Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
Part Aiko 5


__ADS_3

Still Aiko POV


Terbangun di pagi hari, melihat wajah pria yang semalam bisa bertindak kasar. Membuat hati ini merasa takut tetapi aku tidak bisa menahan tangan ini untuk menyentuh setiap helai rambut yang menutupi matanya di saat dia masih terlelap.


Setiap helai rambutnya aku sibakkan sehingga tidak menutupi matanya, dia terlihat sangat tenang dan begitu memesona jika sedang tertidur. Jika sudah terbangun matanya bisa menusuk aku, sehingga aku tidak ingin lepas dari tatapannya. Hanya aku seorang yang harus ditatapnya.


Apakah aku sudah tidak waras, mengapa aku melakukan semua ini. Aku menarik tanganku yang sedang membelai setiap helai rambutnya.


"Mengapa kau hentikan?!" tanya Aldo yang terlihat sudah membuka kedua matanya.


Aku langsung menjauh darinya, menghindar. Iya aku menghindar darinya, entah mengapa itu yang aku inginkan tetapi tangannya menarik tubuhku sehingga aku masuk kedalam pelukannya.


Dia memelukku dengan erat seraya tidak ingin aku pergi darinya, dia membisikkan kata-kata yang membuatku lupa akan diri setiap masalah yang terjadi. Aku baru mengetahui jika dia begitu hangat seperti ini, dia sangat berbeda dengan Aldo yang selalu diam jika aku memarahinya atau mencaci maki dia karena kesalahpahaman.


"Lepaskan aku! Bukankah kita harus menyelidiki perusahaan yang akan dibeli oleh Lexi?!" Aku berkata padanya dengan lirih.


"Aku masih ingin memelukmu!" jawabnya padaku.


Bibirnya mulai mengecup tengkuk leher, napasnya yang lembut membuatku merasa kegelian. Aku berusaha melepaskan diri darinya, jika dilanjutkan mungkin aku akan meminta yang lebih padanya.


Kecupannya terus berlanjut, tidak hanya bibirnya yang menyerangku tetapi kedua tangannya mulai berjalan dengan lembut di bagian tubuhku bagian depan. Aku menikmati setiap permainan tangannya yang lembut dan kecupannya.


Napasnya terasa di tengkuk leherku, dia meminta izin padaku untuk melakukan hal ini. Karena dia sudah tidak bisa menahannya, "Izinkan aku melakukan tugasku sebagai suamimu!"


Mendengar itu hati ini terasa hangat sehingga aku tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menikmati setiap kecupan, sentuhan tangannya dan napasnya yang menghujani tengkuk leherku.


"Apa kau serius ingin melakukan ini denganku?!" tanyaku lirih padanya saat dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan.


Terlihat senyum di bibirnya, meski tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Dari sorot matanya bisa terlihat jika dia memang ingin melakukannya denganku. Apakah aku harus melakukan semua ini, bagaimana jika dia ingin kembali dengan Rein? Karena aku yakin jika dia masih memiliki perasaan padanya.


"Tidak usah memikirkan hal lain—sekarang hanya ada kau dan aku!" bisiknya padaku sembari menggigit daun telingaku dengan lembut sembari memberikan deru napasnya yang begitu lembut.


Kecupannya kembali mendarat di bibirku, dia bermain dengan lembutnya sehingga aku mengikuti setiap permainan yang dilakukannya. Kecupan ini terasa begitu hangat dan semakin membuatku merasa terbang apa lagi dengan sentuhan kedua tangannya secara lembut yang berjalan di setiap lekuk tubuhku.


Dia menghentikan permainannya sejenak lalu tersenyum dengan lembut, tangannya bermain dengan lembut di bagian dadaku. Sehingga aku merasakan sesuatu yang bisa membuatku menggeliat. Aku menutup kedua mataku dan merasakan setiap permainan yang dilakukannya.


Aku menggigit bibir bawahku merasakan setiap sentuhannya, lalu bibirnya kbali mengecupku dengan sangat lembutnya tetapi lebih sangat dari yang pertama. Seperti tidak ingin ada yang mengambil bibirku darinya dia begitu lahap menikmati setiap inci dari bibirku.


