dia mengatakan apakah perlu dia menyusul ke Bali. Untuk membantunya mengurus segala sesuatunya.
Aku mengatakan padanya untuk mengurus perusahaan bunda selagi aku ada di Bali. Dan juga menjaga ibu serta Rein selama aku tidak ada di Jakarta.
Aldo pun mengakhiri percakapan kami, aku menutup telepon dan melihat Himawari membuka hijabnya. Lalu dia menuju kamar mandi, mungkin dia ingin membersihkan dirinya.
Sembari menunggu Himawari menyelesaikan rutinitas membersihkan dirinya. Kubuka ponselku guna melihat beberapa foto yang baru saja Lexa kirimkan padaku.
Semuanya terlihat sangat berbahagia, aku berharap kebahagiaan ini akan terus berlangsung. Jangan ada kesedihan dalam keluarga kami lagi, sudah cukup penderitaan yang kami alami.
Rupanya tetesan air yang menerpa wajahku adalah tetesan air yang berasal dari rambut Himawari. Dia tersenyum lalu menyuruhku untuk segera membersihkan diri. Setelah itu beristirahat sejenak karena dia tahu jika aku merasa kelelahan.
Aku pun berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri, setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Aku keluar dari kamar mandi dan melihat Himawari yang sudah tertidur di atas tempat tidur.
Melihatnya tertidur pulas sehingga bridal tega rasanya untuk menganggunya. Aku pun memutuskan untuk segera istirahat karena aku juga merasa kelelahan dengan acara pesta pernikahan kami.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur tepat disampingnya, melihatnya begitu tenang dalam tidurnya membuatku merasa lega. Akhirnya wanita yang aku cintai sudah berada di dekatku.
Dan aku tidak akan melepaskan wanita yang sudah berstatus istriku ini, aku akan membuatnya selalu bahagia. Tidak akan kubiarkan kesedihan menerpanya apalagi bahaya.
Memikirkan bahaya aku jadi teringat dengan pekerjaannya sebagai agen rahasia. Mungkin, besok aku akan mengatakan apa yang menjadi masalah dalam pikiranku. Mengenai pekerjaannya besok pagi, kuharap dia akan mengerti dan memahami kekhawatiran yang aku rasakan.
Saat aku mencoba memejamkan kedua mataku, dia mendekati tubuhku seraya dia ingin aku memeluknya. Aku tersenyum melihat dia bersikap seperti ini, kulihat dengan lekat rupanya dia masih tertidur. Mungkinkah dia tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan.
Ingin rasanya aku langsung melahapnya karena dia begitu menggoda, tidak— aku harus bisa menahannya kasihan dia yang sudah kelelahan. Malam ini biarkan dia untuk beristirahat karena aku pun membutuhkan istirahat malam ini.
Aku dibangunkan oleh Himawari yang sudah siap dengan perlengkapan salatnya. Dia menyuruhku untuk mengambil air wudu setelah itu melakukan salat bersama.
Melihat Himawari yang membangunkan diriku membuat aku merasakan seorang suami yang memiliki istri baik. Aku pun bangun lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Setelah itu keluar dari kamar mandi.
Melihat Himawari menyiapkan perlengkapan salatku, aku tersenyum lalu mendekatinya. Kami pun melakukan salat bersama untuk pertama kalinya.
Setelah salat, Himawari merapikan perlengkapan salatnya. Aku melihat dia begitu cantik pagi ini. Dia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Aku tidak akan melepaskan dia kali ini, aku langsung melompat ke atas tempat tidur sehingga membuatnya terkejut. Lalu aku memeluknya dengan erat sehingga dia tidak bisa lepas dariku.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika tempat tidur ini rubuh jika kau loncat seperti itu?!" lirih Himawari padaku.
Mendengar apa yang dia ucapkan membuat aku terkekeh, mungkin apa yang dia katakan itu benar. Sebelum dia mengatakan sesuatu lagi, aku mengerang bibirnya dengan kecupan lembut kemudian menjadi kecupan yang sangat menggoda.
__ADS_1
Dia terlihat belum menikmati permainan yang aku lakukan, tetapi aku terus melakukan permainan sehingga dia bisa menikmatinya dan akan ikut bermain denganku.
Lama kelamaan dia mulai menikmati permainan yang aku lakukan dia mulai mengikuti permainan. Lidahku bertubrukan dengan lidahnya di dalam rongga mulutnya.
Tanganku ikut juga bermain karena aku tidak ingin hanya bibirku yang bermain-main. Tanganku mulai berjalan di setiap lekuk tubuhnya, secara perlahan aku membuka satu per satu kancing pakaiannya.
Dia terlihat menikmati dengan apa yang kulakukan, kecupan yang aku lakukan tidak hanya berlangsung di bibirnya saja. Namun, kecupanku berjalan menyapu setiap seluk tubuhnya.
Dia menggelinjang merasa kegelian tetapi terdengar suara yang membuatku begitu ingin melakukan terus tanpa henti. Aku menghentikan sebentar permaiananku.
Lalu melihat wajahnya sesaat, terlihat dengan jelas wajahnya memerah entah merasa malu atau perasaan yang menikmati setiap permainan yang aku lakukan.
