
Still Lexa
"Bunda— apakah hari ini kita ke makam nenek?" Zeroun bertanya.
"Iya sayang, apa kau sudah siap?!" jawabku sembari balik bertanya.
Dia mengangguk lalu berlari meninggalkan kamar, hari ini adalah waktunya aku dan semuanya ke makam Bunda sebelum kepulangan kami ke Jepang.
Sebenarnya aku masih ingin tinggal di Indonesia tetapi tidak bisa karena perusahaan tidak bisa ditinggal lama-lama. Meski di sana ada Aiko, aku tetap tidak bisa membiarkannya sendiri.
"Sayang, kau serius akan kembali ke Jepang hari ini?!" Hinoto bertanya padaku.
Aku mengangguk lalu mengatakan padanya tidak bisa membuat Aiko bekerja sendirian. Karena aku merasa khawatir dengannya saat ini, apalagi dia belum bisa melupakan kematian Isamu.
Dia terdiam dan berjalan menuju balkon, aku mengikutinya karena aku yakin dia merasa sedih atas kematian Isamu. Dia tidak menyangka jika temannya akan pergi dengan cepat meninggalkannya.
"Apa kau masih sedih dengan kepergian Isamu?" Aku bertanya sembari memeluk tubuhnya dari belakang.
Dia memegang erat kedua tanganku, aku merasakan kesedihannya. Isamu merupakan temannya yang selalu ada di sampingnya saat dia dalam kesulitan. Namun, saat Isamu membutuhkannya dia tidak bisa menolongnya. Mungkin itu adalah penyesalan yang terbesar baginya.
"Aku tahu kau merasa bersalah, lebih baik kau berdamai dengan peristiwa itu!" ucapku dengan lembut padanya.
"Aku belum bisa melupakan itu! Aku akan mencari siapa dalang di balik kematiannya!" Hinoto menjawab dengan nada kesal.
Mendengar itu, aku semakin memeluknya dengan erat. Entah mengapa itu terasa sakit mendengar dia berkata seperti itu. Namun, yang pasti aku akan selalu bersamanya untuk menemukan siapa di balik kematian Isamu. Karena kepergian Isamu selamanya membuat Aiko sangat sedih dan belum bisa menjalani hidupnya.
Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk, aku melepaskan pelukanku dari tubuh Hinoto. Berjalan menuju pintu guna melihat siapa yang berada dibalik pintu. Pada saat aku membukanya ternyata itu Himawari. Dia mengatakan bahwa semuanya sudah siap untuk berangkat ke makam bunda. Aku mengangguk, lalu menyuruh Himawari untuk duluan ke bawah sedangkan aku dan Hinoto akan menyusulnya ke bawah.
Himawari pergi kebawah terlebih dahulu, aku berjalan masuk dan melihat Hinoto sudah mulai bersiap. Aku membantunya untuk merapatkan pakaiannya.
"Ayo kita pergi!" Hinoto berkata padaku semabari menggandeng tanganku dan berjalan keluar kamar menuju yang lainnya.
Aku berjalan menelusuri anak tangga, melihat semua orang sudah menunggu. Hinoto mempercepat langkahnya begitu pula dengan diriku.
Kami pun pergi ke makam bunda, tidak membutuhkan waktu yang lama kami tiba di area makam bunda. Ayah yang berjalan terlebih dahulu menuju makam bunda, terlihat duduk di samping pusara bunda.
Aku berjalan mendekati pusara bunda dan mulai berdoa, semuanya pun ikut berdoa. Tidak terasa air mataku menetes, mengingat semua kenangan bersama bunda. Meski aku berusaha menahan air mata ini agar tidak keluar tetapi terasa sulit.
"Sayang, hentikan tangisanmu! Itu akan membuat Ayah semakin sedih!" bisik Hinoto padaku dengan memegang erat tanganku guna memberikan kekuatan dan ketenangan dalam hatiku.
Hinoto mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya lalu menghapus air mataku yang sudah membasahi kedua pipiku. Setelah semuanya selesai berdoa, kami pun berjalan ke mobil dan kaki ke rumah. Karena aku harus bersiap-siap kembali ke Jepang. Sedangkan Lexi dia memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Indonesia.