Kecupannya tidak hanya pada bibirku saja, bibirnya mengecup leherku lalu berjalan menuju dada. Setiap jengkal tubuhku tidak luput dari kecupan lembutnya. Aku begitu menikmatinya, permainannya semakin lama semakin cepat. Baik aku atau dia sama-sama menikmatinya, sehingga tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian kami.


Pergulatan kami begitu melelahkan sehingga aku tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Aku hanya bisa merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, sedangkan dia berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.


"Bangunlah—lalu bersiap!" bisiknya padaku dengan nada sangat lembut.


Aku menatapnya dengan lekat, dia benar-benar suamiku dan aku sudah benar-benar menjadi istrinya. Namun, aku kembali teringat akan Rein. Apakah dia bisa menerima semuanya meski aku tahu jika Rein telah bermain api di belakangku bersama Isamu.


"Apa yang kau pikirkan?"


Aldo berbisik padaku, sejak kapan dia berada di dekatku. Dia tersenyum lalu mengatakan padaku tidak usah banyak berpikir. Kita harus menjalani apa yang sudah ada di depan mata. Apakah dia tahu apa yang aku pikirkan.


Aku merubah posisi tubuhku menjadi posisi duduk, berusaha untuk beranjak tetapi aku tidak bisa. Kedua kakiku terasa lemah sekali, sepertinya Aldo sudah membuatku kehilangan tenaga. Meski aku berusaha berdiri tetap saja kembali terduduk dengan kain yang menutupi tubuhku yang sudah tidak mengenakan sehelai pakaian pun.


Terdengar suara tawa Aldo, benar saja dia menertawakan aku. Begitu enaknya dia menertawakan padahal ini semua ulahnya. Coba jika dia melakukannya hanya sekali mungkin tidak akan seperti ini.


"Hentikan tawamu—Ini semua ulahnya tahu!" unjarku dengan nada kesal.


Dia mendekat, tawanya masih terdengar jelas—dia mengulurkan tangannya guna membantu untuk berdiri. Aku menerima uluran tangannya tetapi dengan cepat dia menggendongku berjalan masuk kedalam kamar mandi.


"Apa perlu aku membantumu membersihkan diri?" Dia berkata dengan lembut lalu mengecup bibirku.


"Sudah hentikan—jika kau tergoda aku tidak sanggup lagi!" Aku berkata sembari menyuruhnya keluar dari kamar mandi.


Aldi tersenyum, dia berjalan keluar dari kamar mandi dan aku mulai dengan rutinitas membersihkan diri. Melihat bagian tubuhku yang sudah memiliki banyak tanda kepemilikannya, membuatku aku merasa malu karena membayangkan apa yang terjadi tadi.


Selesai dengan rutinitas membersihkan diri aku keluar dari kamar mandi, aku melihat satu stel pakaian kerja telah tertata rapi di atas tempat tidur. Ini pasti Aldo yang menyiapkannya, dia begitu manis.

__ADS_1


Aku berjalan keluar dari kamar, dia sudah tidak berada di dalam kamar. Mungkinkah dia sedang di pantry? Ternyata apa yang aku pikirkan benar, dia sudah berada di pantry.


"Sedang apa kau?" tanyaku pada Aldo.


Aldo berbalik dia membawa satu piring yang di atasnya ada roti isi, dia menyimpan piring tersebut di meja tepat di depanku. Tanpa aba-aba dia langsung mengecup bibirku.


"Mulai hari ini jangan panggil aku dengan sebutan kau—panggil aku Sayang." Ucapnya padaku.


Aku terkejut saat dia mengecupku lalu menyuruhku untuk memanggilnya dengan kata sayang. Dia menjentikkan jarinya guna menyadarkan aku dari rasa keterkejutan. Terlihat senyum kemenangan di bibirnya.


"Kau dengar—Sayang! Jika salah memanggil aku maka kau akan kuberi hukuman!"


Aldo berkata padaku dengan penekanan, dia pun mengatakan jika aku banyak membuat kesalahan maka aku akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi. Senyum kemenangan terlihat jelas di bibirnya dan sorot matanya penuh dengan kepuasan.


Aku menarik dasinya sehingga wajah kami saling berhadapan, terasa setiap napasnya menerpa wajahku. Aku tidak akan kalah dengan apa yang dia perbuat tadi.


