Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 161


__ADS_3

Lexa POV


"Mengapa termenung sendiri di sini Ayah?!"


Aku bertanya pada ayah yang hanya duduk memperhatikan setiap kebahagian setiap anak yang hadir di acara ini. Apakah ayah kembali teringat akan bunda, jika iya— aku bisa merasakan begitu sedihnya ayah.


"Aku tidak apa-apa— pergilah bersenang-senang!" jawab ayah padaku dengan senyum lembutnya.


"Bunda— Zeroun pingin main air, boleh tidak?!" Zeroun meminta izin padaku untuk bermain air.


Namun, aku tidak bisa membiarkan itu lalu aku melarangnya untuk bermain air. Mendengar laranganku, dia mulai merengek pada ayah agar dia diizinkan untuk bermain air. Aku berusaha memberi tanda pada ayah supaya tidak memberikan isinya pada Zeroun.


"Ayo— kita main air bersama!" ucap ayah dengan senyum lembutnya dan menarik lengan Zeroun.


Akhirnya Zeroun datang di waktu yang pas, sehingga dia bisa membuat ayah ikut dengannya. Aku sengaja tidak mengizinkan dirinya untuk bermain air karena aku ingin tahu bagaimana sikap ayah jika melihat aku melarang cucunya bermain air.


"Kau terlihat semakin cantik jika tersenyum seperti ini, sayang!"


Seseorang berbisik padaku dan aku tahu siapa dia karena hanya dia yang bisa bersikap seperti ini padaku. Aku mendongak melihat wajah pria yang selalu ada untukku. Lalu memberikan senyum termanisku padanya.


"Kau lihat sayang— Zeroun terlihat bahagia bermain bersama ayah!" jawabku pada bisiknya tadi.


"Apa kita perlu tinggal beberapa hari lagi di Indonesia?!" Hinoto berkata padaku.


Dia berkata seperti itu apakah tidak rela melihat ayah bersedih karena kepulangan kami ke Jepang. Aku tidak menyangka jika dia akan begitu menyayangi ayah seperti ini.


"Kita lihat nanti— apakah anak-anak masih ingin berlama-lama di Indonesia atau ingin cepat kembali ke Jepang." Aku mengatakan itu pada Hinoto laku dia tersenyum dan mendekapku dari belakang.


Aku sungguh bahagia dengan suasana seperti ini, mudah-mudahan kebahagiaan ini akan terus berjatuhan dan tidak akan pernah berkahir. Dari kejauhan terlihat Lexi yang kerepotan mengurus Rosalina yang ingin juga ikut bermain air dengan ayah dan Zeroun.


Himawari yang tidak mengizinkan Rosalina bermain air sedang memarahi Lexi yang hendak mengizinkan putrinya bermain air. Dia terlihat dilema yang satu wanita yang sangat dia cintai yaitu Himawari dan yang satunya lagi adalah putri tercinta.


Aku terkekeh melihat tingkah keluarga kecil Lexi jika melihat mereka tiada hari tanpa tawa. Apalagi melihat Rosalina yang begitu aktif bahkan Himawari tidak bisa membuatnya diam. Namun, yang aku merasa aneh adalah Rosalina tidak berani jika melihat Hinoto marah. Akan tetapi, dia masih saja selalu ingin dengan Hinoto.


"Mau kemana— sayang?!" tanyaku pada Hinoto.


"Aku mau menghentikan mereka yang selalu ribut!" jawabnya.


Mendengar perkataan Hinoto aku terkekeh lalu mengikutinya dari belakang. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi dari jarak dekat, keluarga yang selalu bikin aku terkekeh-kekeh. Sebenarnya aku tidak menyangka jika Lexi akan berubah menjadi seperti ini. Yang tidak bisa menang melawan Himawari dan Rosalina.


"Samapai kapan kalian mau seperti ini!" Hinoto berkata lalu mengambil pistol air.


Hinoto menembakan air pada Lexi dan Rosalina, sehingga membuat mereka berdua basah kuyup. Lexi tidak terima dengan perlakuan Hinoto lalu dia pun mengambil pistol air dan menembakkannya pada Hinoto. Akhirnya terjadilah perang antara mereka, aku senang melihat semuanya berbahagia.