Setibanya di rumah, aku bergegas ke kamar untuk merapikan semua barang yang hendak aku bawa ke Jepang. Sedangkan Hinoto dan Zeroun sedang bermain bersama ayah, Lexi dan yang lainnya.
__ADS_1
Himawari mengikuti aku dari belakang, dia ingin membantuku untuk merapikan barang yang akan aku bawa ke Jepang. Aku menerima bantuan Himawari yang hendak membantuku.
"Lexa— bagaimana jika Zeroun di sini bersama kami? Biar dia pulang bersama kami ke Jepang nanti. Aku tidak tega melihat Rosalina jika melihat Zeroun pergi!" Himawari berkata padaku dengan nada sedih.
Aku tahu maksud dari perkataan Himawari karena Rosalina begitu dekat dengan Zeroun. Sehingga jika salah satu dipisahkan maka mereka akan bersedih, padahal mereka hanya berpisah sebentar saja.
Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan Himawari, bisa terlihat jika kedua bocah itu bersatu maka akan merepotkan Lexi dan Himawari. Namun, jika dilihat kembali mungkin mereka tidak akan keberatan dengan tingkah Zeroun.
"Baiklah akan aku tanyakan pada Zeroun dan Hinoto, apakah mereka setuju dengan hal ini!" ucapku pada Himawari.
Selesai sudah acara merapikan barang yang hendak aku bawa kembali ke Jepang. Dan kami pun berjalan menuju mereka yang sedang bermain di taman. Sedangkan Himawari menuju pantry, dia ingin membuat camilan untuk kami semua.
Kulihat Hinoto yang sedang duduk memandangi ayah dan anak-anak bermain bersama Lexi. Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya, dia tidak menyadari kehadiranku.
Muncul niat untuk mengecup pipinya tetapi dia menoleh ke arahku sehingga bibirnya bertubrukan dengan bibirku. Seketika aku langsung menarik bibirku, dia tersenyum puas karena niat nakal yang ada dalam diriku berhasil dia tepis.
"Kenapa? Masih kurang?!" bisik Hinoto padaku lalu dia memperlihatkan senyum mesumnya padaku.
Aku tersenyum mendengar perkataannya itu, lalu aku mengalihkan pembicaraan mengenai keinginan Himawari.
"Sayang, Himawari ingin kita meninggalkan Zeroun di sini! Saat Himawari dan Lexi kembali ke Jepang mereka akan membawanya!" ucapku pada Hinoto.
Dia terdiam sesaat, mungkin dia sedang berpikir keputusan apa yang dia ambil. Hinoto melihat ke arah Zeroun, aku tahu dia juga tidak bisa lepas darinya. Meski mereka selaku berdebat untuk merebutkan diriku tetapi dia tidak bisa jauh darinya.
Aku mengatakan jika ini bisa dijadikan kesempatan bagi ayah untuk bersama kedua cucunya lebih lama lagi. Karena itu bisa membuat ayah sangat bahagia.
"Aku akan selalu ada untukmu, baik siang dan malam!" bisikku pada Hinoto.
Dia tersenyum lalu berkata, "Maka jangan salahkan aku jika Zeroun tiba dia akan mendapatkan seorang adik!"
Belum sempat aku menjawab Hinoto, semua berteriak memanggil kami untuk bergabung karena Himawari sudah membawa camilan yang dia buat.
Hinoto berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku dengan senyum lembutnya. Aku menerima uluran tangannya lalu kami berjalan bersama menuju gazebo.
Melihat Zeroun yang sangat bahagia yang duduk dipangkuan ayah begitu juga dengan Rosalina. Mungkin ini bisa jadi kesempatan lebih lama lagi ayah bersama kedua bocah itu.
"Zeroun— apakah kau masih ingin berada di Indonesia?" tanyaku padanya.
"Aku masih mau di sini Bunda— tetapi sudah harus pulang." Zeroun menjawab dengan nada sedih.
Akhirnya aku mengatakan pada Zeroun jika masih ingin berada di Indonesia bersama Rosalina. Aku akan mengizinkannya dengan syarat tidak boleh bertingkah dan merepotkan.
Dia terlihat senang dengan apa yang aku katakan tetapi dia kembali berkata, "Jika aku di sini itu artinya Ayah akan selalu bersama Bunda dong?!"
__ADS_1
Semua terkekeh saat Zeroun berkata seperti itu, lalu dia kembali berkata jika Hinoto tidak boleh selalu berada di dekatku. Dan hanya boleh berada di dekatku saat malam hari saja.