"Dan kau pun harus memanggilku Sayang—jika tidak kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dariku!" Aku berkata dengan nada mengancam lalu mengecupnya dengan lembut.


Matanya terbelalak saat aku melakukan hal yang sama dengannya, aku merasa puas dengan pembalasan baru saja kulakukan. Senyum puas mengembang dari bibirku.


Melihatnya masih terpaku, aku meninggalkan dia di pantry lalu berjalan menuju kamar guna mengambil tas. Karena sudah waktunya aku pergi ke perusahaan yang akan di beli oleh Lexi.


"Kau mulai berani—Sayang!" unjar Aldo padaku sembari memeluk dari belakang.


"Hentikan Aldo! Bukankah kita akan pergi!" Aku berkata pada Aldo karena dia mulai bertindak nakal.


Dia membisikkan sesuatu bahwa aku akan di hukum karena aku baru saja melanggar aturannya yaitu tidak memanggilnya sayang. Tanpa meminta izin dariku dia mulai mengecup tengkuk leher tangannya mulai bermain di bagian bawah yang sangat sensitif bagiku.


Aku menghentikan permainan tangannya, sungguh aku sudah tidak memiliki lagi tenaga untuk bermain dengannya. Apakah dia tidak merasa lelah dengan permainannya tadi pagi-pagi sekali.


"Sudah cukup—aku minta maaf, Sayang!" ucapku dengan nada lirih sembari menahan rasa geli akibat kecupannya di tengkuk leher.


"Bagus—kau harus ingat itu, Sayang!" jawabnya padaku sembari melepaskan diriku dari pelukannya dan hukumannya.


Aku dan Aldo setibanya di perusahaan Paper-Kr, entah sejak kapan Lexi ingin merambah bisnis di dunia percetakan. Namun, aku tidak bisa melarangnya karena jiwa bisnisnya dia dapat dari ayah Alex.


Akan tetapi aku harus bisa melindungi baik Lexa atau Lexi sebab hanya mereka berdua yang aku miliki. Sahabat sekaligus saudara yang begitu menyayangi aku.


Duduk di atas sofa sebuah ruangan yang menurutku mengasikan sembari memeriksa semua informasi yang sudah Aldo temukan. Sekarang aku sedang menunggu informasi orang suruhanku.


Ponselku bergetar ada sebuah pesan singkat masuk, aku mengambil dan membuka pesan tersebut. Dia memintaku langsung menemuinya di sebuah cafe. Aku membalas pesannya, mengatakan jika dia bisa bertemu denganku di perusahaan Paper-Kr. Namun, dia bersikeras ingin bertemu di cafe yang sudah dia katakan karena dia sudah berada di sana.


Aku pun menemuinya di cafe yang sudah dia tentukan, dalam perjalanan. Menuju cafe aku mengirim pesan pada Aldo jika aku menemui seseorang untuk informasi yang aku inginkan mengenai perusahaan Paper-Kr. Dia membalas pesanku dan mengatakan agar aku selalu berhati-hati.


Terlihat seorang wanita sedang duduk di sebuah cafe yang masih sepi didatangi oleh pengunjung. Aku duduk di atas kursi tepat di hadapannya, dia tersenyum lalu menyodorkan sebuah amplop bewarna coklat.


"Aku pikir kau tidak akan terbang ke Korea?" tanyaku padanya.


"Sudah lama aku tidak berlibur—kau memberiku pekerjaan maka aku sekalian saja berlibur ke Korea." Dia menjawab dengan senyumnya yang sangat lembut.


Dia adalah Miyuki, salah satu teman yang bisa aku percaya untuk menemukan semua informasi yang aku butuhkan. Lexa pun sangat mengenalnya tetapi dia selalu saja berdebat dengan Lexi tentang apa pun. Sehingga kedua orang ini selalu tidak bisa akur, sudah lama dia tidak kembali ke Jepang atau menemui kami semua. Akan tetapi dia selalu menerima pekerjaan baik dariku atau Lexa.


"Maafkan aku karena tidak hadir saat kalian menikah, " Miyuki berkata padaku dengan tatapan penuh penyesalan.