Aku terkejut saat ada yang menembakkan air ke badanku sehingga pakaian yang aku kenakan basah. Saat melihat siapa yang sudah menembakkan air pada diriku. Ternyata itu adalah ayah, tanpa pikir panjang aku pun mengambil pistol air laku membalas tembakan ayah.

__ADS_1


Semua tertawa menikmati permainan ini, bahkan Himawari yang tadinya tidak ingin ikut bermain— di serang oleh Lexi yang mengakibatkan pakaiannya basah.


Setelah semuanya merasa kelelahan, kami pun menghentikan permainannya. Semua tamu undangan pun sudah pulang, sekarang giliran kami untuk beristirahat.


Melihat Zeroun yang sudah basah kuyup aku pun memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu lalu giliranku. Setelah Zeroun bersih dan wangi, aku menyuruhnya untuk bermain bersama Rosalina di luar.


Saat aku dalam kamar mandi, aku terkejut karena Hinoto memelukku dari belakang. Dia mengecup lembut tengkuk leherku, lalu menjalar ke setiap punggungku.


"Hentikan ini— bagaimana jika Zeroun masuk ke kamar?" ucapku lirih pada Hinoto.


"Aku sudah mengunci kamar, sehingga tidak ada yang bisa masuk!" bisiknya padaku.


Hinoto melanjutkan permainannya, dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Dia menatapku dengan lembut, bibirnya tersenyum lalu mengecup lembut bibirku. Permainannya akan dimulai, aku yakin dia tidak akan melepaskan diriku dengan cepat.


Dia masih bermain dengan bibirku, selain itu kedua tangannya mulai berjalan menelusuri setiap lekuk tubuhku. Sehingga aku merasakan geli tetapi sangat menikmatinya.


Permainannya berhenti, dia menatapku kembali lalu mengecup leher dan menjalar ke seluruh tubuhku. Kecupannya berhenti di bagian dadaku, dia bermain agak lama di sana. Aku begitu menikmatinya sehingga seluruh tubuhku merasakan apa yang dia lakukan.


Saat dia sedang asik bermain dengan tubuhku, terdengar suara ketukan pintu dan teriakan Zeroun yang memanggil namaku. Dia terus saja berteriak tetapi Hinoto tidak menghentikan permainannya. Dia masih terus saja bermain dan mengabarkan teriakan Zeroun.


"Sayang, bisakah hentikan ini? Zeroun memanggilku!" lirihku.


Dia masih saja bermain, aku memegang kepalanya dengan kedua tangan. Lalu melihat wajahnya dan membiarkan tanda jika Zeroun masih berteriak.


Setelah Hinoto selesai dengan permainannya, dia pun membatuku untuk membersihkan diri begitu pula aku membantunya. Aku keluar dari kamar mandi, dia menggendongku dengan lembut.


Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal ini, semenjak Zeroun lahir sikapnya semakin hangat padaku. Aku pikir setelah kelahiran bayi kami, sikapnya akan berubah padaku. Namun, aku menyukainya yang seperti ini.


Tok! Tok! Suara pintu kamar diketuk, aku membukanya terlihat Zeroun yang sudah memicingkan matanya. Dia terlihat kesal padaku lalu dia masuk kedalam kamar.


"Ayah— apakah Ayah yang tidak membiarkan Bunda membuka pintu kamar?!" ucap Zeroun pada Hinoto dengan nada menyelidiki.


"Benar!" jawab singkat Hinoto.


Mereka berdua akhirnya berdebat, Zeroun mengatakan jika siang adalah waktunya aku bersama dia. Dan malam waktunya Hinoto bersamaku. Hinoto kesal dengan pengaturan jam tersebut karena di malam hari pun Zeroun selalu mengambil haknya atas diriku.


Aku terkekeh melihat tingkah laku mereka berdua karena memperebutkan diriku. Mereka memandangku dengan tajam karena aku menertawakan perdebatan mereka. Hinoto berdiri lalu melangkah dengan cepat menuju ke arahku begitu pula dengan Zeroun.


Brettt!


Hinoto menggendongku lalu menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Lalu dia mulai mengkilikitik begitu juga dengan Zeroun, sekarang mereka berdua menjadi musuhku.


"Sudah cukup! Hentikan...." Aku berkata semabri menahan tawa karena merasa kegelian. Namun, mereka tidak menghentikannya.


"Bunda— apa Bunda akan berhenti menertawakan kami?!" Zeroun berkata dengan nada dingin.