"Zeroun, mengapa berkata seperti itu?" Ayah bertanya pada cucunya sembari terkekeh.
Zeroun berkata jika tidak ada dia pasti Hinoto akan bebas berduaan denganku. Sehingga dia tidak akan melepaskan aku dan terus akan menggangguku. Yang pada intinya aku memiliki seorang putra yang cemburu pada ayahnya sendiri.
Semuanya terkekeh-kekeh mendengar penjelasan Zeroun dan membuat Hinoto sedikit kesal. Namun, dia tidak bisa menampik apa yang dikatakan oleh Zeroun.
"Bagaiman sainganku— apakah kau akan tinggal di sini atau ikut bersama kami ke Jepang?!" Hinoto bertanya dengan nada menggoda Zeroun.
Zeroun berpikir sesaat dan itu membuat ayah memperhatikannya dengan saksama. Namun, ada senyum lembut di bibir ayah. Mungkin ayah sedang menunggu jawaban darinya.
"Baiklah— ini keputusanku, aku akan tinggal di sini dulu tetapi dengan satu syarat. Ayah tidak boleh selalu berdekatan dengan Bunda!" Zeroun berkata dengan tegas dan itu membuat semua orang kembali terkekeh-kekeh.
Dan sudah di pastikan kali ini aku kembali ke Jepang tidak bersama dengan Zeroun. Aku mengatakan pada ayah dan Himawari untuk bersikap tegas jika anakku melakukan kesalahan.
Meski aku mengatakan itu, aku sangat yakin jika Himawari atau ayah bahkan Lexi tidak bisa bertindak tegas dengan kedua bocah itu. Karena mereka sangat menyayanginya.
Setelah selesai berbincang-bincang dan menyantap camilan, aku memutuskan kembali ke kamar dan bersiap. Karena sudah waktunya menuju bandara.
"Bunda— apakah Bunda kuat jika aku tidak di dekat Bunda?" Zeroun berkata dengan nada sedih sembari memeluk kedua kakiku.
"Bunda pasti akan sangat merindukanmu, sayang!" Aku menjawab lalu memeluknya dengan erat.
Dan aku mengatakan padanya agar tidak nakal, tidak membuat keributan. Sehingga membuat kakek merasa pusing dengan suaranya, dan juga tidak boleh memaksakan kehendak. Harus menuruti apa yang dikatakan boleh kakek, paman Lexi dan bibi Himawari.
Zeroun meangangguk lalu dia melihat ke arah Hinoto dan menghampirinya.
"Ayah— Ayah janji padaku akan selalu menjaga Bunda? Dan satu lagi jangan selalu mendekati Bunda Zeroun!" ucap Zeroun pada Hinoto.
Hinoto tersenyum lalu memeluk Zeroun, mungkin dalam benaknya dia akan kehilangan saingan dalam beberapa hari kedepan. Namun, dia tidak berubah dan menggoda Zeroun.
"Ayah akan menjaga Bunda dan juga akan selalu berada di dekat Bunda!" Hinoto berunjar dengan senyum nakalnya.
Zeroun langsung cemberut, dia terlihat kesal dengan candaan Hinoto. Namun, Hinoto kali memeluknya dan mengecup kening Zeroun dan mengatakan jika dia akan selalu menjagaku sampai Zeroun kembali ke Jepang.
"Zeroun dengarkan Ayah— kau harus menjadi anak baik!" Hinoto berkata dengan lembut pada Zeroun.
Hinoto juga mengatakan harus menjaga Rosalina, jangan bertengkar dengan Lexi. Semua yang dikatakan olehnya ada benarnya juga karena selama ini Zeroun selalu berdebat dengan Lexi. Namun, itu membuat mereka berdua semakin dekat begitu juga Rosalina dengan Hinoto yang sangat dekat.
Setelah berpamitan dengan semuanya dan aku menitipkan Zeroun pada ayah, Himawari dan Lexi. Aku merasa lega meski masih ada rasa dalam hati tidak bisa tinggal jauh dari putra kesayanganku itu. Namun, aku melihat kebahagiaan ayah yang sedang menggendong Zeroun, membuat hatiku tenang.
Sampai bertemu di bab selanjutnya...
__ADS_1