Aku tersenyum padanya, mengatakan bahwa tidak mengapa karena aku tahu apa yang sedang dia kerjakan saat itu. Malahan aku salut padanya, dia seorang wanita yang mau mengerjakan pekerjaan yang bisa di bilang sangat berbahaya.


Sempat aku atau Lexa mengatakan padanya untuk berhenti bekerja dan ikut bersama Lexa tetapi dia tidak mau. Masih ada yang ingin dia kejar ucapnya padaku dan Lexa.


"Mengapa kau menyuruhku bertemu di luar? Bukankah kita bisa bertemu di perusahaan Paper-Kr?" tanyaku padanya.


"Bacalah semuanya—nanti kau akan mengerti!" Miyuki menjawab dengan nada serius sembari menikmati secangkir coklat hangat.


Dia berkata seperti itu membuatku penasaran, sebenarnya ada apa? Aku membaca semuanya dengan teliti tetapi tidak bisa karena ingin tahu apa yang ada di akhir informasinya.


Tibalah aku pada lembar terakhir informasi yang dia berikan padaku, membaca dengan perlahan. Betapa terkejutnya aku saat membaca sebuah tulisan yang menyatakan jika Isamu masih hidup. Selama ini dia tinggal di Korea. Aku membacanya sekali lagi aoakah yang aku baca itu benar adanya.

__ADS_1


"Apa semua ini benar?" tanyaku pada Miyuki dengan nada tidak percaya.


"Benar—semua itu benar adanya! Selama ini kau telah diperdayai olehnya!" jawabnya dengan penuh keyakinan.


Aku bertanya apakah Lexa dan yang lainnya sudah mengetahui semua ini, dia mengatakan jika mereka semua sudah tahu. Mendengar perkataannya membuat aku kesal. Mengapa Lexa dan semuanya tidak mengatakan padaku.


"Kau tidak perlu marah pada mereka semua karena mereka begitu menyayangi kamu! Mereka ingin kau mengetahuinya jika sudah tiba saatnya dan kau sudah tahu yang sebenarnya!"


"Apa Aldo mengetahuinya juga?!" Aku bertanya lagi padanya.


Dia mengangguk, hatiku terasa sakit saat tahu jika Aldo mengetahui Isamu masih hidup. Bearti selama ini semuanya telah menutupi kebenaran tentang Isamu. Apakah aku tidak ada artinya bagi mereka sehingga mereka menyembunyikan semua ini dariku.


Miyuki mengatakan jika mereka mengetahuinya sebelum pernikahanku, mungkin inilah salah satu bentuk kasih sayang mereka padaku. Untuk melindungiku dari perbuatan Isamu yang akan menyakitiku. Namun, cara mereka tidak benar karena menyembunyikan semua kebenarannya.


Terdengar lantunan musik dari ponselku, aku mengambil ponsel yang ada di atas meja. Melihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubungiku. Tertera nama Aldo di sana, aku kesal terhadapnya karena sudah menyembunyikan ini padaku.


Dia terus menghubungi meski aku mengabaikannya, Miyuki mengatakan padaku untuk mengangkatnya. Aku pun mengangkat teleponnya, dia mengatakan jika siang ini dia akan memeriksa sebuah bangunan yang masih ada hubungannya dengan perusahaan Paper-Kr. Dia mengatakan padaku untuk langsung kembali ke apartemen dan menunggunya sampai kembali.


Aku menutup sambungan teleponnya sebab dia sudah selesai dengan apa yang ingin dibicarakan. Miyuki bertanya padaku apakah itu Aldo, aku mengangguk. Terlihat dia tersenyum seraya ingin menggodaku tetapi aku tidak memberikan kesempatan padanya. Aku bertanya padanya tentang perusahaan Paper-Kr ini.


Dia mengatakan jika perusahaan ini tidak baik untuk Lexa dan Lexi karena jika mereka membelinya maka akan membuat masalah yang sangat besar. Lebih baik Lexi membatalkan pembelian perusahaan ini.


"Apa kau tahu—siapa yang ada di balik perusahaan ini?" Miyuki bertanya padaku.


Secara refleks aku menggeleng kepala karena aku tidak tahu siapa di balik perusahaan ini. Dia menjawab, yang ada di balik perusahaan ini adalah Isamu. Dia juga belum mengetahui motif apa sehingga Isamu ingin menghancurkan Lexa dan Lexi.