__ADS_1


Jika mendengar ucapannya seperti itu, aku merasa jika dia seperti Hinoto. Mereka sangat mirip sekali, tidak ada yang bisa lepas dari ucapan dinginnya.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu, sayang!" timpal Hinoto.


Mereka kembali menyerangku, semuanya terhenti saat Rosalina masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena mendengar aku tawaku.


"Apa yang kalian lakukan? Menganiaya Bunda Lexa?! Tidak akan aku biarkan!" ucap Rosalina yang langsung berlari dan loncak ke atas tempat tidur.


Dia melindungiku dari serangan Hinoto dan Zeroun, akhir aku memiliki seorang yang bisa dijadikan partner. Aku mengatur napasku terlebih dahulu karena napasku telah habis oleh mereka berdua. Yang mengkilikitik diriku hingga mengeluarkan air mata.


"Rosalina— kita serang balik mereka!" Aku berkata pada Rosalina.


Aku mengkilikitik Zeroun sedangkan Hinoto mengkilikitik Rosalina. Akhirnya kedua bocah ini yang menjadi target aku dan Hinoto. Mereka tertawa hingga mengeluarkan air mata. Dan meminta kami untuk berhenti tetapi aku tidak menghentikannya karena aku ingin membalas Zeroun yang sudah berani berkata dingin padaku.


Setelah puas menyerang Zeroun, aku menghentikannya. Kulihat kedua bocah sudah merasa kelelahan. Mereka tidur dalam pangkuan kami berdua. Zeroun berada dipanngkuanku sedangkan Rosalina berada di pangkuan Hinoto.


"Apa kalian sudah puas bermain?!" Ayah berkata yang baru saja membuka pintu kamarku.


Sepertinya ayah mendengar tawa kedua bocah ini, sehingga langsung membuka pintu kamar. Ayah melangkah masuk kedalam kamar, lalu melihat keadaan Zeroun dan Rosalina lalu tersenyum.


Terlihat kebahagiaan di mata ayah, aku sangat menyukai ini. Aku berharap ayah akan selalu berbahagia jangan ada lagi kesedihan di mata ayah. Karena itu akan membuatku merasa sedih juga, sebenarnya aku ingin mengajak ayah tinggal di Jepang. Namun, ayah masih teguh dengan keputusannya yaitu akan tinggal di Indonesia sampai akhir hayatnya.


"Kakek— Bunda dan Ayah curang! Mereka menyerang kami tanpa ampun!" ucap Zeroun lalu ditimpali oleh Rosalina yang membenarkan perkataan Zeroun.


Ayah tersenyum lalu berkata, "Biar nanti Kakek yang menghukum mereka berdua!"


Zeroun dan Rosalina sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh ayah. Mereka pun beranjak dari tidurnya lalu mereka memeluk ayah sehingga ayah terhuyung ke belakang. Terlihat ayah hendak terjatuh tetapi ayah masih bisa bertahan dan posisi tubuhnya kembali tegap.


Rupanya ayah masih memiliki tenaga yang cukup mengahadapi tingkah laku kedua cucunya. Aku tersenyum melihat semua itu, rupanya kedua cucunya yang bisa membuat ayah menjadi sangat bahagia.


"Kalian curang! Mengapa berkumpul di sini tidak memberitahukan padaku!" Lexi berkata.


Aku tersenyum mendengar apa yang dia katakan, dia datang terlambat kali ini. Saat semuanya sudah selesai bermain, dia masih seperti anak kecil. Dan Rosalina selalu saja mengatakan jika Lexi seperti adiknya yang selalu ingin ikut kemanapun dia pergi.


Semua terkekeh mendengar perkataan Rosalina, Lexi yang kesal dengan perkataan putrinya berpura-pura marah dan sedih. Sehingga membuat Rosalina mendekatinya.


"Ayah— meski kau seperti adikku tetapi kau tetap ayahku dan aku sangat menyayangimu!" Rosalina berkata sembari memeluk Lexi.


Akhirnya mereka berdua saling berpelukan, aku tidak akan pernah membiarkan kebahagian seperti ini hilang begitu saja. Akan aku jaga semuanya agar selalu bahagia.


___________________________________________


Sampai ketemu bab berikutnya....


Jangan lupa like, komen, rate, vote dan jadikan favorit ya 😉😉

__ADS_1


__ADS_2