"Apa kau menikmatinya, sayang?" bisikku padanya yang masih merasakan kenikmatan akibat permaiananku.
Dia tersenyum lembut, terlihat bjelas dia masih menginginkan aku melakukan permainan kembali. Aku melepaskan pakaianku dan semua pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya.
"Apakah kau sudah siap? Sekarang aku akan memulainya, mungkin akan terasa sakit tetapi tidak begitu lama kau akan menikmatinya." bisikku padanya.
Dia mengangguk, melihat dia yang sudah mengizinkan aku untuk memulainya. Itu artinya dia sudah siap dengan apa yang akan aku lakukan.
Secara perlahan dan sedikit demi sedikit aku mulai memasukkan bagian sensitifku kedalam bagian sensitifnya di bagian bawah. Pada awalnya dia merasa kesakitan dan air matanya menetes keluar.
Aku mengecup lembut keningnya lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan tidak menghentikan pergerakanku. Secara perlahan terlihat dia sudah tidak merasakan kesakitan. Namun, dia sudah mulai menikmati setiap permainan yang kulakukan.
Setelah melakukan permainan yang membuat kami merasakan kenikmatan hingga sampai titik batas tertinggi. Dia terlihat lemas, apakah aku sudah terlalu bersemangat sehingga dia merasa kelelahan.
Kami tidur di tas tempat tidur setelah pergulatan kami tadi, aku tidak tahu sudah berapa lama melakukan permainan itu. Yang pasti aku sangat menikmatinya.
"Apa kau merasa puas dengan pelayananku?" tanyaku padanya semabri memeluk tubuhnya yang masih basah dengan keringat.
Dia tersenyum, meski tidak menjawab pertanyaan dariku. Aku tahu betul apa yang dia rasakan. Setalah beristirahat beberapa menit, dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi menggunakan kain untuk menutupi tubuhnya.
Lebih baik aku menunggunya untuk menyelesaikan membersihkan diri, setelah itu giliranku untuk membersihkan diri. Semabri menunggunya aku mengambil ponsel yang berada di nakas.
Melihat apakah ada yang mengirimkanku pesan atau ada informasi penting yang harus aku ketahui. Beberapa saat kemudian Himawari keluar dari kamar mandi.
Sekarang giliranku untuk membersihkan diri, saat di dalam kamar mandi aku teringat apa yang akan aku tanyakan padanya. Yaitu tentang pekerjaannya sebagai agen rahasia.
Setelah aku selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Kulihat sekeliling sudah tidak ada Himawari. Mungkin dia sedang di luar, aku langsung menuju almari guna mengambil pakaianku.
Setalah berpakaian aku keluar dari kamar, guna mencari keberadaan Himawari. Saat melintasi pantry aku melihat wanita yang sangat cantik sedang menyiapkan sesuatu.
Aku mendekatinya lalu melihat dia sedang memasak, dia tersenyum melihat kedatanganku. Dia menyuruhku untuk duduk menunggunya menyelesaikan masakannya.
Tidak begitu lama aku menunggunya menyelesaikan masakannya, dia menghidangkan apa yang baru saja dia masak untukku. Ini adalah kali pertama sejak kami menikah dia memasak untukku.
Kami menikmati sarapan pagi ini, pikiranku melayang kembali. Masalah pekerjaannya sebagai agen rahasia begitu mengganggu. Mungkin setelah sarapan aku akan bertanya padanya.
"Ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kau duduk denganku sebentar?" tanyaku pada Himawari.
"Baiklah, apa yang hendak kau tanyakan padaku?" tanyanya padaku sembari duduk di sampingku.
Aku menarik napas secara perlahan, lalu mengatakan apa yang aku inginkan. Yaitu agar dia berhenti dari pekerjaannya sebagai agen rahasia. Karena pekerjaannya itu sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawanya.
Dia terdiam saat aku mengatakan itu, sepertinya dia sedang berpikir apa yang akan dia katakan. Mungkin aku sudah bersikap tidak adil padanya. Dulu aku pernah mengatakan padanya tidak akan melarang dia bekerja sebagai agen rahasia jika sudah menikah.
Namun, aku tidak menepati janjiku. Bukan karena aku ingin mengekang dia tetapi aku sungguh khawatir dengan keselamatannya. Dia tersenyum padaku.
"Aku akan berhenti dari pekerjaanku, jadi kau tidak usah khawatir lagi." Dia menjawab dengan senyum manisnya.
Aku melihat dengan lekat kedua bola matanya, guna melihat apa yang tersirat dari sorot matanya. Namun, tidak terlihat rasa penyesalan atau marah padaku.
Melihat seperti itu membuatku merasakan kebahagiaan yang sempurna untuk hari ini. Aku langsung memeluknya dengan erat, tiba-tiba terdengar nada ponselku.
Kuambil ponsel yang tersimpan di atas meja, lalu melihat siapa yang menghubungi aku. Tertera nama Lexa, aku langsung mengangkatnya. Dia mengatakan jika akan kembali ke Jepang karena ada pekerjaan di Jepang yang harus di kerjakan.
__ADS_1
Aku merasa sedih jika tiba di rumah nanti sudah tidak ada Lexa tetapi aku tidak bisa memaksakan kehendak diri sendiri. Aku mengizinkan dia untuk kembali ke Jepang.