Namun, dia menilai jika incarannya adalah aku dan Aldo. Entah apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Aku tidak percaya jika Isamu bisa berbuat jahat padaku, bukankah dia sangat mencintaiku begitu pula aku saat itu.


Miyuki pamit padaku untuk pergi sebab semua informasi yang dia dapat sudah diserahkan padaku. Sebelum dia pergi, ada pesan yang diucapkannya padaku. "Semoga kau hidup berbahagia dengan Aldo—lupakan masa lalu yang begitu menyebalkan."


Aku kembali ke apartemen, melihat sekeliling ruangan terasa sepi. Biasanya ada Aldo yang sedang duduk di atas sofa dengan memegang ponselnya.


Ada apa denganku? Mengapa aku memikirkannya. Padahal cuma hari ini saja kami tidak pergi bersama. Mungkin dia akan kembali nanti malam, lebih baik aku kembali mengerjakan apa yang belum aku selesaikan tadi.


Pikiranku kembali teringat akan Isamu, aku tidak menyangka dia bisa melakukan semua ini padaku. Dia mengatakan hanya aku seorang yang akan menjadi wanitanya. Ternyata semua itu hanya rayuannya, pada kenyataannya dia masih berhubungan dengan wanita lain dan itu adalah Rein.


Sungguh mereka berdua pasangan yang tidak tahu diri, mereka sudah mengecewakan aku juga Aldo. Mengapa aku percaya begitu saja pada Isamu, sehingga aku memilihnya. Dan membuat Azura kecewa.


Di luar sudah terlihat gelap, tidak terasa aku bekerja sudah 3 jam lebih. Aldo pun belum pulang, badanku sudah tidak enak lebih enak jika berendam dengan aroma terapi. Mungkin hati dan pikiranku bisa kembali tenang.


Semua sudah siap acara berendam akan segera mulai, aku memasukkan tubuh kedalam bathtub lalu memejamkan kedua mata guna merelaksasi semua tubuh dan pikiran.


Terdengar suara percikan air dari keran shower, aku terkejut lalu membuka kedua mata. Melihat ke arah shower, ada seseorang yang sedang membersihkan diri. Aku membuka tirai yang menghalangi antara bathub dengan keran shower.


"Lanjutkan berendamnya!" ucapnya padaku.


"Kau membuatku terkejut, Aldo!" Aku berkata dengan degub jantung masih tidak beraturan. Aku pikir ada orang asing yang masuk ke dalam apartemen dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dia mematikan keran shower, melangkah mendekat padaku dengan senyum serasa ingin menerkam saja. Dia masuk kedalam bathtub lalu menarik tubuhku sehingga dekat dengannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata dia mengecup bibirku, "Ini hukuman untukmu—Sayang!" Dia berbisik padaku.


Aku mengingat-ingat apa yang jadi kesalahanku sembari menahan rasa geli yang diperbuat oleh Aldo. 'Astaga—aku telah memanggilnya Aldo bukan dengan sebutan Sayang,' batinku.


Tangannya mulai bermain dengan bagian tubuhku yang paling sensitif, sehingga aku tidak bisa menahan suaraku yang akan membuat Aldo terprovokasi menikmati semua tubuhku.


Kecupannya juga tidak dia hentikan, semua permainan yang dia lakukan membuatku merasakan kebahagiaan. Dia mengarahkan aku untuk berdiri lalu keluar dari bathtub. Lalu mendorongku dengan lembut sehingga aku menempel pada dinding kamar mandi.


Dia tersenyum lalu memulai semua permainan yang membuatku menikmatinya. Dan aku pun ikut dalam permainannya yang sangat lembut.


Setelah pergulatan kami di dalam kamar mandi yang sangat lama, aku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aldo duduk di atas tempat tidur tepat disampingku.


"Perusahaan ini tidak baik untuk Lexa dan Lexi!" ucap Aldo padaku.


Aku pun berpikiran sama karena sudah membaca semua informasi yang disediakan oleh Miyuki. Aldo mengatakan jika besok kita akan kali ke Jepang untuk membicarakan semua ini pada Lexa dan Lexi. Aku menyetujui apa yang dikatakan oleh Aldo.

__ADS_1


__ADS_2